
Jam berlalu begitu cepat, detik menjadi menit, menit menjadi jam hingga akhirnya yang dinanti tiba yaitu adzan subuh. setelah tadi melaksanakan sholat tahajud, fikri dan haikal tidak tidur kembali melainkan ia mendoakan kesembuhan ka zia lewat bacaan ayat ayat alquran wirid hingga zikir bersama.
Delia terbangun ia ingin membereskan cemilan untuk nanti mereka di mobil mumpung anak anak tidur pikirnya. ia pun menuruni anak anak tangga dan mendapati suami serta putranya sedang berdoa ia mendengar sama samar mereka menyebut nama ka zia lengkap dengan nama panjangnya sontak hal tersebut membuat Delia penasaran.
" kenapa ka zia? ada apa dengan ka zia? "gumam Delia ia memasukkan cemilan kedalam tas.
sebenarnya fikri ingin menjelaskan keadaan yang sebenarnya pada Delia di jam 10 malam namun ia memilih mengurungkan niatnya sebab istrinya dan mereka belum istirahat, dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya, kalau pun Delia memintanya berangkat pagi ini fikri dan haikal sudah siap.
" umii kemarilah " kata fikri mereka duduk dimeja makan diikuti haikal.
" sebentar umi buatkan minuman supaya hangat tubuhnya dan enak mengobrol nya " kata Delia ia pun menyiapkan minum air putih hangat karna di waktu tahajud inilah baik Delia fikri tidak ingin meminum kopi kecuali jam 6 pagi.
" Ada apa bi " kata Delia lagi ia duduk dihadapan suaminya sedangkan haikal duduk disamping fikri
" abi mau bicara tapi umi dengarkan dan jangan ada yang memotong pembicaraan abi" kata fikri dengan serius, Delia pun mengangguk setuju ia mendengarkan apa yang disampaikan suaminya dengan perasaan begitu campur aduk dan dagdigdug yang dialami haikal Delia dan fikri.
" umii Qodarullah kita semua seluruh keluarga sedang diberikan nikmatnya ujian terutama ka zia, diberikannya ujian supaya kita semua lebih dekat kepada Allah SWT, kemarin tepatnya setelah dalam perjalanan dari rumah keluarga haikal umi menelpon menanyakan kabar kita berdua yang pada saat itu umi mengatakan kalau umi perasaannya tidak enak, begitupun dirasakan oleh haikal dan abi yang mengalami firasat tidak enak, setelah mengatakan kami baik baik ajaa haikal mendapatkan telfon dari ka zia kalau ia di cegah oleh eza bersama temannya, zia pun memberian info lokasi dimana ia melalui GPS, karna zia gamau membuat mamah khawatir zia nelpon haikal minta bantuan yang emang jarak dari sana dengan tempat keluarga haikal lumayan 2 jam, sampe sana kondisi zia terikat kaki tangan nya eza menyeret zia untuk masuk kedalam kosan temannya yang alhamdulilah haikal berhasil mencegah hal itu, " jelas fikri membuat air mata Delia mengalir ia menyimak sampai ia paham bagaimana keadaan ka zia saat ini.. Delia pun menoleh melihat putranya yang sudah terlihat jelas kalau dirinya kepikiran dan gelisah
" Astaghfirullahalazim yaallah ka zia" kata Delia ia terkejut ia membungkam mulutnya dengan kedua tangan.
" mamah sama ka kia meminta abi membawa umi pulang agar bisa menenangkan kondisi zia yang memang kalian selalu bertiga berbagi cerita, siapa tau pulangnya umi membuat ka zia tenang dan mengurangi beban pada hatinya" kata fikri membuat dada Delia sesak sebagai seorang adik pastilah hancur mendengar penjelasan mengenai kronologi ka zia.
" abii ayo kita pulangg "
" ia sayang kita pulang, haikal ikut yaa biar bisa gantian bawa mobilnya " kata fikri dan diangguki haikal
" kal.. pelipis kamuu.. " kata deliaa menyadari pelipis haikal membiru dengan sudut bibirnya pun mengalami hal yang sama.
" gapapa anak laki umi hehehe " ucap haikal mencairkan suasana.
" anak laki ya anak laki.. obatin dulu " pinta Delia ia sangat khawatir
" sudah umi, tadi abi berikan obat, " kata haikal menenangkan umi nya.
" syukurlah kalian berdua engga apa apa, ayo pulang sekarang " kata deliaa
" subuhan dulu " kata fikri kemudian berlalu mengambil air wudhu diikuti oleh haikal.
