
Jam pukul 02:30 Dini hari, fikri sedang melaksanakan sholat tahajud sedangkan delia ia sudah tertidur, setelah beberapa jam ia merasakan nyeri pada perutnya, karna delia belum minum obat cina yang kebanyak orang gunakan.
Disisi lain wanita cantik sedang berdiam diatas ranjang di dalam kamarnya, ia masih tak menyangka atas apa yang terjadi pada dirinya, sakit rasanya kehilangan orang yang sangat dicintai secara bersamaan, bersama dengan itu ia juga kehilangan orang yang ia percaya yaitu sahabat sendiri. "terimakasih yaallah engkau telah memberikan petunjukmu" ucap ka zia dalam hati ia terus memainkan tissue yang berada di kamar ka zia.
Sedih memang namun ia harus kuat menjalani kehidupan sebagai muslimah sejati yang tidak mengenal pacaran, cukup jaman jahiliyah ia berpacaran dan untuk saat ini tidak ada hal yang ia pikirkan mengenai pacaran selain memikirkan kuliah dan mamah. puncak kesabaran adalah ketika engkau diam padahal di dalam hatimu ada luka yang berbicara, dan puncak kekuatan adalah ketika engkau bisa tersenyum padahal dipelupuk matamu ada ribuan tetes airmata.
" Malunya diri ini ya Allah sama engkau dan dengan A fikri " gumam ka zia yang baru menyadari tingkahnya tadi .
Melepaskan orang yang tak setia adalah jalan yang terbaik untuk diri ini agar tak lelah menghadapai pria yang tak cukup dengan satu wanita.
Tak terasa waktu berjalan sehingga sinar matahari pagi sudah menampakkan kehadirannya. Keluarga delia tengah sibuk menyiapkan teh dan roti serta susu yang sudah di siapkan oleh mamah .
delia fikri sudah mandi karna kebiasaan mereka mandi sebelum subuh, bang erik zia dan mamah sudah mandi hanya kakia yang belum mandi , alisyah dan viola jangan ditanya mereka masih terlelap dalam mimpinya.
" wahhh asik sudah siap" sahut kakia turun dari tangga masih menggunakan piyama tidur tak lupa hijabnya.
" Jorokkk ih gamandi duluu " protess ka zia yang tak menyukai kebiasaan kakanya itu.
kia pun melirik ka zia dengan sinis , ia tak peduli ucapan adiknya itu ia langsung menarik kursi meja makan duduk disebelah bang erik.
" biarin wleeee" sahut ka kia.
" jorok bangettt ihhh kak sumpah kita semua sudah mandi tapi kaka belum " protes zia lagi.
" ka zia kaya gatau ka kia aja , bahkan nih kondangan aja ga mandi kadang " sahut delia memberikan kopi pada fikri, ia hanya memindahkan kopi ke hadapan fikri.
" emang sih jorok , kek kambing baru rasa" protes ka zia yang memang kesal.
" nyinyir aja bu" celetuk ka kia.
" bang erik delia mau nanya nih kenapa bisa nikah sama kakia kan dia jarang mandi "
" Ah kamu de kaya gatau aja , abang juga gatau sihhh cuma mulutnya aja bikin gregettt itu ya g abang suka " sahut bang erik melempar senyuman pada istrinya.
" pasutri aneh " celetuk ka zia.
" hahahhaa " semua orang tertawa melihat perdebatan antara ka zia dan kakia yang selalu ribut.
" nyinyir amat sih itu mulut, kurang puas apa yang semalam " ledek ka kia ia memasukkan roti kedalam mulutnya.
" hahaha"
__ADS_1
" ya puas dong, buat apa ga puas, pertahankan satu laki laki yang gak setia buat apa ? mending begini bebas, lagi pula dalam agama gak ada pacaran , dosa pula " sahut ka zia.
" terus kemarin apaa "
" ya maklum sih jaman jahiliyah, sekarang mau fokus memperbaiki diri aja, urusan jodoh ditangan Allah swt , sekuat apapun kita berusaha kalau Allah berkata bukan jodohnya kita bisa apa ?, ya kan pak ustad" jelas ka zia dengan bijak kemudian bertanya pada fikri.
Fikri yang sejak tadi menyimak ia menganggukkan kepalanya pertanda setuju namun bukan fikri namanya jika tak bersuara" ia benar apa kata ka zia, sholat taubat dan fokus memperbaiki diri in sya Allah jodoh kita sedang memperbaiki diri, niat karna Allah bukan karna jodoh "
" tuh dengerinn " sahut ka zia
" bukan karna haikal kan " celetuk fikri kemudian menyeruput kopi yang diberikan istrinya.
celetukkan fikri mampu membuat semuanya tertawa , apalagi ka zia wajahnya merah padam, " ahhahahaahha ketauan"
" hahahahaah zia zia "
" ihh engga yaaa " protes ka zia.
