Kekasih Idaman

Kekasih Idaman
para nenek


__ADS_3

" Selamat siang ibu "kata dokter saat mendekat kearah deliaa.


" siang dok"


" Kami periksa dulu yaa ibuny" kata dokter ia pun mulai memeriksa delia dari jantungnya, jahitannya hingga tekanan darahnya semua terpantau dengan jelas oleh dokter.


" bagiamana keadaan istri saya dok" tanya fikri melihat kearah dokter.


" Alhamdulillah membaik, sudah tidak perlu memakai oksigen lagi, tapi ibu harus banyak banyak berjalan yaaaa supaya terbiasa, kalau tidak jauh gapapa sekitar ruangan ini saja" jelas dokter ia beralih ke baby boy.


" Baguss, jangan sering di gendong ya pak bu, nanti ada suster yang memberikan asi ibunya sesuai jam yang sudah di tentukan, jangan stres supaya asinya lancar dan banyak, Makan makanan bergizi dan sayur jangan lupa"


Delia pun tersenyum ia tidak memakai cadar karna dokternya perempuan , dalam ruangan hanya ada delia serta fikri, yang lain sholat zuhur.


"Aduhhh cantiknyaa ibu " ucap dokter yang terpesona dengan kecantikan deliaa.


" dokter bisa ajaa "


" dok kapan istri saya bisa segera pulang" tanya fikri yang sudah tidak sabar untuk mereka pulang.


" nanti sudah boleh pulang namun untuk baby belum bisa pulang " kata dokter.


" kenapa dokter" lirih delia yang tak ingin di pisahkan dengan baby z ,


" kondisi berat badan yang belum sesuai , serta masih dalam pengawasan dokter, karna rentan di usia bayi yang seperti ini"


" Dok boleh kah anakku dibawa pulang"


" silahkan saja bu tapi kami tidak bisa menanggung hal yang terjadi nantinya"


" baiklah dokter terimakasih ya" kata fikri


" Sama sama kalau begitu kami permisi pak buu"


" ia sama sama dok",


Dokter dan suster berlalu meninggalkan ruangan delia , tidak lama kemudian 2 keluarga rempong datang memenuhi ruangan delia , delia buru buru memakai cadar karna bersamaan dengan itu tyo dan erik masuk ruangan.


" mana om sama papah mau liat keponakan baru nihh" kata erik yang menyebut dirinya om sedangkan tyo ia menyebut dirinya papah semua berlaku bersamaan delia punya anak.


" Masyaallah tabarakaallah, ahlan wa sahlan baby z" ucap tyo diikuti erik ,

__ADS_1


" Kadonya nanti aja kalau sudah pulang kebandung yaa dari papah mamah ceuceu, " kata tyo lagi sedangkan wulan yang mendapati namanya disebut ia menoleh.


" Apa pah"


" kadonya baby z nanti dibandung aja"


" ouh okehh nanti bilang sama mamah ya kamu mau apa nak" kata wulan yang berbicara pasa layar handphone nya.


" A ganti namanya apa ko dipanggil baby z " tegur abah yang tak menyukai panggilan itu.


" ia abah maaf" lirih tyo wulan


" nama itu Adalah doa , panggil lah ia sesuai namanya."


" zulfikar " kata wulan namun merasa kepanjangan memanggilnya.


" kepanjangan abah "


" zulfi boleh atau al "


" Baby z aja ya abahhh plis panggilan keluarga aja khusus aku" izin wulan pada abahnya


" nanti abah carikan , oh ya nak kapan tasyakuran dan Aqiqah putramu" tanya abah.


" ia mah dibandung aja gapapa kan mah, nanti mamah sama kazia boleh nginep dirumah aku " kata delia mengingat ayah mertuanya seorang yang terpandang.


" ia boleh nak" ucap mamah


Semuanya larut dalam kebahagiaan dan delia tiba waktunya untuk pulang kerumah hanya saja Zulfikar belum diperbolehkan untuk pulang.


" Abiiii gausah pulang yaa disini aja , nanti pulangnya bareng sama zul " lirih delia yang tak ingin beranjak padahal infusan telah dilepas.


