Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Cha Memutuskan Ngekost


__ADS_3

Cha menoleh kebelakang, dia kaget melihat kehadiran Ghani. Cha ketakutan karena Ghani adalah teman Dino.


Cha pun berjalan cepat menghindari Ghani. Dia berlari memasuki salah satu outlet yang ramai orangnya.


Ghani pun heran dan mengejar Cha kearah outlet itu. Ghani mencari keberadaan Cha.


"Hmmm kemana dia pergi? Dan kenapa dia ketakutan gitu lihat gw?" bathin Ghani yang terus mengedarkan pandangannya kesana kemari.


Sedangkan Cha terus menghindar. Dia mengelilingi pakaian yang bergantungan ditengah-tengah sambil mengintip keberadaan Ghani.


"Kenapa gw harus ketemu dia? Gimana ini, gw jadi parno gini," bathin Cha yang terus berjalan kesana kemari.


Hingga akhirnya Cha sampai di depan pintu outlet itu. Dia bergegas keluar dari berlari menuju lantai atas menggunakan lift.


"Hahhh, semoga dia tidak mengejar gw. Jangan sampai gw ketemu dia lagi," gumam Cha.


Cha pun masuk kedalam lift. Dia menunggu sampai lift terbuka. Ketika lift terbuka, dia melihat Dino dan Imran diantara orang yang mengantri ingin masuk ke dalam lift.


Cha mengurungkan niatnya untuk keluar lift. Dia bertahan berdiri di belakang sepasang suami istri dan anaknya.


Ternyata Dino dan Imran tidak bisa masuk kedalam lift karena isinya penuh. Akhirnya pintu lift tertutup. Saat pintu lift tertutup, Cha kepergok menatap kearah Imran.


"Loh bukannya itu tadi Cha ya," ucap Imran yang melihat keberadaan Cha diantara orang yang berada di dalam lift.


"Siapa maksud Lo?" tanya Dino.


"Itu tadi gw sepertinya melihat Cha di dalam lift," jawab Imran.


"Masa sih? Gw gak ada lihat dia didalam. Mungkin Lo salah lihat kali," balas Dino.


"Iya kali gw salah lihat," pikir Imran.


Dari arah belakang Ghani datang menyamperin mereka. Ternyata Dino dan Imran sengaja tidak masuk kedalam lift karena menunggu Ghani.


"Nah itu Ghani," tunjuk Imran yang melihat kearah Ghani.


Dino pun ikut menoleh ke arah Ghani. Dia melihat Ghani seperti habis lari-larian kecapean.


"Kenapa Lo Ghani, seperti habis dikejar setan gitu wajah Lo," celetuk Dino.


"Iya tadi gw gak sengaja ketemu Cha. Dia lagi jalan sendirian. Pas gw tepuk pundaknya, dia malah kabur seperti orang ketakutan gitu," jelas Ghani kepada kedua temannya.


"Tuh kan bener, gw juga tadi seperti lihat Cha di dalam lift," balas Imran meyakinkan Dino.


"Oh, kalian lihat Cha juga?" tanya Ghani heran.


"Si Imran, katanya tadi dia melihat Cha didalam lift itu," terang Dino sambil menunjuk kearah lift.


"Berarti Cha sekarang lagi di Mall ini? Kenapa dia menghindar dari kita ya?" tanya Imran heran.

__ADS_1


Dino hanya diam mendengar kedua temannya membahas tentang Cha.


Hmmm, aku yakin dia takut karena mereka berteman denganku. Padahal walaupun mereka teman ku, mereka tidak tau pekerjaanku," bathin Dino.


"Ya udah kita ke cafe aja sekarang. Perut ku udah keroncongan nih," celetuk Ghani.


"Ya setuju. Kita nongkrong dicafe aja," seru Imran.


Mereka pun mencari cafe di lantai dua. Setelah menemukan tempat yang cocok buat nongkrong, mereka bertiga masuk kedalam dan memesan makanan.


Sedangkan Cha, sudah ketakutan karena melihat Dino dan Imran. Akhirnya Cha memutuskan untuk luar dari Mall itu dan memilih pergi ke Malioboro. Cha berjalan ke halte bus menunggu busway lewat.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya busway nya pun tiba. Cha naik ke dalam dari yang tidak terlalu ramai penumpangnya. Dia merasa senang karena ini baru pertama kali dia naik busway. Cha duduk diantara penumpang laki-laki.


Selama perjalanan, Cha lebih memilih melihat inboxnya. Dia pun membaca pesan-pesan dari Zain. Dia pun senyum-senyum sendiri tanpa perduli dengan orang disekitarnya.


Sesampainya Cha di Malioboro, Cha memilih turun di halte dekat Beringharjo. Cha pun turun dan berjalan ke arah Beringharjo. Dia menikmati kesendiriannya dengan melihat-lihat baju batik.


Hingga tak terasa waktu sudah menjelang sore. Cha memutuskan untuk kembali ke rumah eyang Shanti. Perjalanan dari Malioboro ke tempat eyangnya Shanti lumayan jauh. Namun itu tak membuat Cha letih. Dia malah happy bisa jalan-jalan sendiri tanpa ada yang mengganggunya.


Sesampainya Cha di rumah eyang nya Shanti, Cha bertemu dengan mamanya Shanti.


"Loh nak Cha dari mana? Apa mbak Ina nya sudah berangkat?" tanya mamanya Shanti.


