Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Menghabiskan waktu bersama Zain


__ADS_3

Cha selalu memandang Zain yang asyik ngobrol dengan Pita.


"Ekhemmm, jangan dilihatin terus Cha, nanti jatuh cinta sepenuhnya loh," ledek Dewi yang memergoki Cha saat menatap Zain.


"Isssssh Lo ini," Cha melengos.


"Dia sebenarnya sudah jatuh cinta sama saya Wi dari dulu, tapi gak mau mengakuinya," sindir Zain sambil mengedipkan sebelah matanya ke Cha.


"Wuekkk, sapa juga yang jatuh cinta!"


"Hahahahaha, lihat wajah kamu merah gitu, jangan grogi dong Cha!" goda Dewi semakin menjadi.


"Udah ya Wi, jangan terus menggoda gw. Awas Lo nanti kalau ada kekasih, gw balas Lo," Cha merutuki kebodohannya yang menatap Zain dan kepergok sama sahabatnya itu.


"Hahaha, atuuuut."


Zain langsung merangkul pinggang Cha, sambil mengelus perut Cha. Cha yang diperlakukan seperti itu, melototkan matanya menatap Zain. Tapi Zain malah membalasnya dengan senyuman dan ciuman dengan menggerakkan bibirnya saja. Syukurnya Pita tak melihat aksi Zain yang genit terhadap Cha.


"Udah selesai Pita maemnya, sekarang kita balik ya. Kasihan Ibu dirumah," ajak Cha demi menghindari kejahilan sahabat dan kekasih simpanannya.


"Pita udah siap Mbak. Ayo pulang, Ibu pasti udah nungguin Pita."


Ayo sayang kita ke kontrakan, aku bayar dulu ya. Kalian tunggu aja disini bentar," Zain melangkah ke kasir untuk meminta bill nya dan membayar makanan mereka.


"Cha, gila ya tuh cowok, tiba-tiba ngasih surprise gini sama Lo. Keren...bucin abis tuh cowok. Padahal kalau gw lihat, dia itu cool banget dan pelit senyum. Tapi sama Lo, senyum merekah mulu..," Dewi takjub melihat Cha yang membuat seorang Zain menjadi bucinnya.


Lalu Zain datang menghampiri mereka bertiga dan mengajak mereka balik ke kontrakan.


"Ayo sayang kita pergi dari sini. Aku pengen ngobrol serius sama kamu," Zain menatap wajah Cha. Rasanya dia pengen banget menerkam Cha saat ini juga, tapi itu gak mungkin karena ada sahabat dan anak kecil.


Mereka keluar dari cafe itu. Ternyata sudah ada mobil yang menunggu mereka di depan cafe.


"Ayo sayang, kita masuk kemobil, Zain mengajak Cha.


"Ayo Wi," ajak Cha.


"Kami duduk didepan aja ya Cha, biar Pita bisa lihat-lihat depan," Dewi sengaja memilih duduk didepan agar Cha dan Zain bisa berdua'an dibelakang.


"Tapi Wi, kenapa gak gabung aja dibelakang!" Cha merasa sungkan sama Dewi.


"Ya udah sayang, Pita kan pengen lihat jalan-jalan dari depan. Kita berdua aja dibelakang ya," Zain langsung menggenggam tangan Cha dan membawanya masuk kemobil.


Didalam mobil Cha salah tingkah karena duduk berdua sama Zain. Saat mereka saling diam, ponsel Zain berbunyi. Zain melihat Papanya yang menghubungi.


"Assalamu'alaikum Pa, ada apa?" tanya Zain.


"Zain, es-tu arrivé en Indonésie?" tanya Papanya.


"(Zain, apa kamu sudah sampai di Indonesia)?" tanya Papanya.


"Sudah Pa, nih aku lagi bareng calon mantu kalian," ucap Zain sambil melirik kearah Cha.


"Nous voulons apprendre à le connaître. Pouvons-nous entendre sa voix ou le voir en direct?" tanya Papanya disebrang sana.

