Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Berdua Menghabiskan Waktu Yang Singkat


__ADS_3

Setelah mengantar Cha kedalam kelasnya, Zain pergi menuju ke perpustakaan.


Di dalam kelas, Cha duduk di barisan tengah. Mahasiswa yang berada di tempat itu semua melihat kedatangan Cha yang dianter oleh seorang laki-laki ganteng.


"Hai!" sapa seseorang.


Cha mendongakkan kepalanya melihat siapa yang berdiri dihadapannya.


"Kenalin nama gw Gina," ucap seorang perempuan yang mengulurkan tangannya.


"Hai juga, gw Cha," sambut Cha dengan menjabat tangan Gina.


"Btw, gw baru lihat Lo sekarang deh. Apa Lo gak ikut ospek ya kemaren?" tanya Gina heran.


"Iya, gw udah ijin gak bisa mengikuti ospek," jawab Cha.


"Pantesan aja," balas Gina.


"Oh ya, kamu asal mana?" tanya Gina lagi.


"Gw dari Sumatera, Lo sendiri dari mana?" tanya Cha balik.


"Gw sih asli Jogja. Senang berkenalan dengan Lo. Mudahan-mudahan kita bisa menjadi sahabat ya," ucap Gina berharap.


Cha hanya tersenyum menanggapi ucapan Gina. Dia masih trauma mendengar kata sahabat. Cha teringat dengan Shanti. Sahabat yang selalu dibanggakannya, namun sekarang berubah haluan menjadi sahabat yang pengiri.


"Oh ya Cha, tadi gw lihat Lo dianter sama cowok ganteng. Siapa dia?" tanya Gina.


"Oh itu teman gw pengen nganter gw kuliah aja," jawab Cha males.


"Ganteng banget ya. Kapan-kapan kenalin gw dong sama tuh cowok. Sapa tau bisa nyantol," ucap Gina kecentilan.


Cha hanya menyunggingkan senyumnya melihat Gina.


"Dasar nih cewek keganjenan banget sih. Ngajak berteman, rupanya ada udang di balik rempeyek," bathin Cha yang merasa tak suka.


"Oh ya Cha, nanti kantin bareng yuk. Aku pengen kamu menjadi teman dekatku," maunya Gina.


"Idih maksa banget sih buat jadi temannya," gumam Cha pelan.


"Cha....!" teriak Gina.


"Ya ampuuun Gin.., Lo itu bisa gak sih jangan teriak-teriak. Gw denger kok," ketus Cha kesal.


"Kalau dengar, jawab dong omongan gw. Emang enak dikacangin," hardik Gina.


"Kacang kan emang enak Gin!" canda Cha.


"Iya enak, tapi kalau dikacangin gak enak tau, ibarat gw tuh dicuekin kayak gak dianggap ada, " sebel Gina.


"Tapi nanti gw gak bisa Gin. Karena gw mau ke perpus, ada yang mau gw cari," balas Cha.


"Yaaaa, gak asyik Lo," hardik Gina, dia pun meninggalkan Cha. Gina kembali ke tempat duduk nya dan beraktifitas sendiri di bangkunya.


Ketika Cha hendak menghubungi Zain, dosen pun masuk ke dalam kelasnya.


"Selamat siang semuanya!" sapa dosen itu.


"Siang Pak....," sahut semuanya.


"Ini hari pertama kita kuliah ya. Jadi saya ingin mengenal satu persatu mahasiswa yang ada di sini," ucap dosen itu.


Lalu si dosen pun mengabsen satu persatu mahasiswanya hingga selesai. Kemudian si dosen memberikan catatan kepada mahasiswanya.


Selesai jam kuliah, si dosen keluar dari dalam kelas. Cha bergegas merapikan bukunya dan beranjak keluar dari dalam kelasnya. Ketika Cha berjalan ke arah perpustakaan, dia gak sengaja berpas-pasan dengan Melda teman satu kost nya.


"Loh, kamu kuliah disini juga?" tanya Melda terkejut.


"Eh iya mbak, saya mahasiswi baru disini," jawab Cha.


"Oalah, dunia ini ternyata sempit ya. Kita satu kampus dan satu kost-kostan. Jodoh kali ya hehehe," ucap Melda yang cengengesan.


"Mbak dah selesai kuliahnya?" tanya Cha.

