
Singkatnya mereka telah selesai melaksanakan sholat maghrib, tak hanya itu mereka pula sudah selesai melaksanakan tadarus bersama yang mana moment kali ini berbeda, senyum bahagia jelas terlihat dalam raut wajah mamah farida, serta delia yang mana kali pertama melihat ka zia belajar dengan teliti mendalam tentang Agama. ia ingin sekali masuk pesantren namun tidak bisa karna ia sedang menyelesaikan masa kuliahnya, hal itu diketahui fikri sehingga ia membuka suara.
" Atuh gapapa ka zia bisa mendapatkan ilmu tentang di pondok dan kaka juga bisa fokus dalam kuliahnya, bedanya hanya tak tinggal disana " sahut fikri di akhir cerita setelah mereka belajar agama, atau tepatnya mengajarkan kazia tentang ilmu tajwid.
" emang bisa A firki " tanya ka zia.
" Bisa ko, selama aa disini sama delia ka zia bisa mendapatkan point plus, tidak pesantren tapi bisa mendapatkan ilmu pesantren lewat aa atau delia, nanti kalau libur kuliah kaka bisa tinggal di pesantren, nanti kalau sudah selesai masa liburannya kaka kembali kuliah dan melanjutkan pelajaran dengan kami lewat zoom" jelas fikri
" Yaallah terimakasih Aa , deliaa, bersyukur mempunyai kalian "
" Sama sama, nanti juga kamu akan tetap tinggal dan menetap di pesantren " ucap fikri menjebak kakanya dengan pertanyaan aneh ia pun bangkit untuk melaksanakan sholat isya berjamaah.
" maksudnya a "
" sholat sholat iya " Mereka pun melaksanakan sholat isya berjaamaah dengan abah yang memimpin sholat.
****
Delia ia tak hentinya memandangi putra tampan dan sholeh yang sedang terbaring di pangkuannya yang beralaskan bantal. Ia merasa bersyukur atas dikaruniakan 2 orang putra tampan serta 1 gadis sholeha nan cantik, siapa lagi kalau bukan Fikri dan zul, serta alisyah yang menjadi pelengkap hidupnya.
Ia bersyukur di tengah kekurangan yang ia miliki, Allah swt mengirimkan zul yang menjadi pelengkap segalanya.
" Anak umi bobo yaaa " kata delia menatap wajah putranya yang sedang terlelap.
Setelah melaksanakan sholat isya, mereka memutuskan untuk melanjutkan bakar sosis yang sempat ditunda karna kehadiran baby zul, yang membuat gempar seisi rumah.
" De, ini ada hadiah buat zul dari papih, " kata bang erik memberikan uang untuk zul.
" terimakasih banyak papih erik" kata delia.
" Sama sama , cepet besar ya zul, Nanti dari mamih kia belum yaaa " sahut kakia.
" Aihh dari mamih pasti keren ya zul" kata ka, ia menimpali.
" pasti dong"
Mereka asik mengobrol, para bapa bapa melanjutkan membakar sosis di area gazebo belakang namun pintu kaca sengaja mereka tutup agar tidak mengganggu zul yang berada diruang keluarga, bersyukurnya malam hari tidk turun hujan, tidak akan menghambat proses panggang sosis.
" sayangg" panggil fikri menghampiri anak istrinya. delia yang melihat fikri datang ia pun mengulurkan tangannya untuk mencium tangan suaminya, sebagai wujud bakti sang istri. " kenapa abi "
" Kamu pegel gak? sini biar abi gendong jagoan" sahut fikri.
" Eng....." sahut delia terpotong karna putri cantiknya sudah lebih dulu protes.
" Abiiiii gak boleh gendong Aa" tegas alisyah ia berdiri di depan abinya merentangkan tangannya seolah menghalangi.
__ADS_1
" Teteh kenapa sayangg, kasihan Aa" jawab fikri ia berjongkok menyamakan tinggi sang putri.
" abi ga bolehhhh, abi ga boleh" lirih alisyah dengan nada yang bergetar seakan ingin menangis.
semua yang berada disana melihat tingkah ayah dan anak, ayahnya jail dan anaknya cemburuan, jadilah bahan tertawaan mereka.
" alisyah cemburu dengan zul , karna belum terbiasa ada adik " sahut mba wulan
"ko bisa mba"
" bisalah , dulu alya juga seperti itu, lama kelamaan engga karna dikasih pengertian sama jangan sampai si kaka itu ngerasa perhatiannya terbagi " jawab wulan dan disetujui oleh bunda dan mamah.
" ia bener waktu bunda juga seperti itu punya anak wulan terus ada lagi Aa , wulan cemburu" kata bunda mengiyakan ucapan wulan.
" aih keturunan "
" De sini berikan sama Mamah, kamu rapihkan kamar zul " kata mamah mengambil zul dari pangkuan delia.
" Ya mah, " kata delia ia pun bangkit namun lagi lagi alisyah cemburu ia melarang delia untuk memberikan perhatian pada zul terutama soal tempat tidur.
