Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Berkenalan Dengan Tiga Cowok.


__ADS_3

Ina datang dari arah toilet menuju tempat mereka bertiga.


"Gimana kak udah nyaman?" tanya Cha melihat kakaknya.


"Hahhh legah," sahut Ina. Dia pun menghempaskan bokongnya di tempat dia duduk semula.


"Kak Ina, habis ini kita mau kemana lagi sebelum pulang ke hotel?" tanya Shanti yang menatap Ina dan Cha bergantian.


"Oh ya kakak pengen ke Alun-alun yuk, yang ada pohon beringin itu loh...!" ajak Ina.


"Hehehe, kakak mau coba jalan diantara dua pohon beringin itu ya?" tanya Shanti menggoda.


"Pengen coba aja sih Shan," jawab Ina santai.


Alun-alun Kidul Yogyakarta memiliki dua pohon beringin yang sudah berumur ratusan tahun. Salah satu daya tarik yang membuat orang datang ke Alun-alun Kidul adalah adanya mitos beringin kembar. Di mana siapa saja yang berhasil berjalan di antara dua beringin dengan mata tertutup, maka konon keinginan dan hajatnya akan terkabul. Hal ini disebut Masangin. Selain itu juga disana tersedia permainan salah satunya adalah odong-odong atau disebut dengan mobil genjot yang dipasang aneka lampu warna-warni. 


Itu lah yang diketahui oleh Shanti dan Ina. Ina ingin mencoba berjalan diantara dua pohon beringin tersebut dan menikmati permainan dia alun-alun saat malam hari.


""Emang disana ramai ya Shan?" tanya Cha heran dengan pembahasan mereka.


"Mmmm rame tenan, Lo liat aja tar. Pasti ketagihan terus ngajak gw jalan ke sana," ledek Shanti sambil tersenyum melihat Cha.


"Ya udah yuk berangkat sekarang aja, jadi pengen tau gw," Cha penasaran dengan yang dikatakan kakak dan sahabatnya.


Setelah Ina membayar makanan mereka. Cha dan Shanti berjalan duluan ke arah parkiran.


"Yuk kita berangkat," kata Ina yang menyamperin mereka berdua.


Mereka pun mengendarai motor dengan beriringan menuju alun-alun kidul. Tak membutuhkan waktu lama karena jalanan tidak macet, akhirnya mereka bertiga sampai di area parkiran alun-alun selatan.


Cha terpelongo melihat keramaian yang ada di depan matanya. Banyak orang-orang yang nongkrong di area alun-alun tersebut.


"Waowww Shan...., keren banget tuh sepeda ada lampu warna warninya, yuk ah naik itu kita," ajak Cha yang kegirangan seperti anak kecil meminta mainan.


"Hahaha, Lo kayak anak kecil aja Cha," celetuk Shanti.


"Udah yuk kita jalan kaki, muter-muter dulu lihat dimana tempat yang pas buat kita duduk nongkrong menikmati wedang jahe," kata Shanti sambil melihat ke arah sekitar alun-alun kidul.


"Ayok, kita cuci mata. Mana tau lihat cowok ganteng, hehehe," hibur Cha terhadap dirinya sendiri.


"Nih anak, mau kuliah atau mau nyari cowok di Jogja ini," ketus kakaknya Ina.


"Dua-duanya dong kak, hehehe," jawab Cha cuek sambil cengengesan.


Mereka berjalan mengitari alun-alun kidul. Banyak mata yang memandang ke arah mereka bertiga, terutama para laki-laki yang sedang duduk-duduk atau sedang berada diatas motor.


Namun pandangan para lelaki itu tak dihiraukan mereka bertiga. Karena mereka fokus untuk mencari tempat duduk lesehan di pinggiran trotoar alun-alun kidul.


Setelah berjalan beberapa menit menikmati keindahan malam di alun-alun, akhirnya mereka mendapatkan tempat pas di depan pohon beringin berada.


Mereka duduk beralaskan tikar dan memesan wedang jahe.


"Heummm, wangi banget nih minuman, gw coba ya," kata Cha yang mencium aroma wedang jahenya.


"Coba aja, enak kok," balas Shanti yang telah duluan meminum wedangnya.


"Kak Ina, enak kan wedang jahenya?" tanya Shanti.


"Mantep lah Shan," jawab Ina sambil meminum kembali wedang jahenya.


Mereka sangat menikmati minuman hanget di alun-alun. Saat menikmati minuman, tiba-tiba mereka di samperin beberapa laki-laki yang masih muda.


"Hai...," sapa laki-laki yang item manis.


"Boleh kami ikutan gabung?" tanya laki-laki yang berkulit putih berkaca mata.


