
Chapter 124. MEREBUT WILAYAH.
\=
Lolongan kesakitan Gerry terus terdengar di halaman depan kediaman keluarga Dorman, sampai Lori Dorman saja tidak percaya! Karena menurutnya kekuatan Gerry seperti tidak ada lalu bagaimana orang seperti ini bisa mendominasi kota Mako lebih dari satu dekade terakhir ini.
Dion terus menyiksa! Dia tidak ingin kematian Gerry berlalu begitu saja, sehingga dia terus menyiksa ketua Gerry dengan perlahan namun dengan rasa sakit yang maksimal.
Dion sebelumnya sudah berlatih bagaimana menyiksa seseorang agar orang itu lebih memilih mati saja daripada terus di siksa seperti ini! Karena Dion yakin hari ini pasti akan terjadi sehingga dia berlatih menyiksa orang saat berada di perguruan terpencil tanpa di ketahui oleh teman seperguruan lainnya.
Alda yang melihat itu hanya bisa mengerutkan keningnya, dia tahu jelas bahwa tubuh yang di serang oleh Dion adalah bagian vital yang merespon rasa sakit lebih parah dari tubuh lainnya.
Karena di sana ada pembuluh darah yang rentan, sehingga rasa sakit berkali-kali lipat.
Baammm..!
Kraakkk..!
"Aaaahhhhkk...!" Jerit Gerry kembali.
Setelah itu dia langsung mendongak melihat ke arah Dion dengan tatapan ketakutan! Kini kondisinya sangat mengenaskan.
Dari tangan kaki semuanya sudah hancur di patahkan oleh Dion bahkan ada yang bisa di katakan remuk.
"Sial kamu, bunuh saja aku! Bunuh sekarang." Gerry meraung, air mata mengalir deras dan mulut penuh liur bercampur darah.
Saat meraung semua ikut keluar muncrat ke segala arah.
Pemimpin divisi 6 yang melihat itu gemetar ketakutan, dia tidak yakin bahwa kata-kata itu di ucapkan oleh ketua Gerry yang selalu bersikap garang dan menakutkan.
Bagaimana diamnya Gerry saja, bagi para pemimpin divisi itu sungguh menakutkan karena seperti ada tekanan yang sangat menekan mereka.
Namun kali ini Gerry di buat mengenaskan oleh seorang anak muda! Bahkan hingga menangis dan memohon untuk di bunuh.
"Apa bocah ini iblis?" Ucap pemimpin divisi 6 mundur perlahan ingin kabur.
"Kalian, berganti di sana! Jika saja selangkah lebih jauh akan mati." Ucap Hani dengan pistol di tangannya.
Moncong senjata yang dingin dan hitam mengarak ke ketiganya! Pemimpin divisi 6 yang memang hendak akan kabur langsung berhenti setelah mendengar perintah Hani.
__ADS_1
Sedangkan Lori Dorman kini mulai ketakutan, dia seperti ada penyesalan kenapa malah memprovokasi anak-anak muda di depannya saat ini.
Lori Dorman melirik ke anaknya yang sekarang sudah cacat! Dia ingin sekali menampar anaknya itu, jika saja di awal mereka langsung merelakan perlakuan Alda terhadap Reyes yang mematahkan kakinya.
Kejadian seperti ini tidak akan terjadi! Sehingga dia tidak akan tertimpa kesulitan seperti sekarang.
"Sial, wanita ******! Apa kamu benar-benar berani?" Bentak Reyes Dorman sangat tidak terima.
Sebelumnya dia sudah membayangkan akan menekan Hani di bawah selangkangannya namun sekarang dia malah di ancam oleh Hani seperti ini, sehingga dia tidak terima.
Dor..Dor..!
"Aakkhh..!" Reyes Dorman ingin membentak lagi namun hanya semburan tidak jelas karena bagian tenggorokan di tembok dan bagian kepalanya di tembok oleh Hani.
Seketika Reyes Dorman mati di atas kursi roda.
Lori Dorman dan pemimpin divisi 6 langsung membeku di tempat! Kemudian di susul gemetaran.
Jeritan di dalam kediaman keluarga Dorman langsung terdengar, para pelayan di rumah itu melihat semuanya namun untuk kabur mereka tidak berani.
"Mulut kotor mu harus di sumpal...!" Ucap Hani asal saja.
