Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Syok dengan kehadiran Zain


__ADS_3

Dewi dan Cha memasuki ruangan operator Sekolah.


"Siang Pak!" sapa Dewi saat melihat seorang bapak-bapak duduk didepan komputer.


"Siang Mbak, saget kula byantu Mbak?" tanya sang operator terhadap keduanya.


Dewi dan Cha masuk kedalam dan duduk dihadapan operator itu.


"Iki lho Pak. Adhiku sinau ing kene ing kelas papat. Aku arep pindhah adhiku menyang sekolah liyane. Apa syarate Pak?" tanya Dewi yang ingin mengetahui persyaratannya.


"(Begini pak. Adik saya sekolah disini kelas empat. Rencananya saya mau mindahkan adik saya kesekolah yang lain. Bagaimana syaratnya ya pak)?" tanya Dewi.


"Lha kok arep ngalih Mbak? Alasan kanggo pindhah?" si operator menaikkan alisnya.


"(Lah kenapa mau pindah Mbak? Alasannya pindahnya kenapa)?" si operator menaikkan alisnya.


Dewi menceritakan alasannya pindahin Pita Sekolah. Dan Dewi juga mengatakan agar pihak Sekolah tidak memberitahukan Sekolah mana Pita pindah kepada yang lainnya, termasuk Pakde dan Budenya.


"Oke, saya bakal mbantu karo dokumen. Mengko Mbak arep mlebu Sekolah endi, supaya saya bisa nggawe surat pindah," si operator itu memberikan kemudahan untuk Dewi memindahkan adiknya, karena si operator akan membantu pengurusannya.


"(Baik, saya akan bantu untuk mengurus surat-suratnya. Nanti mbaknya kasih tau Sekolah mana yang dituju, agar saya bisa membuat surat pindahnya)."


"Baik Pak, kalau begitu kami permisi dulu. Secepatnya saya akan memberikan data yang dibutuhkan Sekolah ini," ucap Dewi.


Setelah mereka membicarakan kepindahan Sekolah Pita dengan operator sekolah, Dewi dan Cha berjalan kearah kelas Pita. Ternyata Pita sudah siap-siap mau pulang.


"Mbak..!" panggil Pita kegirangan saat melihat kakaknya sudah menunggunya didepan kelas.


"Ayo kita pulang. Tapi Mbak Cha mau ngajak kita maem diluar loh dek. Kamu mau ikut atau mau Mbak anter pulang dulu?" tanya Dewi yang sengaja ingin menjahilin adiknya.


"Pita ikut dong Mbak! Kan pengen jalan-jalan. Tapi Ibu gimana?" tanya Pita yang masih mengingat Ibunya.


"Tadi udah Mbak khabari sama Ibu kalau kita makan diluar. Jadi Mbak suruh Ibu makan duluan dirumah," jelas Dewi.


"Asyiikkk, let's go!! ucap Pita dengan wajah menggemaskan.


Cha dan Dewi senyum-senyum melihat tingkah anak kecil yang masih polos.


"Kita naik grab aja Wi, biar gw pesan dulu ya. gw juga mau kirim pesan sama Zain nih, ngabarin dia kalau kita lagi otw," Cha memesan grab online. Dan dia juga langsung mengirim pesan ke Zain.


Mereka menunggu beberapa menit didalam Sekolah Pita. Saat supir grab menghubungi Cha memberitahukan kalau mobil sudah didepan gerbang Sekolah, Cha dan Dewi serta Pita keluar dari Sekolah dan masuk kedalam mobil.


"Kita mau ke Phuket ya Mbak?" tanya si supir saat Cha dan yang lainnya masuk.


"Iya Pak, kita ke Phuket," jawab Cha.

__ADS_1


"Cha, besok Lo kekampus kan?" tanya Dewi.


"Iya Wi, tapi masa gw harus main kucing-kucingan sama tuh si Dino dan Imran setiap gw masuk kampus! Ribet banget loh ya. Ini seperti kisah gw yang waktu SMA. Kalau mau pulang kerumah, merasa takut, takut bertemu dengan laki-laki jahat itu," teringat Cha.


"Susah juga ya Cha jadi orang cantik, banyak yang ngincer," sindir Dewi.


"Siapa yang cantik?" tanya Cha.


"Ya kamu kan cantik Cha. Makanya banyak laki-laki yang tertarik sama kamu. Buktinya Ghani, mahasiswa yang menjadi idola kampus bisa suka sama kamu," ucap Dewi sambil senyum-senyum.


"Ah, Lo bisa aja. Dia aja kali matanya rabun lihat cewek," celetuk Cha.


"Rabun dari mana Cha! Kenyataan Lo emang cantik, menarik bagi kaum Adam," balas Dewi.


"Iya Mbak Cha emang cantik kok. Pita aja seneng lihatnya," Pita ikut nimbrung obrolan mereka.


Tak terasa akhirnya mereka sampai di Phuket. Lalu mereka turun dari mobil.


"Eh tunggu, gw hubungi Zain lagi. Ngapain dia nyuruh kita kesini," Cha mengambil ponselnya dan menghubungi Zain.


"Hallo Zain, kamu nyuruh aku kemari buat apa, hah!" Cha bingung mau ngapain di Phuket.


