
Dewi tersenyum melihat kearah Yoga, dia menatapnya penuh kekaguman. Seakan terhipnotis hingga dia tak menyadari bahwa Cha meliriknya.
"Ekhem," Yoga berdehem menegur Dewi.
Tapi yang ditegur tetap melongo tak sadar. Entah kemana pikiran Dewi melayang. Lalu Bimo menyikut dengan kuat lengan Dewi hingga membuat Dewi tersentak.
"Eh apaan sih Bim," kesel Dewi yang mendelik melihat Bimo.
"Lo ngapain bengong gitu ngelihat Yoga?" bisik Bimo sambil melirik Yoga.
"Loh gak salahkan gw ngelihat dia. Namanya juga terpesona dengan ketampanan nya," kata Dewi jujur. Dia sengaja ngomongnya keras supaya Cha juga mendengarnya.
Cha berusaha menekan rasa cemburunya demi selesainya masalah ini. Cha memaksakan dirinya untuk tersenyum.
"Wi, kemaren Bimo sudah cerita bukan bagaimana nanti kamu menghadapi mamanya Cha?" tanya Yoga yang berusaha menetralkan ketegangan situasi antara mereka.
"Iya, kemaren si Bimo udah jelasin kok. Kamu tenang aja ya Ga, aq pasti bantu Cha nanti ketemu mamanya," Dewi tersenyum genit kepada Yoga.
"Berarti nanti pulang sekolah, Dewi ikut bareng gw kan? Trus kalian gak ikut nganterin kami?" tanya Cha yang menatap Yoga dengan wajah kesal.
Yoga bisa melihat ekspresi wajah Cha yang cemburu. Baginya itu sangat menggemaskan. Ingin rasanya Yoga menciumnya, tapi tidak dihadapan yang lain.
"Tenang yanx nanti aq sama Bimo bakalan anter kamu kok yanx. Dan kami juga nantinya nungguin Dewi pulang dari rumahmu Cha," jelas Yoga sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
"Apaan sih Yoga, pakai kedip-kedipin matanya gitu. Dah tau keadaan lagi serius, hadeww," bathin Cha.
"Ya udah semuanya udah jelas. Pokoknya Wi, kamu kudu tenang ntar menjawab pertanyaan mamanya Cha. Inget Binyu adalah kakak tertua kamu dan kamu adik bungsunya. Yang pasti Bimo sudah menceritakan sedetail mungkin kan tentang Binyu," Yoga mengingatkan Dewi agar tidak sembarangan berbicara. Sesuai dengan konsep yang sudah di atur Bimo.
"Pasti Ga, kamu tenang aja. Cha pasti aman nanti. Aq akan menjawab pertanyaan ammanya dengan tenang," kata Dewi.
"Kalau begitu, aq anter Cha ya Bim. Kalian duluan aja. Makasih ya Wi atas bantuannya," Yoga tersenyum melihat Dewi.
Dewi tersipu malu melihat senyuman Yoga, jantungnya deg-deg an. "Ah...andainya kamu pacar aq Ga, serasa dunia ini milik berdua aq buat," pikir Dewi yang kesemsem melihat Yoga.
"Ok Ga, aq mau ngobrol dulu nih sama Dewi. Mau mengingatkan kembali tentang Binyu biar dia tidak lupa," bohong Bimo.
Bimo mengajak Dewi kembali ke kelasnya. Dan mencubit lengan Dewi dengan gemes.
"Apa sih Bim? Nyubit-nyubit segala," sewot Dewi.
"Elo yang apa-apaan, pakai kegenitan senyum-senyum menggoda Yoga. Gw kan dah peringatkan jangan ganggu sahabat gw, ngerti Lo! Kalau Lo gak mau denger, gw laporin Lo ke Nyokap biar dimarahin karena ganggu hubungan orang," kesal Bimo.
"Idih...atuut! Iya-iya tenang aja diboncengan napa. Jangan protes, gw gak akan ganggu. Lagian namanya juga gw suka, kan gak salah gw senyum sama orang nya," jelas Dewi sambil memanyunkan bibirnya.
"Gak salah sih, tapi lebih baik biasa aja nanggepin nya. Gak usah kecentilan," Bimo menjitak kening Dewi.
"Ih.....ntar gw bilang sama nyokap Lo, kalau Lo suka nyentil kening gw, biar Lo disentil balik, hahaha," mereka berdua tertawa bersama. Mendengar kekesalan Dewi membuat Bimo tertawa juga.
