Pewaris Tersembunyi

Pewaris Tersembunyi
163 JALAN NISENG


__ADS_3

Chapter 163. JALAN NISENG.


\=


Matahari yang terik kini mulai menarik dirinya ke arah barat! Sekarang hanya menyisakan sinar kuning keemasan di cakrawala yang sangat luas ini.


Alda, Tama maupun Hana dan Hani sudah selesai makan siang di luar dan sekarang melanjutkan keluar untuk bermain.


Bagi Hana maupun Hani ini hal baru, karena selama hidupnya beberapa tahun yang lalu mereka berdua selalu bersembunyi dalam kegelapan! Hanya bayang-bayang mereka yang kala keluar untuk keperluan hidup saja di kala sing hari sudah cukup.


Apa lagi berbaur di keramaian seperti ini, sehingga membuat hati Hana yang memang sudah rapuh sebelumnya menjadi terusik kembali.


Sebenarnya gadis mana yang tidak ini di sayang dan di manja oleh keluarga maupun pasangannya! Hanya gadis keras kepala yang berteriak bahwa dia strong women, padahal dalam hatinya berharap ingin di lindungi dan di sayangi.


Namun karena sifat itu, mereka menyuarakan bahwa tidak butuh laki-laki! Hana tidak seperti itu, dia sebenarnya sangat membutuhkan sosok orang yang melindungi. Namun keadaan terlalu memaksa untuk dia hebat dan keluar sebagai pembunuh bayaran.


Sehingga dengan terpaksa dia menjalani itu semua! Namun setelah bertemu dengan Alda kehidupan dia berubah total, sehingga dia semakin tersentuh dengan itu semua.


Namun untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya dia pikirkan terhadap Alda dia tidak memiliki keberanian itu! Dia tidak ingin setelah dia mengungkapkan Alda kedepannya akan pergi.


Kini di hadapan keempat orang itu sangat ramai! Walaupun malam belum sepenuhnya datang namun kehidupan malam di sini datang lebih awal.


Keempat sekarang berada di Jalan Niseng! Jalan ini adalah pusat kehidupan malam di kota Mako, dari kasino, bar, pedagang kaki lima, hotel, rumah bordir, kasino di sini menjadi satu.


Dulu jalan Niseng di kuasai oleh kelompok kalajengking merah! Namun sekarang sudah menjadi kekuasaan dari kelompok Beruang Hitam.


Namun keramaian di sini tidak berbeda sama sekali dengan yang dulu maupun sekarang! Berbagai pihak di sini menjadi satu, kawasan jalan ini terkenal tidak aman namun semenjak berpindah kekuasaan sekarang lebih baik.


"Alda ada tempat seperti ini kamu tidak pernah memberitahu aku! Keterlaluan sekali." Keluh Tama sambil melihat kawasan jalan Niseng di depan dengan mata berbinar.


"Aku juga baru pertama ke sini!" Jawab Alda jujur.


"Benar apa kata tuan Alda, kami baru ke sini!" Hana langsung membela Alda dengan cepat.

__ADS_1


"Kakak lihat itu, banyak sekali pernak-pernik di sebelah sana! Ayok kita ke sana." Ucap Hani sama antusiasnya seperti Hana dan Tama.


"Tidak, aku ingin masuk ke Kasino itu!" Ucap Tama sambil menunjuk ke bangunan tinggi sekitar 5 lantai di depan mereka.


Di sana terdapat banyak lampu, dan dekor dengan latar mesin Kasino! Penampilan gedung itu sangat mencolok sehingga membuat orang sangat penasaran ingin melihat ke bagian dalam.


Termasuk Tama, dia ingin sekali melihat di dalamnya! Dia sudah membayangkan akan banyak gadis muda dengan menggunakan pakaian kelinci yang seksi dengan ****** ***** yang transparan dari luar, di tambah belahan dada yang dalam membuat dia semakin bersemangat.


Ini bukan karena dia menginginkan, hanya saja melihat seperti itu menurutnya sangat seru apa lagi di tempat keramaian seperti ini.


"Tidak, ke toko pernak-pernik terlebih dahulu!" Hani memotong ucapan Tama.


"Cukup! Kita ke tempat yang lebih dekat dulu!" Ucap Alda.


"Yes, terimakasih tuan Alda!" Ucap Hani dengan senyum cerah.


