
Ina dan yang lainnya terheran-heran melihat Cha yang ngomel-ngomel.
"Siapa sih Cha yang menghubungi Lo dari tadi?" tanya Ina yang pengen tau.
"Gak tau nih siapa yang tlp. Orang usil Kak," jawab Cha cuek.
"Udah gak usah digubris kalau tlp lagi," saran kakaknya.
"Udah gw matikan kok ponselnya," jawab Cha jutek.
Ghani yang dari tadi menyimak pembicaraan Cha dan Ina hanya bisa diam menjadi pendengar yang budiman. Dino pun begitu hanya melihat Ina dan Cha ngobrol.
"Mau pulang jam berapa nih kita?" tanya Cha yang menyudahi obrolan tadi.
"Terserah, kakak ngikut aja. Tapi tuh Shanti masih enjoy disana. Sepertinya dia senang berada disana," tunjuk Ina melihat ke arah pondok teman Dino.
Cha pun melihat arah yang ditunjuk oleh Ina. Cha melihat Shanti sedang tertawa dengan cowok yang lainnya.
"Gih kamu samperin Shanti kesana, bilang kita mau pulang," suruh Ina dengan seenaknya.
"Gak ah, ngapain juga datengin tempat yang banyak cowoknya," ketus Cha menatap Ina dengan tajam.
"Loh kalian mau pulang? Bareng kami aja. Biar kamu pulang duluan dari mereka," ucap Dino yang ikut menimbrung obrolan Cha dan Ina.
"Oh gak usah mas Dino. Kami juga mau singgah ke tempat teman. Kalian kalau mau pulang ya silahkan," bohong Cha yang males diikutin cowok-cowok itu.
Ghani dan Dino saling melihat. Ghani sudah mengerti maksud dari ucapan Cha.
"Hmmm, sepertinya dia tidak ingin diikuti. Kenapa ya?" pikir Ghani yang heran melihat sikap Cha.
"Ya udah kalau gitu. Biar aku anter ya Na kalian ke tempat parkiran. Tapi aku kesana dulu ya nemui teman-teman, sekalian bilang ke Shanti kalau kalian mau pulang," ucap Dino.
"Ya udah Cha, aku juga mau gabung sama teman disana. Kalian hati-hati ya dijalan," ucap Ghani dengan tersenyum.
"Terutama kamu Cha, hati-hati ya, kamu cantik hari ini," bisik Ghani di telinga Cha, membuat Cha merinding.
Setelah Ghani membisikkan pujian terhadap Cha, Ghani tersenyum manis sehingga terlihat lesung pipinya membuat Ghani terlihat cakep. Ghani pun memberikan tatapan lembutnya. Tidak ada lagi tatapan dingin yang diperlihatkan.
Cha terbengong mendengar pujian dari Ghani. Dia tidak menyangka, cowok cuek dan pendiam, akhirnya bisa memuji dirinya.
"Kenapa nih cowok, kesambet apa dia sampai berkata manis begitu," bathin Cha yang tidak mau melihat ke arah Ghani.
Cha memilih untuk mengaktifkan kembali ponselnya dari pada harus melihat Ghani yang terus menatapnya.
Ghani dan Dino pergi melangkah menuju pendopo tempat Imran dan teman mereka yang lainnya.
Sedangkan Ina mulai merapikan barang bawaan mereka. Berbeda dengan Cha, dia melihat ponselnya. Ketika dia mengecek pesan masuk, ternyata banyak sekali pesan yang dikirim dari no tak dikenal.
Cha bingung dan mengerutkan keningnya melihat begitu banyak pesan cinta yang masuk ke ponselnya.
__ADS_1
"Kenapa dek?" tanya Ina heran melihat raut wajah Cha.
"Ha," Cha melihat kearah Ina.
"Kakak tanya kamu kenapa seperti orang kebingungan gitu?" tanya Ina lagi.
"Oh.., gak apa-apa kak, ini cuma lihat pesan masuk banyak banget," jawab Cha jujur.
"Emang pesan dari siapa? Kok banyak?" tanya Ina penasaran.
"Nih dari Sika, kak," jawab Cha berbohong.
"Loh Sika kenapa? Emang dia bilang apa," Ina semakin penasaran dengan pesan yang dibilang Cha dari Sika.
"Gak ada yang penting kok Cha. Biasa cuma curhat doang," ucap Cha dengan berbohong.
Ina menatap Cha dengan lekat. Dia merasa penasaran dengan pesan dari Sika.
"Kenapa Sika lebih seneng curhat ke Cha dari pada aku? Padahal aku ini kan kakak tertua mereka. Emang apa enaknya sih curhat ke dia," bathin Ina yang tak suka mendengar Sika curhat sama Cha.
Ina diam aja tidak melanjutkan pertanyaanya lagi. Dia males mendengar kedekatan antara Cha dengan adik mereka Sika. Ina memilih untuk melihat-lihat ponselnya sembari menunggu Shanti datang.
Cha masih sibuk dengan pesan dari no misterius itu. Banyak pesan yang masuk dengan kata-kata kerinduan dan memuji.
"Aku kangen kamu," pesan pertama.
"Kamu tambah cantik aja," pesan kedua.
"Udah gak sabar ingin cepat-cepat menemuimu," pesan ke empat
"Aku akan selalu merindukanmu," pesan ke lima.
"Sampai bertemu di waktu yang tepat," pesan ke enam. Pesan yang terakhir membuat Cha berfikir keras dengan kata-katanya. Cha membaca kembali satu persatu pesan singkat itu. Dia bingung siapa yang mengirimkan pesan.
