
Hai pembaca setia novelku! Gimana nih membaca karyaku? Banyak lebay nya atau gak sukanya nih...!
Pengennya sih cepat selesai nih cerita Cha, tapi belom waktunya. Karena Cha masih harus mengalami berbagai masalah baik dari dirinya sendiri maupun para sahabatnya.
Dukung terus ya karyaku ini. Jangan lupa kasih Vitamin LIKE, HADIAH YANG BERUPA BUNGA, KOPI MAUPUN IKLAN, SAN VOTENYA JUGA.
Ah penulis nih banyak maunya ya. Tapi bagi-bagi rezeki gak apa ya..Saya menghibur, kalian terhibur dengan sajian cerita dari ku...!!😄😘
Cha masih belom bisa mempercayai apa maksud dari perkataan Zain.
"Aku gak percaya Zain!"
"Kamu jangan mudah percaya sama orang lain sayang.. Dia itu perempuan yang tidak baik. Aku tau dia dari keluarga Broken Home," ucap Zain.
"Dari mana kamu tau Zain!" seru Cha yang kaget saat mendengar ucapan Zain.
"Sayang..., apa sih yang gak aku tau tentang kamu dan orang yang berhubungan denganmu. Kamu itu kekasihku, aku gak mau kamu kenapa-napa. Jadi aku tau semuanya," jelas Zain.
"Berarti selama ini kamu mematai semua kegiatan dan yang berhubungan denganku? Wah..., gak bener nih kamu Zain," cetus Cha.
"Aku melakukannya hanya untuk melindungimu sayang. Sekarang banyak sekali orang yang berpura-pura baik, tapi ternyata sebenarnya dia jahat. Dan orang itu hanya memanfaatkan kebaikan orang yang didekatinya," ucap Zain yang ingin membuka mata Cha bahwa dunia ini jangan terlalu mempercayai orang lain kecuali dia benar-benar tulus baik.
"Iya Pak guru, saya akan mendengarkan nasehat Pak guru yang baik hati," ledek Cha yang sedikit kesal.
"Tapi Zain, aku ingin melihat secara langsung apa yang kamu katakan, apakah Mbak Ani sadar melakukannya atau tidak," Cha memohon sama Zain untuk memperlihatkan kenyataannya.
"Baiklah sayang, nanti malam, kita akan pergi ke club' malam dimana dia melakukan aksinya," balas Zain.
"Apa aku boleh membawa Dewi Zain?" tanya Meka memohon.
"Boleh, tapi kalian harus berpakaian biasa dan menggunakan penyamaran, ok!" ucap Zain memperbolehkan kemauan Cha.
"Berarti kamu menunda kepulangan mu hari ini? Apakah tidak masalah dengan pekerjaanmu Zain?" tanya Cha.
"Tenang aja sayang, semua akan diurus sama orang kepercayaanku disana," jawab Zain.
"Kalau begitu aku kekamarnya Dewi dulu ya, mau kasih tau dia untuk bersiap-siap nanti malam," Cha meninggalkan Zain sendirian didalam kamarnya.
Lalu Cha masuk kedalam kamar Dewi. Cha melihat Dewi sedang baring-baring diatas tempat tidurnya sambil memainkan ponselnya.
"Wi, aku sudah cerita sama Zain. Kamu tau apa yang aku dengar dari Zain!"
"Apa Cha! Gimana pendapat Zain?" tanya Dewi penasaran.
"Aku rasa kamu akan terkejut mendengar berita ini. Tapi kamu jangan kena serangan jantung ya, bisa-bisa aku marahin Ibumu," guyon Cha sambil tersenyum.
"Ihhhh Lo nih, udah buruan ceritanya. Udah gak sabar nih pengen dengar update beritanya," balas Dewi.
"Zain mengatakan kalau Mbak Ani sekarang sudah menjadi wanita panggilan. Dan dia bilang, itu kemauannya. Dan bukan paksaan," jelas Cha.