Bagaimana di sumpal, tenggorokan Reyes Dorman langsung tertembak hingga hampir tembus! Bahkan kepala di bagian otaknya berlubang sehingga langsung mati, namun masih di ceramahi oleh Hani.
Alda dan Hana belum bergerak! Namun karena perilaku dua lainnya mereka juga langsung di pandang sadis karena hewan satu spesies pasti bersama.
"Tunggu sebentar...!" Ucap Alda memecahkan keheningan setelah kematian dari Reyes Dorman.
Namun orang-orang di sana tidak ada yang berani menjawab! "Aku hanya akan ke dalam untuk melakukan sesuatu kalian lanjutkan saja!" Lanjut Alda berucap, untuk Dion dan Hani.
Tidak menunggu jawaban! Alda masuk dengan mudah ke kediaman keluarga Dorman sampai tidak ada yang berani menghentikan.
*
Hanya sebentar, Alda sudah keluar kembali dengan membawa kertas dua lembar yang masih kosong, dengan di lengkapi papan alas dan satu bolpoin.
Namun di sana sudah tertempel meterai yang berlaku untuk pemindahan kepemilikan.
Alda berjalan ke sebelah Dion, setelah itu langsung berbisik.
__ADS_1
"Sebaiknya kita ajukan saja permintaan kepadanya, setelah itu kamu langsung membunuhnya saja! Kita kuasai wilayah sebelumnya milik kelompok kalajengking merah." Ucap Alda kepada Dion dengan lirih.
Dion melihat langsung ke arah Alda, setelah itu dia juga tersenyum tipis lalu mengangguk kecil tanda dia tahu maksud Alda.
Niat Alda adalah merebut wilayah milik Gerry, karena jika tidak akan terus terjadi kekacauan di kotak Mako jika tahu kelompok kalajengking merah jatuh namun tidak ada yang menggantikan posisi mereka di kota ini.
Nantinya banyak kelompok kecil yang ingin naik! Pastinya akan banyak keributan yang tidak berarti.
Dion memandang ke arah ketua Gerry yang sudah patah dua tangannya! Setelah itu dia melihat Alda.
"Tangan dia sudah patah! Bagaimana bisa tanda tangan?" Tanya Dion sedikit bingung.
"Itu mudah...!" Ucap Alda lalu langsung menghampiri Gerry yang terkapar di tanah halaman depan kediaman keluarga Dorman.
Alda jongkok di depan ketua Gerry, lalu langsung memegang tangan Gerry dan setelah itu dia menekan lengan Gerry dengan kuat.
"Eeeekkkh....!" Keluh Gerry.
Kreeek..!
Menggoyangkan lengan Gerry lalu langsung membetulkan persendian lengan Gerry kembali, namun rasa sakit itu masih ada setelah itu berangsur-angsur hilang.
Gerry melihat itu cukup terkejut sebentar, namun mendengar perkataan Alda ketua Gerry semakin takut.
"Apa sudah tidak sakit lagi, cepat tanda tangan di sini! Jika tidak maka aku akan menyembuhkan tangan mu kembali dan dia akan mematahkan kembali." Ucap Alda dengan senyum samar, sambil menunjuk ke arah Dion yang ada di sampingnya.
Gerry tau apa maksud perkataan Alda barusan! Jika dia tidak menuruti permintaan Alda, maka penyiksaan itu tidak akan berlalu karena setelah patah di sembuhkan kembali, lalu di patahkan kembali sehingga sakit itu tidak akan berakhir sampai dia mati perlahan.
Apa lagi cara menyembuhkan yang di lakukan oleh Alda juga sangat sakit di awal setelah itu baru sakitnya hilang! Jika seperti itu terus dia akan merasakan neraka di dunia.
"Bagaimana?" Ucap Alda menegaskan.
Dia yakin bahwa Gerry akan menyetujui itu, karena penyiksaan seperti ini sangat mengerikan meskipun Gerry adalah seorang yang sudah berlatih beladiri sebelumnya.
"Baiklah, di mana itu?" Ucap Gerry lemah.
Alda menyodorkan bolpoin dan papan yang ada kertasnya! Dia menunjukkan di mana tanda tangan itu di buat.
Dengan cepat Gerry melakukan tanda tangan, juga menuliskan namanya.
__ADS_1
\=
...