Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Cincin Tanda Cinta Dari Zain


__ADS_3

Zain jadi salah tingkah karena di marahi papanya di depan Cha.


"Anaknya juga mau pa diajak tadi," kata Zain membela diri.


Cha langsung memplototin Zain, dan mencubit perut Zain dari samping sambil berkata, "Sejak kapan aq mau diajak sama kamu, jangan ngada-ngada ya," protes Cha yang membisikkan ketelinga Zain.


Zain senyum-senyum melihat Cha kesal dan salah tingkah. Tanpa aba-aba, Zain menggenggam tangan Cha dan merangkulnya di depan orang tuanya. Tentu saja itu membuat Cha merasa tidak enak. Cha jadi salah tingkah melihat orang tua Zain hingga dia jadi cengengesan.


"E...hehehe, maaf Tante, Om, nih Zain seenaknya aja ngerangkul," kata Cha sambil melepaskan tangan Zain di pundak Cha.


"Gak apa sayang, justru baru kali ini Zain bersikap seperti ini terhadap perempuan, ya kan pa?" kata mama Zain mencari dukungan dari suaminya.


"Papa aja ngira dia udah gak ada hati, habis di tinggal mantannya," celetuk papanya keceplosan.


"Udah deh pa, gak usah dibahas," sambar Zain yang tidak suka dengan perkataan papanya.


"Udah-udah sekarang kita ke sana, biar mama kenalin Cha sama keluarga besar Zain," mama Zain mengajak Cha berjalan menuju tempat dimana keluarga besar berkumpul. Cha pun mengikutinya dan berjalan berdampingan dengan Zain.


Saat mereka berempat berjalan menuju ruangan kumpul keluarga, semua mata memandang ke arah sosok Cha. Mereka bertanya-tanya siapa perempuan yang di gandeng mamanya Zain.


"Loh siapa ini Bun...? Kenapa ada anak SMA disini?" tanya seorang perempuan yang tak lain adalah sepupu Zain.


"Bang, kenapa bawa anak SMA kemari? Apa dia pembantu baru?" tanya adik dari papa nya Zain dengan santai.


"Iya kak, ini siapa sih, jangan bilang dia temannya Zain ponakan ku," sambung istri dari adik papa Zain.


"Udah diam semuanya. Baiklah kita mulai saja acaranya ya. Sebelumnya ini perkenalkan calonnya Zain," kata papanya Zain dengan tersenyum menginformasikan tentang Cha.


Semua orang yang mendengar perkataan dari yang punya acara, merasa terkejut. Mereka tak percaya, seorang Zain bisa memilih gadis muda yang masih sekolah. Jangan kan keluarga Zain, Cha juga tak kalah terkejutnya mendengar penuturan dari papanya Zain.


"Whattttt, calonnya si Zain ini?? Apa-apaan dia, sejak kapan aq setuju jadian sama dia. Wah ini dah gak bener nih," bathin Cha dengan wajah yang sudah memerah, bukan karena merona tapi karena menahan emosi yang ingin meluap meledak.


"Eh tuan pemaksa, jangan buat cerita yang ngelantur ya, aq bukan calon kamu, cari tuh sana perempuan lain yang mau sama kamu," ketus Cha yang berbicara pelan kepada Zain.


"Aq tidak ada ngomong sama orang tua qu bahwa kamu calon qu. Tapi mereka saja yang pandai-pandai mengatakannya," bohong Zain. Padahal jelas-jelas Zain berkata sama mamanya kemaren akan membawakan calon dia ke hadapan keluarga besar ketika acara ulang tahun pernikahan mama dan papanya.


Cha pun diam dan menundukkan wajahnya. Dia enggan menatap mata-mata yang nyalang dari beberapa saudara Zain.


Setelah memperkenalkan Cha kepada seluruh keluarga. Acara pun dimulai hingga saat nya makan. Cha diajak Zain duduk di dekat kolam sambil menikmati hidangan.


"Cha ayuk kesana, aq mau ngasih sesuatu ke kamu," kata Zain dan berjalan kearah meja hidangan lalu menuju meja dekat kolam.


Cha dan Zain duduk dan mulai menyantap makanan yang disajikan.


"Emang kamu mau ngasih apa?" tanya Cha penasaran.


"Habisin dulu makanannya. Ntar setelah itu aq baru ngasih tau," jawab Zain sambil mengunyah makanannya.


Cha membuang nafasnya dengan kasar. Lalu diapun menyantap makanannya. Tiba-tiba datanglah sepupu Zain yang laki-laki.


"Hai Zain, apa khabar bro," sapa sepupu nya yang bernama Eko.


"Eh bro, gw baik. Kapan Lo sampai Indonesia?" tanya Zain yang berdiri dan memeluk sepupunya.


"Beberapa hari yang lalu bro. Gw kerumah nyokap Lo, tapi Lo selalu keluar. Jadi gak pernah bisa ketemu Lo," kata Eko sambil matanya melirik ke arah Cha.

__ADS_1


"Benaran calon Lo Zain?" tanya Eko sambil menunjuk kearah Cha dengan menggunakan dagunya.


