
"Hahaha, aneh Lo Shan," celetuk Cha tanpa menoleh kearahnya.
"Hehe sesekali kan gak apa Cha jadi orang aneh," jawab Shanti dengan wajah senyumnya.
"Kalau gitu habis ini kita samperin aja temen-temen kami disitu, biar kalian bisa kenalan," kata Imran dengan semangatnya.
"Gw nggak deh. Shanti aja kali yang mau. Gw balik aja ke pondok ya," tolak Cha.
"Aku juga, biar nemenin Cha aja ke pondok. Kamu dan Shanti ke tempat kumpul kita aja. Kan Shanti mau tuh kenalan sama mereka," sindir Ghani yang menatap Shanti tajam.
"Eh gak usah, kalian pergi aja semuanya. Biar gw aja yang ke pondok. Lagian ada kak Ina sama mas Dino kan," ucap Cha santai.
"Biar aja Cha, aq temenin kamu," tawar Ghani.
Shanti melirik ke arah Cha. Kemudian dia melihat kearah Ghani. Shanti pun mulai berfikir,
"Ada apa dengan nih cowok, apa dia suka sama Cha ya. Hadehhh, kenapa semua cowok suka sama Cha," bathin Shanti yang mulai ada rasa cemburu.
Setelah lama menaiki delman, hingga mereka kembali ke tempat Ina dan Dino ngobrol. Namun sebelum delman itu pergi, Dino mengajak Ina menuju delman tersebut.
"Hei, kami mau naik delman dulu ya, masa kalian aja yang menikmati naik delman. Kami juga dong," kata Ina dengan senyum cerianya.
"Kirain gak mau naik delman, eh ternyata mau juga mencobanya," ucap Cha sambil menghempaskan bokongnya di lantai pondok.
"Hehehe ya dong," sahut Ina sambil melangkah meninggalkan mereka berempat.
Dino dan Ina berjalan ke arah delman tersebut dan langsung naik ke atas delman.
"Aku pengen difotoin dong Dino diatas delman ya," pinta Ina dengan senangnya.
"Pasti tuan putri, akan saya laksanakan perintah tuan putri, hehehe," ucap Dino sambil cengengesan.
"Ih apaan sih," celetuk Ina sewot.
Ina dan Dino menikmati waktu berdua mereka diatas delman. Keduanya mulai dekat sejak pertemuan tadi. Mereka menghabiskan waktu di delman dengan berfoto dan bercanda.
"Wah, bagus banget nih Din foto kamu. Kelihatan latar belakangnya. Aku mau dong difoto seperti ini!" ucap Ina memohon.
"Kamu mau diambilkan foto dimana? Atau minta sibapak berhenti sebentar dekat ke pantainya, biar aku ambil foto kamu, gimana?" tanya Dino.
"Mau dong, emang si bapak mau berhenti? Coba deh kamu tanya," kata Ina yang kemudian melihat ke arah bapak delman.
__ADS_1
"Pak, bisa mampir sedhela kanggo njupuk foto?" tanya Dino yang berbicara kepada pak delman.
"Oh bisa mas, mbak. Arep mampir neng Endi?" tanya pak delman yang sesekali melihat ke belakang.
"Mung ing ngarepe, pak," ucap Dino yang menyuruh si bapak buat berhenti.
Delman pun seketika berhenti tepat di dekat pantainya. Lalu Dino dan Ina turun dari delman dan berdiri tepat di samping kudanya.
Dino menyuruh Ina berdiri disamping kuda, agar dia bisa mengambil foto Ina dengan bagus.
"Na, gimana kalau kamu foto di dekat kuda ini trus kamu mengahadap ke pantai. Biar aku ambil foto kamu, gimana?" tanya Dina yang memberi sarannya.
"Mmmm, jangan dekat kuda deh Din, aku takut tar kudanya ngamuk lagi. Mending aku berdiri agak jauh dikit dari kuda. Jadi kamu ambil dari depannya," kata Ina memberi saran.
"Ya udah sini aku foto," balas Dino.
Mereka pun mengambil beberapa foto yang menarik. Tak lama kemudian mereka pun segera naik ke atas delman untuk melanjutkan perjalan sepanjang pantai.
