
Delia dan fikri tengah berada di kamar delia
waktu masih gadis, mau tidak mau suka tidak suka mamah mengikuti kemauan anaknya untuk menempati ruangan kamar yang tidak terlalu luas namun tidak sempit yaa seperti kamar gadis pada umumnya. Setelah drama haikal dan ka zia mereka memutuskan untuk kembali ke kamarnya masing masing.
" istirahat ya mi" kata fikri menarik selimut untuk menutupi tubuh delia.
" abi mau kemana "
" mau keluar sebentar tadi abah meminta abi menemuinya"
" yasudah bi "
Fikri keluar dari kamar delia ia menemui Abah karna ada hal yang ingin beliau sampaikan, sedangkan delia ia tidak bisa tidur, ia pun memutuskan kembali memakai hijab nya dan memakai cadar tali miliknya. setelah selesai ia pun dengan perlahan bangkit dari duduknya , akupun mulai berjalan dengan perlahan, rasa nyeri pada bekas sayatan masih terasa apalagi ini sudah hari ke 9 dari sesar, walau terasa sakit dan nyeri aku tetap memaksakan untuk berjalan agar terbiasa dan tidak mengandalkan siapapun.
," Bismillah bisa yu delia, demi keluargamu" gumam dalam hati ia pun membuka hendle pintu kamarnya, setelah terbuka ia berjalan keluar melewati ruangan demi ruangan kamar , terlihat sepi ya mungkin mereka sedang beristirahat. aku beralih untuk mengambil minuman dan cemilan didalam kulkas mamah.
Sunyi sepi dan tak terdengar adanya aktifitas didalam rumah itu, semua seakan akan tenggelam dalam mimpinya. Delia berjalan perlahan ia ingin sekali melihat sekeliling rumah yang sudah lama tak ia kunjungi, sejujurnya ia merindukan masa masa gadis , masa dimana ia belum menikah dan tidak mempunyai masalah sebesar ini.
1 tahun menjalin pernikahan dengan seorang ustad membuatnya harus banyak banyak belajar apalagi mendalami kehidupan keluarga suami yang selalu berhubungan dengan Agama dan fikri beserta abah menerapkannya seperti itu, walau menikah dengan fikri ujian kehidupan tetap ada seperti dialami oleh kebanyakan orang dimana awal 5 tahun pernikahan adalah moment dimana saling mengenal dan tentunya banyak perbedaan yang mereka temukan.
" Sudah lama aku tak melihat rumah ini " gumam delia dalam hati ia terus melihat lihat seisi rumah.
" rasanya aku belum bisa moveon bagaimana papah menggendongku, mengajakku bercanda , tawa tapi kini tak ada yang mencium hidungku seperti hal yang biasa ku lakukan pada papah" kata delia dalam hatiii.
Aku terus berjalan melewati vas bunga yang berada disisi kaca , saaat aku berjalan terlihat seorang wanita paruh baya berada di gazebo belakang, aku menghampirinya dengan perlahan dan ku lihat rupanya mamah , sedang apa mamah disana sendiri ? .
" mah " panggilku mengusap punggung mamah.
" eh." sahut mamah terkejut, ia buru buru mengapus airmatanya
" deliaaa , kamu ngapain disini bukannya istirahat" kata mamah memalingkan wajahnya supaya tak mengetahui kalau ia menangis
" mamah menangis ? " katakku to the point.
" engga nak cuma kelilipan debu saja" kilah mamah mengibas ngibaskan tangannya.
" mamah jangan bohongin lia terus " kataku dengan memaksa mamah bercerita.
" mamah gak bohong nak" katanya lagi dengan suara bergetar.
Aku mengerti apa yang di rasakan mamah, seorang ibu pasti menutupi sesuatu demi anaknya bahagia,namun tidak untuk delia , ia wanita yang sangat perasa. ia bisa mengetahui apa saja yang dirasakan keluarganya terutama mamah, ia tau pasti mamahnya nangis karna merindukan papah , mamah berada di gazebo ini tidak lain ia mengikuti kebiasaan papah yang memandang langit jika ada yang di rasakan, bahkan mamah sengaja duduk di kursi di gazebo dan membawa koran koran bekas milik papah yang suka papah baca.
aku juga mengamati sekeliling gazebo dan menemukan gelas papah, ia mendapati gelas milik papah yang berada di meja gazebo. Aku pun mengusap punggung mamah sambil berkata " mamah kangen papah " kataku dengan begitu lembut, dan dugaanku benar mamah memelukku dengan sangat erat ia menangis dalam pelukkan aku.
Aku hanya diam membiarkan mamah menangis dalam pelukkanku , hatiku hancur mendengar isak tangis mamah tak sadar airmataku turut mengalir , hati ibu dan anak memang lah tak bisa di pungkiri keduanya memiliki ikatan bathin yang sangat erat.