__ADS_1


"Nih baru mau masuk. Tuh dosnenya udah mau jalan kemari," jawab Melda sambil menunjuk dosen nya.


"Ya udah mbak, gw juga mau ke perpustakaan," ucap Cha.


"Ok, oh ya tar malam aku main ya kekamar mu," balas Melda.


"Oh boleh mbak. Datang aja ke kamar. Aku senang kok kalau ada temennya," balas Cha tersenyum.


"Ya udah, mbak masuk kelas dulu ya," pamit Melda, kemudian dia pun masuk ke dalam kelasnya.


Cha melanjutkan jalannya menuju perpustakaan. Sesampainya disana, Cha mencari-cari keberadaan Zain. Cha tidak melihat adanya Zain di perpustakaan.


"Dimana dia. Katanya tadi suruh datang keperpus," kesal Cha sambil celingak-celinguk.


Cha memutuskan untuk pergi kekantin kampus. Karena dia tidak menemukan Zain di perpus. Tiba-tiba ponsel Cha berdering. Dia pun melihat nama yang tertera.


"Kamu dimana Zain? Tadi aku udah ke perpus, tapi kamu gak ada," ucap Cha dengan kesal.


"Aku di perpus kok Cha. Aku tadi lagi nyari buku di rak paling ujung. Aku juga nungguin kamu disini," balas Zain.


"Ya udah kamu kekantin aja ya sekarang. Atau aku yang keperpus?" tanya Cha memberi pendapat.


"Kamu ke perpus aja Cha. Aku tunggu sekarang ya," pinta Zain.


Akhirnya Cha pun melangkah ke perpus. Dia meninggalkan kantin. Saat Cha tadi sampai di kantin, banyak mata yang memandang. Bisik-bisik mahasiswa pun terdengar olehnya.


"Siapa cewek itu, cakep juga," ucap mahasiswa satu.


"Iya, Maba tuh kayaknya," sahut temannya.


"Kayaknya kemaren gak ikut ospek deh. Karena gw blom pernah lihat tuh cewek," sambung teman yang lainnya.


Ternyata yang sedang memperhatikan Cha adalah kakak kelasnya. Yang memang mengetahui siapa saja Maba yang tidak mengikuti ospek kemaren.


Cha terus berjalan ke arah perpustakaan. Dari jauh dia sudah melihat Zain berdiri di dekat pintu masuk perpus.


"Loh kenapa nunggu disini Zain?" tanya Cha.


"Kamu jam berapa berangkat Zain?" tanya Cha lagi.


"Sore aku berangkat. Aku ingin. Menghabiskan waktu yang singkat bersama kamu sayang," ucap Zain sendu.


"Trus sekarang kita mau kemana?" tanya Cha.


"Gimana kalau kita ke pantai. Aku ingin menikmati suasana pantai bersama kamu," ajak Zain.


"Ayo lah, aku juga pengen refreshing ke pantai biar nih otak fresh kembali," sahut Cha.


Zain dan Cha pergi meninggalkan kampus dan menuju ke Parangtritis.


"Kita beli cemilan dulu ya Zain. Karena gak enak kalau gak bawa cemilan ke pantai," ajak Cha.


"Ok, nanti kita berhenti dulu di supermarket," ucap Zain menyetujui maunya Cha.


Tak berapa lama mobil pun berhenti di depan supermarket. Zain dan Cha turun dari mobil dan masuk ke dalam supermarket.


Cha membeli beberapa cemilan untuk dibawa kesana. Sekalian beberapa minuman dingin dibeli Cha. Setelah selesai belanja, mereka melanjutkan perjalanannya ke parangtritis.


Selama perjalanan, Cha tertidur di bahu Zain. Dia sudah gak kuat untuk melek akhirnya tertidur. Zain yang melihat Cha tertidur di bahunya, merasa bahagia. Saat ini bisa berduaan dengan orang yang sudah menjadikan dirinya menjadi bucin.


Zain pun ikut menyandarkan kepalanya disamping Cha hingga dia pun terlelap.


Ketika sampai di Parangtritis, si bodyguard nya membanguni mereka berdua.


"Tuan, kita sudah sampai," ucap bodyguard nya.


Zain pun bangun dan mengucek matanya melihat sekelilingnya. Dia pun membanguni Cha. Cha masih blom sepenuhnya sadar.


