Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Kantin Kampus


__ADS_3

Zain menatap Ghani dengan tajam dan seperti ingin menelannya hidup-hidup. Lalu Zain maju melangkah kearah Ghani dan mendekatkan wajahnya ke Ghani.


"Jangan coba-coba mendekati Cha, dan jangan berurusan dengan saya. Cha milik saya dan tidak akan saya biarkan orang lain mengambilnya, ingat itu," ucap Zain dengan penuh penekanan.


Ghani hanya menyunggingkan senyumnya menatap kearah Zain. Dia menatap mata Zain dengan menantang. Bagi Ghani sebelum janur kuning melengkung, siapapun berhak mengejarnya termasuk dirinya.


Lalu Zain dan Binyu meninggalkan Ghani sendirian yang masih berdiri ditempatnya.


"Jika aku sudah menetapkan pilihanku pada Cha, maka aku gak akan menyerah. Siapapun gak bisa menghalangiku," bathin Ghani.


Lalu Ghani menatap kearah kelas Cha dan dia pun pergi meninggalkan tempat itu.


Sedangkan didalam kelas, Dewi melihat Ghani terus. Dia tau bahwa Ghani memiliki perasaan terhadap Cha sudah lama. Dewi juga merasa kasihan melihat Ghani yang berusaha mendekati Cha. Namun Cha selalu membuat benteng dirinya terhadap laki-laki lain.


"Hussst Cha, Lo lihat gak tadi Ghani ngobrol sama Zain dan si Binyu?" tanya Dewi dengan suara pelannya.


"Gak lihat Wi, kenapa?" tanya Cha balik.


"Iya, gw lihat sepertinya mereka tadi ngobrol. Trus Zain seperti marah gitu. Wajahnya serem ih Cha kalau lagi marah," celetuk Dewi.


"Biarkan saja, itu urusan laki-laki. Gw gak mau ikut campur," balas Cha.


"Eh Cha, Lo gak ngeh apa kalau Ghani tuh suka sama Lo?" tanya Dewi.


"Mungkin Wi. Tapi gw gak mau menanggapinya. Takut memberikan harapan palsu dan dia mengartikan lain jika gw baik sama dia," balas Cha yang menatap Dewi.


"Pantesan gw lihat Lo biasa saja nanggepin kak Ghani. Berarti Lo sudah tau dong kalau dia punya perasaan sama Lo?" tanya Dewi lagi.


"Iya gw sudah tau, bahkan dia ngajak gw nikah!" bisik Cha ke hadapan Dewi.


"What....!" teriak Dewi.


Mahasiswi dan Mahasiswa yang ada disitu semua menoleh kearah Dewi. Dan Dosen mereka juga menatap Dewi dengan tatapan tajamnya.


"Ada apa? Kenapa teriak-teriak disini?! Ini bukan hutan. Ini kelas saya. Kalau mau seperti Tarzan, silahkan keluar dari kelas saya, mengerti!" tegur Dosen mereka.


Lalu Dewi menundukkan kepalanya tak berani menatap kearah Dosennya itu. Dan dia pun melirik kearah Cha yang sedang cekikikan ditempatnya.


"Asem nih Cha, gara-gara dia buat gw kaget, gw jadi teriak. Mana lagi ditegur ama tuh Dosen, heummm apes gw," bathin Dewi.


Sedangkan Cha malah cekikikan dibangkunya. Dia merasa senang bisa mengerjain Dewi.


Lain halnya dengan Zain, dia masih merasa kesal dengan sosok Ghani. Laki-laki yang mencoba mendekati Cha.

__ADS_1


"Hadewww makin banyak aja nih saingan gw," gerutu Zain.


"Hahaha, jadi Lo takut Tuan Zain?" tanya Binyu yang ternyata mendengar gerutuan Zain.


Zain menoleh kearah Binyu dengan tatapan buasnya karena saat ini Zain sedang dalam keadaan yang tidak baik.


"Siapa yang takut?" tanya Zain murka.


"Kalau Lo gak takut atau khawatir, kenapa harus marah. Santai Zain..! Kalau emang Cha itu memilih Lo, kalian pasti akan bersama. Tapi inget masih ada gw dan si Yoga di Belanda sana. Jadi saingan Lo cukup banyak dan berat, hahaha," ledek Binyu sahabatnya..


"Sialan Lo! Hahhh, banyak banget ya yang suka sama Cha? Kalau Yoga, gw dah jamin, Cha gak akan milih dia. Karena si Yoga sudah memilih perjodohannya," ucap Zain.


"Maksud Lo Zain?" tanya Binyu penasaran.


"Lo gak perlu tau, lagian Lo balik sana ke Jakarta. Ngapain lama-lama disini, ganggu aja," ketus Zain yang tak menyukai kehadirannya.


"Oh ya ampuuun Zain...! Gw kemari mau ngerebut mantan gw lah! Kita kan bersaing secara sehat," ledek Binyu dengan menaik-naikkan alisnya.


Zain diam saja dan gak mau membalas ucapan sahabatnya itu. Dia memilih untuk melihat keluar jendela. Memantau Cha dari dalam mobil.