Delia ia tidak sholat melainkan ke atas memakaikan zayyan topi serta sarung tangan dan ia letakkan di selimut bulu miliknya, zayyan menggunakan pakaian sleepsuit baby agar memberikan kenyamanan dan kehangatan walau diluar sekalipun.
__ADS_1
bantal yang ia gunakan untuk meletakkan zayyan dalam pangkuannya pun tak lupa Delia membawanya dan mengambil bantal alisyah yang tidak boleh tertinggal.
Setelah memastikan seluruh perlengkapan kedua buah hatinya Delia pun mengunci kamar anak anaknya dan kamar miliknya, ia turun kebawah dengan baby zayyan yang berada di gendongannya.
" sudah semua umi ? " tanya fikri setelah mereka selesai sholat.
"sudah abi umi dibelakang yaaa " kata Delia dan diangguki oleh fikri. Delia ia berada dibelakang dengan ditemani fikri lebih dulu karna alisyah meminta di depan bersama abang haikal.. baby zayyan diletakkan pangkuan Delia dan Delia tidak hentinya mengabari keluarga kalau ia akan berangkat sekarang pukul 04:50 WIB.
Akan butuh waktu lama untuk mereka sampai di depok tergantung bagaimana keramaian jalan. karna mereka satu minggu di depok sayuran yang dibeli kemarin dibawa Delia menggunakan kardus, sayuran hingga buah buahan yang ia beli dimasukkan ke kardus agar tidak membusuk di kulkas.
***
" ziii... kamu sarapan dulu yaa mamah sudah belikan kamu bubur... " kata mamah ia menyuapkan ka zia bubur ayam yang ia beli di abang gerobak lewat depan rumah
" ziaa gamau mahh.. " ucap ka zia membuat mamahnya senang bukan karna tak ingin memakan bubur tapi karna obat penenang yang ia minum membuatnya sedikit tenang dan mau merespon ucapan orang walau ia tidak ingin bertemu laki laki..
" ziii.. makan yaa.. kamu harus makan supaya bertenaga... adikmu sedang dalam perjalanan kesini.. nanti kamu bicara sama adikmu apapun mamah tidak akan mengganggumu" kata mamah ia memberikan satu sendok bubur kearah mulut ka zia.
" ziii jangan menangis... semua sudah terjadi.. kamu akan aman sayang..makan yaa sedikit ajaa..setidaknya perutmu terisi..kasihan papah disana sedih liat kamu seperti ini. " kata mamah ia menghapus air mata ka zia.
" Aku sudah tidak suci mahhh..hiksss.. aku tidak bisa menjaga diriku...papah kecewa sama aku... ia. sedih lihat anaknya jadi seperti ini.. hikss " lirih ka ziaa dengan cepat mamah memeluknya memberikan ketenangan.
Setelah ka zia makan dan minum obat ia pun meminta mamah untuk dirinya mandi.
" **Kal... maaf gue ga bisa jaga diri gue untuk kamu yang sholeh... gue ga pantes kal. " gumam ka ziaa ia termenung dalam kamar mandi, tak ada aktifitas suara gayung hanya saja suara air mengalir.
Jam sudah menunjukkan pukul 08:30 Wib artinya ka zia sudah berada sekitar 2 jam dikamar mandi. berulang kali mamah memintanya untuk keluar namun ka zia selalu bilang belum selesai. sampai pada akhirnya ka zia tidak bersuara itu membuat mamah khawatir, ia lupa kalau kunci cadangan kamar mandi tidak ada mengingat hanya di selot dari dalam**.
" Assalamu'alaikum mah " ucap Delia dari depan yaa jam setengah 9 pagi ia sudah berada di rumah mamah diikuti haikal dan fikri.
" Wa'alaikumussalam nak... nakkk.. tolong... tolongin ka ziaa... " kata mamah panik ia berlari menghampiri Delia karna dirumah hanya ada mamah dan zia, kia sedang mandi dan erik mengantar suster belanja atas permintaan mamah.
" zia dimana mahh,,, zia kenapa? " ucap haikal panik.
" kaka kenapa mahh? "
" ada apa mah? " tanya fikri ikut panik.
" itu... itu... zia sudah 2 jam dikamar mandi.. terakhir berbicara namun sekarang engga... tolongin mamah .. " kata mamah dan haikal fikri pun masuk kedalam kamar zia, diikuti Delia mamah.