Setelah puas naik delman, Ina dan Dino meminta pak delman berhenti di depan pondok tempat mereka tadi naik. Delman pun berhenti. Ina dibantu Dino untuk turun. Namun sampai di depan pondok, Ina hanya melihat Cha dan Ghani saja.
"Loh Shanti kemana dek?" tanya Ina yang heran melihat Cha hanya berdua dengan Ghani.
"Tuh disana sama Imran. Mau kenalan sama teman-teman mereka. Kenapa, kakak mau kesana juga?" tanya Cha sambil menunjuk ke arah Shanti.
"Gimana seru jalan-jalannya naik delman kan kak?" tanya Cha sambil menoleh ke arah Dino.
"Wah mantep. Tadi kami sempat ambil beberapa foto. Emang kalian tadi gak ngambil foto pas jalan naik delman?" tanya Ina melirik Dino.
"Hahaha boro-boro foto, ngobrol aja jarang," sindir Cha sambil melirik Ghani sekilas.
"Masa sih. Kayak patung aja kalian ini," celetuk Ina tertawa renyah.
Tiba-tiba ponsel Cha berdering. Dia mencari ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya. Cha mengerutkan keningnya heran.
"No siapa ini? Angkat gak ya?" bathin Cha keheranan. Akhirnya Cha mengangkat tlp nya.
"Ha..hallo, Assalamu'alaikum," sapa Cha gugup.
Tak ada sahutan dari seberang. Orang yang berada di seberang hanya mendengar suara Cha saja. Hingga Cha mencoba mengulanginya lagi.
"Hallo, siapa ini?" tanya Cha bingung.
__ADS_1
Lagi-lagi tidak ada suara yang menjawab. Cha hanya mendengar suara hembusan nafas dari seberang tlp nya.
"Siapa sih ini. Kalau tlp yang bener dong. Masa di sapa, tidak menjawab. Anda ini siapa?" tanya Cha kesal dengan intonasi yang agak meninggi.
Sedangkan orang yang diseberang senyum-senyum mendengar suara orang yang dirindukannya.
"Ihhhh, kamu itu hantu ya?" tanya Cha ketus.
Terdengar suara seorang laki-laki yang tertawa terbahak-bahak. Seseorang yang diseberang tlp tidak tahan mendengar omelan Cha. Sehingga dia tertawa.
"Hei kamu ini siapa. Ditanya cuma ketawa doang," ucap Cha makin kesal.
Tetep saja yang diseberang blom mau menjawab ucapan Cha.
Karena kesal dipermainkan, akhirnya tlp pun dimatikan Cha. Dia pun menggerutu kesal.
"Dasar orang aneh, tlp tapi gak bersuara, dasar orang gila," umpat Cha yang tak perduli kehadiran Dino dan Ghani.
"Siapa dek?" tanya Ina penasaran.
"Gak tau tuh siapa. Tlp dari orang misterius," jawab Cha cuek.
"Wah banyak fans nya ya Cha," sambung Dino tersenyum melihat Cha.
"Kali dah," celetuk Cha.
"Kalau aku boleh jadi fans berat kamu Cha?" tanya Ghani tiba-tiba menyambung obrolan mereka.
"Hahhh," Cha bengong mendengar ucapan Ghani.
Ketika Cha mau menjawab ucapan Ghani, tiba-tiba ponselnya berdering lagi. Cha melihat no itu kembali menghubunginya.
"Siapa sih ini," bathin Cha penasaran.
Cha mengangkat tlp nya, tapi dia sengaja diam saja. Tetep diseberang tlp juga diam menunggu suara Cha.
"Hei kamu itu gak ada kerjaan ya tlp orang tapi gak bersuara," geram Cha.
"Awas ya kalau tlp lagi, saya pites kamu," ancam Cha.
Sontak saja orang yang diseberang sana tertawa geli mendengar ancaman Cha.
__ADS_1
Namun Cha tidak menghiraukannya. Dia mematikan sambungan tlp nya. Merasa dipermainkan, Cha menonaktifkan ponselnya dan menyimpannya di dalam tas kecilnya.