
Sesampainya di kontrakan yang dimaksud, mereka turun dari dalam mobil. Mereka melihat bangunan yang sangat bagus.
"Cha, bagus banget rumahnya! Apa gak salah kita tinggal disini?" tanya Dewi yang merasa sungkan.
"Gw juga gak tau Wi, karena kita kan dibawa kesini sama tuh orang," tunjuk Cha kearah orang suruhan Zain.
"Mbak jadi gak enak nih Cha. Mbak harus bayar berapa nih uang sewanya?" Mbak Ani juga merasa sungkan sama seperti Dewi.
"Kalau untuk uang sewanya gak usah bayar Mbak, nanti uangnya kita kasih buat Ibunya Dewi untuk belanja dirumah, supaya dirumah bisa masak untuk semuanya, gimana?" Cha meminta pendapat kedua sahabatnya terutama Dewi karena Dewi yang memiliki Ibunya.
"Gimana kalau kita rembukkan nanti saja saat semuanya sudah pindah kesini," saran Dewi.
"Mbak setuju, karena bagaimana pun kita harus minta persetujuan Ibunya Dewi," balas Mbak Ani.
"Ya udah kalau gitu kita masuk aja kedalam dulu, kita lihat rumahnya didalam," Cha mengajak Dewi dan Mbak Ani masuk kedalam rumah itu.
Orang suruhan Zain langsung memberikan kuncinya kepada Cha. Lalu mereka masuk kedalam dan melihat isinya. Cha merasa senang karena semuanya sudah lengkap perabotan.
"Cha! Ini benar-benar bagus banget!" seru Dewi yang merasa tak percaya bisa tinggal dirumah sebagus ini.
Sedangkan Mbak Ani biasa saja, karena dia juga memiliki rumah yang bagus. Namun tak sebagus rumah yang mereka tempati saat ini.
"Keren Cha, Mbak bakalan betah nih tinggal disini!" balas Mbak Ani yang berjalan mengitari ruangan.
"Wi, kamar Ibu kamu yang Itu aja karena lebih luas dan bisa bareng adik kamu. Dan kamar kita, silahkan kalian pilih aja." ucap Cha.
"Maaf Mbak Cha, kamar yang ini disuruh Tuan Zain untuk Mbak Cha," tiba-tiba orang suruhan Zain memotong pembicaraan mereka.
"Oh gitu ya, baiklah," balas Cha.
"Jadi tinggal Lo dan Mbak Ani yang mau kamar mana?" tanya Cha kepada keduanya.
"Gw sih ngikut aja Cha. Nih juga Alhamdulillah bisa tinggal disini," Dewi merasa bersyukur.
"Mbak juga Cha, nurut aja. Yang penting bisa kumpul dengan kalian, yang sudah Mbak anggap seperti keluarga buat Mbak," sambung Mbak Ani.
Mereka saling merangkul satu sama lain. Persahabatan yang membawa mereka menjadi keluarga.
"Jangan pernah mengkhianati sahabat yang lainnya," ucap Cha.
"Jangan pernah membenci dan jahat kepada sahabat lainnya," sambung Mbak Ani.
"Dan jangan pernah memanfaatkan sahabat lainnya serta harus saling tolong menolong dalam keadaan susah dan senang," Dewi ikut menimpali ucapan mereka berdua.
Ketiga terus berpelukan seperti teletabis dan mereka tertawa terbahak-bahak merasa lucu dengan tingkah konyol yang dilakukan mereka.
__ADS_1
"Jadi kapan kita pindah?" tanya Dewi sembari melepaskan pelukannya.
"Ini sudah mau sore, tidak mungkin kita mendadak pindah saat ini. Gimana kalau besok jam 10 pagi kita bantu Ibunya Dewi pindah dari sana!" Cha memberikan sarannya.
"Ya udah Wi, kamu tlp dulu Ibumu sekarang, biar beliau bisa siap-siap saat ini. Dan ingatkan kembali, jangan kasih tau kemana pindahnya," sambung Mbak Ani.
