Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Kangen yang dirasakan Cha


__ADS_3

Cha terharu dan sedih melihat adiknya Dewi yang merasa senang saat bisa memakan banyak buah-buahan. Namun dia tidak memperlihatkan sikapnya itu dihadapan yang lainnya.


Mereka terus menikmati makan siang dengan suasana yang tenang.


"Bu, besok aku akan coba mencari pekerjaan


Dan Ibu tidak usah bekerja lagi ya. Ibu hanya fokus sama adik-adik saja, biar Dewi yang mencari rezeki buat kita," ucap Dewi dengan semangat.


"Iya Wi! Oh ya, Ibu takut besok Bude kamu datang kesekolah menemui Ibu dan menanyakan alamat kita. Bagaimana Ibu akan menjelaskannya?" tanya Ibunya bingung.


"Besok biar aku aja yang ngantar adik-adik. Ibu tinggal saja dirumah. Kan ada Bu Marni dan Bu Novi yang menemani Ibu. Kalau Ibu bosan, Ibu bisa mengerjakan apa saja dirumah ini asal Ibu tidak kecapean," terang Dewi.


"Apa kamu tidak kuliah besok?" Ibunya bertanya lagi.


"Kuliah Bu, tapi sebelum berangkat kuliah, aku dan Cha akan mengantar mereka kesekolah terlebih dahulu," jawab Dewi.


"Mbak Ani besok kuliah gak?" tanya Cha saat Mbak Ani melihat kearah Dewi.


"Hah, oh kuliah! Mbak besok masuk jam delapan pagi Cha sampai siang. Mungkin jam dua baru sampai disini," jawab Mbak Ani.


"Berarti kalian semua, besok masuk kuliah ya? Ibu senang jika dirumah ini banyak penghuninya. Jadi ramai, dan Ibu tidak kesepian," Ibunya Dewi ikut menyambung obrolan Cha.


"Iya Bu, Dewi juga senang karena ada Mbak Ani dan Cha dirumah ini. Adik-adik juga bisa bermain di taman belakang," ucap Dewi.


Tak terasa waktu sudah satu jam berlalu. Mereka masih semangat untuk berbincang-bincang. Lalu Ibunya Dewi kembali kedalam kamar untuk istirahat karena letih habis pindahan.


"Ibu duluan ya, mau istirahat dulu sebentar," ucap Ibunya setelah selesai makan.


"Iya Bu, istirahatlah," jawab Dewi.


"Mbak Wi, Pita boleh gak main dikolam ikan belakang?" tanya adiknya.


"Boleh tapi tidak sekarang ya dek! Besok aja karena harus dibersihkan dulu kolamnya!" balas Dewi kakaknya.


"Owhhhh, kotor ya kak kolamnya?" tanya adiknya lagi dengan polos.


"Iya sayang, kolamnya masih kotor. Besok sudah bersih, jadi Pita sudah bisa main besok," jelas Dewi.


"Sekarang Pita istirahat dulu gih temani Ibu dikamar," Dewi menyuruh adiknya masuk kedalam kamar sekarang.


"Baiklah kakakku!" seru Pita sambil berlari kearah kamar mereka.


"Kalau lihat Pita, aku jadi teringat adikku di Medan yang bernama Sika. Dia sama seperti Pula, lucu dan sangat baik," Cha teringat akan adiknya Sika.


"Kamu kangen Cha sama adikmu?" tanya Mbak Ani yang bisa membaca pikiran Cha.


"Iya Mbak. Aku teringat sama adikku yang ingin sekali ikut denganku ke Jogja. Katanya dia gak mau jauhan dariku karena tidak punya teman jika dirumah," terang Cha sambil mengingat Sika.


"Kenapa Lo gak tlp aja Cha sekarang. Sapa tau dia juga sedang kangen sama Lo," sambung Dewi.


"Benar juga ya, kenapa gw gak tlp Sika aja sekarang. Jam segini pasti dia sudah pulang sekolah. Ya udah gw masuk kekamar duluan ya, mau tlpnan sama Sika," Cha pergi meninggalkan Dewi dan Mbak Ani di meja makan.


"Mbak Ani, gimana? Mantan Mbak masih mencoba menghubungi Mbak lagi gak?" tanya Dewi memancing kejujuran Mbak Ani.