"Ya..!" Alda menjawab dengan kikuk, dia belum terbiasa dengan sikap Hani seperti ini sehingga dia tidak tahu harus merespon seperti apa.


"Ikuti saja mereka, paling hanya sebentar!" Jawab Alda dengan gampang.


Dia tidak tahu sifat wanita, jika sedang melihat yang mereka suka akan sangat lama seperti menunggu datangnya hujan di gurun pasir.


Akhirnya keempatnya memasuki toko pernak-pernik di sebelah kiri mereka! Tama dengan enggan tetap ikut masuk, padahal dia ingin bermain dengan taruhan besar namun apa daya akhirnya dia hanya bisa mengalah.


Setelah memasuki toko pernak-pernik, seseorang lelaki dengan pakaian rapi kira-kira berumur 35 tahun dan rambut di sisir ke belakang dengan sangat rapi juga, kumis tipis di tiap ujung sudut bibirnya begitu mengkilat jika saja ada lalat nempel di sana, lalat itu akan langsung terjatuh karena terpeleset olehnya.


"Nona-nona cantik! Tuan sekalian, selamat datang di toko kami! Kami siap melayani apapun yang kalian inginkan." Ucapan dengan elegan dan sangat hati-hati.


Jika saja dia ikut dalam adegan opra maka akan di soraki dengan sangat bertalenta.


"Aku akan lihat-lihat dulu!" Jawab Hani cepat, setelah itu dia langsung memutari rak di sana.


Banyak barang yang terbuat dari giok, sepertinya ini di buat dari barang serpihan milik pengrajin permata dari giok.

__ADS_1


Karena dari tekstur giok yang bagus, terlihat sang pengrajin yang juga terampil! Bahkan dengan bahan limbah saja bisa sangat menarik seperti itu.


"Tuan, berapa harga jepit rambut ini?" Ucap Hana kepala pedagang yang klimis itu.


"Nona cantik, penglihatan anda sangat bagus! Sepasang jepit rambut itu terbuat dari bahan berkualitas, itu terbuat dari giok tipe es yang langka! Sehingga harganya cukup 15 juta saja." Ucap pedagang itu dengan senyum cerah.


Hana mengerutkan keningnya, meskipun dia tidak tahu dengan macam-macam giok langka namun harga 15 juta untuk sepasang jepit rambut kecil menurutnya sangat mahal.


Alda dan Tama diam saja di pinggiran! Mereka berdua memerhatikan Hana dan Hani yang sedang memilih pernak-pernik dan bertanya pada pemilik toko.


Semenjak jalan Niseng ini di kuasai oleh kelompok Beruang Hitam! Mata uang yang di gunakan di jalan Niseng ini harus menggunakan mata uang lokal, mata uang asing lainnya tidak laku sehingga membuat nilai tukar mata uang lokal meningkatkan cukup tinggi di kota Mako baru-baru ini.


Karena banyak wisata dan para anak kaya dari luar kota Mako maupun negri sebrang yang masuk ke sini untuk bersenang-senang.


"Tuan, apa tidak keterlaluan benda sekecil ini 15 juta." Tanya Hana dengan menelisik pada orang itu.


"Tidak-tidak, itu barang bagus jika di jual di toko lain akan lebih mahal." Jawab orang itu dengan entengnya.


Padahal dia memang mengambil untung banyak sekali, jika menggunakan uang lokal hanya perlu kurang dari satu juta sudah cukup untuk membeli sepasang jepit rambut itu.


"Alda menurut mu 15 juta malah tidak?" Tanya Tama penasaran juga.


"Cukup mahal! Namun memang bahan itu giok tipe es, tapi sepertinya serpihan limbah dari pengrajin permata!" Jawab Alda, dia sedikit tahu tentang tipe-tipe giok.


Namun warna hijau itu kurang pekat tidak begitu bersih, sehingga Alda yakin bahwa giok itu hanya bagian pinggiran sisa pengrajin perhiasan.


"Bedebah, berani juga orang itu menawarkan harga tinggi! Apa orang itu tidak memandang kita?" Tama menggerutu, seketika keinginan untuk masuk ke Kasino lebih dulu hilang.


Dia malah kini tertarik berdebat dengan penjual yang cukup berani menawarkan barang rongsokan dengan harga mahal.


\=


...

__ADS_1


__ADS_2