"Iya Mbak, sekarang aku tlp dulu ya, biar semua cepat selesainya," sahut Dewi.
Lalu Dewi menghubungi Ibunya. Dan syukurnya langsung diangkat sama Ibunya.
"Assalamu'alaikum Bu, nih Dewi. Oh ya Bu, besok jam 10 Cha sama Mbak Ani akan membantu Ibu untuk pindahan," Dewi menginformasikan kepada Ibunya.
"Loh udah dapat toh nak kontrakannya?" tanya Ibunya.
"Sudah Bu, nih kami lagi dikontrakkannya. Yang pasti Ibu dan adik-adik akan nyaman disini. Oh ya Bu, jangan bilang sama mereka kalau Ibu pindah bareng Dewi. Bilang saja Ibu pindah ke tempat lain yang dekat dengan kerjaan Ibu. Dan bilang juga kalau Ibu sudah dapat pekerjaan di warung makan," Dewi mengajari Ibunya untuk tidak memberitahukan tentang kenyataannya.
"Iya nak, berarti sekarang Ibu beres-beres barang kita ya nak. Kan barnag kita juga tidak terlalu banyak," balas Ibunya.
"Ya sudah kalau gitu Bu, Dewi juga mau balik kekost Cha dulu. Besok Dewi hubungi Ibu lagi, Assalamu'alaikum Bu," ucap Dewi menyudahi obrolannya.
Dewi selesai menghubungi Ibunya, dia kembali menyamperin kedua sahabatnya.
"Gimana Wi, udah dikasih tau sama Ibu kamu?" tanya Mbak Ani.
"Sudah Mbak, besok Mbak dan Lo Cha ketempat Pakde gw ya bantuin Ibu gw pindahan. Tapi tadi sih katanya mau beres-beres biar besok tinggal bawa aja barang-barangnya," jelas Dewi.
"Ya udah kita ke Bukit Bintang aja sampai malam. Dan malamnya baru balik, gimana?" saran Mbak Ani. Karena dia juga takut jika mantannya ke kost-kostan.
"Aku ngikut wae lah, tapi gw laper nih Cha. Bisa gak kita nanti makan dulu sebelum kesana. Atau saat kesana kita singgah di tempat makan," Dewi sudah merasa perutnya keroncongan.
"Iya bolehlah. Gw juga udah laper nih. Kita diantar sama bodyguard teman gw aja ya, lumayan irit ongkos!" sahut Cha sambil melihat ke orang suruhan Zain.
"Om, nanti anterin kita ke Bukit Bintang ya, tapi kalau ada tempat makan, kita singgah bentar buat makan. Omnya juga laper kan," Cha mencoba bercanda dengan suruhan Zain agar tidak terasa kaku.
"Baik Mbak, saya siap menjalankan perintah!" sahut bodyguard itu.
"Gila ya Cha, salut gw sama Lo bisa naklukin cowok tajir," bisik Dewi dengan suara pelan.
"Ah bisa aja Lo Wi," balas Cha sambil geleng-geleng kepala.
Mereka pun beranjak dari rumah itu dan pergi meninggalkan rumah yang akan mereka tempati nanti. Mobil melaju ke arah Bukit Bintang. Namun sebelum sampai ke tujuan, Cha minta berhenti terlebih dahulu ke supermarket untuk membeli cemilan.
"Wi, Mbak, aku ke supermarket dulu ya beli cemilan. Biar ada makanan kita dijalan. Kan bosen kalau gak ngemil," ucap Cha sambil melihat kedua sahabatnya.
"Gw ikut deh Cha. Gw juga mau beli cemilan," Dewi juga ikut keluar.
"Mbak juga ah, mau beli minuman haus," sambung Mbak Ani.
