
Waktu yang singkat membuat Cha dan Dewi memutuskan memberitahukan kepada Ibu Dewi rencana pindahan mereka.
"Cha, hari ini tumben ya gw gak ngelihat adanya kehadiran Dino dan Imran?" tanya Dewi.
Zain yang mendengar pertanyaan Dewi, menyemburkan air minumnya saat dia sedang minum.
"Loh Zain, kamu kenapa?" tanya Cha khawatir.
Zain terbatuk-batuk akibat tersedak minumannya sendiri.
"Gak apa-apa Cha, cuma nih gatal tenggorokan ku," kilah Zain.
"Oh...."
Cha kembali melihat kearah Dewi. Cha baru sadar kalau dia tidak melihat batang hidung kedua laki-laki itu dikampus mereka.
"Iya Wi, Lo benar. Gw hari ini gak ngelihat kedua orang itu. Apa mereka capek ya ngincer gw terus. Habis tuh cari mangsa lainnya di kampus yang lain," ucap Cha menerka-nerka.
"Masa sih, tapi ya syukurlah Cha. Selesai satu masalah kita. Gw bosen asyik diganggu terus sama hal yang berbau jual-menjual," balas Dewi yang merasa jengah.
"Iya Wi, sama. Tapi tetap aja gw penasaran dengan kedua laki-laki itu." Cha melirik kearah Zain.
Ternyata Zain menyadari kecurigaan Cha terhadapnya. Namun Zain berpura-pura tidak mengerti dan biasa saja saat ditatap tajam oleh Cha.
"Udah ah, gak usah kita bahas itu. mending kita nikmati makan siang ini," ucap Dewi dengan kegirangan
Zain yang berada disampingnya cha, hanya menjadi pendengar yang budiman. Dia tidak mau merusak obrolan seputar cewek-cewek. Zain lebih memilih memainkan ponselnya untuk berkirim pesan dengan assistennya.
Setelah puas menikmati makan siang, Zain mengajak Cha untuk kembali kekontrakan.
"Tapi Zain nanti kita singgah dulu ya ke toko kue. Aku pengen beli cemilan cake buat dirumah. Wi, pita mau kan cake, biar dibelikan.
"Mau banget Cha! Oh iya, mereka sudah pulang belom ya Cha?" tanya Dewi kepada Cha.
"Coba hubungi Ibu Lo dulu Wi, biar kita tau mereka saat ini dimana," Cha menyuruh Dewi mengecek keberadaan Ibunya.
Lalu Dewi pun menghubungi Ibunya. Sambungan pertama tidak diangkat sama Ibunya, hingga sambungan terakhir, Ibunya mengangkat tlp Dewi.
"Assalamu'alaikum Bu!" sapa Dewi.
"Wa'alaikumussalam nak!" sahut Ibunya. "Kalian masih dikampus ya?" tanya Ibunya.
"Kami baru selesai dari kampus Bu. Oh ya Bu, Pita sudah pulang sekolah belom Bu?" tanya Dewi seberang tlp.
"Sudah Wi, nih lagi main sama si Bu Novi dan Bu Marni," jawab Ibunya.
"Oh syukurlah. Ibu sudah makan?" Dewi bertanya lagi.
"Sudah Wi. Kalian sudah makan? Kalau belom biar Ibu siapkan," tanya Ibunya.
"Kami sudah makan Bu. Kalau begitu Dewi tutup dulu ya Bu tlp nya," ucap Dewi yang ingin menyudahi obrolannya.
__ADS_1
"Iya nak. Kalian hati-hati dijalan ya," pesan Ibunya.
"Siap Bu!" jawab Dewi.
Obrolan antara Ibu dan anak berakhir. Dewi kembali memasukkan ponselnya kedalam tasnya. Lalu dia menoleh kebelakang melihat kearah Cha.
"Mereka sudah sampai dirumah. Kalau begitu kita lanjut aja ke toko kue yuk!" ajak Dewi.
