
Cha dan Zain menunggu sarapan paginya di dalam kamar. Hingga beberapa saat, sarapan pagi telah selesai dan diantarkan ke dalam kamar.
"Wah Zain..., harum sekali aromanya. Pasti enak nih," ucap Cha.
"Pasti sayang, dia adalah koki pilihan terbaik yang sengaja aku bawa dari Paris untuk menemani setiap perjalananku," balas Zain.
"Merci monsieur, s'il vous plaît bon appétit monsieur et madame," ucap si koki.
"(Terima kasih Tuan, silahkan dinikmati hidangannya Tuan dan Nona)," ucap si koki.
"Heum," balas Zain.
Lalu pelayan tersebut pergi dari dalam kamar Zain.
"Dia ngomong apa Zain?" tanya Cha yang tak mengerti ucapan si koki tadi.
"Dia berbicara dengan bahasa Perancis. Katanya terima kasih karena telah memujinya dan kita disuruh menikmati sarapan pagi nya," jelas Zain.
"Owhhhh," balas Cha sambil mencoba menyuapin nasi gorengnya.
"Gimana sayang rasanya, enak banget kan?" tanya Zain sambil melihat Cha.
"Ini benar-benar lezat banget Zain! Aku suka banget nasi gorengnya!" seru Cha yang memuji masakan koki pilihan Zain.
"Makanlah sepuasnya Cha. Karena sebentar lagi kita akan sampai Di Paris," ucap Zain yang merasa senang melihat Cha menyukai koki pilihannya.
Mereka berdua menyantap hidangan sambil ngobrol dan bercanda. Cha benar-benar merasa seperti mimpi bisa menikmati semua kenyamanan ini. Hingga waktu yang dinantikan tiba. Mereka sampai di Paris.
"Kita sudah sampai Cha di Paris. Sekarang mari kita keluar, aku akan memperkenalkan Paris denganmu," ucap Zain yang mengajak Cha keluar dari Pesawat.
"Oh ya, aku jadi semakin deg-degan Zain mau ketemu mereka. Apakah mereka datang ke Bandara?" tanya Cha.
"Tidak, mereka menunggu kita dirumah. Papaku sudah mengatakan Mamaku, bahwa aku akan membawa menantunya ke rumah," jawab Zain.
Mereka pun turun dari Pesawat dan sudah disambut oleh beberapa bodyguard Zain. Cha memegang erat tangan Zain, karena dia takut jika Zain jauh darinya.
"Bienvenue Monsieur et Madame," ucap beberapa pengawal yang berada disamping badan Pesawat. Mereka semua menunduk saat Zain turun dari Pesawatnya.
"(Selamat datang Tuan dan Nona," ucap beberapa pengawal yang berada disamping badan Pesawat.
Zain menggenggam tangan Cha dan terus berjalan sampai ke arah mobil yang sudah disediakan.
"Itu mobil siapa Zain?" tanya Cha bingung.
"Itu mobilku," jawab Zain. "Ayo kita naik," ajak Zain.
Cha hanya bisa terpelongo melihat semua yang ada dihadapannya. Dia seperti Puteri raja yang disambut dengan sangat mewah.
Cha hanya bisa diam dan menyaksikan semua fasilitas-fasilitas yang dirasakannya. Baginya ini suatu hal yang sangat menakjubkan dalam hidupnya. Dia pun mengikuti Zain masuk ke dalam mobil yang super mewah.
"Zain, aku benar-benar gak menyangka bisa menikmati semua ini," ungkap Cha.
"Ini semua untuk kamu sayang. Makanya ayo kita menikah. Aku sudah siap lahir dan bathin untuk menikahimu," ucap Zain tegas dan mantap.
"Aku pasti senang bisa bertemu keluarga kamu Zain," elak Cha yang sengaja mengalihkan pembahasan.
"Kenapa kamu selalu mengelak Cha, kalau aku ajak menikah. Apa karena Yoga? Oh ayolah Cha.., jangan harapkan sesuatu yang tak jelas," pinta Zain.
"Mending kita jangan bahas itu ya Zain. Aku kemari kan mau lihat Mama kamu. Jadi kita bahas yang lain aja ya Zain," pinta Cha juga.
"Baiklah sayang. Aku tidak akan membahasnya saat ini."
Zain dan Cha saling diam-diaman di dalam mobil. Diantara mereka tidak ada yang membuka obrolan. Zain memilih diam karena dia masih merasa sedih karena Cha belom mau melupakan Yoga. Zain tau keadaan Yoga di Belanda.
__ADS_1
Zain dan Yoga pernah bertemu sebelum kejadian yang terjadi saat di Medan. Namun Yoga tidak mengingat siapa Zain. Sedangkan Zain mengetahui siapa Yoga.
Papa Yoga dan Papanya Zain berteman saat mereka sekolah di Belanda mengambil jurusan Bisnis di salah satu Universitas terkenal di Belanda. Mereka berteman dekat hingga sampai berumah tangga. Tidak hanya mereka, namun mereka juga memiliki beberapa teman dekat lainnya saat sama-sama di kampus. Perempuan yang saat ini dijodohkan sama Yoga adalah anak dari temannya Papanya Yoga dan Zain.