"Iya, Oh ya Cha, nih kenalin sepupu aq namanya Eko," Zain memperkenalkan sepupunya.


"Hai, aq Eko," Eko mengulurkan tangannya kepada Cha.


"Aq Cha," Cha menyambut uluran tangan Eko sebagai perkenalan. Eko terkesima melihat wajah Cha dari dekat, tanpa sadar dia mengucapkan kata yang membuat rahang Zain mengeras.


"Benar-benar cantik kamu," ucap Eko yang tak mau melepaskan genggaman tangannya.


"Terima kasih," balas Cha sambil berusaha melepaskan genggaman tangannya.


"Ekhem ekhem," Zain sengaja berdehem agar sepupunya sadar.


"Eh maaf bro, kelamaan. Habis calon Lo benar-benar cantik," Eko memuji Cha sambil matanya berkedip sebelah mata dengan genitnya, dan itu tanpa sepengetahuan Zain.


Cha merasa jijik melihat sepupu Zain. Dia pun kembali duduk dan makan dengan santainya tanpa menawarkan kepada Eko.


"Jijik banget gw lihat mukanya, sok kecakapan. Dasar cowok gatel," gerutu Cha dalam hati sambil mengunyah makanannya.


"Lo udah makan, yuk gabung bareng kita disini," Zain mengajak sepupunya untuk bergabung.


"Ah nyantai aja Zain, aku gak mau ganggu kalian berdua. Aku kesana dulu ya, kapan-kapan kita kongkow-kongkow ya," kata Eko sambil menepuk pundak Zain dan berpamitan dengan Cha.


Setelah kepergian sepupunya, Zain melanjutkan acara makan nya. Dia melirik ke arah Cha. Cha terlihat menikmati makanannya.


"Cha, sorry ya tadi perlakuan sepupu qu yang membuat mu tidak nyaman," kata Zain yang memecahkan keheningan antara mereka.


"Iya sepupu kamu itu genit banget. Main mata segala lagi, aq gak suka tau," ucap Cha dengan kesal.


Cha diem dan tidak merespon ucapan Zain. Yang ada dibenak nya saat ini, ingin cepat pulang dan beristirahat. Tapi dia merasa tidak enak hati terhadap orang tua Zain.


"Zain, aq gak bisa lama-lama disini. Karena aq janji sama mama qu paling lama sore udah ada dirumah," jelas Cha.


"Ya bentar lagi kita pulang. Habisin makanannya dulu."


"Nih juga dah habis loh Zain. Aq mau pamitan ya sama mama, papa kamu," paksa Cha agar dia bisa segera pulang.


"Bentar lagi ya Cha. Masa baru datang dah minta pulang," Zain menahan Cha sambil memohon.


"Hmmmm, baiklah. Bentar lagi kita pulang," kata Cha mengulang ucapan Zain.


"Cha, aq mau ngomong penting sama kamu. Kita kesana yuk," ajak Zain ke arah balkon. Dimana tidak ada orang yang melihat mereka.


"Disini aja kan bisa ngomong Zain..," jawab Cha dingin.


"Disana aja ya, biar lebih romantis," bujuk Zain. Dan mereka pun berjalan ke arah balkon keluar dari ruangan. Sampai disana, mereka berdiri menghadap bangunan-bangunan bertingkat. lalu Zain mengambil kedua tangan Cha dan menggenggamnya erat sambil menatap mata Cha.


"Cha, will you merried me?" ucap Zain seraya mengeluarkan kotak cincin. Lalu Zain membuka kotak tersebut dan memperlihatkan nya kepada Cha.


Cha menutup mulutnya dengan kedua tangannya, merasa terkejut dan tak percaya. Bahagia, bimbang, bingung, semua bercampur aduk. Cha menatap Zain dengan lekat, mencari keseriusan dari matanya. Dan Cha melihat Zain serius mengatakannya.


"Maaf Zain, aq tidak bisa," Cha menolak dan menundukkan pandangannya.


"Aq serius Cha. Mungkin kamu tidak percaya karena aq pernah berbuat kesalahan dulunya. Tapi setelah aq banyak mendengar cerita tentangmu dari Binyu, aq semakin tertarik untuk mengenalmu. Dan lama kelamaan aq merasakan perasaan yang berbeda. Jujur aq tidak pernah tertarik mendekati perempuan lain selama ini. Aq akui aq laki-laki brengsek. Tapi saat ini aq gak bisa membohongi diriku, bahwa aq sudah jatuh cinta dengan mu Cha," ungkap Zain panjang kali lebar.

__ADS_1


"Hahahaha, mana mungkin kamu jatuh cinta dengan qu Zain... Aq bukan perempuan yang sempurna lagi. Dan kamu teman dari laki-laki yang pernah menjebak qu," Cha tertawa miris mendengar semua penuturan Zain. Dia tidak percaya bahwa Zain jatuh cinta kepadanya.


"Cha, pleaseeee kasih aq satu kali kesempatan. Dan aq akan buktikan kepada mu, bahwa aq tidak main-main dengan perasaan qu," Zain berusaha meyakinkan Cha.


