
Setelah memandikan alisyah dan viola, delia mengantarkan anak anak yang tanpa busana kembali keruang keluarga, untuk berpakaian disana sudah berkumpul anak anak mamah hanya saja tidak ada bang erik ia sedang keluar bersama temannya. " ini pakaian alisyah nak " ucap mamah memberikan delia baju alisyah , delia menerimanya dengan tersenyum, cadar yang ia gunakan ia lepas kembali.
" ada yang kurang mah sebentar delia ambil " ucapnya bangkit dari duduknya.
" biar aku aja " kata fikri yang semakin aneh dibuat delia, " gapapa aku aja" kata delia ia melangkahkan kakinya kembali kekamar untuk mengambil perlengkapan alisyah sehabis mandi.
Delia memberikan perawatan untuk anaknya tanpa tanggung, minyak telon, bedak, crim, dll perlengkapn anak selalu ia gunakan sehingga alisyah selalu wangi dan harum semenjak kehadiran delia. sebelum kehadiran delia alisyah tetap harum namun tambah harum semenjak kehadiran delia.
" Itu istrimu ga ada sakitnya apa" kata mamah mengamati delia.
" kaka yang liatnya aja ngilu mah masalahnya dia sesar" ucap kakia yang ikut bersuara.
" Aa kurang tau mah tapi delia ga ngeluh sama fikri, nanti coba fikri tanyakan " sahut fikri yang mengerti pembicaraan keluarga delia.ia terus mengamati pintu kamar delia yang belum kembali , ia berinisiatif menghampiri namun belum sampai didepan pintu delia telah keluar lebih dulu. " loh sayang ada apa " tanya delia yang terkejut.
" gapapa, kamu kenapa lama ? ada apa apa yang sakit" tanya fikri secara beruntun kebetulan delia tanpa cadar jadi ia bisa melihat raut wajah istrinya menahan sakit atau tidak
" aku engga apa apa sayang, jangan khawatir " ucap delia ia membelai pipi fikri.
" hey mesranya nanti atuhh anakmu masuk angin " celoteh kakia. delia pun menghampiri alisyah ia memakaikan pakaian alisyah dari dasar hingga selesai.
" Alhamdulillah" ucap delia ia mencium pipi alisyah. " terimaksasih umi " ucap alisyah ia pun membalas mencium pipi delia. " sama sama sayang"
__ADS_1
" nak mamah mau masak apa untuk malam ?" tanya mamah pada ketiga anak anaknya.
" delia bikin teriyaki ya mam "
" boleh tuh dee enak masakkan kamu" ucap ka kia
" yaudah lia masak dulu ya kak " ucap delia bangkit ia berjalan menuju dapur meninggalkan keluarganya , namun mamah mencegah delia ia tidak ingin putrinya kenapa kenapa " nak jangan , biar mamah yang masak kamu diam aja disini" teriak mamah dengan tegas namun bukannya kembali justru delia semakin mempercepat langkahnya.
Delia pun membuka kulkas ia mengambil daging segar serta ikan gabus yang dibeli kakia, setelah mengambil daging ia merendamnya di air karna dagingnya setengah beku , delia merendamnya tanpa membuka pelastik putih supaya potongannya rata jika sudah tak membeku. sambil menunggu dagingnya mencair ia pun mengambil bahan bahan yang sudah dikupas seperti bawang dan kerabat lainnya.
" sayang aku bantu ya "kata fikri yang menghampiri delia." terimakasih tapi izinkan aku melakukannya sendiri" kata delia ia masih berkutat dengan pisaunya.
" apakah kau tak membutuhkan suamimu lagi heum" kata fikri dengan lembut namun menusuk , delia yang menyadari suaminya berubah ia hanya memutar tubuhnya menghadap sang suami sambil berkata " baiklah kalau abi memaksa, umi minta bantuan abi ya untuk menjaga alisyah " kata delia dengan tersenyum ia tidak ingin suaminya tersinggung.
" kak udah sana ihh sambil menunggu makanannya mateng kaka ambil cemilan dulu" rengek ka zia pada kakia.
" ihh ogah gak enak lah de , liat nohh" ucap ka kia memegang kepala zia yang langsung ia arahkan ke dapur untuk melihat delia yang mengelap keningnya seperti mengusap keringat.
" lagi debat tohh " gumam ka zia menganggukan kepalanya sebagai tanda mengerti , kia yang geram akan adiknya itu mulai berulah " gak debat cuma adu mulut" celoteh ka kia.
" sama ajaa"
__ADS_1
" beda "
" si ka kia maha benar atuh sama ajaa "
" dih mana ada sama, tulisannya aja bedaa debat sama adu mulutt" protes kakia yang tak mau kalah. mamah yang mendengarnya pusing , setiap hari ada aja yang di ributkan " udah stop , udah tua malu sama anak anak" tegas mamah sambil menutup telinganya.
" itu liat adik kamu baru 10 hari udah berani kerja berattt" lirih mamah melihat delia dari kejauhan. " abis gimana mah tau sendiri delia" ucap ka zia yang memang benar, ia mengerti adiknya yang tak pernah mau merepotkan orang.
" udah kia bantuin deh" ucap kakia bangkit dari duduknya, belum ada selangkah ia melempar bantal sofa ke arah zia "cepet ya bi saya lafar" celoteh ka zia dengan raut wajah sombong.
" enak aja rasain lo" sahut ka kia kemudian kembali menyusul delia.
" cepet atau saya pecat" teriak ka zia .
" bodoamat" sahut kia dari dapur.
" kenapa ka " tanya delia saat kakia sudah bersama mereka. " biasa ka zia " sahut kia ia mengambil pisau daging dan membantu delia memotong " kak biar lia aja kaka tunggu saja " cegah delia ia ingin mengambil pisau yang berada ditangan kakia.
" udah diem , dibantuin ko malah gamau, kita hidup bersama jadi sudah pasti tolong menolong" celoteh kia sambil mengiris daging
" ngeyel dia kak baru lahiran udah mau kerja berat" sahut fikri membantu memotong bawang bombay.
__ADS_1
" emang nyebelin istri kamu A, dari dulu gamau merepotkan orang lain, emang dia hidup sama siapa , sotau dia mah" oceh ka kia sambil mengacungkan pisau terlalu emosi sehingga tak menyadari ia memegang pisau yang ia arahkan keudara.
" aduhh maaf kak tapi itu pisaunya serem" kata delia ia membawayangkan pisau itu jatuh.