
" Aa zul jangan nangis ya, jangan rewel , umi abi engga ada disamping zul tapi umi dan abi selalu mendoakan zul, umi sayang banget sama Aa " kata delia masih menggendong baby zul dengan erat dan penuh kasih sayang.
" sabar umi" kata fikri mengelus punggung delia, ia mengerti perasaan sang istri yang tidak ingin berpisah dengn anaknya begitupun ia ,
" abi mau gendong zul" kata delia memberikan zul ke fikri dan fikri pun menerimanya dengan sangat hati hati.
" Anak sholeh , sehat selalu ya nak, Abi selalu mendoakan zul kelak menjadi mujahid " kata fikri berbicara dengan anak laki laki yang akan ia tinggalkan selama 1 bulan sejak kelahiran baby zul.
Fikri mulai melantunkan sholawatan dari gendongannya , hingga membuat zul tertidur,
"pasti aku rindu zul" lirih delia dengan menundukkan pandangannya.
fikri yang mengetahui hati istrinya ia pun meletakkan baby zul ke dalam inkubator kebetulan disana sudah ada suster yang ingin mengambil baby zul , dan benar suster itupun menutup inkubator zul dan meminta izin kepada orang tua baby zul.
" bapa ibu saya izin bawa putra ibu , kalau begitu kami permisi " kata suster bersiap mendorong inkubator berisi baby zul.
" tolong rawat anak saya dengan baik ya sus, jangan sampai tertukar " kata delia dengan suara bergetar pertanda ia menahan air matanya, fikri dengan sigap memeluk sang istri
" baik bu , ibu tidak perlu khawatir , jika ada apa apa saya akan mengabarkan ibu atau bapa, saya permisi bu pak " kata suster kemudian melanjutkan mendorong zul.
Isak tangis terdengar pilu , tubuh delia bergetad didalam pelukkan fikri , haikal yang menyadari apa yang dirasakan ibu angkatnya hanya bisa diam dengan perasaan yng begitu sesak.ia hanya bisa berdoa baby zul cepat kembali pulang untuk berkumpul ditengah tengah keluarga.
" Abi umi sudah siap " ucap haikal membawa tas ibunya.
" sudah nak ayo sayang" kata fikri menuntun istrinya turun dari ranjang rumah sakit.
Delia mengikuti apa yang dikatakan sang suami ia turun dari tempat tidur dan fikri merapihkan cadar sang istri yang hampir menutupi mata , karna delia memakai cadar tali berwarna hitam.
" Yu sayang " katanya menuntun tangan delia sedangkan haikal ia berjalan dibelakang abi uminya.
***
" kakia ini diletakkan disini aja kali ya " kata wulan memberikan ide untuk meletakkan balon berbentuk love itu disisi kanan.
" dia yang minta pendapat dia pula yang menyetujuinya" celoteh kia yang geleng geleng melihat mba wulan.
" kamu kaya gatau mba wulan aja ka " sahut syifa yang tidak menyangka mba wulan bisa seleluasa itu dirumah orang.
__ADS_1
" jika sudah menjadi keluarga , mengapa harus menjadi orang lain ? " kata wulan dengan seriusnya.
" ya juga sih " kata kia disetujui oleh syifa.
" selesai " sahut zia
Dekorasi dan penyajian makanan telah selesai , kini mereka hanya menunggu delia fikri datang kembali kerumah.namun hari ini juga adalah hari bunda, abah, wulan, syifa serta tyo kembali ke bandung, mereka sudah berada di depok selama 9 hari dan akan kembali kedepok jika baby zul sudah diperbolehkan pulang.
2 Jam setelah mendekor , mobil fikri sudah sampai di gerbang rumah mamah. ia pun turun lebih dulu diikuti delia dan haikal ia sudah menurunkan barang barang milik uminya.
" pelan pelan umi jalannya" kata fikri menuntun istrinya masuk kedalam rumah.
" Assalammualaikum" kata fikri delia dan juga haikal saat ia sudah sampai di pintu utama.
" waalaikumussalam warahmatullah wabarakatuh , Ahlan wa sahlan delia " jawab mereka serempak saat pintu dibuka oleh mamah.
" Ma Syaa Allah tabarakaallah " ucap delia terharu ia pun memeluk suaminya, entah mengapa ia menjadi candu untuk memeluk suaminya bahkan di depan orang sekalipun.
" Masuk atuh jangan pelukkan didepan " sahut bunda dengan bahagia.
Delia melepas pelukkan fikri ia berjalan pelahan dibantu suaminya menghampiri Abah bunda dan mamah ia mencium tangan orang tuanya kemudin berlanjut dengan kaka kakanya.
" terimakasih mamah" kata deliaa ia pun duduk disisi mamah dan bundanya.
" Sabar ya nak , in syaa Allah setelah ini kalian akan bahagia" kata bunda menggenggam tangan delia.
" iya bunda" ucap delia ia pun bersandar pada sofa.
" Abi ini tasnya diletakkan dimana ?" tanya haikal pada abi , mereka baru sadar kalau haikal sejak tadi memegang tas delia, harusny di letakkan saja namun haikal justru memegangnya.
" Allahuakbar haikal "
" Astagfirullah haikal"
" Yaallah haikall" begitulah ucapan yang keluar dari mulut mereka atas kehilafan dan kesadaran yng baru mereka rasakan.
" Letakkan sam aku aja sini " kata ka zia yang meminta tas delia denganya.
__ADS_1
" dimana kak " sahut haikal namun dengan mata mengarah kelain arah , karna ia sadar menjaga pandangan matanya.
" disana ayo"
" Ayoo" jawab haikal ia pun melangkah kan kakinya namun ia hentikan karna mendadak riuh.
" hehh mau kemana" celoteh wulan
" eh mau ngapain " celoteh kia
" haikalllll" tegas fikri.
" kalian mau ngapainnnn " kata fikri lagi sambil mengangkat kepalanya seperti gerakan bertanya.
" ma..ma..mau anter tas umi bi " kata haikal gugup.
" Kemana! " tegas fikri.
" ke..keeee..kekamar" jawabnya yang langsung menyadari bahwa tindakannya hampir saja salah " Astagfirullah yaallah" terkejut haikal.
" biar abi yang bawa kamu duduk deket abah" perintah fikri pada anak angkatnya itu.
" Bahaya nih ka ziaa" celoteh kia.
" Haikal juga bahaya nih gak bisa dibiarin," celoteh mba wulan sambil menggelengkan kepalanya.
" nikahin aja deh nikahin " kata tyo yang kini bersuara.
" husttttt"
Zia pun kembali duduk dekat kedua kaka yang mulutnya rewel , Sedangkan haikal ia sudah duduk dekat abah.
" ingett zia inget si onoh " celetuk ka kia.
" zia udah ada jodohnya?" tanya abah.
" belum ada " sahut mamah , dan diangguki abah.
__ADS_1
" hampir aja khilaff " celetuk wulan.
Author ingatkan kenapa tidak ada salsa karna salsa dalam cerita akhir akhir ini, karna salsa berada di pesantren didaerah jawa jadi soal delia sudah lahiran salsa belum mengetahuinya. soal salsa anak kandung atau anak tiri ? jadi salsa itu adalah anak kandung tapi ada hal kenapa ia berbeda sifatnya.