"Maaf Zain, aq tidak tertarik menjalin hubungan saat ini. Lagian aq juga akan melanjutkan kuliah tidak di kota ini. Jadi aq tidak mau terikat dengan siapapun, tolong jangan paksa aq Zain," pinta Cha sambil menatap mata Zain.


Zain menarik nafasnya dengan berat. Sesak didadanya terasa tidak nyaman. Baru kali ini dia mengutarakan cinta kepada perempuan. Dan baru kali ini dia memperkenalkan perempuan kepada seluruh keluarganya.


"Apakah ini balasan akibat perbuatan jelek qu di masa lalu,hah," bathin Zain sambil menghela nafasnya lagi.


"Aq do,akan Zain suatu saat kamu mendapatkan perempuan yang kamu cintai dan dia juga mencintaimu," kata Cha memberi semangat.


"Baiklah Cha, mungkin saat ini kamu tidak merespon cinta qu, kalau kita jodoh, pasti kita akan bersatu nantinya. Dan ini cincin simpanlah sampai kamu menikah nanti. Kelak jika kamu menikah dengan orang lain, buanglah cincin ini. Tapi kalau kita berjodoh, aq akan memakaikan cincin ini di jari manisnya, jadi simpanlah," ucap Zain dengan penuh ketulusan.


Cha menerima cincin pemberian Zain. Karena dia tidak mau melukai perasaan Zain secara terang-terangan.


"Baiklah, aq akan menyimpan cincin ini Zain. Dan aq akan membuangnya ketika aq menikah nanti dengan orang lain," balas Cha sambil memandang kotak cincin ditangannya.


Zain merasa senang, setidaknya Cha masih mau menerima dan menyimpan cincin tersebut. Cincin tanda cinta dari Zain.


"Baiklah Cha, aq juga sekalian mau berpamitan sama kamu, karena besok aq harus berangkat keluarga negeri menjalankan perusahaan qu yang sudah beberapa hari aq tinggalkan. Semoga kita bisa bertemu lagi. Dan kamu jaga diri baik-baik ya. Sekarang aq anter kamu pulang ya," Zain berpamitan sama Cha.


Cha terkejut karena ini hari terakhir mereka bertemu. Tapi dia berusaha menyembunyikan perasaan yang dia sendiri tidak tau.


"Ya, ayuk kita pamit sama orang tua kamu," ajak Cha. Mereka berjalan ke arah mama dan papa Zain. Kebetulan orang tua Zain sedang duduk santai berdua saja.


"Ma, pa, Cha mau pamit pulang duluan," kata Zain.


"Iya Tante, Om. Saya pamit duluan. Gak enak tar dicariin sama mama dirumah," ucap Cha sambil menyalami kedua orang tua Zain.


"Ya padahal Tante pengen ngajak kamu nyanyi," protes mama Zain.


"Cha tidak bisa lama-lama loh ma, nih juga dia izin sebentar sama mamanya," potong Zain.


"Ya udah, kalian hati-hati ya sayang dijalan. Zain jangan ngebut-ngebut bawa calon mantu mama," mama Zain mengingatkan Zain.


"Iya loh ma," jawab Zain. Mereka berdua pergi meninggalkan Restauran tersebut dan masuk ke dalam mobil.


"Pak, kita kerumah Cha ya," pinta Zain kepada pak supir.


"Baik tuan," jawab supirnya.


Sepanjang perjalanan, antara Zain dan Cha tidak ada yang berbicara. Mereka diam dengan pikiran masing-masing. Hingga mobil pun sampai di area jalan rumah Cha. Sebelum cha keluar dari mobil, Zain menahannya.


"Cha tuk pertemuan terakhir kita, bolehkah aq mencium mu tanpa ada paksaan dan pencurian," kata Zain dengan konyol.


Cha bingung, mau menerima atau menolaknya. Tapi dia tidak tega melihat wajah Zain yang memohon.


Cha hanya menganggukkan kepalanya tanda dia menyetujuinya. Akhirnya Zain mendekatkan wajahnya ke wajah Cha dan memiringkan kepalanya. Lalu bibir Zain menyentuh bibir Cha. Perlahan-lahan Zain mulai ******* bibir Cha dengan penuh kelembutan. Cha pun membalasnya. Mereka bertukar salivanya masing-masing sampai lama mereka menikmati ciuman itu. Hingga Cha kehabisan nafas dan melepaskan ciumannya.


Zain melihat bibir Cha yang bengkak akibat ulahnya. Lalu dia mengusap bibir Cha dengan jari telunjuknya dan berkata


"Manis dan menggairahkan," ucap Zain dengan suara seraknya. Lalu Zain memeluk Cha dengan erat, sambil berbisik


"Aq sayang kamu Cha, aq sudah jatuh cinta sama kamu. Biarlah cinta ini aq simpan dan aq rasakan sendiri," bisik Zain dalam posisi memeluk Cha.

__ADS_1


Cha pun melepaskan pelukannya dan tersenyum melihat Zain. Setelah itu dia membuka pintu mobil dan keluar dari mobil meninggalkan Zain dengan kesedihannya.


__ADS_2