
Kalian pasti bertanya tanya mengenai jumlah santri yang berada disana yaitu 1300 orang. dengan setiap hari memasak tentu bukan hal yang mudah, karna mereka menyiapkan makanan seperti mengadakan acara pesta pernikahan..
Rencana pelebaran pondok pun dipikirkan fikri dan juga abah yang setiap tahun banyak yang mendaftarkan putra/putri mereka untuk menuntut ilmu disini, walau biaya masuk di pesantren ini full 100% GRATIS tidak dipungut biaya apapun terkecuali bulanan uang saku untuk anak mereka. tak jarang dari mereka yang tiap bulan memberikan uang seikhlasnya mereka namun tiap itu pula baik abah fikri dan ustad lainnya sudah mengatakan gratis namun mereka punya kesadaran tersendiri.
fikri dan delia pun sudah tiba di dapur umum tak lupa ia mengucapkan salam " Assalamualaikum ", kedatangan mereka disambut oleh orang orang yang berada disana, sapaan dan ucapan mereka dapatkan.
" ummi apa kabarnya? " ucap istri ismail yang menghampiri delia.
" Alhamdulillah ana bi khoir ustadzah"
" Alhamdulillah mari umi " ajaknya untuk melihat lihat makanan dan kesibukkan pengurus didapur, di rangkulnya pinggangku untuk mengajakku berkeliling. aku pun mengikutinya dibawa kemana saja aku mengikutinya sambil berbicara tentang masakkan, atau kebutuhan yang kurang disini. saat asik berbicara suara yang tak asing bagiku terus memanggil mencoba menghampiriku,,oh aku lupaa meninggalkan suamiku begitu saja. " Umii abi izin sebentar ke aula ya, umi mau ikut atau disini saja " tanya fikri yang memang ada urusan.
"Yaallah maafkan aku yang meninggalkan suami begitu saja, dosa aku ini tanpa izin terlebih dahulu dengannya, ampuni hamba yaallah dan pasti abi marah banget sama aku " gumam delia dalam hati.
" Umi disini saja bi, boleh engga bi? " jawab delia yang memang merasa tak enak dengan yang lainnya jika fikri terus bersamanya padahal ia tau tugas fikri amatlah banyak sama dengan para pengurus pembina pondok. ia tak ingin egois bersama kapanpun ia mau dengan sang suami walau sejujurnya ia tak ingin ditinggalkan.
" Apa gak apa apa umi disini? " tanya fikri lagi dengan Penuh keyakinan ditatapnya bola mata sang istri meminta pengakuan dan mencari kebenaran.
Bukannya memasak makanan,semua yang berada disanaa melihat kearah 2 insan ini seperti menonton film romantis seakan akan terhipnotis bagi siapa saja yang melihatnya, terkecuali istri ustad ia memilih sibuk sendiri. "yaampun abi romantis banget ya sama istrinya "gumam santriwati.
" aduhh yaallah sisakan satu laki laki seperti abi "
" Suami idaman "
begitulah ungkapan mereka yang melihat ke uwuan fikri dan delia padahal ia tak bermesra mesraan ia hanya berbicara seperti biasa namun mereka yang terlalu mengidolakan sampai bilang uwu uwuan begitulah anak. anak.
" Umi gak apa apa bi, abi segeralah bertugas, umi disini dengan para ustadzah dan para santriwati" jawab delia lembut.
" Yasudah hati hati ya mii, jangan ceroboh, jaga diri baik baik , " ucapnya pada delia.
" Iya bii ".
" Ustdzah titip umi yaa saya pergi sebentar, klau sudah beres segera ditata makanannya sebentar lagi maghrib "
" baik abi, " .
" Yasudah semuanya afwan ana permisi dulu, Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh "
" Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh"
fikri pun berlalu pergi menuju aula, sedangkan yang lainnya ia melanjutkan masak masaknya.
" Ummi bisakah umi berbagi pengalaman umi hingga berjodoh dengan abi " ucap salah satu santri wati yang memang mengingnkan pendamping hidup seperti fikri.
" pengalaman seperti apaa ukhty " tanya delia sambil memotong tempe
" Umi maaf biarkan saya saja yang memotong tempenya umi " panik santriwati saat delia ikut membantu memotong tempe.