"Maaf Tante, tadi habis ngantar mbak Ina, saya pergi jalan-jalan sebentar membeli keperluan, jawab Cha dengan sopan.


"Oh ya sudah kalau begitu. Tante khawatir aja, takut kalau nantinya kamu kesasar. Kamu kan baru ini ke Jogja, jadi Tante khawatir," ucap mamanya Shanti dengan tulus.


"Oh iya silahkan nak. Shanti juga ada kok dikamarnya," balas mamanya Shanti yang memberitahukan keberadaan Shanti.


"Iya tan," sahut Cha. Lalu dia meninggalkan mamanya Shanti masuk kedalam rumah.


Cha mengucapkan salam dan berjalan menuju kamarnya. Lalu dia membuka kamarnya dan ternyata di dalam kamarnya sudah ada Shanti sedang asyik rebahan di tempat tidurnya.


"Loh Shan, Lo ngapain disini?" tanya Cha yang kaget dengan kehadiran Shanti.


"Ya nungguin Lo lah," bohong Shanti.


"Kenapa harus nungguin gw di kamar ini. Bukannya Lo bisa nunggu diluar kamar? tanya Cha lagi yang menatap Shanti curiga.


"Gw pengen rebahan aja disini. Lagian nih kan rumah gw, boleh dong gw masuk kamar Lo," ucap Shanti seenaknya.


Cha yang melihat wajah santai Shanti dan mendengar ucapan Shanti, rasanya dia ingin memaki sahabatnya ini. Namun Cha sadar, saat ini dia berada di rumah eyangnya Shanti.


"Ya udah sekarang Lo keluar, gw mau mandi," ketus Cha sambil mengusir Shanti.


"Itu foto Lo sama Yoga waktu dimana?" tanya Shanti tiba-tiba.


"Waktu di Medan," jawab Cha singkat.

__ADS_1


"Mesra banget ya kalian. Gw jadi ngiri deh, pengen punya pasangan seperti Yoga," ucap Shanti yang sengaja membuat Cha marah.


"Lo bisa gak keluar sekarang! Gw dah gerah banget nih," bentak Cha sembari menarik tangan Shanti untuk keluar dari kamarnya.


Shanti yang diperlakukan seperti itu, tak terima. Dia pun marah dan balik membentak Cha.


"Lo bisa gak sopan sama gw. Nih rumah eyang gw tau. Lo itu numpang disini, ngerti," bentak Shanti tak kalah tajam.


"Brengsek Lo," maki Cha sambil membanting pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam kamar.


"Benar-benar dah berubah tuh anak. Nyesel gw tinggal disini. Mendingan besok gw nyari kost-kostan biar jauh dari dia. Sahabat macam apa dia, omongannya menyakiti hati sahabatnya sendiri," gumam Cha kesal. Lalu dia pun membersihkan badannya karena sudah merasa lengket.


Malam pun tiba. Cha memilih tidak keluar kamar. Dia fokus mengecek kost-kostan yang ada di Jogja. Dia mencoba menghubungi no-no yang tertera di beberapa kost-kostan yang disukainya.


"Besok gw harus pindah dari sini. Tapi gimana ngomongnya ya sama mamanya dia? Ah lihat besok aja, yang penting gw dapat dulu kost-kostannya," ucap Cha berbicara sendiri.


Gak terasa perutnya sudah mulai keroncongan. Cha memilih memesan makanan online. Tiba-tiba muncul pesan baru dari Zain. Cha pun membuka pesan itu. Dia tersenyum membaca isi pesannya.


"Kangen gak sama aku yanx?" tanya Zain di dalam pesannya.


"Tidak tuh," jawab Cha bohong.


"Serius, gak kangen. Tapi kenapa bulu mataku ada yang jatuh ya?" tanya Zain lagi.


"Ya bisa jadi karena rontok. Rambut aja bisa rontok, berarti bulu mata juga bisa rontok dong," jawab Cha ngasal.


"Hehehe, bisa aja kamu sayang. Oh ya kamu dah malem blom?" tanya Zain terus.


"Nih baru mau maem," balas Cha.


"Kenapa lama banget maemnya? Ntar kamu sakit kalau lama-lama maemnya sayang," ucap Zain khawatir.


"Lagi males aja makan. Zain kamu gak balik ke Indonesia?" tanya Cha.


"Kenapa? Kamu mau ketemuan sama aku?" tanya Zain balik.


"Nggak sih, tapi....aku takut Zain," balas Cha.


"Loh, kamu takut kenapa sayang?" tanya Zain lagi.


"Aku gak bisa jelasinnya melalui pesan Zain," jawab Cha.


"Ya udah kita vc ya sayang. Aku kangen sama kamu," ucap Zain yang pengen vc an.


"Tapi aku maem dulu ya Zain. Nanti aku vc kamu duluan ya," balas Cha.


"Ok, aku tunggu ya sayang. Met maem ya, jangan lupa baca do'a emmmuach," ucap Zain dengan kecupan.


"iya Zain," balas Cha singkat.

__ADS_1


Cha menunggu makanannya datang. Lalu beberapa menit datanglah pesanannya. Kebetulan mama dan eyangnya Shanti sudah pada dikamar. Cha keluar ke depan menerima orderannya. Cha pun membawa makanannya kedalam kamar.


"Keputusan gw udah bulat, besok gw harus bisa dapat kost-kostan. Sepertinya sudah tidak nyaman tinggal bareng Shanti," bathin Cha sambil mengunyah makanannya.


__ADS_2