"Apa maksud pesan terakhirnya ya? Gak mungkin Yoga, kami baru saja berkomunikasi. Dan...., apa mungkin Zain? Tapi dia tidak pernah memberi khabar," ucap Cha dalam hati.
Bagi Cha, Zain itu seperti hilang ditelan bumi tak ada khabarnya.
"Tapi...masa sih Zain! Atau...siapa ya.., ah pusing gw mikirinnya," gumam Cha pelan sambil memasukkan ponselnya.
"Udah kelar curhat-curhatannya sama Sika, ledek Ina kesal karena di melihat kedekatan antara kedua adiknya.
"Hehehe udah, curhatnya cuma sebentar kok," jawab Cha yang cengengesan.
Mereka berdua menunggu kedatangan Shanti sambil melihat ke arah pondok Dino dan kawan-kawannya. Hingga beberapa menit, Shanti dianter sama Dino. Dino sengaja mengantar Shanti, biar bisa mengantar mereka ke parkiran.
Shanti berjalan menuju pondok Cha dan Ina.
"Mau pulang sekarang kak?" tanya Shanti dengan tatapan yang tidak enak melirik Cha.
__ADS_1
"Iya nih Cha mau pulang, takut kesorean," jawab Ina.
"Oh...emang habis nih mau kemana kak?" tanya Shanti dengan sengaja.
Shanti sengaja bertanya karena tadi dia sudah dapat info bahwa mereka akan bertemu teman yang lain. Shanti merasa kesal dengan Cha. Shanti tidak suka melihat Cha, karena setiap cowok yang dia sukai, semuanya menyukai Cha, termasuk Ghani.
Dari awal pertemuan, pertama perkenalan di alun-alun, Shanti sudah tertarik melihat Ghani yang ganteng. Shanti berusaha mencari perhatian dari Ghani. Dan dia juga sering memandang Ghani dalam keadaan terangnya malam. Namun Ghani yang disukai Shanti, malah cuek tak memperdulikan keberadaan Shanti. Ghani justru sering memandang Cha secara diam-diam. Dan itu semua terlihat oleh Shanti.
Saat ini di parangtritis, Shanti lagi-lagi memperlihatkan ketidak sukaannya dengan Cha ketika kehadiran Ghani dan teman-temannya. Sehingga rasa tidak suka yang hadir di diri Shanti tergambar jelas di wajahnya.
Tidak hanya Cha yang merasakan sikap Shanti seperti. Ina juga bisa melihat wajah Shanti yang jutek ketika berbicara dengan Cha.
Ina pun menjawab pertanyaan dari Shanti.
"Habis dari sini, rencananya kita mau ke tempat teman yang lainnya," jawab Ina singkat seperti yang dikatakan Cha tadi.
"Ya udah sekarang kita pulang yuk, takut kemalaman juga," sambung Cha dengan sikap dinginnya.
Mereka bertiga berjalan ke parkiran dianter sama Dino. Cha berjalan beriringan dengan Shanti dengan berjarak. Sedangkan Ina berjalan beriringan dengan Dino. Mereka berjalan dibelakang Cha.
Shanti melambaikan tangannya ke pada teman barunya yang sedang kumpul dengan Imran dan Ghani.
Sampailah mereka diparkiran. Cha langsung naik di atas motor Ina. Dia meminta ke Ina agar boncengan sama Ina. Dan Shanti naik motor sendirian.
Akhirnya mereka meninggalkan Parangtritis dengan keadaan yang tidak nyaman. Karena antara Cha dan Shanti terjadi perang dingin.
Disepanjang jalan Cha masih memikirkan pesan singkat yang diterimanya. Dia tidak memperdulikan sikap Shanti yang jutek begitu. Bagi Cha itu hal biasa yang terjadi antar sahabat. Walaupun sampai saat ini Cha tidak mengetahui apa penyebab sikap jutek Shanti, namun dia percaya Shanti sahabat terbaiknya.
Berbeda dengan Shanti. Shanti justru berubah. Dia merasa tersaingi dengan hal cowok. Dalam dirinya rasa iri mulai menghasutnya, sehingga dia melupakan persahabatan mereka.
Beberapa jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di hotel. Cha berjalan duluan menuju lift hotel. Sedangkan Ina dan Shanti berjalan dibelakangnya.
"Cha tunggu, jangan buru-buru jalannya," protes Ina yang melihat Cha jalan duluan.
"Udah gerah nih Kaka, pengen mandi," jawab Cha ngeles. Cha berusaha bersikap normal seperti tidak ada yang terjadi.
"Emang kamu aja yang gerah, kami juga tau," celetuk Ina.
"Makanya buruan biar bersih-bersih, habis tuh istirahat," ucap Cha sambil masuk ke dalam lift.
Ina tidak melanjutkan ucapannya. Dia memilih diam. Hingga akhirnya pintu lift terbuka. Mereka berjalan menuju kamar.
Cha yang duluan masuk ke dalam kamar, segera menuju kamar mandi untuk bersih-bersih. Didalam kamar mandi, Cha mencoba mengingat isi pesan dari orang tak dikenalnya.
Pesan yang membuat Cha penasaran dengan pengirimnya.
Hai pembaca setia novel toon, jangan lupa dukung terus author dengan vitamin manjurnya ya...beruap
LIKE, VOTE, HADIAH, BINTANG pokoknya yang buat penulis semakin pinter menulis dan berimajinasi.
__ADS_1
Jangan lupa juga komen nya, kritik juga boleh.
Ikutin terus kisah Cha yang penuh lika-likunya...