Awalnya perempuan itu dijodohkan dengan Zain, namun Zain tidak mau, karena dia sudah memiliki pilihan yaitu Cha. Dan orang tuanya memberikan kebebasan terhadap pilihan Zain. Lalu Orang tua perempuan itu menjodohkan anaknya dengan Yoga. Papanya Yoga setuju dan memaksa Yoga untuk menerima perjodohan itu.
Awalnya Yoga menolak karena dia juga memiliki pilihan yaitu Cha. Namun Papanya sangat arogan dan tidak mau dibantah. Dia memaksa Yoga untuk menerimanya. Jika Yoga menolak, maka semua harta warisan tidak akan diterima Yoga. Dan Yoga tidak mau itu terjadi. Hingga dia memilih menerima perjodohan itu.
Saat ini Zain kembali ke Paris tidak diduga. Karena saat Zain kembali, Yoga akan melangsungkan pernikahannya dengan perempuan itu. Dan keluarga Zain akan menghadirinya. Papanya Zain tidak tau tentang kisah cinta mereka. Sehingga menginginkan Zain ikut menghadiri pernikahan Yoga.
Selama perjalanan, mereka saling diam. Hingga tak terasa mobil sampai di Mension kediaman Zain.
Ini adalah Ilustrasi kediaman keluarga Zain.
Saat mereka sampai di rumah keluarga besar Zain, Cha merasa takjub dengan pemandangan yang dilihatnya.
"Ini benar-benar seperti mimpi Zain. Indah sekali ini Zain seperti di film-film," ungkap Cha yang menatap takjub rumah Zain.
"Ayo sayang kita turun. Mereka sudah menunggu kita," ajak Zain.
Cha menarik nafasnya perlahan dan membuangnya dengan kasar. Dia merasa gugup dan canggung. Lalu dia mengikuti Zain keluar dari mobil.
Zain menggenggam tangan Cha dan membawanya berjalan ke hadapan rumahnya.
Saat Zain hendak menekan bel rumahnya, pelayan sudah membuka pintu lebar-lebar. Dan dibelakang pelayan itu sudah berdiri Mama dan Papa serta Oma nya Zain.
"Bonjour mon cher .., Maman tu manques tellement. Tu es enfin à la maison!" sapa Mamanya Zain sambil memeluk anaknya.
"(Hallo sayang.., Mama kangen sekali sama kamu. Akhirnya kamu pulang juga)!" sapa Mamanya Zain sambil memeluk anaknya.
"Zain manque aussi à Maman," Zain membalas pelukan Mamanya.
"Bonjour papa," Zain juga memeluk Papanya
Lalu Zain beralih ke Omanya yang sudah kelihatan sangat tua.
"Mauvais garçon, je ne veux pas rentrer à la maison. Qui ose faire en sorte que mon petit prince se sente chez lui en Indonésie," ucap Omanya sambil menjewer telinga Zain.
"(Anak nakal, gak mau pulang. Siapa yang berani membuat pangeran kecilku ini betah berada di Indonesia)," ucap Omanya sambil menjewer telinga Zain.
"Awwww, malade Oma...., c'est la personne qui a fait que Zain ne voulait pas rentrer à la maison," Zain menunjuk kearah Cha.
"(Awwww, sakit Oma...., itu dia orangnya yang sudah buat zain gak mau pulang)," Zain menunjuk kearah Cha.
Cha yang dilihatin semua keluarga Zain menjadi salah tingkah dan canggung. Dia pun bingung apa yang diucapkan mereka. Tapi Cha berusaha menampilkan senyuman terbaiknya terhadap mereka.
"Hallo sayang, wah kamu cantik sekali. Selamat datang di rumahnya Zain," Mamanya Zain memeluk Cha dan mencium pipi kiri dan kanannya Cha.
"Oh pantes saja kamu betah disana. Ternyata calon mantu kita cantik sekali ya Man," sambung Papanya Zain.
"Hallo cantik..! Akhirnya Zain bisa membawa perempuan kehadapan kami. Kamu sangat cantik," puji Omanya Zain.
"Terima kasih atas pujian Oma," balas Cha sambil menyalami tangan Omanya Zain.
"Ayo masuk sayang, kita ngobrol didalam," ajak Mamanya Zain.
Cha bingung mau ngomong apa sama keluarga Zain. Dia merasa terharu karena diperlakukan dengan lembut oleh keluarga Zain. Rasanya dia tidak ingin keluar dari keluarga ini. Cha sempat meneteskan air matanya karena terharu dengan perlakuan keluarga Zain.
Mamanya Zain dan Oma nya mengajak Cha duduk nyantai di ruang tengah.
"Oh iya, maaf Tante. Katanya kemaren sakit ya? Gimana keadaan Tante sekarang?" tanya Cha yang sudah duduk disamping mereka.
__ADS_1
"Alhamdulillah sayang, Tante sudah sehat. Apalagi bisa ketemu dengan kamu yang dikejar-kejar Zain sampai ke Indonesia. Tante benar-benar takjub denganmu bisa menaklukkan si singa, hahaha," ucap Mamanya Zain yang meledek anaknya sendiri.
