
Aku Diam merenung memahami perkataan ibu ibu tadi yang telah membicarakanku, ternyata apa yang dikatakan mereka ada benarnya, aku yang menikah muda melahirkan anak usia muda juga , apakah ini pertanda kalauku tak bisa mengurusi anak anakku ?.
Setelah selesai mandi aku duduk diranjang milikku dalam keadaan sudah berbusana namun tak berhijab aku duduk di tepi ranjang, melamun mendengarkan dan memahami apa yang ku dengar. "Zull maafin umi nak yang hanya bisa melahirkanmu dalam keadaan usia muda, maaf " lirih delia.
" Pahh, delia kuat pah, papah jangan khawatir yaaa" lirih delia tiba tiba terlintas memikirkan papahnya.
"Abii umi kangen, umi minta maaf tidak izin sama abii, biii cepet selesai urusannya, umi mau minta maaf sama abi," ucap delia tanpa sepengetahuannya fikri sudah berdiri dibelakang pintu mendengar semua keluhan sang istri.
" Abi pulang " kata fikri berjalan menghampiri delia , delia yang mendengar suara fikri dengan cepat menoleh ia terkejut namun yang lebih terkejut lagi, ialah melihat sang suami menggendong bayi. Berulang kali aku mengucek mata dan membaca doa ayat kursi karna aku takut setan menyerupai suamiku.
"Mau sampai luka mata cantikmu dikucek umi?" tanya fikri menghampiri istrinya. " A..aaaabi ini zul" kata delia menjadi bergetar ia masih tak menyangka jika laki laki yang berada dalam gendongan suaminya adalah putra mereka.
" iya umi, zul kangen umi katanya" kata fikri memberikan zul pada deliaa. Delia dengan rasa rindunya ia mempercepat zul kedalam gendongannya, sampai ia ditegur oleh sang suami " umi kalem yaa, abi akan berikan zul tapi umi tenangin dulu ya sayangkuh, kasihan zull masa umi yang cantik tenaganya super sih" kata fikri memberi nasihat dengan sedikit bercanda.
" baiklah abi, berikan zul kepadaku" kata delia ia merentangkan tangannya meminta zul kepadanya, dengan perlahan dan hati hati ia memberikan zul kepada delia, sentuhan hangat sang ibulah tepat sebaik baik ingkubator, bersyukur Zul dapat merasakan dekapan hangat sang ibunda hingga delia merasakan terharu atas moment ini, moment yang sudah lama di nanti, hal seperti inilah membuat delia kuat , ia melupakkan hinaan ibu ibu kepadanya, karna kehadiran zul adalah Anugrah.
"Assalammualaikum sayang , ini umi nakk, umii kangenn banget sama zullll , sayanggg umii" lirih delia dengan airmata mengalir , dengan cepat fikri menghapus airmata delia dengan tangannya sendiri.
__ADS_1
" jangan nangis mi, zul kan sudah sama kita, kata fikri merangkul delia.
" Teteh alisyah kemana bi?" tanya deliaa yang tidak melihat alisyah , " dibawah sama bunda, kamu mau kebawah mi ?"
" mau abi " kata delia dengan cepat fikri mengambil hijab delia di lemari dan memakaikannya sedangkan delia ia menggendong zul . "Abiii ih beda warna loh ini " protes delia yang merasa tak nyaman, biasanya delia serba hitam namun kali ini tidak.
" Kalau udah punya anak dan dirumah gapapa beda warna asalkan jangan beda niat " sahut fikri dan membuat delia diam, bahkan cadarnya pun dipakaikan oleh fikri "umi tegap kepalanya jangan miring " kata fikri mensejajarkan kepala delia. " selesai " sahut fikri ia pun menuntun istrinya untuk bangun dan berjalan. ia merangkul menuruni anak tangga.
Singkat cerita mereka tengah melaksanakan sholat maghrib, sebelum sholat maghrib fikri memberikan bantal tidur untuk delia meletakkan zul dipangkuannya, supaya zul tidak pegel berada di tangan uminya, tak ada yang libur sholat kecuali delia, sholat maghrib mereka kali ini diimami oleh abah.
" umi , zulnya jangan dipangku umi, lisyah mauuuuuuuu" rengek alisyahh meminta zul untuk turun.
" Cihhh aku malah sama abii, semua olang fokus sama zul, lisyah engga" ucap lisyah ia melipat kedua tangannya didada.
Delia menyadari kehadiran zul membuat Alisyah cemburu, tidak ada yang membedakan antara ia dengan zul semua sama.namun, mungkin alisyah belum terbiasa dan beradaptasi makannya ia menjadi cemburuan, delia pun meminta anaknya untuk duduk disampingnya.
" teteh lisyah, sini duduk disamping akuhhh " kata delia menirukan suara anak kecil.
__ADS_1
" teteh sini duduk di samping umi sayang" alisyah pun mengikuti delia ia duduk disisi ibunya, delia pun mencoba menjelaskan kepada gadis mungil itu tentang rasa sayangnya, gadis mungil yang awalnya semangat 45 menjadi seorang teteh dan meminta zul cepat kembali nyatanya kembalinya zul membuat ia menjadi cemburuan, takut sayangnya terbagi.
" anak sholeha nya umi abi, teteh alisyah yang paling umiii sayangggg, jangan ngambek yaa nak, kan alisyah sudah menjadi teteh, dan mempunyai adik Aa zul, mau atau tidak adanya zul abi umi dan kita semua sayang sama alisyah, apalagi cinta dan sayang kami menjadi double kepada kaka alisyah yang cantik iniiii" kata delia namun di protes oleh alisyah.
" Teteh umi, bukan kaka "
" ouhhh iya umi salah maafin umi ya cantikkk, sekarang alisyah sholat maghrib dulu yaa nak, nanti kalau alisyah gak sholat abinya marah lohhhhh, kalau abi sudah marah nanti uminya dimarahin , teteh alisyah gamau liat uminya dimarahinn abi ? "
" gamau umiii, lisyah gamau umi dimarahin abi" lirih alisyah memeluk deliaa, delia membalas dengan merangkul alisyah serta menahan bantal yang berisi zul di.pangkuannya.
" iyaudah teteh sholat dulu yaa nak, nanti main sama umi"
" oke umiiiii"
" lisyah gamau bilang sama zul ?"
" engga " katanya yang kemudian berlaru mengikuti sholat maghrib yang sebenarnya sudah ketinggalan 2 rakaat.
__ADS_1
" sabar ya Aa zul , tetehnya lagi cemburu, " kata delia ia mengusap pipi zul.