"Silahkan," sahut Ina dengan santai.


Mereka bertiga duduk di hadapan Ina, Shanti dan Cha.


"Boleh kita berkenalan? Nama saya Dino," kata laki-laki hitam manis sambil mengulurkan tangannya ke Ina.


Ina menyambut uluran tangan laki-laki tersebut.

__ADS_1


"Saya Ina dan ini Shanti, ini Cha," tunjuk Ina kepada kedua sahabat tersebut.


"Oh ya saya Imran dan nih teman saya namanya Ghani.


"Hai," sapa Ghani sambil melirik ke arah Cha.


Cha hanya tersenyum melihat kehadiran mereka bertiga. Dia tidak terlalu memperdulikannya. Dia asyik meminum wedang jahenya.


Ghani yang dari tadi meliriknya, tersenyum dalam hatinya.


"Cuek banget nih cewek," bathin Ghani sambil menyunggingkan senyumnya sekilas.


"Oh ya, kalian dari tadi disini?" tanya Dino.


"Kami baru aja nongkrong disini. Lah kalian apa sudah dari tadi di alun-alun ini?" tanya Ina balik sambil senyum-senyum melihat Dino.


"Sama, kami baru aja muter-muter, nyari tempat yang pas buat nongkrong. Trus lihat kalian bertiga, kenapa gak bareng aja gabungnya," jelas Dino.


"Hmmmm modus," bisik Shanti ke telinga Cha.


Cha yang mendengar bisikan Shanti, spontan tertawa.


"Hahaha," tawa Cha sambil menutup mulutnya karena keceplosan tertawa.


"Kenapa mbaknya?" tanya Imran yang juga sedang memperhatikan Cha.


"Ah gak apa-apa. Tadi lucu aja lihat tuh mbaknya hampir jatuh dari sepeda lampu tuh," bohong Cha sambil melirik Shanti.


"Kalian kuliah dimana nih kalau boleh tau?" tanya Dino melihat kearah Ina.


"Kalau saya udah selesai kuliah. Tapi mereka berdua sedang kuliah," jawab Ina sambil melihat Shanti dan Cha.


"Oh..., emang kuliah dimana?" tanya Imran penasaran.


Ketika Ina hendak menjawab, Shanti langsung menyela ucapan Ina.


"Oh kami kuliah di Universitas UII," jawab Shanti langsung sambil tersenyum penuh arti kepada Ina.


"Ih gimana sih nih kakak nya Cha. Masa mau kasih tau yang benar sama orang baru dikenal, dasar ganjen," umpat Shanti di dalam hatinya.


"Kami ngambil apa aja yang bisa diambil," kesal Shanti sambil cengengesan.


Cha yang mendengar ucapan Shanti, langsung menyemburkan minumannya dan dia pun keselek.


"Duh Cha pelan-pelan dong minumnya. Gini nih kalau kebanyakan rasa penasaran.


Cha yang masih keselek, mendengar celotehan Shanti, malah tambah batuk-batuk terus.


"Nih kasih air putih," kata Ina sambil menyodorkan air botol.


Cha menerima botolnya dan meminum air putih tersebut. Dia pun mulai menarik nafasnya pelan-pelan dan menghembuskan nya perlahan.


"Gimana udah enakan?" tanya Ghani tiba-tiba.


"Eh..u..udah kok," jawab Cha gugup.


"Syukurlah," balas Ghani lagi.


"Eits kenapa nih cowok perhatian sama Cha?" bathin Shanti yang melihat Ghani dan Cha.


Dino asyik mengobrol dengan Ina, sedangkan Shanti dan Cha ngobrol bareng Imran dan Ghani. Tapi yang banyak berbicara Shanti dan Imran. Cha hanya menjadi pendengar Budiman. Begitu juga dengan Ghani.


Malam pun semakin larut. Mereka memutuskan untuk mencoba berjalan diantara kedua pohon beringin itu.


"Oh ya, kami mau mencoba jalan di beringin itu. Apa kalian mau ikut?" tawar Ina sambil melihat ketiga laki-laki tersebut.


"Mmm, kayaknya boleh tuh," sahut Imran langsung.


"Iya, aq juga mau coba," kata Dino.


"Gimana Gan, Lo ikut kan?" tanya Imran.


"Baiklah, aq ngikut aja," jawab Ghani.

__ADS_1


Mereka semua beranjak dari tempat lesehan tersebut dan berjalan beriringan. Ina jalan bersama Dino. Sedangkan Shanti dan Cha jalan didepan dan diikuti sama Imran dan Ghani.


Tak perlu berjalan jauh, akhirnya mereka sampai didepan kedua pohon beringin tersebut.