"Bin, gak nyangka ya kita bertemu lagi dan sekarang malah bersaing buat mendapatkan Cha. Padahal kita tau dia menunggu cinta pertamanya," ungkap Zain yang menatap kearah kampus.


"Ya, lucu sih Zain. Tapi itu lah cinta. Gw juga gak tau nih kenapa bisa jatuh hati dengan Cha. Padahal dulu gw hanya membuat dia menjadi taruhan, eh taunya gw terjebak dalam perasaan dengannya."


"Orangnya polos dan baik Zain. Dia lembut tapi juga bisa garang. Yang pasti banyak yang aku suka dari Cha. Lah Lo sendiri kenapa bisa jadi bucinnya Cha?" tanya Binyu balik.


"Hahaha, itu rahasia gw dong. Yang pasti dia sudah merubah diri gw," jelas Zain.


Lalu saat mereka asyik ngobrol, Cha dan Dewi keluar dari dalam kelasnya. Cha memilih ke kantin bersama Dewi.


"Loh mau kemana tuh Cha?" tanya Binyu saat melihat Cha berjalan berlawanan arah.


Zain yang melihat Cha pergi, dia langsung keluar dari mobil dan menyusul Cha kearah kantin. Lalu Binyu ikut-ikutan mengejar Zain dari belakang.


Cha dan Dewi tidak tau kalau Zain mengejar mereka dari belakang. Cha berjalan santai dan asyik berbincang bersama Dewi.


Zain masih berjalan cepat kearah Cha, hingga dia berada tepat dibelakang Cha.


"Kenapa gak ngajak-ngajak kalau mau kekantin?" tanya Zain yang mengagetkan Cha dan Dewi.


Cha menoleh kebelakang dan melihat kearah Zain yang sudah berdiri dibelakangnya.


"Loh, kamu disini Zain?" tanya Cha terkejut.

__ADS_1


"Iya, aku kan nungguin kamu cha dimobil. Tuh sama si Binyu," tunjuk Zain kearah Binyu.


"Wah gila nih Zain, jalannya cepat banget. Gak sabaran banget ngejar Cha nya," ucap Binyu yang ngos-ngosan karena capek jalan cepat.


Zain diam aja dan terus memandang kearah Cha yang masih diam berdiri.


"Kirain udah pergi sama Binyu keluar kampus dari tadi," balas Cha.


"Ayo ke kantin, aku juga pengen ngerasain nongkrong dikantin kampus lagi," ajak Zain yang cuek.


Cha dan Dewi saling berpandangan penuh arti. Lalu Cha mengajak Dewi ke kantin.


Sesampainya di kantin, mereka mencari tempat duduk yang nyaman. Banyak mata yang memandang kearah Cha.


"Siapa sih tuh cewek, sok kecakapan banget," celetuk salah satu mahasiswi yang duduk diseberang.


"Gw gak pernah lihat tuh cowok disini. Apa mereka mahasiswa disini ya?" tanya temannya.


"Udah-udah jangan urusin urusan orang. Mending habisin tuh makanan kalian," sambung temannya yang tak suka melihat teman-temannya ngusilin orang lain.


Selain itu masih banyak yang melihat keberadaan Cha dan dua laki-laki ganteng yang masuk ke dalam kantin mereka. Mereka menjadi sorotan dikantin itu. Seperti seorang artis yang dipuja oleh mahasiswi disitu karena ketampanan mereka berdua.


"Gila ya Cha, Zain sama Binyu jadi sorotan mahasiswi kampus kita, hahaha," ucap Dewi.


"Makanya gw males kalau mereka ngikutin gw ke kampus. Ya gini jadinya, bakalan dilihatin sama anak kampus," balas Cha


"Kamu ngomong apa sayang?" tanya Zain yang melihat Cha bisik-bisik dengan Dewi.


"Gak ada Zain. Kami hanya bahas tentang kamu dan Binyu yang banyak dilihatin sama mahasiswi sini. Tuh lihat aja mereka, masih terus ngelihatin kalian," tunjuk Cha kearah anak-anak Kampusnya.


"Biarkan aja Cha, namanya juga cowok tampan, pasti banyak yang lirik," ucap Binyu dengan percaya dirinya.


"Hehehe, dari dulu gak berubah ya, percaya dirinya tinggi banget," balas Cha.


Binyu menatap Cha. Dia senang ternyata Cha tidak pernah melupakan kenangan mereka. Apalagi kebiasaan-kebiasaan Binyu. Dia jadi senyum-senyum dikatain sama Cha seperti itu.


"Udah mau pesan apa nih Lo Bin?" tanya Zain yang menghancurkan kesenangan hati Binyu.


"Yeee baru aja merasa senang, udah ditanyain pesanan. Gw pengen soto ayam aja deh," jawab Binyu.


"Aku samakan aja ya Cha sama kamu," ucap Zain.


"Ok."

__ADS_1


Lalu Cha sama Dewi pergi kearah tempat pemesanan. Mereka memesan makanan yang diinginkan Binyu dan Zain. Setelah memesan, mereka kembali ke meja dan bergabung bersama Zain dan Binyu.


__ADS_2