__ADS_1


"Tadi Wi, dia mengirim pesan ke Mbak, katanya dia minta maaf atas sikapnya yang seperti itu. Dan dia tadi kekost, tapi gak ketemu sama Mbak, trus dia nanyain Mbak lagi dimana?" ucap Mbak Ani yang memberitahu pesan mantannya.


"Trus Mbak jawab apa ke dia?" pancing Dewi.


"Mbak gak mau balas Wi. Mbak masih takut jika dia hanya memanfaatkan Mbak saja. Takutnya Mbak dijualnya sama yang lain. Karena dia kan tau Mbak sudah gak perawan lagi dibuatnya, apalagi Mbak hanya sebagai taruhan," jelas Mbak Ani yang masih takut jika bertemu mantannya.


"Lebih baik Mbak tegas untuk tidak menggubrisnya lagi, walaupun dia memohon-mohon agar Mbak kembali, aku harap Mbak bisa berpikir baik untuk menerimanya," nasehat Dewi.


"Kamu benar Wi, Mbak harus tegas dengannya. Makanya Mbak tidak meresponnya," balas Mbak Ani.


"Ya sudah kalau gitu Mbak, aku masuk kekamar dulu ya. Mau istirahat juga. Mbak Ani gak istirahat?" tanya Dewi.


"Iya Mbak juga mau rebahan dulu Wi," jawab Mbak Ani.


Mereka berdua meninggalkan meja makan dan masuk kedalam kamar masing-masing.


Sedangkan didalam kamar Cha, dia sedang sibuk ngobrol dengan Sika.


"Dek, sekarang kakak punya sahabat yang sangat baik. Dan kakak juga punya Ibu angkat disini. Jadi kami tinggal satu rumah dan penghuninya ramai," jelas Cha dengan senang.


"Sika senang kalau kak Cha disana mendapatkan kebahagiaan dan sahabat yang baik. Kalau Sika disini selalu sendiri kak bersama sibungsu. Mama selalu keluar bekerja. Ya seperti biasa, paling sore baru pulang kerumah. Kadang Sika ingin menyusul kak Cha ke Jogja," ucap Sika dengan nada sedihnya.


Cha meneteskan air matanya mendengar keinginan Sika yang mau ikut dengannya.


"Kalau Sika ikut sama kakak, gimana dong si bungsu?" tanya Cha yang mencoba membuat adiknya mengurungkan niatnya ikut dengan Cha.


"Iya sih kak, Sika kasihan kalau sibungsu tidak punya teman bermain," jawab Sika sambil menoleh ke adik bungsunya.


Saat ini Sika sedang bersama adik bungsunya dikamar. Mereka ditinggal Ibunya saat Sika sudah pulang sekolah. Hampir setiap hari mereka ditinggal Ibunya untuk bekerja. Ibunya bekerja menawarkan jualan dagangan besar dengan sistem angsuran seperti lemari pakaian, kulkas, emas dan yang memang dibutuhkan si pembelinya.


Mamanya melakukan itu semata-mata untuk menghilangkan setress yang dialaminya tanpa disadarinya telah merusak mental anaknya karena sering ditinggal dan kurangnya perhatian dan kasih sayang.


"Kalau kakak nikah, apa kamu mau ikut sama kakak? tanya Cha tiba-tiba.


"Hahhh!! Kakak mau nikah? Sama siapa kak? Apa kakak udah punya pacar sekarang? tanya Sika antusias.


"Kakak cuma nanya loh Sika...!"


"Mau banget kak! Sika sama adik mau ikut sama kakak!" seru Sika.


"Ya do'ain ya biar dapat jodoh yang baik dan setia," ucap Cha.


"Aamiin kak!"


"Sekarang sibungsu sedang apa Sika?" tanya Cha.


"Kakak mau lihat sibungsu?" tanya Sika balik.


"Iya mau, kita Video Call ya sekarang. Kakak pengen lihat kalian berdua," Cha langsung menekan tombol VC nya.


"Haiiiiiiiiii sayang....!! seru Cha dengan hati yang gembira bisa melihat kedua adiknya.


"Tataaaaa!" balas sibungsu.

