
Cha tau, bahwa Mamanya Zain menginginkan kebahagiaan anaknya. Tapi Cha harus memikirkan keadaan Mamanya di Medan dengan kondisi yang kurang baik.
"Mom, kasih Cha ruang untuk menghirup udara segar. Zain akan memberi Cha waktu untuk dia siap menikah dengan Zain. Zain harap Mama dan Oma bisa bersabar," mohon Zain.
"Mama kamu itu Zain sudah tidak sabar ingin menggendong cucu yang lucu-lucu. Begitu juga dengan Oma. Biar rumah ini semakin ramai," balas Omanya.
Cha tersenyum mendengar mereka membahas soal anak, pipinya langsung merah merona. Dia pun menundukkan kepalanya sambil mengaduk-aduk makanannya.
"Zain, sebelum kamu berangkat. Besok pagi kamu harus ke Perushaan dulu bersama Papa. Karena akan ada pertemuan penting dengan Perusahaan yang mau bekerja sama dengan kita," ucap Papanya.
"Baik Pa, Zain akan menemui mereka," balas Zain.
Setelah mereka menyelesaikan makan malam bersama, Zain mengajak Meka santai di balkon kamar Zain.
"Cha, aku ingin menghabiskan waktu malam ini denganmu, ayo kita ngobrol di balkon kamar," pinta Zain.
"Iya Zain. Aku juga pengen ngobrol sama kamu," balas Cha.
Lalu mereka masuk ke dalam kamar dan berjalan menuju balkon.
"Udaranya sangat sejuk ya Zain. Malam yang di penuhi dengan kerlap-kerlip bintang dilangit. Cahaya bulan yang setengah malu memperlihatkan wujudnya menerangi tempat dimana kita sedang duduk santai. Zain, tau kah kamu, aku sangat menyukai tempat ini," ucap Cha yang menatap hamparan taman yang luas.
"Kamu menyukai tempat ini?" tanya Zain.
"Heum, aku suka banget Zain."
"Tinggallah disini bersamaku ketika kita sudah menikah nanti. Semua ini untukmu sayang," ucap Zain tulus.
"Hehehe, ini terlalu besar Zain. Aku tidak suka rumah yang besar. Aku menginginkan rumah yang sederhana tetapi ramai. Kalau sebesar ini, aku takut malah Zain," celetuk Cha cengengesan.
"Kenapa harus takut, kan ada aku!"
"Kamu tidak 24 jam denganku Zain. Dan kau tau itu."
"Kamu tidak akan kesepian Cha. Percayalah!" hibur Zain.
"Aku sudah tidak sabar Zain ingin bertemu dengan Sika adikku serta si bungsu yang imut. Aku kangen banget sama mereka, Zain," ucap Cha dengan wajah yang sendu.
"Besok kamu pasti menemui mereka. Bagaimana dengan oleh-oleh buat mereka berdua? Semua sudah dimasukkan ke dalam cover kan sayang?" tanya Zian.
"Semua sudah disiapkan Zain."
"Oh ya, kemaren Binyu menghubungiku. Katanya saat ini dia berada di Paris. Kemungkinan dia akan bareng sama kita ke Indonesia," ucap Zain yang memberitahukan Cha.
__ADS_1
"Oh ya..., kapan dia ke Paris? Hahaha, itu cowok gak nyerah juga ya," ketus Cha.
"Ya mungkin Binyu masih mengharapkan kamu Cha. Sama seperti Yoga yang masih menginginkanmu," ucap Zain yang menatap wajah Cha lekat.
"Kalau aku sudah memilih Zain, tidak akan membuka hatiku lagi buat yang lain. Aku tidak tertarik menginginkannya," balas Cha serius.
"Terima kasih sayang, kamu sudah memantapkan hatimu untukku. Oh ya, aku ingin bertanya, seandainya aku pergi jauh dan takkan kembali, apa yang kamu lakukan sayang?" tanya Zain penasaran.
Cha menatap Zain dengan tidak suka, lalu dia menangis dihadapan Zain.
"Loh sayang, kamu kenapa menangis? Aku salah ya bertanya seperti itu?" tanya Zain yang memeluk Cha langsung.
"Zain..hiks hiks hiks, jangan ngomong seperti itu lagi. Aku gak mau kehilanganmu, kamu segalanya untukku. Lagian kamu udah janjikan tidak akan meninggalkanku," ucap Cha yang menangis tersedu-sedu.
"Maaf sayang, aku hanya bercanda. Tapi kita kan sebagai manusia tidak ada yang hidup kekal. Aku dan kamu pasti akan pergi meninggalkan dunia ini. Aku hanya ingin tau jawaban kamu, jika aku yang duluan pergi, kamu bagaimana?" tanya Zain lagi.
"Kamu kok ngomongin itu mulu sih Zain...! Aku gak suka mendengarnya. Aku akan menutup hatiku untuk yang lain Zain, karena aku tidak bisa mempercayai laki-laki lain lagi," jawab Cha sambil mengeratkan pelukannya.