Dewi memang terkejut mendengar info dari Cha. Bagaimana tidak, yang mereka tau Mbak Ani sangat ketakutan jika mantannya mencoba menghubunginya. Tapi malah terbalik , Mbak Ani justru terjun ke dunia malam, sebagai wanita panggilan.
"Masa sih Cha!? Tapi kalau aku lihat dia orangnya baik loh, dari mana Zain tau tentang dia?" Dewi penasaran dengan info yang dikasih tau Zain.
__ADS_1
"Hahaha, gw juga gak tau dari mana Zain mengetahuinya," bohong Cha.
"Trus gimana dengan dia tinggal disini?" tanya Dewi.
"Kamu mau buktinya kalau Mbak Ani seperti itu?"
"Gimana caranya Cha!"
"Nanti malam, Zain mengajak kita datang ke club' tempat Mbak Ani mangkal. Tapi Zain meminta kita untuk merubah penampilan kita dengan menggunakan rambut palsu," ucap Cha.
"Tapi aku takut kalau masuk ketempat seperti itu," balas Dewi.
"Sebenarnya aku juga takut sih Wi, tapi aku penasaran dengan apa yang diucapkan Zain."
"Trus gimana dong Cha! Aku juga penasaran sih!"
"Aku sih terserah kamu aja Wi, kalau mau bukti, ayo kita kesana malam ini. Kalau tidak mau ya, kita hidup dalam penasaran."
Dewi menimbang-nimbang ucapan Cha. Dia masih takut bercampur penasaran. Dewi terus menatap Cha, mencari tau kemantapan hati Cha untuk melangkah menginjakkan kaki ke tempat seperti itu. Dia melihat Cha sangat siap dan yakin untuk mengetahui kebenaran itu.
"Baiklah Cha, aku akan ikut kesana. Jam berapa kita bernagakt, karena aku harus izin sama Ibuku dulu, biar gak kecarian. Tapi aku harus bilang apa ya sama Ibuku?" Dewi bingung mau kasih penjelasan apa sama Ibunya. Karena tidak mungkin dia jujur.
"Mmmm, apa ya Wi?" Cha berpikir.
"Masa harus bilang kita ke club' Cha!"
"Ya gak mungkinlah Wi. Gimana kalau kita bilang malam nih menghadiri pesta ulang tahun teman kampus kita di sebuah cafe, piye?" tanya Cha.
"Bagus tuh sarannya, aku setuju. Kalau begitu sekarang aku akan memberitahukan kepada Ibuku dulu. Kamu ikut aku biar sekalian nimbrung yuk," Dewi mengajak Cha kekamar ibunya.
"Tok tok tok, Bu...!" panggil Dewi.
Lalu pintu kamar Ibunya terbuka. Namun yang membukanya bukan Ibunya, melainkan Pita adiknya Dewi.
"Ibu mana dek?" tanya Dewi saat melihat adiknya yang membukakan pintu.
"Itu, Ibu lagi istirahat kak. Ayo masuk kak," ajak Pita.
Dewi dan Cha masuk kedalam kamar Ibunya. Mereka menunggu Ibunya sampai bangun. Cha dan Dewi ngobrol dengan Pita. Sampai waktu menjelang sore, Ibunya Dewi belom bangun.
"Wi, gw kekamar dulu ya. Gak enak ninggalin Zain," ucap Cha.
"Ya udah gih sana. Nanti biar gw aja yang jelasin ke Ibu gw." Dewi mengusir Cha dari dalam kamar Ibunya.
"Ok, nanti Lo kekamar ya, kalau sudah dapat izin dari Ibu kamu," Cha keluar dari dalam kamar Ibunya Dewi.
Dia kembali kedalam kamarnya. Saat dia masuk kedalam kamar, dia melihat Zain tertidur pulas ditempat tidurnya.
"Ternyata dia sedang asyikan tidur disini. Hmmm," gumam Cha.
Cha merapikan kamar yang sempat ditinggalkannya seharian kemaren. Malam ini dia akan pergi ke club' bersama Zain dan Dewi.
Cha melamun menatap ponselnya. Tiba-tiba dia teringat dengan keluarganya di Medan.