" sudah sudah anak mamah kasihan eh wajahnya merah, cukup kemarin aja sakit hati sekarang jangan ya" sahut mamah membela putrinya.
" hahahaha"
" beneran loh ka , zia sadar kalau kemarin zia salah , zia sudah melanggar aturan Allah , zia sudah membuat papah berdosa karna pacaran , zia gamau jauh dari Allah " lirih ka zia dengan menunduk.
" Ma syaa Allah kakaku " ucap delia terharu.
" Alhamdulilah yaallah"
" apa sudah terlambat ka zia berubah menjadi lebih baik?" tanya ka zia.
" gak ada yang terlambat kak, selagi kita masih di beri nafas oleh Allah tentu kita punya hak untuk berubah menjadi lebih baik, " sahut delia menatap bahagia pada kakanya.
" tapi kaka belum terbiasa pakai khimar panjang kaya kamu de " ucap ka zia.
" gapapa berproses aja kak , ya bi " sahut delia meminta pendapat fikri.
" ***ia kalau belum bisa pakai pakaian syar'i , gapapa berproses aja dulu tapi ingat umur ga menunggu proses*** "
__ADS_1
" Ma Syaa Allah "
" De ajarin kaka berhijrah yang baik ya de kaya kamu, walau kaka tidak sebaik dirimu tapi kaka ingin menjadi lebih baik, ajarkan kaka untuk pakai khimar sepertimu dan menjadi sholeha" lirih ka zia ia menghampiri adiknya itu, delia yang mendapatkan pelukkan hangat dari kakanya ia membalasnya dengan hangat, ia bersyukur kakanya mau berhijrah bersama sama.
" ia kak , kita sama sama berhijrah lebih baik ya kak " ucap delia mengusap punggung kakanya.
" Alhamdulillah yaallah" sahut fikri kia serta bang erik.
Ka zia pun menghampiri mamah ia memeluk ibunya tercinta, karna mamah baru saja mengambil bolu panggang dari dapur ia terkejut ka zia lari mencium kakinya. " eeeeh ada apa ini kak " ucap mamah terkejut masalahnya ia membawa bolu panggang , Dengan sigap fikri menghampiri ibu mertuanya dan mengambil alih kue itu.
" ada apa ini nak , bangun yuuu" kata mamah membangunkan ka zia , setelah kazia berdiri ia memeluk mamahnya dengan erat. " mah, mahh zia minta restu mamah, zis ingin berhijrah seperti delia, walau zia tak memakan bangku pesantren tapi zia ingin menjadi anak sholeha , izinkan dan restui ka zia untuk berhijrah mah" lirih ka zia, mamah yang mendapatkan perlakuan seperti itu dan mendengar penuturan putrinya ia hanya bisa mengangguk dan menangis, melihat putrinya yang meminta izin padanya " ia nak , ia mamah izinkan tapi jangan dilepas ya " kata mamah menasehati ka zia
Ka zia dan mamah ia duduk kembali ke kursi meja makan , ka zia pun melakuksn hal yang sama meminta izin pada kakia. setelah meminta izin zia pun kembali duduk.
" Masyaallah mamah bahagia sekali liatnya "
" tinggal ka kia yang belum " kata ka kia menjadi insecure.
" berproses aja kak , " kata delia dengan lembut.
" ia de kaka berproses, "
Fikri yang mengingat sesuatu ia pun meminta izin pada ibu mertuanya. " mah ,mah fikri titip delia dan alisyah sebentar boleh mah ?"
" boleh kamu mau kemana " tanya mamah.
" fikri.mau jenguk baby zul mah, " kata fikri
" yaudah boleh , sekalian tanya dokter kapan zul boleh pulang mamah ga sabar gendong zul"
" ia mah nanti fikri tanyakan, maafin fikri ya mah merepotkan mamah "
" engga nak, kamu kapan berangkat ?"
" sholat dhuha dulu mah setelahnya baru fikri berangkat ".
" yaudah okeh "
semuanya melanjutkan minum teh kopi dipagi hari , setelahnya mereka melanjutkan aktifitas tak lupa ka kia berlanja kebutuhan rumah tapi sebelumnya bang erik dan kakia serta viola pulang kerumah nya terlebih dahulu untuk mengambil isi kulkas dan pakaian, mereka juga mengajak alisyah dan berangkat setelah fikri berangkat kerumah sakit.
__ADS_1