"Ah Tante bisa aja," balas Cha malu-malu.
"Iya kan Mom, Zain itu anaknya cuek dan tidak pernah mau terpikat dengan perempuan. Padahal kemaren Papanya Zain mau menjodohkannya dengan anak Teman Papanya. Tapi Zainnya nolak gak mau. Akhirnya sekarang perempuan itu dijodohkan sama anak teman mereka yang lain.
"Oh iya Tante. Kenapa Zain gak mau Tan?" tanya Cha.
"Kata Zain, dia sudah punya pilihan. Makanya dia gak mau. Ternyata pilihan Zain sangat cantik dan lembut," ucap Omanya Zain.
"Oh ya, Minggu ini malah perempuan itu mau nikah sama laki-laki yang dijodohin. Dan keluarga Tante diundang menghadiri pestanya," balas Mamanya Zain.
"Nikahnya di Paris juga ya Tante?" tanya Cha.
"Tidak sayang, nikahnya di Belanda. Karena anak yang dijodohkan sama perempuan itu sedang kuliah di Belanda," jelas Mamanya Zain.
Saat mendengar kata Belanda, ntah kenapa perasaan Cha jadi gak karuan. Hatinya berdegup kencang saat mendengar kata Belanda.
"Sebentar ya Tante ambil undangannya, beberapa hari yang lalu, Papanya Zain dikirim undangannya, laki-lakinya dari Indonesia loh," ucap Mamanya Zain.
Perasaan Cha semakin gak karuan, dia merasa seperti ada hantaman batu yang sangat dahsyat dihidupnya.
Lalu Mamanya Zain mengambil undangan itu di laci meja TV dan memberikannya kepada Cha.
"Ini sayang undangannya, nanti kamu ikut ya sama Tante ke Belanda sekalian kita jalan-jalan disana," Mamanya Zain menyerahkan surat undangan kepada Cha.
Seketika mata Cha melotot saat melihat nama yang tertera di Cover depan undangan itu. Nama kekasih yang selama ini dinantikannya dan ditunggunya di Indonesia. Cha benar-benar syok dan gak percaya. Dia pun gemetaran memegang undangan itu dan mencoba membuka bagian dalamnya.
Saat Cha membuka undangan itu dia sangat terpukul dan meneteskan air matanya. Di undangan itu terpampang lah foto Yoga dan perempuan yang dijodohkan dengannya.
Cha langsung melemparkan foto undangan itu dan berlari keluar dari rumah itu. Dia terus berlari tak tau tujuan.
Lalu Mamanya Zain kaget dan memanggil Zain yang sedang bersama Papanya.
"Zaiiiiin...., kemari..! teriak Mamanya.
"Zaaaainnn, cepat kemari...Cha kabur....!" teriak Mamanya Zain lagi.
"Ya ampuuun ada apa ini. Kenapa gadis itu berlari," pekik Omanya Zain bingung.
"Ada apa Mom?" tanya Zain yang berlari menuruni tangga.
"Cha lari keluar rumah, dia menangis setelah melihat undangan itu!" ucap Mamanya sambil menunjuk kearah undangan yang dibuang Cha.
Lalu Zain mengambil undangan itu dan diapun terkejut melihat nama dan foto Yoga tertera disitu. Tanpa memperdulikan yang lain, Zain berlari kencang mengejar Cha.
"Cari dia, cepat....!!" teriak Zain kepada anak buahnya.
Zain terus mencari Cha dan berlari kearah luar Mansionnya. Akhirnya Cha terduduk didepan danau dan menangis histeris.
"Brengseeek kamu Yoga....!" teriak Cha.
"Aku benci kamu.....penipu.....,hiks hiks hiks hiks," Cha meraung-raung merasakan hatinya hancur berkeping-keping. Karena penantiannya sia-sia.
Zain melihat Cha yang terduduk didepan danau, langsung menghampirinya dan memeluk Cha dari belakang.
"Sayang, jangan bersedih...!" Zain berusaha menenangkan Cha dan memeluknya erat.
"Zain, dia, dia telah meninggalkanku. Aku tau Zain, ini karena aku juga tidak setia sama dia. Jadi ini balasan buatku Zain," isakk Cha yang menangis dipelukan Zain.
"Tidak sayang, ini tidak salah kamu. Dia yang memang salah, tidak mau mempertahankan hubungan kalian," balas Zain.
"Maksud kamu?" tanya Cha curiga.
__ADS_1
"Udah tenangkan dirimu dan ayo kita kembali kerumahku. Kamu istirahat disana. Nanti kita bahas, ok!" Zain mengajak Cha kembali ke Mansion keluarganya.
Zain meminta semua keluarganya untuk tidak mempertanyakan sesuatu dahulu. Dan biarkan Cha istirahat dulu. Zain terus berjalan memasuki kamar mereka dan menyuruh Cha untuk menenangkan diri didalam kamarnya. Sedangkan Zain keluar kamar dan memberikan waktu untuk Cha meluapkan kesedihannya.