Kekasih Idaman

Kekasih Idaman
#238 belanja lamaran


__ADS_3

H-1 acara 40 hari alm pak reno sudah terlihat jelas kesibukan yang mewarnai keluarga itu, kehilangan seseorang yang kita cintai membuat dada begitu sesak, apalagi bagi putri nya yang merasakan cinta pertamanya telah pergi.


Keluarga bunda sudah lebih dulu tiba tidak sesuai yang di perikirakan oleh mereka, bunda mengatakan akan sampai jumat pagi tapi ternyata bunda sampai kamis siang dan mereka membantu keluarga delia, walau tidak hanya keluarga inti ada saudara kedua keluarga yakin dari keluarga papah dan mamah, namun bunda tidak apa apa ia mau membantu besannya dengan senang hati.


" bunda makan siang dulu yuu " kata deliaa ia mengajak bunda untuk makan siang sebelum bekerja.


" nanti saja nak," jawab bunda ia memasukkan beras kedalam kantong tas belanjaan.


" bunda ayo kita sarapan dulu kerjain itunya nanti saja" ucap mamah ia meletakkan daging teriyaki diatas meja.


" bundaaa " rengek deliaa ia meminta bunda dan keluarga untuk makan bersama, bunda pun mengiyakan ajakan menantunya, padahal kondisi bunda kenyang namun menghargai orang lain yang sudah menyiapkan hidangan membuat bunda makan kembali.


" abi sudah dong, salsa ajak makan jangan di introgasi teruss " ucap delia yang protes dengan fikri, sejak kedatangan bunda fikri duduk dekat salsa alih alih ingin menanyakan justru ia mengintrogasi salsa selama di pesantren.


" iaa sayang" ucap fikri


" jangan ia ia aja sini atuh ayooo, salsa udah ayo makan dulu" kata deliaa melambaikan tangannya memanggil orang yang belum menyendok nasi.


" istri Aa sensi banget kayanya " celetuk wulan.


" kata Aa juga gitu " ucap fikri yang biasanya tidak berkomentar kini berkomentar.


" syifa makan yang banyak "


" abah bundaa nambah ya " kata delia menawarkan untuk mertuanya nambah.


" atuh ini belum dimakan nakk" kata abah tersenyum mendengar ucapan menantunya.


Bukan ikut makan justru delia banyak bicara ia menyuruh orang lain makan sedangkan dirinya saja tidak makan hal itu membuat fikri sebal buru buru ia menyandarkan tubuhnya pada meja makan tepat di samping istrinya dengan tangan membawa piring berisi lauk. " udah bicaranya? makanlah! " ucap fikri yang berwajah dingin.


" aku belum lapar abi "


" makan lah, semua orang kamu memaksanya makan, jadi kamu harus menghargai mereka dengan ikut makan siang bersama" bisiknya kemudian berlalu duduk di dekat sofa bersama putranya. Delia menatap abinya dengan perasaan sedih alih alih ingin di suapin justru malah mendapatkan ocehan dari sang suami, dengan perasaan sedih ia pun mengambil nasi sedikit dengan agak cemberut.


Tingkah delia pun dilihat oleh suaminya, ia sudah paham istrinya pasti badmood tapi begitulah didikan yang diberikan fikri tidak boleh ada yang membantahnya, menghargai orang hal utama bagi fikri untuk mendidik keluarganya. delia pun duduk disisi bunda ia ikut bergabung dengan bunda abah, ia tidak mau karna kehadiran keluarga membuat mertuanya menjadi canggung.


" kamu yang masak nak? " tanya bunda ia berbisik pada menantunya.


" bukan bun, ini masakkan mamah sama ka kia " jawab deliaa dan bunda hanya mengangguk paham


" ada apa bun" ucap delia ia mendekatkan telinganya pada bunda.


" Gapapa enak ko, seperti masakkan kamu " kata bundaa tersenyum hangat.

__ADS_1


" makan lah dahulu" kata abah menimpali menantu dan istrinya yang mana keduanya jika bertemu seperti perangko.


Delia pun melihat sang suami yang manaa ia belum mengambil air minum dengan cepat ia menghampirinya meletakkan piring yang berisi makanan itu begitu saja, " abii ini minumnya " kata Delia menyerahkan minum.


" terimakasih, nanti izin sama mamah keluar yaa bunda mau ajak beli perlengkapan lamaran untuk ka zia katanya kamu mau beli sama mamah, ajaklah zayyan aku tidak tenang meninggalkannya, aku akan menemani,haikal pun akan ikut denganmu " kata fikri ia mengucap perlahan kepada sang istri.


