
" mamah sweet banget sampai diberi ucapan ini" kata haikal saat melihat tutup wadah yang diberi secarik kertas. Setelah mengatakan itu otak haikal benar benar cemerlang ia melihat adanya tissue yang dilipat seperti icecram dengan langkah cepat ia menuliskan kata kata untuk ka zia.
Awalnya haikal bingung kata apa yang ia rangkai menjadi kata kata bermakna, namun ia tidak menemukan yang tepat, ia pun mulai mengungkapkan isi hatinya lewat kertas yang ia tulis. (penasaran apa isinya jangan lupa baca part sebelumnya ya ).
Tak butuh lama ia pun telah selesai, dengan cepat ia memasukkan kembali kertas tersebut kedalam tissue, bersamaan dengan itu geng haikal pun datang.. " fyuhh" hembusan nafas lega haikal yang ia keluarkan. tak ada yang mengetahui bahwa haikal memendam perasan kepada delia kecuali keluarganya.
" bro ngapain ?" tanya azam kepada haikal sambil menepuk pundaknya..
" eumm ini umi abi nitipin makanan buat ustadzah anisa" jawab haikal tanpa menatap temannya.
" ko tumhen biasa nya kan mereka yang mengantarkan, ko tumben dititipin?" kata dika menimpali.
" mereka sibuk"
" eumm gue aja kal yang ngasih ustadzah annisa, biar gue bisa ketemu bidadari pujaan " sahut heru ia bersemangat mengantarkan makanan alih alih mengantarkan justru ia bisa bertemu kekasihnya.
" siapa ?" semua pengurus pun menanyakan perihal kekasih heru, siapa yang ia taksir ?
" zia, kaka nya umi delia" jawab heru dengan santainya, sontak membuat haikal menoleh menatapnya dengan terkejut, ia benar benar sangat terkejuttt.
" wah gilaa buaya " sahut dika merasa terkejut.
" apaan sih serius guee " jawab heru mantap, heru dan kawan kawan haikal tidak ada yang mengetahui kedekatan haikal dan ka ziaa, terlebih mereka belum adanya khitbah. jadi hubungan mereka belum boleh di publish.
" ah gilaa , kenapa ga sama zahra ?" tanya dika
" woyy, kall lu kenapa diem aja ? " tegur azam yang menyadari keanehan pada haikal terlihat jelas dari sorotan matanya. semua mata pun menatap haikal meminta penjelasan, mereka yang tadinya heboh dengan heru justru berbalik ke haikal.
" ah..gapapaa kok, ana kaget aja " jawab haikal berusaha santai.
" why ? "
" sejak kapan her ente suka sama ka zia ?" tanya haikal penasaran sebisa mungkin ia menjaga dirinya agar tak kepancing amarah, disinilah setan dan iman di berlomba akankah ia bisa menguasai haikal atau tidak
" sejak acara , kenapa ?" jawab heru.
" gapapa, yaudah ana duluan ya mau anter ini gak enak sama ustadzah sudah menunggu " jawab haikal ia pun mulai melangkahkan kakinya, meninggalkan teman temannya.
" biar gue aja kall" kata heru bersikeras.
" Sorry her, ana disuruh abi umi untuk mengantarkan ini, ini Amanat beliau untuk menyampaikannya langsung, kalian sudah ketemu santri yang hari ini mau pulang ?" tanya haikal.
" belum "
" segeralah bertemu"
" ngapain mereka yang harusnya temuin kitaa " jawab dika bersuara.
" yaudah lah terserah kalian, Ana pamit yaaa Assalammualaikum "
__ADS_1
" Waalaikumussalam "
Haikal pun pergi dengan membawa kotak makan yang dititipkan mamah untuk ka zia, namun disisi lain perasaannya benar benar bimbang ia tidak ingin pertemanan hancur namun ia tak ingin kehilangan wanita yang benar benar ia cintai. Haikal tipikal orang yang kalau sudah yakin ia akan berjalan memperjuangkan walau ka zia jauh dimana ia tinggal.
"Lo nyembunyiin apa dari gue kal ?gumam azam melihat haikal pergi dari mereka, azam benar benar penasaran dengan haikal yang tiba tiba terkejut saat membicarkan zia.
***
Membeli kebutuhan bulanan adalah impian bagi semua orang, belanja kebutuhan sekaligus banyak, menjadi keinginan siapa saja, banyak diantara kita semua, yang sudah tak asing dengan hal itu, banyak dari kita yang berbelanja bulanan bahkan mingguan hingga ada yang harian, tak lepas dari kapannya mereka berbelanja namun itu semua sudah menjadi hal yang wajib. intinya mau kapan pun kita tetap bersyukur.
" bii semua sudah tinggal sayuran " kata delia saat sudah dalam perjalan sehabis berbelanja supermarket.
" oke mi"
15 menit mereka sampai di pasar tradisional yang mana disana menjual berbagai macam bahan makanan. fikri memarkirkan mobilnya dan kemudian ia menggendong alisyah dan menuntun delia memasukki pasar.
outfit fikri hanya baju koko dan sarung hitam, delia gamis hitam, alisyah pakaian atas bawah panjang non hijab.