Mereka memutuskan kembali ke kelas masing-masing. Hingga jam pelajaran selesai. Dewi menyamperin Bimo dan Yoga di kelas mereka.
"Loh Wi, cepat banget kamu keluar kelasnya?" tanya Bimo yang kaget udah ada Dewi di depan kelasnya.
"Iya tadi guru di dalam kelas gw buru-buru keluar karena ada urusan. Makanya gw bisa cepat sampai sini," kata Dewi sambil melirik Yoga.
"Bim, gw ke kelas Cha dulu ya buat jemput dia. Kalian tunggu disini aja ya," Yoga beranjak meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
Dewi terpelongo melihat kepergian Yoga yang tanpa merasa bersalah.
"Hmmm gw udah sengaja kemari biar ketemu Yoga, eh malah dia kabur ke tempat Cha. Nasib ya nasib jadi cewek tak digubris," Dewi menekuk wajahnya dengan menatap punggung Yoga yang berjalan ke kelas Cha.
"Hahahaha nasib ya nasib jadi cewek tak laku, hihihi," ledek Bimo sambil cengengesan.
PLAK
"Enak aja bilang gw gak laku ya. Cantik begini kok. Tuh anak kelas lain aja pada naksir sama gw, tau gak!" sewot Dewi yang kesel dengan ucapan Bimo.
"Gak tau, kan gak pernah kelihatan ada cowok yang dekat sama Lo, hahaha," Bimo semakin semangat menjahilin Dewi.
"Ihhhhhhh, awas Lo ya gw aduin sama nyokap Lo biar di jitak tuh kepala Lo," kesal Dewi yang menghentak-hentakkan kakinya.
"Eleuh eleuh gitu aja ngambek. Cup cup cup, tar gw traktir deh makan di cafe. Lo mau makan apa aja beres gratis tis tis," Bimo menaik-naikan kedua alisnya sambil tersenyum.
Mereka berdua menunggu Yoga dan Cha datang. Hingga akhir dari penantian mereka selesai. Yoga dan Cha datang menyamperin mereka.
"Hai Cha, gimana udah siap?" tanya Dewi sok akrab.
"Iya Wi, tapi agak gugup juga sih. Lo siap kan?" tanya Cha balik.
"Siap gak siap harus dijalankan Cha. Biar semua selesai, ya kan Ga," Dewi melirik ke arah Yoga.
"Iya Cha, semua akan berjalan baik. Kamu tenang ya jangan gugup. Kami nanti akan menunggu Dewi di dalam mobil," kata Yoga sambil menggenggam tangan Cha yang memberikan semangat.
"Eits pegangan tangan dihadapan gw! OMG hati gw terbakar huhuhuhu," gumam Dewi yang merasa cemburu, tapi ternyata masih bisa didengar oleh Bimo karena jarak mereka berdampingan.
Bimo menyenggol lengan Dewi. Dia melototkan matanya menatap Dewi dan memberikan ancaman dengan tatapannya.
"Emang Lo aja yang bisa melototi gw, nih gw juga bisa kan," Dewi menahan tawanya melihat wajah Bimo yang terkejut karena dibalas Dewi.
"Ayok kita berangkat ke parkiran," ajak Yoga yang memecahkan suasana tegang antara Dewi dan Bimo.
Mereka berempat berjalan menuju parkiran. Namun diluar dugaan ternyata Binyu sudah menunggu mereka di sana.
Cha dan Yoga serta Bimo terkejut kecuali Dewi karena dia tidak mengenal Binyu.
"Hai sayang, yuk abang anter pulang," ajak Binyu sambil berjalan kearah Cha.
Cha mundur kebelakang dan bersembunyi dibelakang punggung Yoga.
"Ngapain lagi Lo datang kemari?" tanya Yoga dengan tatapan tajam.
"Bukan urusan Lo, dia pacar gw. Jangan halangi gw, kalau tidak.." Binyu menghentikan ucapannya sambil menatap Yoga dengan sinis.
"Kalau tidak apa, hah...," tantang Yoga.
"Kalau tidak Lo tau akibatnya," kata Binyu melanjutkan ucapannya.
"Ayok Cha kita pulang bareng. Abang mau ngomong sama kamu," Binyu menarik paksa tangan Cha.