__ADS_1


"Ya ampuuun Sika...! Kamu udah makin gede ya dek! Sibungsu juga makin cantik dan imut. Kalau sore siapa dek yang mandiin sibungsu? tanya Cha sambil tersenyum.


"Mama sih kak. Jam empat, biasanya Mama sudah pulang kak," jawab Sika yang terus menatap kakaknya.


"Oh ya kak, itu lukisan siapa? Pacar kakak ya itu?" tunjuk Sika kearah lukisan yang ada dibelakang Cha.


Cha menoleh kebelakang dan melihat lukisan Zain. Dia pun tersenyum dan membalas rasa penasaran adeknya.


"Dia orang yang sangat perhatian sama kakak dek. Tapi dia bukan pacar kakak," jelas Cha.


"Loh berarti dia suka sama kakak? Kan tadi kakak bilang dia orang yang perhatian sama kakak!" tanya Sika yang terus menatap ke lukisan itu.


"Iya dia memang suka sama kakak. Udah ah, kamu masih kecil, belom waktunya ngebahas begituan," protes Cha.


"Iya-iya," balas Sika.


"Hallo tayang kakak, beyom andi ya...?" tanya Cha yang menirukan bahasa anak kecil.


"Beyom taaaa, undu Mama ulang uyu andina!" jawab sibungsu.


"Ih...adekku ini makin ucu aja. Au dieliin pa bungcu?" tanya Cha.


"Oeka ecar taaaa! Au euang ecar!" ucap sibungsu dengan suara celatnya.


"Iya nanti kakak paketin ya ke Medan. Kalau Sika mau apa dek?" tanya Cha kepada Sika.


"Sika mau dibelikan tas yang bagus kak!" serunya.


"Ok! Besok kakak belikan dan langsung kakak belikan. Tapi kalau ditanya Mama, bilang aja kakak yang belikan ya!" ucap Cha.


"Iya kak. Ya udah kak, Sika mau nemani sibungsu main dulu ya. Besok kita tlpnan lagi. Kakak jaga diri disana dan hati-hati karena banyak orang jahatnya," Sika mengingatkan kakaknya agar selalu berhati-hati.


"Iya dek, kamu juga jaga kesehatan dan jangan mau bergaul sama sembarang teman. Kalau ada apa-apa cepat khabari kakak ya dek!" balas Cha.


"Daaaaa tataaaaa!" seru sibungsu dari sana.


"Daaaaa sayang tataaaaa! Ya udah, kakak matikan tlp nya ya, Assalamu'alaikum dek?" ucap Cha.


"Wa'alaikumussalam kak!" jawab Sika.


VC pun mati dan obrolan berakhir. Lagi-lagi Cha meneteskan air matanya karena mengingat wajah-wajah adiknya yang membuat dia rindu. Rindu akan kebersamaan dengan Sika dan sibungsu. Melewati hari-hari tanpa sosok Papa. Dan kurangnya perhatian dan kasih sayang. Masih terekam jelas bagaimana Mamanya yang memarahi mereka jika berbuat salah. Apalagi jika Cha telat pulang sekolah, Mamanya sudah menunggunya didepan teras sambil berkacak pinggang.


Mengingat itu membuat Cha mengingat semua kenangan saat dia masih duduk di bangku SMU. Begitu banyak kenangan yang manis dan kenangan yang menyedihkan di Kota Medan. Sehingga membuat Cha memutuskan untuk memulai kehidupan barunya diJogja saat dia kuliah. Dan sekarang dia benar-benar menjalani kehidupan yang berbeda dengan yang dulu. Dan saat ini semua telah berubah. Sahabat yang berubah, kekasih yang tak kunjung khabarnya dan seseorang yang dulunya jahat sekarang selalu ada buat dia dan membantunya dalam kesulitan.


Tiba-tiba ponsel Cha berdering. Dia melihat no yang tak dikenal. Cha mengerutkan keningnya.


"No siapa ini ya?" pikir Cha.


Lalu diapun mengangkat tlpnya, karena dia penasaran dengan no yang tak dikenal.


Siapakah yang menghubungi Cha saat ini???


Jangan lupa kasih LIKE, VOTE, HADIAH yang buanyakkk serta Komen kritik dan pedas sepedas cabe rawit. Dan jadikan aku Favoritmu yaaaaa!!!!!

__ADS_1


See You Again!!


__ADS_2