__ADS_1
"Bagaimana ya khabar Sika?" Cha menekan no Sika hingga tersambung. Tak berapa lama, tlpnya pun diangkat.
"Assalamu'alaikum adekku Sika...!" teriak Cha.
"Wa'alaikumussalam kakak Cha..!" sahut Sika.
"Gimana dek khabar disana?" tanya Cha senang saat mendengar keceriaan dari suara adiknya.
"Baik kak. Oh ya Papa lagi dirumah Lo kak!" balas Sika.
"Oh ya!"
"Iya kak, udah dua hari sih disini. Tapi, ya seperti biasa, Mama gak begitu memperhatikan Papa."
"Udah pasti itu dek.Oh ya kapan kamu ujian? Dan gimana sekolahmu, baik kan?" tanya Cha lagi.
"Baik kak, Sika bentar lagi ujian kenaikan kelas kak. Do'ain ya kak, biar naik kelas," jawab Sika.
"Pasti kakak do'ain. Oh ya Mama sehatkan dek?"
"Sehat kak, kakak kenapa gak pernah mau menghubungi Mama? Apa karena Mama tidak perduli dengan kakak, makanya kakak gak mau menghubungi Mama?" tanya Sika penasaran.
"Nggak kok dek, kakak lagi males aja. Lagian Mama juga gak perduli sama kakak. Biarlah nanti kalau kakak pengen tlp, pasti kakak akan hubungi Mama," jelas Cha.
"Oh...Trus kakak disana gimana? Sehatkan dan sudah punya pacar blom kak?" tanya Sika yang kepengen tau.
"Issa anak kecil mau tau aja. Blom ada, kakak mau kuliah sampai tamat dan kerja biar menghasilkan uang yang banyak biar bisa belikan apa mau Sika," ucap Cha menghibur adiknya.
"Sika do'ain ya kak, biar kakak punya uang yang banyak banget, trus belikan Sika baju, sepatu dan lainnya," Sika mengungkapkan kemauannya.
"Pasti kakak belikan apa mau Sika. Tapi Sika harus rajin belajar biar jadi orang sukses nantinya ya."
"Iya kak, Sika kangen banget sama kak Cha. Kapan kakak balik ke Medan?"
"Mama aja gak ada nyuruh kakak balik ke Medan dek. Gimana kakak punya uang untuk ongkos Pesawatnya jika Mama tidak perduli sama kakak disini," ungkap Cha dengan perasaan sedih.
"Sika do'ain mudah-mudahan kakak dapat rezeki yang tak terduga, biar bisa pulang ke Medan, hehehe," Sika mengaharapkan kepulangan kakak yang sangat disayanginya.
"Aaamiiin dek. Ya sudah kalau gitu, besok-besok kakak akan hubungi Sika lagi ya. Salam buat sibungsu dan Mama, Assalamu'alaikum dek!"
"Wa'alaikumussalam kakak..!" balas Sika.
Lalu tlp pun dimatikan Cha. Dia merasa lega telah mendengar suara riang adiknya Sika. Dia berharap Sika akan baik-baik saja disana. Lalu Cha menoleh kearah Zain. Ternyata Zain masih tertidur pulas dalam penglihatan Cha. Padahal, Zain sudah bangun dari tadi. Hanya saja dia diam dan ingin mendengarkan pembicaraan kakak-beradik.
Zain merasa bangga melihat Cha yang sangat menyayangi adiknya. Perlahan-lahan Zain berpura-pura meregangkan ototnya dan membuka matanya.
Cha kaget dan menoleh kearah Zain. Dia melihat Zain sudah bangun dan tersenyum kearahnya.
"Kamu sejak kapan bangun?" tanya Cha curiga.
"Baru aja sayang!" jawab Zain.
"Oh...,kirain sudah dari tadi, tapi pura-pura masih tidur," sindir Cha.
__ADS_1
"Hahaha, kamu bisa aja tebakannya," balas Zain tersenyum. Lalu dia mengecup kening Cha dengan lembut.