"Sayang, kamu masuk aja, trus kamu duduk di meja yang sudah dipesan atas nama Tuan Zain. Nanti kamu tunggu aja yang akan menemuimu," Zain membuat Cha tanda tanya.


Tlp pun dimatikan, Cha masuk kedalam dan bertanya kepada pelayannya.


"Oh iya Mbak mari silahkan saya anter," si pelayan mengantarkan Cha dan Dewi ke meja pesanan Zain.


"Silahkan Mbak, ini buku menunya. Dan silahkan ditunggu ya Mbak," si pelayan meninggalkan mereka bertiga.


Cha melihat ke sekeliling cafe, ternyata ramai juga pengunjungnya saat jam siang. Lalu tiba-tiba dari arah belakang, mata Cha ditutup oleh tangan seseorang.


"Aduh siapa sih ini!" protes Cha yang tak suka dibecandain saat ini.


"Coba tebak siapa," jawab suara laki-laki yang ternyata adalah Zain.


Cha meraba-raba tangan Zain. Dan dia menyadari bahwa tangan yang menutup matanya tangan orang yang selalu ada untuknya.


"Zain...!" panggil Cha sambil melepaskan tangan Zain.


"Hai sayang...! Maaf ya buat kamu syok begini," ucap Zain tanpa bersalah.


"Kapan kamu datang? Dan kenapa gak ngabarin aku?" Cha merasa kesal bercampur senang karena Zain ada didekatnya.


"Sengaja pengen buat kamu spot jantung, hehehe," guyon Zain.

__ADS_1


Lalu Zain duduk disebelah Cha sambil memeluk dirinya. Zain tak memperdulikan tatapan Dewi dan adiknya terhadap dirinya. Cha merasa canggung dan gak enak dilihatin sama Dewi dan Pita.


"Zain kenalin itu temanku Dewi dan adiknya Pita.


"Hai," sapa Zain tanpa berjabat tangan.


"Hallo cantik...,baru pulang sekolah ya!" sapa Zain dengan adiknya Dewi.


"Iya Om. Omnya ini siapa Mbak Cha ya? Pacarnya Mbak Cha ya Om? Wah ganteng banget ya Omnya. Cocok sama Mbak Cha," puji Pita dengan wajah polosnya.


"Makasih cantik udah bilang Om ganteng. Iya Om ini calonnya Mbak Cha. Do'ain ya supaya Mbak Cha mau nikah sama Om," ucap Zain cuek.


Cha mencubit pinggang Zain yang ngomong sembarangan sama anak kecil.


"Awww sakit sayang. Tega banget sih kamu buat aku sakit!" Zain kelihatan seperti anak kecil yang manja.


"Udah ah, yuk kita pesan makan. Pita mau pesan apa dek?" tanya Cha.


"Pita mau yang ini Mbak, sama yang ini," tunjuk Pita dibuku menu.


"Lo Wi mau pesan apa? Gw panggil aja ya langsung pelayannya," Cha mencari pelayan cafe. Saat melihat ada pelayan cafe dekat meja mereka, Cha memanggilnya.


"Sayang, aku sama kan aja ya menunya sama kamu. Kamu gak kangen sama aku yang? Kamu cantik banget hari ini, jadi pengen cium bibir kamu," ucap Zain yang berbisik ditelinga Cha.


Wajah Cha seketika menjadi merah karena malu dengan tingkah Zain yang sengaja berbisik ditelinga Cha sambil menjilati telinga Cha sekejap. Lalu Cha menoleh kearah Zain dan ngedumel pelan.


"Awas kamu ya Zain, beraninya kamu menggoda ku disini," kesal Cha karena digodain Zain dihadapan Dewi dan Pita.


Zain hanya senyum-senyum dengan sikap Cha yang salah tingkah dihadapan sahabatnya.


"Mbak Cha kenapa? Wajahnya kok berubah jadi menakutkan gitu?" celetuk Pita yang polos.


"Hehehe, nggak apa-apa kok Pita. Nih tadi kakak digoda aja sama teman kakak nih disosmed," bohong Cha.


Dewi pun ikut senyum-senyum karena dia tau bahwa saat ini sahabatnya itu merasa salah tingkah dan tak nyaman diperlakukan Zain seperti itu.


Akhirnya makanan yang dipesan mereka datang juga. Lelah berantem sama Zain membuat Cha kelaparan. Dia pun tanpa basa basi langsung menyantap hidangan yang menggiurkan.


"Sayang hati-hati kalau makan, jangan buru-buru," tegur Zain saat melihat Cha kelaparan.


"Habis laper gara-gara nguras emosi buat marahin kamu," sewot Cha.


"Hehehe jangan marah dong! Habis nih kita ke Malioboro yuk, aku pengen jalan-jalan sama kamu!" ajak Zain yang menyambi makan.


"Tapi kami pulang dulu. Biar bersih dan wangi kalau mau pergi lagi. Kamu ikut aja kerumah itu. Biar ketemu sama Bu Marni dan Bu Novi," Cha mengajak Zain menemui asisten rumah tangga omnya.

__ADS_1


"Baiklah," jawab Zain.


Mereka makan sambil ngobrol. Zain selalu mengajak Pita bercanda dan tertawa. Cha dan Dewi hanya memperhatikan keduanya. Mereka asyik saling serang menyerang dalam obrolan seputar anak kecil.


__ADS_2