"Oh syukurlah kalau mereka sudah dirumah ya Wi. Gw takut aja tuh kalau mereka ketemu sama Budemu itu."
"Gw juga belom tau Cha, apakah Ibu gw ketemu sama dia atau tidak. Karena tadi Ibu tidak ada membahas tentang Bude atau Pakde," jelas Dewi.
"Mudah-mudahan ya Wi mereka tidak bertemum, kasihan Ibu Lo, kalau bertemu mereka. Bisa-bisa beliau kepikiran ka?" ucap Cha.
"Iya Cha, semoga saja tidak."
Disebelah Cha, Zain hanya mendengarkan obrolan mereka berdua. Zain merasa bangga melihat Cha yang sangat perduli dengan keadaan orang lain. Diapun senyum-senyum menatap Cha.
Tak berapa lama, mobil sampai di toko kue yang dimaksud Cha. Lalu Zain mengajak Cha untuk masuk kedalam toko kue.
"Sekarang, kita masuk kedalam. Dan kamu bebas membeli kue apa saja disana," ajak Zain yang menyuruh Cha membeli kue kesukaannya.
"Makasih Zain, kalau aku borong semua juga bolehkah Zain?" tanya Cha berharap.
"Tentu boleh, apa sih yang gak aku berikan untuk kamu Cha!" seru Zain.
Cha merasa gak enak hati karena kebaikan yang dilakukan Zain untuknya. Mereka pun masuk kedalam toko kue itu. Dewi melihat dengan tatapan lapar saat banyaknya cake yang terpampang di stelling.
"Udah, kamu ambil aja mana yang kamu suka, sekalian buat Ibu dan Pita. Karena yang tau selera mereka adalah kamu."
"Iya Cha, gw akan memilih apa yang disukai Pita. Pasti dia senang banget bisa makan cake yang enak seperti ini," ungkap Dewi tanpa sungkan dan rasa malu. Dia sudah menganggap Cha saudara kandungnya walaupun tak sedarah. Sehingga rasa malu dan sungkan sudah tidak ada diantara mereka.
Dewi mengambil baki dan melihat-lihat etalase dan stelling yang menyajikan banyak macam kue basah dan kering serta bolu.
Sedangkan Zain duduk di sofa menunggu Cha memilih-milih kuenya.
"Zain, kamu mau kue apa, biar aku ambil?" tanya Cha yang mendatangi Zain di sofa.
"Aku bebas Cha, apa yang kamu pilih pasti aku makan dan nikmati," ucap Zain sambil tersenyum.
"Hmmm, baiklah aku akan pilih sesuai seleraku," Cha melangkah kearah etalase-etalse kue. Dia mengambil kue-kue sesuai seleranya.
Cha sangat menyukai tiramisu, diapun mengambil cake tiramisu yang besar. Lalu beberapa kue untuk assisten rumahnya.
"Cha, nih gw udah banyak ngambilnya. Lo beli apa?" tanya Dewi.
"Nih kesukaan gw, tiramisu sama beberapa kue untuk Bu Marni dan Bu Novi.
Ya udah sekarang yuk kita bayar," ajak Dewi ketempat kasir.
Cha menghampiri Zain dan mengatakan mereka sudah selesai mengambil berbagai macam kuenya. Lalu Zain menyerahkan Black Card nya kepada Cha.
__ADS_1
"Ini gunakan saja kartu ini, ya?" Zain menyerahkan kartunya.
Cha menerima kartu dari Zain, lalu dia menuju ke kasir menghampiri Dewi.
"Gimana Wi, sudah dihitung semuanya?" tanya Cha saat berada disamping Dewi.
"Itu lagi dihitung sama Mbaknya," jawab Dewi yang fokus melihat kasirnya memasukkan kue-kue itu kedalam kotak.