__ADS_1


"(Kami ingin berkenalan dengannya. Bisakah kami mendengar suaranya atau melihatnya langsung)?" tanya Papanya Zain.


"Désolé Pa, nous sommes sur le chemin du retour vers sa maison. Plus tard, quand il arrivera, j'appellerai certainement papa et mama!" Zain tidak mau VC and saat di mobil. Karena ada Dewi dan Pita.


"(Maaf Pa, kami lagi dijalan mau pulang ke rumahnya. Nanti saja kalau sudah sampai, aku pasti menghubungi Papa dan Mama)!" balas Zain.


"Mais ta mère est très curieuse de la femme qui a fait tomber amoureux d'elle la figure cruelle de Zain!" harap Papanya.


"(Tapi mama kamu penasaran sekali dengan perempuan yang sudah membuat sosok zain yang kejam bisa jatuh cinta terhadapnya)!" harap Papanya.


"Papa a dit que maman devait être patiente, Zain rappellera certainement plus tard!" balas Zain.


"(Papa bilang sama Mama harus sabar, nanti pasti zain hubungi kembali)!" balas Zain.


"Ok,, ton Papa et ta Maman l'attendront," Papanya mengakhiri obrolan mereka.


"(Ok, Papa dan Mamamu akan menunggunya)," obrolan pun berakhir.


Zain langsung mendaratkan ciuman di pipi Cha. Dia memeluk Cha dari samping. Cha tentu saja kaget dengan perlakuan Zain.


"Apaan sih kamu Zain, gak enak sama mereka," Cha berbisik di telinga Zain.


"Berarti kalau gak ada mereka boleh dong sayang! Aku kangen banget loh...!" goda Zain dengan membisikkan ditelinga Cha.


Cha langsung salah tingkah dan malu tapi mau, hahaha.


Zain seperti anak kecil yang ngelendot sama Ibunya. Begitulah dia sama Cha, nempel terus kayak perangko. Hingga akhirnya Zain tertidur di pundak Cha. Cha gak tega membangunkannya. Jadi dia membiarkan Zain memeluknya sambil tidur.


"Cha, nanti sepertinya gw dan Pita tidak ikut sama kalian. Biarlah, kamu menghabiskan waktu berdua sama dia. Mungkin kalian perlu ngomong dan menceritakan tentang keadaan kamu," Dewi melihat kebelakang dan mengatakan ketidak ikutan mereka nantinya.


"Ya Wi, gw juga mau ngobrol sama dia. Gw gak mau mengalami hal yang sama lagi dengan yang dulu.


Saat mereka ngobrol, ternyata Zain mendengar semuanya karena dia tidak tidur sepenuhnya. Dia hanya pengen memeluk Cha dan merebahkan kepalanya di pundak Cha karena nyaman mencium aroma lavender nya Cha. Zain juga melihat Cha memakai cincin pemberiannya.


"Sungguh cantik dan indah diajarinya," bathin Zain saat melihat jari manis Cha.


Sekitar sejam dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah kontrakannya. Cha pun membangunkan Zain pelan-pelan.


"Zain, kita sudah sampai. Ayo bangun!" Cha mengusap-usap pipi Zain membangunkannya.


Zain pun menggeliat membuka matanya. Namun saat matanya terbuka, yang dihadapannya justru yang membuat dia menelan salivanya. Bagaimana tidak, dia disuguhkan dengan keindahan si kembar putih mulus. Karena Cha tidak menyadari kalau dua kancing kemejanya terbuka, hingga Zain bisa melihat isi dari kemeja itu.


"Sayang, kancing dulu baju kamu, tuh si kembar narsis," Zain menunjuk dengan memajukan bibirnya sambil tersenyum genit.


Cha terkejut dan langsung mengancingkan bajunya.


"Hmmm, berarti kamu dari tadi udah melihatnya ya?" kesal Cha bercampur malu.


"Sayang, jangan malu. Kita udah merasakannya bersama, kehebatan senjataku dan sikembar," goda Zain tanpa malu.