" mahh" lirihku memanggil mamah.
" mah kenapa coba cerita sama lia" kataku lagi mencoba kuat didepan mamah.
" mamah kangen papah nak, mamah kangennn papah, mamah kesepian tanpa papah, mamah, hiksss."
"mahh , mamah tenang dulu yaa delia mau cerita sama mamah , tapi mamah janji jangan menangis" kata delia dalam pelukkan mamahnya ia tau apa yang dirasakan mamahnya untuk itu ia ingin menceritakan kisah bertemunya ia dengan papah.
Saat mamah sudah mengehentikan tangisnya delia ingin memulai bercerita.
~~
" yasudah abah nanti fikri sampaikan dengan delia " kata fikri yang berbicara di luar dengan Abahnya.
" ia nak , abah mau istirahat dulu ya " izin abah dan diangguki fikri. abahpun masuk kedalam rumah pak reno dan ia beristirahat dikamar tamu, dekat ruang tamu, diikuti fikri yang masuk kedalam rumah menuju kamar delia.
__ADS_1
at kamar delia.
" Assalammualaikum" kata fikri msuk kedalam kamar ia belum menyadari istrinya tidak ada.
" Sa...sayang" ucapnya terkejut mendapati ranjang delia kosong. ia buru buru melihat ke kamar mandi yang berada di kamar delia namun nihil delia tidak ada, ia membuka tirai untuk melihat ke balkon namun tidak ada.
Fikri pun dengan cepat keluar kamar dan turun ke lantai satu , karna posisi kamar delia lantai dua, ia membayangkan bagaimana jahitan di perut delia yang belum kering pasti sangat sakit apalagi delia turun tangga , sungguh wanita kuatt. " ya Allah kamu berani banget sih sayanggg, jahitan kamu aduhhhh" ucap fikri yang khawatir ia mengusap wajahnya dengan kasar dan ia menyari ke seluruh ruangan mertuanya namun tidak dengan kamar karna ia tau ada orang di dalam kamar, ditambah ia tak ingin membuat mereka khawatir.
Saat seluruh ruangan sudah dilewati tidak ada istirnya ia memutuskan untuk ke belakang karna hanya tempat itu yang belum ia kunjungi
" kamu dimaana sih" ucapnya dengan kekhawatiran, Dan benar dugaannya delia berada di gazebo bersama mamahnya dengan posisi berpelukkan namun delia menghadap ke arah pintu gazebo sedangkan mamah ia tidak mengetahui kalau menantunya ada di belakang.
"Saaa..." ucapnya terhenti dengan delia memberi kode untuk diam.
" yaudah mah sekarang kita mendoakan papah supaya tenang disana , karna papah bilang sama lia papah nyaman disana , papah bahagia, jadi mamah harus bahagia, waktu itu delia pengen ikut sama papah , sudah dituntun papah tapi papah melarang delia ikut karna banyak yang sayang sama lia, jadi mamah jangan khawatir karna disini banyak yang sayang sama mamah, ada delia, kaka , suami delia dan masih banyak lagi yang sayang sama mamah" jelas delia sambil mengusap punggung mamah sedangkan fikri ia menghampiri dengan pelan agar ia tau mengapa ibu mertuanya menangis
" tapi boleh kan mamah kangen papah"
" boleh mah , semua orang boleh menangis tapi dengan batas tidak lebih 3 hari , kalau mamah kangen papah doakan papah, atau kita berziarah ke makamnya papah, karna papah butuh doa dari anak anak yang sholeha dan juga dari istrinya " kata fikri menimpali
" nak kenapa ga bilang ada suamimu" lirih mamah memeluk erat delia.
" heheheh mamah makannya jangan nangis malu sama suami delia " goda delia dengan tertawa ia membantu mamah menghapus airmatanya.
" jangan menangis mah, kita doakan papah agar ditempatkan disisi Allah swt yang paling indah, diterima amal ibadahnya, diampuni kekhilafannya dan dijadikan kuburnya raudhah min riyadhil jannah. Aamii yaa rabal aalamiin, Alfatiha." ucap fikri kemudian membaca Al fatihah khusus Alm reno zainal, diikuti delia dan mamah.
Setelah mengirimkan Al fatihah , fikri delia dan mamah duduk di kursi kayu berbentuk bulat dengan payung diatas nya untuk berlindung , ketiganya bercerita bercanda layaknya keluarga harmonis.
" kamu kalau mau kemana mana izin umi jangan sampai seperti tadi abi mencari kemana mana, sudah panik takut istriku diambil orang" kata fikri mengingatkan delia dengan sedikit bercanda agar tidak menyinggung ibu mertuanya jika fikri terlalu tegas.
" marahin A marahin" kata mamah melihat anaknya bersalah.