" baiklah, terus yang lain? "


" yang lain disini, abah juga engga ikut, jadi nanti abi umi zayyan bunda sama haikal yang ikut, barangnya di letakkan di hotel " kata fikri dan diangguki oleh delia, ia pun kembali ke sisi bunda setelah selesai berbicara dengan sang suami.


" itu Delia romantis banget ya sama suaminya" gumam saudara dari mamah.


" iaa peduli banget sama suaminya "


" kita keluarga kenapa harus pake cadar " protes keluarga mamah.


Begitulah ocehan ocehan yang dilayangkan untuk Delia, mamah sudah paham betul akan ucapann mereka, lain hal jika ada papah justru ia akan membela putrinya. setelah makan bunda pun membawa piring kotor ke westafel ia membantu mencuci piring kotor setelah mereka makan.


" teh itu biarin ihh masa besan cuci piring " kata bibi saudara dari papah yaitu sama sama ipar ke mamah.


" ia udah dibilang jangan malah cuci piring " kata mamah ia membantu besannya menyusun piring.


" atuh engga apa apa da cuma cuci piring aja, kan kalau rapih enakk mau dipake hehehe " kata bunda dengan ramah.


" ia Sunda bu garut saya "


" oh ia atuh mampir ya kalau lagi di garut " kata bunda. tak terasa piring pun telah dicuci semua ia kembali berkumpul dengan yang lainn di ruang keluarga sambil menunggu Delia yang mengambil zayyan.


" abi jadi peralatannya di letakkan di hotel besok zuhur kita izin pulang yaa jangan sore kan umi belum merangkai " kata Delia ia memakai hijabnya sedangkan fikri ia memangku zayyan


" ia sayang mamah sudah tau kan? "


" sudah, om juga sudah tau heheh, alisyah diajak ya bii kasihan kalau ditinggal "


" ia sayang diajak "


" yaudah ayo jalan" ucap Delia semangat


" yang mau lamaran anak dan kaka kenapa kamu yang semangat? " protes fikri.


" ceuhh ilahh cemburu " kata Delia ia menggendong zayyan


~

__ADS_1


" itu tuh calonnya ziaa " kata om menunjukkan haikal kepada saudaranya.


" bersih yaa wajahnya "


" sholeh lagi ,ganteng"


" orang mana? " kata saudara mamah ia menanyakan pada kakanya papah.


" itu anak angkatnya suami Delia, " kata om papah.


" ohh kumaha zia mau sama dia? "


" hustttt"


" mahh ka, Delia pamit ya mau ada perlu " kata Delia ia mencium tangan mamahnya saat berada diruang keluarga.


" mau kemana ihhh ada sodara ko ditinggal " protes mamah


" ada perlu diluar mah, yaudah kami berangkat yaa "


" bunda haikal juga? "


" ia buk saya ikut hehehe " jawab bunda dan mamah pun mengerti ia mengizinkan mereka untuk pergi.


" yu semuaa tinggal dulu yaaa, Assalamu'alaikum "


" Wa'alaikumussalam "


**


Fikri Delia alisyah zayyan bunda dan haikal mereka sudah masuk ia berada di mall terbesar di kota jakarta, mereka pun memasuki mall tersebut dengan mengikuti wanitaa yang sedang melihat lihat barang apa yang cocok melamar ka zia.


" kita mau belanja apa bunda" tanya Delia karna sudah 30 menit mereka berkeliling namun belum ada yang cocok.


" gini deh nak, biasanya lamaran di keluarga kamu kumaha? "


" Atuh bundaa lia bingung apa yaah "


" ini aja bunda sama kaya waktu aa lamar Delia bawa apa ajaa " ucap fikri ia mengusulkan sesuatu.


Delia pun ia berbelok ke satu toko dimana mereka menjual bahan bahan kerajinan Delia pun memilih beberapa bahan untuk membuat buket uang dengan nominal maharnya karna untuk sama dengannya harus menunggu lama.


Setelah membeli bahan bahan untuk membuat buket bunga, otak bunda dan Delia pun menjadi berjalan, begitulah wanita jika sudah sampai tujuan pasti akan lupa, namun jika sudah memulainya menjadi gawat, nanti apa saja dibeli ujungnya terbuang.

__ADS_1


"


__ADS_2