__ADS_1
" gak apa apa ukhty umi bantu ya biar lebih cepat dan bukan kah jika dikerjakan bersama sama akan terasa lebih indah " ucap delia menenangkan santri wati yang ketakutan, takut dimarahi yang lain karna ikut membantunya padahal delia ga boleh kelelahan.
" Baiklah umi "
" Ummi berkenan kah untuk berbagi cerita kepada kami, agar bisa mendapatkan jodoh seperti umi yang bisa menuntun kita menjadi lebih baik " pinta mereka yang ingin mendapatkan jodoh seperti impian mereka.
" Baiklah sebelumnya umi minta maaf jika ada kesalahan umi dalam menyampaikan sungguh kebenaran hanya milik Allah swt sedangkan kesalahan datangnya dari diri sendiri, perihal jodoh yang baik bukankah kalian sudah mengetahui jodoh itu cerminan diri, jika kita mengingkan jodoh sholeh maka sholehakan dulu diri kita, Hal ini juga dikuatkan dengan salah satu ayat dalam Alquran, yakni surat An Nur ayat 26.
اَلْخـَبِيـْثــاَتُ لِلْخَبِيْثـِيْنَ وَ اْلخَبِيْثُــوْنَ لِلْخَبِيْثاَتِ وَ الطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَ الطَّيِّبُوْنَ لِلطَّيِّبَاتِ.
Artinya:
“Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik”. (QS. An Nur:26)
" ummi aku mau nanya bagaimana kita mengetahui laki laki itu baik atau tidak nya ummi " tanya salah satu santriwati.
" Buatlah ia marah dan lihatlah reaksinya jika ia berkata kasar ,membentakmu bahkan memukulmu hingga menghakimimu maka tinggalkan ia namun jika ia berbicara lembut dan tetap menasehatimu dengan kelembut maka jangan tinggalkan ia, pilih lah laki laki maupun perempuan yang baik agama nya" ucap istri ustad ismail.
" betul apa yang dikatakan ustadzah " ucap delia dengan lembut.
" Terimakasih ummi "
tak terasa obrolan mereka mulai mengarah pribadi banyak yang mencurhakan isi hatinya kepada ustadzah dan delia tentang hal apapun hingga tanpa disadari makanan semua telah selesai dan siap dihidangkan.
" Alhamdulillah sudah selesai " ucap mereka dengan tersnyum bahagia.
mereka pun membubarkan diri masing masing untuk bersiap siap karna waktu sudah hampir maghrib. delia pun kembali kerumah singgah. dilihatnya sang suami belum kembali ia pun memutuskan untuk mandi dan mengambil wudhu bersiap sholat berjamaah dengan yang lainnya.
15 menit ia bersih bersih namun suami tak kunjung tiba ia pun memakai mukena bersiap siap menunggu adzan,saat sedang menunggu adzan ponsel fikri berdering pertanda panggilan masuk dari abah terpampang jelas, berulang kali telponnya berbunyi namun ia tidak berani mengangkatnya dan satu sisi ia pun khawatir apa yang telah terjadi sampai abah menghubungi berkali kali. " Yaallah aku harus apa apakah aku angkat telpon tanpa suami atau mengabaikannya " gumam delia terus mondar mandir.
Panggilan kali ini pun berbeda dengan nada dring panggilan masuk berbeda rupanya suara itu terdengar dari ponsel delia. ia pun dengan cepat meraihnya dilihatnya bunda menghubungi nya, dengan perasaan khawatir ia pun langsung menjawab panggilan bunda. " Waalaikumsalam bunda ada apa bunda? " tanya delia dengan santai mencoba menutupi kekhawatirannya.
" Kalian sedang sibuk ya? maafkan bunda menghubungi menjelang maghrib karna sejak tadi bunda mencoba menghubungi tapi tak diangkat " ucap bunda disebrang sana.
" maafkan delia bunda ponsel delia dan abi tertinggal dirumah singgah, delia membantu didapur sedangkan abi sejak tadi di aula ada apa bunda?
" Jangan cape cape nak ingat kondisi kamu, bisakah kalian pulang setelah sholat maghrib ada hal yang ingin dibicarakan abah meminta kumpul semuanya, bisa nak? " pinta bundaa dengan tegas dan itu membuat delia bertanya tanya.