"Ayo siapa nih yang mau coba?" tanya Dino yang sudah berdiri di dekat pohon beringin.


"Aq mau coba deh, tapi lihatin ya," kata Ina yang mulai keganjenan dengan Dino.


"Pasti, sini biar aku tutup mata kamu pakai nih saputangan aku," kata Dino sambil mengeluarkan sapu tangannya dari kantong jaketnya. Dino meminta Ina membelakangi nya agar bisa dipasang sapu tangan tersebut.


"Kamu udah siapkan Na?" tanya Dino yang berada dibelakang Ina.


"Iya, aku siap kok, bismillah," kata Ina dengan semangat.


Ina mulai berjalan perlahan ke depan. Awalnya dia bisa berjalan lurus, tapi beberapa detik kemudian dia mulai berjalan ke kiri. Mereka yang melihat Ina mulai berbelok, malah teriak.


"Jangan ke kiri kak...!" seru Cha.


"Belok lagi ke kanan Na..!" teriak Dino yang terus menyemangati Ina.


"Ayo kak semangat..." dukung Shanti.


Mereka terus mengarahkan Ina agar bisa berjalan lurus. Namun usaha Ina tidak berhasil. Dia malah jauh melenceng dari jalan sebenarnya. Akhirnya dia pun menyerah dan membuka penutup matanya.


"Wahhhh, jauh banget aku beloknya," kesel Ina kepada dirinya sendiri.


Dino mendatangi Ina dan memberikan perhatian kepada Ina.


"Namanya juga usaha Na, gak usah di pikirkan lah," kata Dino yang menghibur Ina.


"Cha, Lo gak coba?" tanya Shanti yang melihat ke arah Cha.


"Nggak ah, Lo aja Shan," usul Cha kepada temannya.


"Aku pengen coba deh," kata Imran semangat.


"Hahaha tumben Lo mau nyoba beginian Ran," celetuk Dino.


"Ya pengen aja, sapa tau berhasil jalan dengan lurus," jawab Imran.


"Udah nih sapu tangannya, Lo pakai sendiri ya," kata Dino sambil menyerahkan sapu tangannya.


"Walah, giliran cewek, Lo mau pakaikan. Giliran gw malah ogahan Lo," protes Imran yang menatap Dino tajam.


"Hehehe, namanya juga cewek, ya pasti dibantu lah. Kalau cowok kan bisa sendiri," jawab Dino cengengesan.


Imran hanya bisa menggerutu dalam hatinya. Dan dia segera mencoba berjalan dengan menggunakan penutup mata.


Sama halnya dengan Ina. Awalnya Imran berjalan dengan lurus. Namun setelah beberapa meter, dia malah berbelok. Tapi Imran tidak menyerah, dia mencoba terus berjalan dan hasilnya tetap sama seperti Ina. Akhirnya Imran juga menyerah dan membuka penutup matanya.


"Sial, gw juga gak bisa," umpat Imran pelan.


Mereka semua tertawa melihat tingkah Imran yang penuh semangat dan akhirnya menyerah juga.


Waktu tak terasa, hingga jam menunjukkan pukul 23.00 malam. Ina, Cha dan Shanti memutuskan pulang ke hotel. Ina tidak memberi tau kepada ketiga laki-laki tersebut, mereka menginap di hotel.


"Udah malam nih, kami balik duluan ya," kata Ina kepada ketiganya.


"Loh cepat banget Na?" tanya Dino.


"Iya dah malam banget. Lagian kami juga pengen istirahat. Terima kasih ya atas perkenalannya," kata Ina kepada Dino dan teman-temannya.


"Ma, boleh tukaran no gak? Sapa tau pengen ketemu lagi, boleh kan?" tanya Dino santai.


Ketika Ina hendak memberikan no nya, lagi-lagi Shanti menyela ucapan Ina.


"Kak, biar aku aja yang kasih no nya ya," kata Shanti sambil mengedipkan sebelah matanya ke Ina.


Ketiga laki-laki tersebut tidak melihat kedipan mata Shanti. Akhirnya Shanti memberikan no palsu kepada Dino.


"Kalau mau menghubungi nanti aja ya, karena ponselnya gak dibawa, lagi di charge," bohong Shanti kepada ketiganya.


"Ok gak apa, yang penting udah nyimpan no nya kok," jawab Dino yang merasa senang.

__ADS_1


"Dia gak tau aja gw kerjain Lo," bathin Shanti sambil menyunggingkan senyum sinisnya.


"Besok kita bisa ketemuan lagi gak ya disini," kata Dino yang berharap Ina dan Shanti serta Cha mau mempertimbangkannya.


__ADS_2