" lagi siapa yang mau ambil aku bi " goda delia ia tau suaminya posesif tingkat akut
" hahaha lagi mah kan delia dirumah atuh kenapa segitunya"
" aku bukan masalah dirumah atau engga umi tapi kan jahitan kamu masih terasa , terlebih turun tangga emang engga sakit" tanya fikri khawatir.
" ceuhh suamiku iniii, " ucap delia menangkup pipi fikri
" aku engga apa apa sayang, terimakasih sudah mengkhawatirkan aku, aku belajar berjalan agar zul kembali aku bisa mengurusinya" kata delia lagi dengan penuh kasih sayang.
Mamah yang menyaksikan moment itu hanya bisa tersenyum ia ikut bahagia melihat anaknya bahagia. anak yang dimanja papah kini dimanja pula oleh suaminya.
" janji jangan nakal kalau nakal aku hukum" tegasnya.
" mah mah masa jahitan lia belum kering, lia belum selesai nifas , Abi mau hukum deliaa nanti kalau tekdung lagi bagaimana" lirih delia mencoba mendramatisir ikut ka zia.
" jangan lahh , a awas aja anak mamah kamu bikin hamil lagi sebelum masa nifas selesai , kalau sudah selesai gapapa bikin lagi biar rame hahaha " kata mamah yang berawal membela delia kini malah mendukung fikri dengan tertawa.
" hahaha siap mah nanti aku bikin mujahida mujahid " kata fikri dengan senyum kemenangan.
" cihh doyan apa laper , lama lama aku mati bii" lirih delia ia membayangkan apa yang dikatakan suami terjadi.
" ihhh" gumamnya bergidik ngeri...
mamah yang melihat delia ketakutan menjadi tertawa , bukannya kasihan malah tertawa ibu macam apa hahaha.
" bundaaaaa" lirih delia merasa tak terbela.
" eh naon nihhh menantu bunda kenapa eumm " sahut bunda tiba tibaa diikuti ka kia , wulan dan zia .
__ADS_1
" hah mulai deh rusuh" sahut delia melemah dan itu didengar oleh fikri dan mamah ia sudah tau bakalan ada hal konyol.
" hahahahhha" tawa fikri.
" kenapa A tawa " tanya mba wulan ia duduk dekat fikri.
" ga..gapapapa hahahah" kata fikri melirik mata sang istri yang bermaksud diam.
" menantu bunda kenapa ko murung" kata bunda melihat delia diam.
" ngambek dia " celetukk mamah.
" loh kenapa bu" panik bunda.
" ini pasti kerjaan kamu kan A " protes bunda pada anaknya itu ia tau pasti ini kerjaan fikri.
" hahahaha" tawa fikri pecahhh , membuat semuanya terheran.
" naon sih aa "
" kenapa mah"
" ada apa sih mah "
ketiga wanita rusuh, biang kerok kalau menggoda bahkan satu frekuensi jika jahil dan berceloteh itu mulai kepo. " kan mulai" gumam delia dalam hati , masalahnya bukan ia tak suka namun jika tertawa perutnya sakit. mamah pun mulai menjelaskan dan itu membuat semuanya tertawa kecuali bunda , ia yang tak suka menantunya di buat unmood oleh anak anaknya.
" tenang nak , bunda ga akan tinggal diam kalau aa mulai minta yang aneh aneh " protes bunda membela menantunya.
" kan dosa bun kalaau menolak ajakkan suami" sahut fikri tak.mau kalah.
" bundaaaaa" rengekkk delia
" ia nakk...nanti kalau mau berhubungan bunda dobrak pintunya biarinnn " tegas bunda dan itu membuat ketawa semua orang.
" hahahhaha gak enak bun lagi kentang" sahut wulan.
" ia entar lagi ahhhhh..malah jadi hah" sahut kia menimpali.
" bahahahahahahah "
" ihhhh bunda mah bikin tawa" lirih delia dalam hati.
" iya tadinya uwhhhhh jadi hua bunda" celoteh ka zia.
pada saat ka zia berbicara semuanya menoleh dengan apa ucapan ka zia " kenapa bener kan , ga ada yg salah " tanya ka zia.
" yang salah otak muuu" ucap kakia menoyor pala adiknya itu.
" kaka apa sih bener, kan kenapa aku ditoyor" protes ka zia.
" salah karna kamu kenapa tau padahal belom nikah " tegur wulan , membuat zia melongo ia baru menyadari ucapannya itu.
" haahhaha , mingkep de" ucap delia.
" dih kenapa aku kan sudah dewasa" protes kazia gamau kalah.
" ia deh jadi udah bisa dinikahin sama haikal ya " sahut fikri
" hah apaa sih A fikri" protes ka zia.
" ya kan udah dewasa " goda fikri lagi.
__ADS_1
" kalau jodoh nanti manggil delia apa " celetuk kia.
" hahahahah apa yaaa