Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Pertemuan Zain dan keluarga Cha


__ADS_3

Zain merasa lucu melihat tingkah Sika yang masih belia.


"Eh kak Zain, mau ketemu kak Cha ya?" ucap Sika.


"Iya, Cha nya ada?" tanya Zain.


"Ada, bentar ya kak, aku panggil dulu," jawab Sika senyum-senyum.


Sika masuk ke dalam rumah mencari Kakaknya di dalam kamar.


"Kak Cha.....!" panggil Sika dari luar kamar.


"Masuk aja, gak dikunci kok dek," suruh Cha.


Sika membuka pintu kamar Kakaknya dan mendongak ke dalam.


"Ada yang nyariin tuh kak!" ucap Sika memberitahukan.


"Kak Zain!" tebak Cha.


"Ihhhh bener banget. Gitu ya kalau udah sehati," goda Sika.


"Anak kecil jangan sering-sering menggoda yang lebih tua. Ntar kamu jadi pinter gombalin cowok," ucap Cha menasehati.


"Sesekali gak masalah kali kak. Lagian Kakak sendiri di goda kan gak masyalah," balas Sika.


"Udah yuk, nanti kelamaan kak Zain diluar nungguin," ajak Cha.


"Ihhhhh gak sabaran banget sih kak," celetuk Sika.


"Biarin," balas Cha.


Kemudian mereka berdua keluar dari dalam kamar Cha dan berjalan ke ruang tamu.


Saat Cha dan Sika tiba, Zain tersenyum menawan menatap Cha. Kerinduannya tak bisa diungkapkannya karena Sika. Zain ingin sekali menarik Cha dalam pelukannya dan menciumnya untuk melepaskan kerinduannya.


"Kak Zain, harap di kondisikan tatapannya ya. Lagi di rumah camer," ledek Sika cekikikan.


"Sika...., udah kamu panggil Mama, biar Kakak yang buatkan minuman," suruh Cha.


"Iya, iya. Bentar ya Kakak tampan," ucap Sika malu-malu.


Lalu Sika meninggalkan mereka berdua di ruangan tersebut.


"Cha, aku kangen banget, pengen peluk. Tapi gak bisa ya disini?" tanya Zain yang gak pakai pikiran.


"Hussst, kamu Zain. Ini rumah orang tuaku, jangan kencang-kencang ngomong gituan," Cha memperingati Zain.

__ADS_1


"Maaf sayang," ucap Zain tersenyum.


Zain menahan rasa kangennya terhadap Cha. Lalu dia memilih duduk di sofa menunggu kedatangan Mamanya Cha.


Cha pun menunggu kehadiran Mamanya. Ada rasa khawatir, cemas dan deg-deg an. Semua bercampur menjadi satu. Cha nggak tau harus ngomong apa sama Mamanya. Cha merasa ketar ketir dan *******-***** jari tangannya.


Zain menatap Cha lekat, dia tau kalau Cha cemas dengan sikap Mamanya nanti. Zain berharap semua berjalan dengan baik.


Kemudian dari arah dalam ruangan, tampak sosok wanita yang sudah mulai menua. Dia adalah Mamanya Cha.


Mamanya datang ke hadapan mereka dan melihat sosok laki-laki yang akan di perkenalkan anaknya.


Zain langsung berdiri ketika Mamanya Cha datang.


"Assalamu'alaikum, Tante. Saya Zain temannya Cha," Zain menyalami tangan Mamanya Cha dan memperkenalkan dirinya.


"Wa'alaikumussalam," balas Mamanya.


"Oh ini temannya Cha. Ayo silahkan duduk," suruh Mamanya Cha.


Zain sedikit gugup saat berhadapan dengan Mamanya Cha. Padahal dia adalah CEO yang terkenal kejam dan dingin di Negara Paris. Tapi di hadapan calon mertuanya, Zain tak berkutik seperti anak itik yang lemah.


Ternyata tidak hanya Mamanya Cha saja yang berada di ruangan itu. Tetapi Kakaknya Cha yang bernama Ina ikut hadir di ruangan itu.


Ina menatap kearah Zain, dia terpesona dengan ketampanan Zain. Hingga muncul rasa iri di hatinya.


"Dari mana Cha mendapatkan laki-laki ganteng begini! Sial, gw kalah sama dia. Apa gw coba aja ya menggodanya, siapa tau laki-laki ini tergoda dengan kecantikan ku," bathin Ina.


"Iya kak," balas Cha.


"Zain, ini Mamaku dan ini Kakakku yang pertama. Kebetulan kak Ina disini sedang nemani Mama dan si bungsu," Cha memperkenalkan semua keluarganya.