Dengan sigap Yoga menahan tangan Binyu dan menghempaskan nya.
"Jangan berani-beraninya Lo sentuh dia," Yoga membawa Cha masuk ke dalam mobil. Namun tiba-tiba.
__ADS_1
BUGH BUGH
Binyu menarik kerah baju belakang Yoga sehingga Yoga membalikkan badannya dan kena pukulan dari Binyu.
"Aaaaaaaaaa," Cha dan Dewi menjerit melihat perlakuan Binyu.
Yoga yang tidak siap mendapatkan pukulan Binyu, tidak bisa mengelak hingga dia tersungkur ke samping.
Bimo yang kaget melihat temennya dipukul, langsung menarik Binyu dan memberikan tinju di wajahnya nya.
BUGH BUGH
Binyu kaget dapat serangan dari Bimo. dia melihat tajam kearah Bimo.
"Sialan Lo ya, anak ingusan..!" teriak Binyu yang berusaha memukul Bimo kembali. Namun Bimo sigap menghindar. Hingga Binyu hanya memukul udara.
"Eh bang, situ ngaca. Gw dibilang ingusan! Gw nih cowok sejati, jantan lagi, hahaha, dah banyak cewek yang gw tidurin," jawab Bimo ngalur ngidul.
Binyu kaget mendengar kata banyak cewek yang sudah ditidurinya.
"What...! masa sih masih ingusan begini udah pengalaman di ranjang, hahhh yang bener aja!" pikir Binyu tak percaya.
"Kenapa Lo kaget ya mendengarnya. Emang Lo aja yang bisa masuk lubang keluar lubang. Gw juga udah banyak nikmati lubang lubang," Bimo cengengesan dan akhirnya tertawa terbahak-bahak kayak orang kesurupan.
"Bahkan lubang cowok juga udah pernah gw cicipin. Lo mau gw coba," kata Bimo semakin ngalur ngidul.
Cha dan Dewi yang sudah berada didalam mobil, ikut terbahak-bahak sampai sakit perut mereka mendengar guyonan Bimo yang menggoda Binyu.
"Gila Lo, ogah banget gw sama Lo. Gw masih normal ya," kata Binyu yang merasa jijik melihat Bimo.
Bimo sengaja mengerjain Binyu. Dia kesel karena dibilang anak ingusan.
"Enak aja bilang gw anak ingusan. Gw kerjain Lo habis-habisan," bathin Bimo.
"Sini bang, ikut gw aja. Biar kita nikmatin hari ini. Kebetulan gw lagi kepengen nih. Dah seminggu gak ngerasain lubang cowok. Kayaknya punya Lo, ok juga," goda Bimo sambil menatap tubuh Binyu dari atas sampai bawah dengan gaya menggoda.
"Ueek," Awas Lo, pergi, pergi sana. Mau muntah gw lihat banci kayak Lo," semprot Binyu yang jijik melihat Bimo.
Bimo terus melancarkan aksinya mengerjain Binyu. Lalu Bimo mulai mendekati Binyu, tangannya ingin mengelus wajah Binyu, namun ditangkis oleh Binyu. Binyu pun lari terbirit-birit.
"Awal Lo Ga, urusan kita belom kelar," kata Binyu sambil lari masuk ke dalam mobilnya.
"Hahahahaha, rasain gw kerjain Lo kan. Dasar pecundang," umpat Bimo melihat kepergian Binyu.
"Ayok kita masuk bim," kata Yoga
"Lo gak apa-apa kan Ga?" tanya Bimo yang perduli dengan sahabatnya.
"Gak apa-apa Bim, cuma sakit dikit aja. Hebat juga akting Lo tadi, gw aja geli mau ngekeh tapi takut ketahuan Binyu kalau Lo lagi ngerjain dia," kata Yoga sambil ngacungkan jempolnya.
"Habis gw kesel dibilang anak ingusan. Ya itu juga spontan kok punya ide ngerjain dia. Ternyata dia takut juga, hahaha," dengan bangga Binyu membusungkan dadanya sambil menepuk-nepuk pelan, "Bimo gitu loh.."
"Ayuk kita mau ada acara lagi. Lo harus membereskan lubang-lubang yang terbengkalai, hahaha," goda Yoga sambil berjalan meninggalkan Bimo.
"Ah sialan Lo Ga," Bimo ikut masuk kedalam mobil.
__ADS_1