" Kamu berjalan lah dahulu, aku akan ikuti dibelakang" kata fikri ia menerapkan hal yang sama di pasar tradisional maupun swalayan, mempersilahkan delia di depan.
" sini dulu ya bi" kata delia ia pun berbelok ke tukang bumbu bumbuan.
" Ibuu beli "
" ia silahkan " kata bu penjual ia melempar tempat wadah untuk nantinya di masukkan bahan masakan yang mau kita beli.
Tak jarang para penjual suka memperlakukan seenaknya pembeli, namun tak jarang dari mereka yang bersikap baik dan sopan. walau begitu delia tak ambil pusing ia dengan cepat memilih bahan masakkan yang ia masukkan kedalam wadah.
" apa lagi ?" tanya bu penjual.
" eumm cabe keritingnya 2 kg bu, sama rawitnya 3 kg , kentangnya 5 kilo ya bu " kata delia dan ibu penjual pun melayani apa yang dikatakan oleh delia , walau outfit yang ia kenakan terlihat biasa aja apalagi fikri namun wajah mereka yang selalu terbiasa berwudhu menjadi bersinar dan bersih, banyak mengira mereka adalah orang kaya yang berpakaian sederhana.
" udah ? " tanya penjual yang sangat tidak bersahabat, niatnya kan membeli tapi kalau tak dilayani dengan baik pun membuat pembeli tak akan datang kembali.
" sudah ibu itu saja " kata delia dengan ramah.
" jadi 580 ribu " kata penjual
" ini uangnya bu " kata delia memberikan uang enam lembar pink.
" kembalinya 20 "
" terimakasih bu " kata delia dengan ramah, alih alih dijawab sama sama justru hanya diam saja , fikri pun memanggil anak remaja yang berada dipasar untuk membantu membawanya, itung itung fikri menolongnya karna disaat delia memilih tidak henti hentinya anak remaja menghampiri mereka, menawarkan diri untuk membantunya membawakan belanjaan fikri delia.
" pak saya bawain ya " kata anak remaja.
" ia boleh tolong bawain ya"
" kemana pak ?"
__ADS_1
" sampai mobil "
Setelah berbelanja delia fikri memutuskan untuk kembali ke mobil karna delia mengrasakan tak enak hati melihat anak anak yang seharusnya mendapatkan pendidikan justru ia memilih bekerja. Tak lama kemudian mereka telah sampai di mobil fikri membantu mereka untuk menyusun belanjaan yang mana didalam pun banyak box kardus dari swalayan.
" Abi ajak makan dulu mereka " kata deliaaa yang merasa sangat ibaa.. fikri pun mengangguk setelah memasukkan belanjaan kedalam mobil mereka memutuskan untuk makan bakso yang berada di pasar tersebut
Singkat cerita fikri delia alisyah sudah memesan bakso diikuti ke 4 anak anak remaja. delia pun penasaran ia mulai bertanya tanya kepada anak anak sambil menikmati hidangan bakso.
" silahkan dimakan " kata fikri.
" umi mau tanya boleh ? "
" boleh "
" kalian usia beraapa ? "
" 15, 17 , 14 tahun " kompak mereka menjawabnya.
" kalian bekerja seperti ini apa engga terganggu sekolahnya ?" tanya deliaa lagi .
" saya putus sekolah umi , bantu orang tuaa" jawab si usia 17.
" saya gak ada biaya umi "
" saya sekolah paket umi , karna buat biaya sehari hari saja saya sulit" sahut si 14 tahun.
Bagai luka yang menyayat hati, delia fikri ia mendengarnya menjadi teriris hatinya melihat anak laki laki penerus bangsa, kelak menjadi pemimpin keluarga justru harus putus sekolah di usia terbilang masih muda.
" Yaallah " lirih deliaa ia menepuk paha fikri memberikan kode, fikri paham hati istrinya sakit mendengar pengakuan anak anak itu.
" cita cita kalian apaa ?" tanya fikri
" saya mau jadi tentara"
" saya mau jadi orang sukses".
" saya mau menjadi ustad "
" Masyaallah tabarakallah mudah mudahan cita cita kalian kelak Allah kabulkan , dan imipan kalian akan tercapai " jawab fikri
" rumah kalian dimana ?" tanya lagi
" deket ko pakk "
" sudah kalian makan saja dahulu, lalu kalau mau tambah boleh " kata fikri mempersilahkan mereka pesan kembali jika kurang
Semua pun menikmati makanan yang telah dihidangkan, sedangkan delia ia hanya mencicipi sedikit karna delia begitu fokus kepada anak anak dihadapannya.
Harta yang ia miliki seperti tidak ada apa apanya jika tidak membantu mereka, delia sangat iba dengan keadaan anak anak ini , ia pun berinisiatif datang kerumahnya untuk memastikan apa yang dibilang anak anak ini, bukan tak percaya ia tidak ingin memberikan uang nantinya takut disalah gunakan dibeli obat terlarang atau memabukkan yang ada sama saja ia mendapatkan dosanya.
__ADS_1
Setelah makan fikri membayarnya dan memintanya untuk jalan duluan dan ia mengikuti dibelakang untuk melihat keadaan mereka,terlebih fikri delia ingin bersilatuhrahmi.