__ADS_1
Akhirnya mereka bertiga keluar dari mobil menuju supermarket. Disana mereka membeli beberapa makanan ringan dan beberapa minuman. Cha juga membelikan orangan suruhan Zain cemilan serta minuman. Setelah mereka membayar belanjaannya, mereka kembali kedalam mobil.
"Om, nih cemilan sama minuman biar tidak bosan diam aja nyetir," celetuk Cha sambil memberikan bungkusan belanjaan.
"Makasih Mbak," sahut bodyguardnya sambil menerima bungkusan itu.
Mereka menikmati perjalanannya menuju Bukit Bintang.
"Oh ya disana kan ada tempat makan sekalian. Disana aja kita makannya ya," Mbak Ani memberikan sarannya.
"Manut ae lah Mbak," sahut Dewi yang sedang mengunyah cemilannya.
"Om, nanti kita langsung aja ke Bukit Bintang, disana aja cari tempat tongkrongan sekalian makan," Cha memberikan instruksi kepada bodyguardnya.
"Siap Mbak."
Tak berapa lama, akhirnya mereka sampai di bukit Bintang dan salah satu cafe yang ada disana.
"Nah disini aja gimana?" tanya Mbak Ani. Mbak Ani ternyata sudah sering ke Bukit Bintang bersama mantannya dan teman kuliahnya. Jadi dia lebih mengetahui seluk beluk Bukit Bintang.
"Asyik nih tempatnya, bisa kelihatan kebawah sana," sambung Dewi.
Cha dan kedua sahabatnya masuk kedalam cafe itu. Mereka mencari tempat duduk yang nyaman sambil menikmati suasana malam hari di Bukit Bintang. Akhirnya mereka memilih tempat didekat arah luar cafe agar bisa melihat kerlap-kerlip lampu malam hari dari Bukit. Cha dan yang lainnya memesan makanan yang disuguhkan dicafe itu.
Malam yang panjang membuat mereka melupakan sejenak problem yang ada. Mereka sangat menikmati pemandangan dari Bukit.
Tiba-tiba Zain menghubungi Cha. Namun Cha tidak mendengar suara ponselnya berbunyi. Saat Cha hendak mengabadikan fotonya, dia melihat ada panggilan tak terjawab dari Zain. Lalu Cha menghubungi kembali no Zain, hingga terdengar suara khas cowok yang selalu membuat Cha senang.
"Assalamu'alaikum sayang, kenapa gak diangkat-angkat tadi tlpnya?" tanya Zain protes.
"Wa'alaikumussalam Zain, maaf, aku lagi di Bukit Bintang sama yang lainnya nih dianter sama bodyguard kamu!" sahut Cha.
"Ekhem, gak ngajak-ngajak aku. Nanti kalau aku ke Indonesia, kamu harus nemani aku kesana," ucap Zain sedikit marah.
"Iya! Ada apa Zain, kamu hubungi aku?" tanya Cha spontan.
"Emang gak boleh ya menghubungi kamu?" jawab Zain kesal.
"Boleh Zain...!"
"Aku mau nanya gimana dengan rumahnya, kamu suka kan? Itu belom seberapa sayang. Aku akan kasih kamu rumah yang lebih mewah dari itu. Tapi kita nikah dulu ya!" goda Zain.
"Hehehe, tunggu aja bagaimana takdir kita Zain," balas Cha.
"Gimana suka gak rumahnya?" tanya Zain lagi.
"Iya Zain, aku suka banget rumah itu. Dan sahabat ku mengucapkan terima kasih karena sudah disewakan rumah yang nyaman untuk dihuni. Terutama Dewi dan keluarganya. Aku juga jadi gak kesepian kalau gabung sama mereka," jelas Cha.
__ADS_1
"Iya sayang, biar kamu ada yang memperhatikan disana. Lagian, kamu juga harus jauh dari laki-laki yang mencoba menjual kamu. Coba kalau ketemu sama aku, sudah aku hajar itu orang," Zain marah saat mendengar Cha menceritakan tentang laki-laki itu yang tak lain adalah Dino.