Cha perlahan membuka matanya dan melihat kedepan ternyata sudah sampai di pantai.


"Dah sampai ya Zain?" tanya Cha sambil menguap.


"Iya sayang, yuk turun," ajak Zain sambil menggenggam tangan Cha keluar dari mobil.

__ADS_1


Mereka berjalan ke arah pantainya. Namun sebelum itu Zain membelikkan topi pantai khusus untuk Cha.


"Sayang, aku ingin kamu pakai topi ini, bagus dikamu," pinta Zain yang menginginkan Cha memakainya.


"Kamu tau aja kalau aku juga suka topi ini," jawab Cha.


"Kalau gitu kita sehati dong. Berarti klop jadi sepasang kekasih," bangga Zain karena pilihannya sama dengan pilihan Cha.


"Hehehe, bisa aja kamu Zain," balas Cha.


Setelah selesai membeli topi, mereka berjalan ke arah pondok.


"Yuk kita disini aja. Mana yang punya pondok ini?" tanya Cha celingak-celinguk mencari pemilik pondok.


"Itu dia," tunjuk Zain.


"Oh iya. Mbak kita sewa nih pondok ya. Berapa sewanya?" tanya Cha kepada pemilik pondok.


"60 ribu as mbak sewanya," jawab si pemilik.


"Ya udah nih mbak uangnya," serah Cha.


"Makasih banyak ya mbak," jawab si pemilik pondok. Kemudian dia pun pergi meninggalkan kedua insan itu.


"Wah udara nya seger banget ya Cha!" seru Zain yang sangat menikmati udara pantai.


"Nih makan cemilan dulu Zain. Atau kamu mau pesan makanan disini?" tanya Cha.


"Mesannya dimana Cha?" tanya Zain balik.


"Kayak nya sama si mbak tadi deh kalau mau pesan makanan. Dia nya mana ya," Cha mencari keberadaan si mbak tadi.


"Nah itu dia," tunjuk Zain kearah pemilik pondok itu.


Cha melihat arah yang ditunjuk Zain. Cha pun berteriak memanggil pemilik pondok.


"Mbak...! Sini deh," panggil Cha teriak.


Si pemilik pondok pun datang menghampirin Cha dan Zain.


"Ada apa ya mbak?" tanya pemilik pondok.


"Mau nanya mbak. Kalau mau pesan makanan dimana ya?" tanya Cha.


"Oh mbaknya mau pesan apa. Sama saya juga bisa," jawab pemilik pondok.


"Saya mau pesan mie rebus pakai telur dua dan capuccino dingin dua," pesan Cha.


"Ok mbak, tunggu sebentar ya. Nanti diantar kok," balas pemilik pondok itu.


"Zain mengajak Cha berjalan ke arah pantainya untuk bermain ombak. Cha sempat menolak karena takut dengan ombak. Namun Zain bersikeras mengajaknya dan akhirnya menggendong Cha karena tidka mau.


Zain menggendong Cha ala bridal style ke arah ombak pantai dan menjatuhkannya ke air pantai.


"Zaiiiiin, kenapa aku dijeburin gini! Kan jadi basah. Aku gak bawa baju ganti Zain!" teriak Cha kesal dengan tingkah Zain.


"Nanti tinggal beli kain pantai sama kaos disini. Tuh ada yang jual kok," jawab Zain santai sambil menunjuk kearah toko yang menjual pakaian.


"Ih...tapi kan aku bisa kedinginan Zain," ucap Cha yang masih kesal.


"Gampang tar tinggal aku peluk biar hangat," ujar Zain yang tak mau kalah.


Cha yang kesal akhirnya menarik Zain agar jatuh ke dalam air ketika ombak menyapu kearah mereka.


"Wah kamu balas dendam nih ya," hardik Zain gak terima.


"Biarin. biar sama -sama impas kita. Jadi basah-basahan," ucap Cha yang merasa puas.


Mereka pun bermain air hingga sang pemilik pondok memanggil mereka karena pesanan mereka sudah diantar.


"Yuk kesana Zain. Tuh makanan kita udah datang," ajak Cha sambil menarik tangan Zain.


Zain pun menurut saja ketika Cha menarik tangannya.

__ADS_1


__ADS_2