" ya bunda delia akan berhati hati, delia usahakan ya bun sejak tadi delia tidak berjumpa dengan abi abi belum pulang ke rumah singgah tapi nanti jika delia ketemu delia akan sampaikan dan kami akan pulang bunda "
" Apa suamimu sibuk sekali? ahh pokoknya kalian pulang yaa nak "
" ya bunda kami akan pulang, yasudah delia tutup ya bun telponnya mau siap siap sholat, bunda salam untuk alisyah ya. bun "
" ya nak nanti bunda sampaikan, yasudah assalamualaikum nak "
" Waalaikumsalm warahmatullahi wabarakatuh "
__ADS_1
panggilan pun berakhir namun sampai saat ini fikri belum pulang juga, biasanya ia akan bersih bersih terlebih dahulu lalu kembali untuk sholat berjamaah, entah apa yang dilakukannya delia mengerti akan statusnya saat ini sudah menjadi istri dari fikri tentu menerima resiko demi resiko yang ia akan hadapi. 5 menit lagi adzan maghrib berkumandang delia memutuskan untuk pergi ke masjid yang ada disana,meninggalkan pikiran yang terus menghantui ia pun berjalan dan terus berjalan, banyak santiwati yang menyapa dan berjalan beriringan semangat dalam beribadah. hidup ditengah tengah anak sholeh sholeha membuat hati begitu adem mengingat akhirat meninggalkan dunia.
" Ummi sendiri saja abi nya kemana umm "
" Abi sudah lebih dulu kemasjid, hayu kita percepat jalannya " ucap delia dengan lembut.
Adzan pun berkumandang pertanda waktu sholat tiba, mereka mendengarkan adzan yang dikumandangkan oleh salah satu anak santri yang menjadi pusat perhatian bagaimana tidak setelah sang ustad yang menjadi idola kini ada anak santri yang berwajah ganteng hidung mancung, putih bersih, pastinya memiliki suara merdu, paket komplit julukan untuknya. ia bernama haikal dai yang berusia 22 tahun anak kesayangan fikri karna persis mempunyai aura seperti sang ustad, mereka menamainya next generasi abi fikri atau banyak yang bilang anaknya abi fikri. padhal ia bukan anak kandung fikri.
" Masyaallah paket komplit kaya abinya suaranya yaallah " gumam salah satu santri putri yang duduk disamping delia.. delia yang mendengarnya hanya tersenyum saja.
" Sudah hayu sholat" ucap delia kepada anak itu.
Mereka pun sholat maghrib berjamaah dengan di imami oleh fikri. semua sholat dengan khusyuk setelah sholat mereka berdoa bersama dan membaca tadarus sebentar kemudian bubar untuk makan malam.
semuanya meninggalkan masjid untuk bersiap siap makan, delia memutuskan untuk menunggu sang suami di halaman rumah singgah seperti biasa.. singkat cerita.iapun berjumpa
" Assalamualaikum ummi maaf sudah lama nunggunya "
" Waalaikumsalam gak apa apa abi, masuk yu bi "
" Abi sudah mandi " tanya delia saat mereka duduk di ruang tamu
" sudah mi tadi abi izin sebelum berangkat ke aula abi mandi dulu mii, maafin abi lama mi soalnya haikal mau daftar di lomba hafiz quran mii "
" Alhamdulillah abi, gak apa apa abi umi mengerti abi sibuk, apapun itu umi dukung abi, oh ya bi tadi ada panggilan masuk dari abah tapi umi engga angkat bii "
" loh kenapa mii? "
" gapapa bi umi ga mau mengangkat telpon di ponsel abi tanpa seizin abi"
" Ummii abi sudah mengatakan jika ada yang telpon abi, umi angkat saja gak apa apa umi "
" umi gamau bii, umi ga sopan jika memeriksa ponsel abi ,oh ya bii bunda telpon umi katanua setelah sholat langsung pulang kerumah soalnya ada yang ingin di sampaikan sama abah "
" Ada apa ya ummi "
" umi kurang tau bii, bunda menyampaikan seperti itu bii, "
" Yasudah umi siap siap dulu terus kita pulang sekarang ya mii "
" ya bii kalau gtu umi siap siap dulu ya bi "
" ya ummi "
delia pun kekamar mengganti mukena dengan khimar dan membereskan barang barang yang sebelumnya tergeletak diatas kasur.
" Ada apa ya abah " gumam fikri.
__ADS_1