Setelah selesai menghitung belanjaan kuenya, Cha menyerahkan black card milik Zain. Si kasir sempat terkejut melihat Cha. Dia memperhatikan Cha dan Dewi bolak-balik. Ntah apa yang ada dalam pikiran kasir itu, dia seperti orang yang sedang menilai penampilan Cha dan Dewi.
"Ada apa ya Mbak, kok ngelihatin kita seperti itu?" tanya Cha yang merasa risih diperhatikan seperti itu.
"Eh, ah gak ada apa-apa Mbak, cuma lihat Mbak-mbaknya cantik, kilah si kasir.
Cha diam saja tak menanggapi apa yang dijawab si kasir. Lalu dia menerima kembali Black Card dari tangan si kasir.
Setelah selesai dengan urusan bayar membayar, Cha menghampiri Zain yang menunggu disofa.
"Gimana sayang, udah selesai?" tanya Zain saat melihat Cha berdiri dihadapannya.
"Udah Zain, nih lihat banyak banget kami beli!" seru Cha yang merasa puas.
"Gak apa Cha, yang penting kamu suka dan senang." Zain tersenyum menatap Cha.
"Ini Zain kartunya, makasih ya. Tapi tadi aku agak risih dilihat sama kasirnya. Dia ngelihatin dari atas kebawah penampilan kami. Emang ada yang salah ya Zain dengan penampilanku?" tanya Cha bingung.
Zain mengerti dengan apa yang dimaksud Cha. Dia mengerti kenapa kasir itu melihat Cha dari penampilan. Karena Black Card yang digunakan Cha, hanya orang tertentu yang memilikinya. Zain senyum-senyum melihat Cha yang memperhatikan penampilannya sendiri.
"Gak ada masalah kok Cha. Mungkin kasir itu melihat kamu terlalu cantik," hibur Zain.
"Tadi kasirnya juga ngomong seperti itu Zain."
"Ya udah jangan dipikirkan ya, sekarang kita ke mobil dan kembali ke kontrakan. Aku pengen rebahan," ucap Zain.
Mereka pun kembali kemobil dan berangkat menuju kontrakan.
Saat didalam mobil, Dewi tak henti-hentinya menceritakan tentang rasa senangnya bisa masuk ke toko kue itu. Walaupun ada Zain, dia tidak menghiraukannya. Dia terus berceloteh dengan Cha. Cha yang mendengarnya geli dan lucu dengan tingkah sahabatnya yang satu ini.
Saat Cha menatap sahabatnya Dewi, dia teringat tentang Shanti sahabatnya saat SMA dan harus berakhir karena kecemburuan dan rasa tak sukanya Shanti terhadap Cha.
"Hah, gimana Khabar Lo ya Shan? Bagaimanapun, Lo sahabat gw juga, walaupun saat ini Lo sudah berubah membenci gw. Tapi kenangan tentang persahabatan kita dulu tak bisa gw lupakan begitu saja. Apalagi saat kita membeli kue disalah satu Toko kue di Medan, pilihanmu dan pilihanku sama-sama Tiramisu menjadi favoritnya kita," bathin Cha dengan rasa sedih.
Ternyata Zain memperhatikan Cha yang sedang melamun, lalu dia menggenggam tangan Cha dan berkata, " Ada apa Cha?" tanya Zain dengan suara pelan seperti suara berbisik.
"Gw teringat Shanti Zain. Dia juga sangat suka Tiramisu, sama dengan kesukaanku. Tapi sekarang kami menjadi benar-benar jauh karena ketidaksukaannya terhadapku," ucap Cha yang merasa sedih.
"Kalau memang dia kembali seperti dulu lagi, pasti akan diberi jalan untuk kalian bersama menjadi sahabat," hibur Zain.
Cha pun mengangguk-anggukan kepalanya mengiyakan ucapan Zain.
"Semoga ya Zain. Aku ingin dia kembali seperti dulu lagi, biar aku punya sahabat dua yang baik," Cha berharap keinginannya terkabulkan.
__ADS_1