Zain menoleh ke Ina. Dia melihat Ina yang mencoba menggodanya. Zain paham betul mana perempuan yang sengaja menggoda dan mana yang polos seperti Cha.


Zain menyunggingkan senyumnya melihat Ina yang berusaha menggodanya dengan menampilkan senyumannya.


Lalu Sika datang membawakan minuman untuk Zain dan yang lainnya.


"Kak Zain silahkan diminum dulu. Kan jauh banget kemarinya," canda Sika.


"Ayo nak Zain, silahkan diminum," suruh Mamanya Cha.


Zain pun meminumnya dan mencicipi minuman buatan Sika calon adik iparnya.


Setelah Zain meminumnya, dia pun membuka percakapan.


"Tante, sebelumnya saya minta maaf karena datang ke rumah ini. Saya kesini ingin mengenal keluarga Cha, baik itu orang tua Cha ataupun saudara-saudara Cha," jelas Zain atas kedatangannya.

__ADS_1


"Cha juga sudah minta izin sama Tante kemaren. Dia bilang, mau memperkenalkan teman laki-lakinya kepada Tante. Jadi nak Zain ini temannya Cha?" tanya Mamanya.


"Iya Tante. Saya dan Cha sudah lama saling mengenal," jawab Zain.


"Kalau Tante boleh tau, nak Zain ini kerja dimana? Dan orang tuanya dimana?" tanya Mamanya Cha.


"Saya punya Perusahaan di Paris, Tante. Dan kedua orang tua saya tinggal di Paris bersama Oma saya," jawab Zain.


Ina yang mendengar kalau laki-laki yang bersama Cha ternyata orang tajir, dia pun semakin iri dan tak suka.


"Kenapa gak aku aja sih yang mendapatkannya! Kenapa harus si Cha! Sial banget hidup gw, sampai sekarang gak ada yang tertarik," bathin Ina menatap Dae benci.


"Oh...jadi keluarga nak Zain tidak ada di Indonesia?" tanya Mamanya Cha lagi.


"Ada Tante, adik Papa masih ada yang di Indonesia. Tepatnya di daerah Jogja," jawab Zain jujur.


"Terus nak Zain ke Medan ini dalam rangka apa? Kok bisa ke Medan. Karena Perusahaan nak Zain berada di Paris. Jadi nak Zain ke Medan ada apa?" tanya Mamanya yang semakin kepengen tau.


"Kebetulan sahabat saya ada tugas di Medan Tante. Dan sahabat saya itu adalah rekan bisnis saya. Jadi saya datang ke sini bareng dia karena ada urusan," jelas Zain yang terpaksa berbohong.


"Mmmm, begitu ya. Sudah berapa lama kalian saling mengenal?"


"Sudah lama Tante. Tepatnya saat Cha kuliah di Jogja," jawab Zain.


Zain tidak ingin mengatakan kalau mereka berkenalan sejak Cha masih SMU dengan kejadian yang kemaren. Zain berusaha tenang dan menampilkan senyumannya.


"Mmmm, sepetinya kalian memang sudah sangat dekat. Apa nak Zain tau tentang keluarga Cha?"


Zain menoleh ke arah Cha, lalu kembali menatap Mamanya Cha.


"Iya Tante, maaf sebelumnya. Saya dan Cha merencanakan pernikahan kami. Dan saya sudah mengetahui tentang keluarganya Cha. Namun bagi saya, itu tidaklah masalah. Dan kedua orang tua saya juga setuju dengan pilihan saya," jelas Zain.


"Maksud nak Zain?"


"Kemaren saya sudah mengajukan sama Cha untuk segera menikah. Saya ingin menikahi Cha secara besar-besaran Tante. Dan orang tua saya, sudah menunggu jawaban dari saya," jelas Zain lagi.


Mamanya Cha menoleh ke arah Cha dan dia menoleh ke Ina yang terlihat cemberut.


"Baiklah, kapan Mamanya nak Zain bisa datang ke rumah orang tua Cha?"


"Kalau Tante mengizinkan, secepatnya akan saya khabari mereka dan meminta mereka segera datang ke Medan."


"Baik kalau gitu, Tante akan menunggu niat baik nak Zain untuk meminang Cha."


"Berarti Tante menyetujui hubungan kami?" tanya Zain tak percaya.


"Ya, Tante merestuinya."

__ADS_1


Zain dan Cha merasa senang, namun mereka berdua berusaha menyembunyikannya dari pandangan Mama dan yang lainnya.


Sedangkan Ina, dia merasa tak suka. Dia membenci Cha yang selalu beruntung. Apalagi sekarang, Cha mendapatkan laki-laki yang tampan dan kaya raya.


__ADS_2