Kekasih Idaman

Kekasih Idaman
#186 kepulangan zul 2


__ADS_3

Bunda, ka zia, serta mamah mereka tengah menusukkan sate yang sudah direndam dengan berisi air dalam wadah karna sejak tadi dikeluarkan oleh ka zia itu masih dalam keadaan beku.


" Ini sebanyak ini apakah habis?" tanya bunda.


" habis, biasa sebanyak ini habis bu" jawab mamah.


" apa gapapa itu delia keluar rumah bu" tanya mamah lagi ia merasa khawatir.


Bunda pun tersenyum ia justru tidak ada pantangan kecuali sehabis melahirkan tidak boleh berhubungan badan, jujur ia kasihan dengan delia yang dimarahi oleh mamahnya walau itu semua demi menantunya, tapi bunda tak tega. " gak apa apa bu "


"syukurlah " ucap mereka. mamah dan bunda membantu menusukkan sosisnya sedangkan ka zia syifa ia menggeret(menggores) sosis menggunakan pisau untuk hasil yang cantik dan matang meresap kedalam.


Kakia wulan ia menemani para kurcaci yang sedang bermain pasir ajaib milik alisyah, bang erik dan mas tyo ia sedang memasang panggangan yang ia tata di atas meja , kalian pasti tau panggangan tukang jualan sosis bakar bukan ?nah seperti itu, berbeda di rumah bunda mereka mempunyai panggangan besar.


" lu dari mana kak" tanya wulan


" abis dari luar ko, delia kemana mba?" jawab kakia ia kembali duduk dengan wajah badmood


" lagi mandi tadi mah, itu muka kenapa atuh ditekuk gitu" tanya mba wulan melihat wajah kakia yang mendadak unmood


" lu tau ga mbaa tadi kan delia keluar sendirian nah gue ikutin lah yaa, takut ada apa apa cuma gue ga sampe ketauan dia, pas gue mau jalan ga sengaja ibu ibu ngomongin delia gini nih" kata ka kia menjelaskan kronologinyaaaa kepada mba wulan, bagi mereka semua tak ada yang berani mengadukkan permasalahan apapun pada fikri, justru mereka memilih berperilaku pura pura tak mengetahui.


" Gila gak sih mulutnya" kata ka kia lagi


Wulan yang mendengar apa yang disampaikan kakia menjadi syok ingin sekali ia mendatangi ibu ibu itu namun ia memegang nama baik Abahnya. Delia sendiri ia belum kembali berkumpul bersama keluarganya sejak ia pergi mandi hingga kini. " A...A fikri bayii..apakah otu zul ?" tanya wulan mendadak gugup dan fikri ia mengangguk tersenyum sontak membuat ramai seisi rumah.

__ADS_1


~~


Tak terasa mobil putih milik fikri sudah sampai didepan kediaman rumah mertuanya. ia turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk abah " hati hati abah " kata fikri mengambil zul kedalam gendongannya dan membantu abah untuk turun, pintu pun ditutup kembali oleh abah.


Dengan langkah perlahan mereka memasukki rumah itu, karna pintu tak dikunci bahkan tak ditutup membuat abah beserta fikri langsung masuk kedalam sebelumnya mereka mengucapkan salam.


Fikri dan abah langsung masuk ia berjalan melewati ruang tamu, rasa bahagia terpancar dari fikri tak henti hentinya ia bersholawat.


"Assalammualaikum" ucap abah dan fikri secara bersamaan. fikri ia berpapasan dengan wulan yang sedang membalikkan tubuhnya sontak wulan pun menjadi terkejut ia antusias saat a fikri mengiyakan kalau yang ia gendong adalah zul.


Hal itu membuat semua yang berada di ruang keluarga, dan ruang makan berlari kearah suara salam, karna bunda mamah beserta ka zia syifa mereka menusukkan sosisnya di meja makan.


"Waalaikumsalam"


" yaallah cucu nenek"


" Ma syaa Allah tabarakallah"


semua pun mendadak histeris, melihat fikri menggendong zul, dan semuanya ingin mendekat namun fikri memilih untuk mundur dan abah menghalangi mereka yang ingin memegang zull. " stop disitu" tegas abah dan semuanya diam namun masih dalam antusiasnya.


" ada apa pak kyai " tanya mamah.


" kenapa abah "


" matikan panggangan itu dan semuanya mundurrrrr " tegas abah meminta semuanya untuk mundur. " beri jalan zul untuk kami bawa keruang keluarga dan jangan ada yang menyentuh dia sebelum mendengar penjelasan A fikri " kata abah lagi dengan menggerakkan tangannya meminta mereka untuk mundur.

__ADS_1


Tak ada penolakan semua pun membuka jalan untuk fikri lewat, dan ia duduk di kursi keluarga dengan memangku zul.


" A fikri ingin meminta maaf untuk kalian semua khususnya untuk bunda mamah karna ke rumah sakit tak memberi izin, yang kedua fikri tidak mengetahui kalau saat itu zul diperbolehkan pulang, dan rangkaian perawatan zul pastikan semuanya dalam keadaan sehat... " kata fikri ia mulai memberikan penjelasan pada keluarga mengenai keadaan zul dan perawatan zul selama ia dirumah


" baiklah kalau begitu, demi cucu ommah" kata mamah dan disetujui oleh bunda.


" Harus steril mulai saat ini jangan ada yang keluar masuk sembarangan ke kamar delia, pastikan semuanya steril dan jangan berdebu, " kata mamah dengan tegas


" bunda akan membantu dalam hal semuanya, memastikan pakaian zul steril dan selalu stabil " sahut bunda tak mau kalah.


" kak ada acara apa " tanya fikri melihat sosis dimeja


" kurcaci mau sosis, dari pada beli kita bikin aja "


" delia kemana ka " tanya fikri lagi melihat istrinya tak ada disana, padahal mereka antusias menemui baby zul namun tidak dengan delia ia mengapa tidak berada bersama mereka ?? hal itu membuat fikri curiga.


" eummm..ta..tadi lagi mandi A " jawab kakia dengan gugup sedangkan para nenek sudah berdebat mengenai zul.


" ouh yaudah aa bawa zul ke delia dulu yaaa" pamit fikri membawa zul keatas untuk menemui uminya dan diangguki yang lainnya.ia tak perduli dengan kedua nenek yang tengah memperebutkan steril zul. dan fikri tak marah jika sedang bakar sosis karna ia terlalu happy zul sudah kembali bersamanya.


"Aaaa abiiiii " teriak alisyah dan fikri menghentiksn langkahnya.


" ya sayang ada apaaaa nak " kata fikri menghampiri alisyah , padahal sejak fikri membawa zul kerumah alisyah lihat adiknya dan ia sangat senang namun kenapa alisyah menjadi murung.


" Ada apa cantikk" kata fikri mengelus kepala alisyah.

__ADS_1


" Abi aku kan anak abii, kenapa Aa zul yang digendongg, lisyah engga" lirih alisyah menatap mata abinya.


__ADS_2