__ADS_1
" ziii.. buka pintu nya ini aa " kata fikri ia mencoba menangkan ka zia dengan perlahan karna fikri tau akan sangat membuatnya trauma jika menaikkan nada bicaranya ia akan teringat eza memintanya membuka mobil secara terpaksa.
tak ada suara apapun yang diberikan ka zia , membuat haikal turun tangan ia sangat khawatir terhadap ka zia " kaa ini haikal.. buka pintunya yaahh "
" ziii ini aa.. aa dateng bawa adikmu ... buka pintunya yaa... "
" abi coba umi yang berbicara " kata Delia memintanya memberikan ruang untuk Delia membujuk zia.. Zayyan pun di titipkan pada fikri dan alisyah bersama mamah, Delia pun melangkah maju kepintu kamar mandi.
" ka ziaa, kaa... ini lia ka... lia.. lia disini ka untuk kaka.. kaka buka pintunya yaah...jangan dikunci...kaka ga sendirian ada deliaa...banyak yang sayang sama kaka... kaka buka yaa... kalau kaka engga ingin membuka pintu.. izinkan suami Delia mendobraknya ya kak...kaka jangan dibelakang pintu yaa.. " kata Delia dengan lembut ia berbicara tepat pada gagang pintu kamar mandi.
Delia hitung yaa kak" kata Delia lagi..
"Satuu"
" duaa"
" tiga... " bersamaan dengan hitungan terkahir terbukalah pintu kamar mandi oleh ka zia, menghadapi orang seperti ka zia tidak boleh dikasarkan atau dikerasi cukup dilakukan dengan kelembutan dan kasih sayang, ka zia keluar dengan tubuh yang basah tetapi tetap menggunakan pakaian. ia langsung memeluk adiknya tanpa melihat tubuh ka zia yang basah Delia pun memeluk ka zia dengan kehangatan.
" hikss.... hiksss " tangis ka zia pecahh dipelukan adik kesayangannya, pemandangan itu membuat seluruh orang yang menyaksikannya tak kuasa menitikan air mata.
"Ka zia boleh menangis sekarang keluarkan lahh kesedihan kaka tapi janji sama Delia kaka tidak boleh menangis,, kalau sudah lega hikss... kaka cerita ya sama lia... lia akan bantu kaka...hiksss.. " ucap Delia mengusap punggung kakanya, mereka berpelukan tepat didepan pintu kamar mandi.
Haikal ia tidak ingin melihat ka zia karna ia tanpa hijab, ia bisa merasakan kesedihan yang dialami oleh ka zia tanpa melihat kearahnya. ingin haikal peluk namun apalah mereka belum terikat.
" sudah ya kak mandi yuu..." kata deliaa meminta kakanya untuk mandi dan berganti pakaian karna kalau dibiarkan seperti ini ia akan masuk angin.
Ka zia pun menolak ia menggelangkan kepalanya dan tidak ingin melepas pelukkan ka Delia, baginya adiknya adalah obat.
" lia temani ya kak " kata Delia ia menuntun ka zia kedalam kamar mandi sedangkan yang lain menunggu dalam ruang TV.
" ka ziaa nanti cerita ya sama Delia sekarang kaka mandi dulu tau kan doa nya? " tanya Delia ia menyuruh kakanya mandi besar walau ia tidak tau kakanya telah dinodai atau tidak tapi setidaknya tidak salah dilakukan.
Delia pun memperhatikan ka zia dari atas hingga ujung kaki, memperhatikan mengenai mandi besar dan ia pun memberikan handuk kakanya setelah selesai.
" jangan. menangis... sekarang pakai baju yaa... abis itu kita keluar ya makan... lia belum sarapan ... kaka sudah sarapan? " kata Delia ia mengambil kan pakaian kakanya dalam lemari yaitu gamis dan hijab bergo.
" aku udah de " jawab ka zia ia membuat Delia tersenyum
" temani aku sarapan yaa " kata deliaa dan diangguki oleh ka zia.. Delia mengajak ka zia untuk keluar dari kamarnya bermaksud melatih ka zia agar terbiasa dengan orang banyak apalagi mau ada acara 40 hari alm papah..
__ADS_1
ka zia seperti bayi Delia ke 4 yang manja padanya setelah fikri alisyah dan zayyan kini ka zia menjadi manja padanya, jika Delia sakit cahaya dan suasana keluarga mendadak hampa, namun jika dirinya sembuh Delia adalah sumber ketenangan keluarga