
Malam ke 7 kepergian Almarhum pak reno masih terasa di hati keluarganya, sulit memang mengikhlaskan kepergian orang yang kita sayang untuk pergi dengan selama lamanya tanpa pernah kembali.
Aroma khas di rumah duka masih tercium wanginya, seperti bau kamper dan parutan ketimun, seluruh keluarga besar tengah di sibukkan untuk acara tahlilan 7 hari. wulan syifa bunda dan abah sedang berada dirumah pak reno membantu memasak atau menyiapkan besek untuk dibagikan kepada jamaah yang datang .
Adzan maghrib tengah berkumandang , waktu sholat telah tiba , bersamaan dengan itu kabar delia sadar telah mewarnai isi rumah bahkan tak henti nya mengucap syukur Alhamdulillah.
" Alhamdulillah yaallah " teriak mamah saat mendapatkan info dari mba wulan , ia pun sujud syukur atas kesadaran anaknya.
" Wulan ini beneran " tanya bundaa dengan masih tak percaya.
" Seriuss bunda ini aa kabarin wulan" kata wulan menunjukkan bukti pesan dari fikri.
Aa'fikri @ Assalammualaikum mba, mba Alhamdulillah , sampaikan salam untuk keluarga kalau teh lia sudah sadar
Begitulah pesan dari fikri membuat semuanya tersenyum bahagia, senyum dari wajah mamah terlihat dengan jelas..
" setelah selesai acara kita besuk delia yaa"
" sebaiknya besok pagi saja , karna jam besuk sudah habis , sampai sana juga percuma mah gaakan bisa masuk, " kata kia menimpali, dan itu disetujui semua orang.
" iya bener kata kia , besok pagi aja , kan ada suaminya yang menjaga terlebih biarkan ia menikmati kerinduannya" celoteh ka zia
" menikmati kerinduan" ambigu syifa
" ceuhhhh gak bakalan A fikri ekhem ekhem diatas ranjang icu " celoteh wulan membuat semuanya tertawa.
Wulan kalau sudah menyangkut hal minus pasti otaknya jalan apalagi ia dipertemukan dengan kia dan zia , tamat lah dunia.
Kedekatan dua keluarga ini pastinya jarang didapat dan jarang ditemui diluar sana, biasanya orang pihak keluarga dari suami atau pihak dari istri masing masing atau tidak ikut bergabung, namun berbeda dengan 2 keluarga ini yang sudah seperti keluarga sendiri dan tak memandang keluarga dari siapa.
Fikri dan delia sukses membuat dua keluarga menjadi satu, bahkan ia juga sukses membuat banyaknya kepala menjadi satu pemikiran atau bisa dibilang satu frekuensi. walau pernikahan mereka banyak ujiannya tapi pernikahan mereka membawa kebahagiaan untuk keluarganya. tidak ada keluarga suami dan keluarga istri jika sudah menikah maka disebut satu keluarga.
__ADS_1
" ia lah ga mungkin banget shoshok fikri berani " celoteh ziaa dengan menekan kata sosok ditambah huruf H saat penyebutan shoshok dengan bibir majuu.
" ceuhh dikira setan kali" ucap kia menyumpel mulut zia dengan tempe bekas gigitannya.
" jorokkkk iuhhhhh" protes ziaa yang tak teeima perlakuan kakanya
" hahahahahha "
" ihhhh iyuhhh" sahut wulann menimpali.
" sudah jangan bercanda , sholat sholat" kata abah dengann tegas
***
" Abiih aku sudah berapa lama tak sadarkan diri " kata delia saat ia bersandar pada bantal yang ditumpuk fikri.
" satu minggu sayang" jawab fikri meletakkan ponselnya sehabis mengabari wulan
" selama itu" lirihnyaa
" Aku meninggalkan sholatku bi" kata delia yang lupa kalau dirinya habis melahirkan.
" Gak apa apa nanti kalau masa nifas kamu sudah selesai, umi bisa menggantikkannya " ucap fikri mengusap rambut delia , karna tak ada siapa siapa disana selain mereka berdua.
" Apa umi sudah melahirkan " tanya delia sambil mengusap perutnya yang rata.
" Sudah umi, anaknya laki laki ganteng kaya abi" jawab fikri dengan pedenya.
" masa?"
" iya ganteng kaya abinya , dan kuat seperti uminya"
__ADS_1
" umi.kan belum cukup untuk lahiran ko sudah lahiran aja bi" kata delia yang masih tak mengerti.
" udah sekarang umi fokus kesembuhan umi nanti sama sama urus dede bayi ya mi"
" prematur anak kita bi?"lirih delia.
" Huftt" fikri pun menghembuskan nafasnya dengan perlahan.
" iya umi , prematur atau bukan menurut abi sama aja, yang penting sehattt, Alhamdulillah anak kita sehat umi, dan ini semua terjadi atas izin Allah , kan dalam usia kandungan 4 bulan semua sudah ditentukan umi, " jelas fikri yang mencoba memberikan pemahaman pada deliaa ia tau istrinya sedihhh melihat hal ini yang harus di terimanya.
" maafin umi,hiks hiks, umi enggs bisa menjadi istri yang baik hikss, , umi umi hikss umi bukan wanita sempurna hikss maafin umi hikss umi hanya menjadi beban abii hikss hikss...ma...maafinnn umii hikss... umi bisa memberikan anak prematur untuk abi..maaf umi ngga bisa memberikan anak pada abi hikss..maa..maafin umi" lirih deliaa ia menangis meluapkan perasaannya pada suaminya atas apa yang terjadi ia pun mencopot selang oksigennya,
" husttt kamu ngomong apa ummi, ini jangan dilepas yaaa, dengerin dengerin abii okey" pinta fikri ia memasangkan kembali oksigen pada istrinya.
" umi dengarkan abi, setiap anak itu sama tidak ada yang berbeda mau itu prematur atau lahir sesuai bulannya, umi sudah menjadi istri yang baik untuk abi, umi sudah menjadi ibu yang baik untuk alisyah dan umi juga pasti bisa menjadi ibu yang baik untuk putra kita, Allah sudah mengkaruniakan kita anak karna Allah percaya pada kita umi, umi ingat begitu banyak ujian tanda cinta Allah dengan kita sampai kita mampu melewatinya bersama ? Allah mempercayai kita bisa merawat anak umi, abi tidak masalah mau itu prematur atau engga , abi tetap mencintai menyayanginya , dan abi ikhlas umi, Anak kita juga manusia ia memiliki haknya untuk hidup dan Allah memilih kita untuk menjadi orang tuanya, " jelas fikri memeluk delia.
" umi istirahat ya bi" izin delia dengan mata kantuknya
" iya umi istirahat ya, tapi bangun ya mi, jangan tinggalin abi lagiii " kata fikri ia khawatir delia tak bangun kembali.
" iyah abi terimakasih"
" Untuk ?"
" menerima anak kita"
" sudah seharusnya kita menerimanya umi" jawab fikri
" nama anak kita siapa bi?"
" Abi minta pendapat umi sama para sahabat author nih lebih bagus yang mana: muhammad zulfikar alhabsyi , Muhammad Adnan khalif " kata fikri pada istrinya ia memintaa sahabat author untuk mementukkan.
__ADS_1
" boleh Abi, "
Nanti biodata dede bayi akan segera launching aunty om 😍