"umii umi jangan pergi, umi disini sama lisyah sama abi, biarkan Aa tidur dengan nenek , umi sama abi bolehnya tidur sama Alisyah titik!" kata alisyah ia menarik tangan umi dan abinya untuk duduk bersamanya.
" Yang sabar ya kalian berdua, emang seperti itu kalau punya adik apalagi anaknya masih kecil, dinikmatin aja gak lama ko, kasih ia pengertian dan jangan biarkan alisyah merasa terbagi atas kehadiran Aanya" kata bunda yang merasa tak tega melihat anak dan cucunya.
" engga A , mba dulu gitu, alya sama kaya alisyah, diberi perhatian jangan sampe merasa tersaingi" kata wulan dan fikri pun mengangguk menyetujui.
" Teteh lisyah kenapa cihh sayangnya umi, alisyah katanya mau bobo di pangkuan umi , sini abi bawa alisyah kedalam pangkuan umi" kata delia dan fikri membaringkan alisyah dipangkuan delia, ia menimang nimang alisyah dengan menggerakan tubuhnya kekanan dan kekiri.
" umi sama abi itu punya lisyah, aa zul gak boleh" tegas lisyah.
" Sama sama sayang, kan Aa zul Aa nya alisyah, dan alisyah teteh berati sama seperti ka alya dan a raka, alisyah anak umi abi, A zul juga anak umi abi, dua duanya anak umi abi, " sahut fikri memijatkan kaki alisyah.
" Gamau, yang anaknya abi umi cuma alisyah"
" yaudah yaudah alisyah bobo yaaa, " kata delia ia mengelus kepala putrinya.
" ih umi jangan boboin alisyah, lisyah mau sosis sama papah" kata alisyah ia berlari ke kaca tepat dimana raka alya menanti sosis.
" Yaallah alisyah" kata fikri ia menepuk jidatnya.
" Dari pada bengong lebih baik kamu rapihkan kamarmu nak, zul nanti masuk kamar sudah enak , mamah pegang zul , kalian cepatlah rapihkan sebelum nona kalian mengamuk" goda mamah pada menantu dan anaknya yang sepertinya hari pertama menjadi orangtua membuat ia kalang kabut.
" aku aja mi, kamu tunggu disini ya" kata fikri dengan sigap ia mencium kening delia dan berlari keatas untuk merapihkan kamar.
" Alamat punya anak lagi nih " ledek kakia melihat tingkah fikri
__ADS_1
" jangan lah emang anak bunda mesin pecetak anak " sahut bundaa dengan nada meledek delia.
" kasihan sesar belum boleh "
Fikri merapihkan kamar mereka untuk zul tidur, kali ini mereka membawa zul tidur bersamanya , dengan fikri merapihkan box bayi yang belum lama di beli oleh para nenek nenek.
Singkat cerita mereka sudah menyantap sosis bakar bersama, tibalah zul masuk kedalam kamar bersama delia namun alisyah menahannya ia pun menjadi pasrah mengikuti kemauan putrinya yang menjadi posesif, bunda dengan sigap membawa zul kekamar delia fikri ia letakkan di atas ranjang.
" Bunda kenapa di ranjang bukan di box ?"
" pasti anak gadis kalian minta di box , "
" Zul gaboleh tidur sama abi umi, " sahut lisyah berlari naik keatas ranjang dengan cepat bunda mengambil zul.
" teh lisyah" panggil fikri.
" Yaudah alisyah sama abi umi ya, biar aa zul di tempat bayi" kata fikri.
" ga bolehh itu punya lisyah" .
" yaudah aa bobo sama nenek aja yu" sahut bunda membawa zul keluar namun lagi lagi alisyah berteriak.
" Nekkkk jangannnnnnn itu Aa lisyah".
" kalau itu aa nya alisyah, disayang dong aa nya , kan aa juga anaknya abi umi, sama seperti lisyah, " kata bunda menasihati alisyah namun tetap menggendong zul yang hendak berjalan keluar.
" Bun berikan zul pada delia"
" shuttt nanti nak "
" yaudah umi abi teteh zul sama nenek yaa tidurnya" lagi lagi bunda meledek
" lisyah bobo sama abi yuuu. "
" nek letakkan zul disiini aku mau bobo bersama " kata alisyah ia merintahkan bunda untuk meletakkan zul disampingnya
" baiklah anak pintar" sahut bunda ia pun meletakkan zul disamping alisyah.
" kalian jangan pules tidurnya ingat ada zul dan alisyah, " tegas mamah
" ia mah, nanti alisyah bobo , delia akan pindahkan zul di tempat tidurnya" kata delia..
semuanya pergi meninggalkan delia fikri serta alisyah dan tak lupa zul dikamarnya, mereka membiarkan keluarga baru itu menikmati dunia nyata menguruss anak. bagaimana ribetnya mereka?.
fikri belum tau soal ibu ibu tukang bully ya gaesss .
__ADS_1