"Isssss, kamu ini mesum banget Zain. Sejak kapan kamu jadi mesum begini," Cha merasa kesal dengan kemasukan Zain.


"Sejak mengenalmu dan jatuh cinta sama kamu. Dunia ku dipenuhi dengan dirimu sehingga membuatku menjadi bucinnya kamu sayang!" Zain tersenyum lebar memamerkan giginya yang seperti gigi kelinci. Lalu tanpa aba-aba, Zain mengecup sekilas bibir Cha.

__ADS_1


"Zain....!" teriak Cha dengan wajah merona.


Sedangkan Dewi dan Pita sudah turun duluan. Jadi tinggal Zain dan Cha yang berada didalam mobil. Setelah mendengar teriakan Cha, Zain dengan santainya menggenggam tangan Cha untuk keluar dari mobil. Dia merasa senang sudah membuat Cha kesal.


"Sungguh menggemaskan," gumam Zain yang tak terdengar oleh Cha.


Mereka berdua sudah keluar dari mobil. Zain memandang rumah Omnya. Sekilas dia teringat tentang kedekatannya dengan sepupunya yang sembrono itu. Mereka menghabiskan bermain bersama dan menjadi dekat. Hingga mereka berpisah karena melanjutkan study keluar negeri.


"Hah, bagaimana khabar si sembrono itu ya? Sudah lama tidak mendengarnya!" gumam Zain sambil senyum-senyum didepan rumah Om nya.


"Ayo Zain masuk!" ajak Cha.


Pita berlari masuk kedalam rumah memanggil Ibunya.


"Ibu...! Pita udah pulang nih..!" teriak Pita sambil mencari keberadaan Ibunya dikamar.


"Eh..sayang Ibu sudah pulang. Mana Mbak Dewi dan Cha?" tanya Ibunya.


"Itu, Mbak Dewi lagi minum. Kalau Mbak Cha lagi sama pacarnya," Pita berbisik kepada Ibunya saat menyebut pacar.


"Pacar?" Ibunya mengernyitkan alisnya.


"Iya Bu, Om itu gantenggggg banget. Ayo Bu kita lihat!" Pita mengajak Ibunya keluar kamar untuk menemui Zain.


"Eh nak Cha. Maaf Ibu ngerepotin buat jemput Pita," ucap Ibunya Dewi yang sekedar basa basi.


"Oh ya Bu, ini orang membantu kita selama ini namanya Zain. Dia keponakan dari Omnya yang punya rumah ini," jelas Cha.


Zain menyalami Ibunya Dewi dan tersenyum ramah.


"Saya Zain, Bu. Keponakan yang punya rumah sekaligus calon suaminya Cha.


Cha yang mendengar Zain dengan pedenya mengatakan calon suami, terbatuk-batuk.


"Sayang kamu kenapa, kok jadi batuk?" Zain panik lalu dia memanggil Bu Marni untuk meminta air putih.


Setelah Bu Marni melihat keberadaan Zain, mereka kaget bercampur senang. Karena keponakan majikannya datang kerumah itu.


"Eh Tuan Zain. Nih air putihnya," Bu Marni langsung memberikan air putih ke tangan Zain.


"Makasih bi," jawab Zain.


"Sayang, kamu minum dulu ya," Zain memberikan perhatiannya.


"Oh Tuan Zain ini calonnya nak Cha. Ibu senang mendengarnya. Kalau begitu Ibu masuk dulu kekamar ya, mau bantu Pita buat ganti baju," Ibunya Dewi meninggalkan mereka berdua.


"Bi, gimana khabar kalian?" tanya Zain dengan intonasi tegas tak ada senyuman.


"Kami baik Tuan. Tuan mau dimasakin apa buat hari ini?" tanya Bu Marni.


"Gak usah bi, saya sama Cha mau keluar jalan-jalan. Dan mungkin kami akan makan diluar," jawab Zain datar.


Bu Marni menundukkan kepalanya berpamitan untuk kembali ke belakang.

__ADS_1


__ADS_2