" Kita pulang ya sayang, nanti zul akan dirawat sama suster, abi juga ingin putra kita pulang bersama tapi kondisi zul yang belum pulang, " kata fikri yang merasakan kesedihan delia.


" nanti ka..kalau zul haus bagaimana abi? , kalau zul butuh pelukkan ibunya baagaimana abiiiiiiii hiks" lirih deliaa ia benar benar dibuatt sedihh, perpisahan yang paling menyakitkan adalah kematian namun perpisahan seorang ibu yang baru saja melahirkan adalah yang paling menyakitkan.


" A hati hati takut istrimu " kata bunda menggantung ia merapihkan pakaian delia kedalam tas.sedangkan delia ia bergelayut pada leher fikri dan fikri tidak bisa apa apa hanya berdiri memeluk istrinya yang menangis.


" nak kalau kamu yakin anakmu akan cepat sehatt dan naik bb nya maka kamu juga harus yakinn, " kata mamah memperingati anaknya.


" abiii hikss" lirih deliaa , fikri hanya diam mengusap punggung istrinya.

__ADS_1


" yaudah kita pulang dulu nanti beli inkubator minta suster untuk sering sering cek zul ya umi , tapi kita pulang dulu sekalian abi cari info inkubator" kata fikri menenangkan hati istrinya.


"permisi pak boleh selesaikan biaya administrasinya dulu sebelum jam 16:30 karna jika sudah melewati jam tersebut maka kami akan hitung masuk satu malam berikutnya" jelas suster memberikan rincian yang harus dibayar fikri.


Bunda pun mengambil rincian biaya untuk delia dan zul selama dirumah sakit ini, kecuali baby zul yang harus dirawat selama 1 bulan di rumah sakit ini , bunda tidak melihatnya ia langsung memberikannya pada fikri yang masih saja di peluk delia, sedangkan suster ia berlalu pergi.


" terimakasih bunda" ucap fikri mengambil kertas dari tangan ibunya. ia pun mulai membacanya total 450 juta untuk biaya persalinan dan biaya baby zul sebulan.


tanpa berpikir panjang fikri pun mengeluarkan sakunya untuk melihat tabungan dari ponsel miliknya


" umi abi ke administrasi dulu ya " kata fikri mengelus pelan punggung istrinya.


" gamau abi" kata delia ia berjalan dengan dipapah fikri karna semenjak delia sadar ia berlatih berjalan didampingi fikri dan fikri setia mendampinginya. fikri pun menuruti keinginan istrinya untuk tak pergi dari sisinya.


" Haikal tolong abi nak" kata fikri yang masih memeluk delia.


" iya bi , ada apa " jawabnya dengan lembut.


" tolong nanti malam kamu temani abi disini sama umi " kata fikri dengan tertawa, ia membayangkan wajah haikal saat dirinya meminta pertolongan , karna haikal berwajah ketakutan, segitu galaknya kah fikri hingga anak nya ketakutan.


" Si Aa mah bikin orang ketakutan" celoteh wulan.


" mamah sama bunda mau ke toko perlengkapan bayi ya karna tuh anak pertama harus punya syarat pakaian anak anak baru setelahnya mau pakai punya alisyah atau raka tidak masalah" kata mamah mengingar delia belum punya baju bayi.


" ah iya bener " sahut bunda menimpali.


" Delia ikut ya bun" pinta delia yang membayangkan antusiasnya membeli perlengkapan anak


" jahitan kamu nak?"


" gapapa aku kuat ko" kata deliaa


" jangan sayang , kasihan baby zul kalau kamu pergi"


" abi melarang umi pergi tapi abi mengajak umi pulang , kasihan baby zul kalau aku pergi" kata delia membalikkan perkataan fikri.


Fikri yang mendapatkan perkataan seperti itu hanya diam, Mamah yang merasakan seperti itu ia pun mengatakan" gausah ikut biarkan parah nenek membelikan untuk cucunya"


" Maafkan aku bii" lirih delia.


" jangan mengulangi hal seprti itu umi, dosa " kata fikri dengan wibawanya.

__ADS_1


" maafin aku" lirih delia ia mencium tangan fikri setelah punggung tangan, ia juga mencium telapak tangan fikri.


__ADS_2