"Iya sayang, aku senang mendengarnya. Ayo kita masuk ke dalam, ini sudah larut malam. Besok kita akan berangkat," Zain mengajak Cha masuk ke dalam kamar.
"Iya Zain, aku juga sudah kedinginan disini."
Lalu mereka masuk ke dalam dan mulai naik ke tempat tidur. Malam ini Zain dan Cha memutuskan untuk tidur bersama tanpa melakukan apapun. Zain akan tetap menjaganya sampai mereka menikah nanti.
Pagi yang indah, matahari tersenyum cerah menyinari bumi. Seperti Cha yang hari ini bersemangat untuk pulang ke Indonesia.
Sedangkan Zain masih tertidur pulas.
"Zain.., ayo bangun, ini sudah pagi. Kamu gak mandi?" tanya Cha yang membangunkan Zain.
Zain perlahan membuka matanya dan mengerjakannya menatap Cha yang duduk disebelahnya.
"Kamu wangi sekali sayang! Kamu udah mandi ya Cha?" tanya Zain yang bergelayut manja di paha Cha.
"Zain....apa yang kamu lakukan?! Geli tau Zain...!" seru Cha yang protes Zain merebahkan kepalanya dipaha Cha.
"Biarkan aku seperti ini sayang, sebentar....aja, please....!" Zain memohon untuk memberikannya waktu.
Cha mengusap lembut rambut Zain dan membiarkannya tiduran dipahanya.
Zain tersenyum menang, kala Cha harus merelakan pahanya dibuat bantalan oleh Zain.
"Oh ya ampun Zain....! Kamu harus ke Kantor hari pagi ini. Papa akan menunggumu dibawah. Ayo cepat mandi dan bersiap-siap!" ucap Cha mengingatkan Zain.
__ADS_1
Zain yang teringat akan perintah Papanya, langsung bangkit dari tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi
Cha tertawa melihat aksi Zain yang langsung sigap untuk mandi. Dia menggelengkan kepalanya karena merasa lucu.
"Sayang....,tunggu aku dikamar aja ya!" teriak Zain dari dalam kamar mandi.
"Iya Zain!" sahut Cha.
Selang beberapa menit, Zain akhirnya keluar dari dalam kamar mandi. Lalu dia bersiap-siap berpakaian. Setelah selesai, mereka berdua keluar dari dalam kamar menuju lantai bawah.
"Hallo Zain...!" sapa Binyu yang sudah duduk dengan manisnya di meja makan.
Cha dan Zain menghentikan langkah mereka saat melihat Binyu sudah ada di Mansion keluarganya. Lalu mereka berdua saling bersitatapan.
"Cepat sekali dia kemari, huh..," dengus Cha.
"Ayo sayang kita samperin dia," ajak Zain yang menggandeng tangan Cha.
Binyu melihat keduanya berjalan menuruni tangga. Ada rasa cemburu yang menghampiri hatinya. Terasa sesak dan sakit. Namun dia berusaha tidak memperlihatkan itu dengan mereka. Binyu sadar, kalau dia hanya dianggap masa lalu oleh Cha. Dan pemenang diantara mereka bertiga adalah Zain. Zain lah yang menjadi pemenangnya.
"Kapan kamu sampai Bin?" tanya Zain tanpa ekspresi.
"Sudah dari tadi Zain. Aku ingin menyapa keluargaku disini, aku merindukan mereka," ucap Binyu sambil menoleh ke arah Oma dan mengerlingkan matanya ke Oma dengan genitnya.
"Hah..., Oma juga kamu embat. Gak dapat yang muda, yang tua pun jadi," sindir Zain tanpa melihat wajah Binyu.
Cha tersedak mendengar sindiran Zain yang sangat lucu baginya
"Ayolah Zain..., aku memang mencintai Oma dari dulu. Tapi Oma selalu menolak ku," goda Binyu yang semakin ngelantur.
"Binyu....kamu terlalu muda buatku. Aku gak suka daun muda. Aku hanya mau daun tua, hahaha," canda Oma yang ikut-ikutan nyeleneh.
"Mama...., jangan diladeni Binyu, dia itu sedang setress karena diputusin mantan," tegur menantunya.
"Bin, kapan kamu bawa pasanganmu kemari. Perkenalkan sama Oma. Jangan mau kalah sama Zain," ucap Omanya.
"Ah...Oma, pasanganku sudah direbut sama Zain. Aku gak bisa pindah ke lain hati Oma, hiks hiks hiks," Binyu semakin mendramatisir keadaan.
"Maksud kamu Cha?" Mamanya Zain pura-pura terkejut mendengarnya.
"Heum Tante, Cha mantanku dulu, tapi sekarang dia menjadi milik Zain," ucap Binyu yang semakin menjadi.
"Berarti kamu kurang ganteng Bin. Tante bangga sama Zain, karena dia bisa merebut Cha dari tiga cowok ganteng. Dia persis seperti Om mu," ucap Mamanya Zain tersenyum puas.
__ADS_1
Binyu dan Zain saling menatap. Mereka tak menyangka jika Mamanya Zain akan mendukung perbuatan anaknya.
Cha senyum-senyum melihat guyonan yang sangat menghibur di pagi hari.