
Chapter 072. GRUP BRIGHTON.
\=
Mereka semua yang melihat Alda mulai serius, langsung memerhatikan apa yang akan Alda sampaikan selanjutnya.
"Paman Jo, kalau boleh tahu. Nama belakang anda apa?" Alda bertanya seperti itu karena ingin tahu.
"Nama belakang saya! Adalah Brighton, itu nama keluarga saya." Jawab Jhonatan tanpa menutup sedikitpun.
"Apa itu asli keluarga yang berasal dari kota Mako ini?" Alda kembali bertanya.
"Benar, namun sekarang hanya tinggal aku seorang! Mereka semua sudah di bantai oleh kelompok kalajengking merah!" Jawab Jhonatan dengan tatapan sedikit kosong.
"Ahh, maaf paman Jo! Aku tidak bermaksud!" Alda langsung meminta maaf karena telah mengungkit luka lama.
"Tidak, masalah tuan! Aku sudah terbiasa dengan ini, karena kejadian itu sudah lebih dari 15 tahun." Paman Jo mencoba menjelaskan bahwa dia baik-baik saja.
"Kita gunakan nama perusahaan itu dengan nana belakang paman Jo! Kita namakan Grup Brighton." Alda mengusulkan seperti itu.
"Tuan Alda, kenapa?" Tanya paman Jo masih tidak mengerti.
"Karena paman Jo yang akan menjadi direktur utama Grup Brighton, sehingga lebih baik di namai seperti itu." Jawab Alda tanpa pikir panjang.
"Itu bagus paman Jo, karena akan sejalan dengan nama anda kedepannya!" Dion langsung setuju apa yang Alda sebutkan.
Hana dan Hani merasa tidak mempunyai hak untuk bersuara, sehingga dia setuju saja.
"Baiklah, kita namai itu saja! Besok paman harus mendaftarkan perusahaan kita, kita akan bergerak di bidang logistik karena sekaligus untuk mencari informasi." Alda mengemukakan apa yang sudah di pikirkan sejak lama.
Karena bergerak di bidang logistik akan menguasai suatu area kota, bahkan bisa menguasai arus pergerakan barang di negara.
"Baik tuan Alda, sekarang aku paham!" Paman Jo langsung setuju.
Setelah mendengarkan penjelasan singkat apa yang Alda inginkan, dia langsung paham kemana arah tujuan perusahaan ini di bentuk! Untuk memantau pergerakan perekonomian antar kota maupun sebuah negara.
Kini sudah sepakat, bahwa nama perusahaan yang akan mereka dirikan adalah Grup Brighton! Meskipun masih baru akan terdaftar dengan menyematkan nama Grup di depannya.
Selanjutnya Alda masih panjang lebar menjelaskan, apa yang harus mereka persiapkan! Setelah pembicaraan ini selesai, di akhir diskusi, Alda menyerahkan beberapa kartu bank terdaftar.
Itu adalah model utama dari perusahaan mereka yang akan di daftarkan! Alda juga menyuruh mereka mengakuisisi perusahaan serupa yang mengalami pailit.
__ADS_1
Sehingga bisa mendapatkan jaringan mereka, jadi tidak repot membangun jaringan baru! Nantinya hanya perlu perluasan saja.
Setelah berdiskusi panjang, orang-orang itu langsung istirahat! Karena besok akan melakukan pekerjaan melelahkan.
*
Pagi hari tiba, Dion dan paman Jo sudah pergi pagi-pagi sekali! Sedangkan Alda kini sedang olahraga di taman belakang villa.
Taman belakang ini langsung menghadap ke arah laut, sehingga debur ombak masih terdengar jelas di telinga Alda.
Saat melakukan gerakan beladiri, dia melihat Hana berjalan dari kejauhan di temani adiknya.
Keduanya masih menggunakan pakaian training, sehingga lekuk tubuhnya benar-benar di tonjolkan seperti sedang di pamerkan kepada mata-mata yang haus akan keindahan.
"Hana, apa kamu ingin berlatih tanding dengan ku?" Tanya Alda setelah keduanya semakin dekat.
Ini ide Alda yang terlintas spontan! Karena dia sudah menganggap bahwa kedua wanita itu sebagai rekannya setelah melalui beberapa hal sebelumnya, Alda adalah orang yang supel tidak terlalu memikirkan sesuatu kecil di masa lalu! Kecuali jika orang itu terus mengincar dirinya, maka Alda akan membalas berlipat ganda kepadanya.
Mendengar ucapan Alda yang ingin latih tanding dengannya dia tertegun, namun Hani yang di sampingnya menunjukkan senyum samar.
"Kakak, lawan saja! Jika dia terluka maka kakak bisa beralasan bahwa Alda terlalu lemah dalam latihan." Bisik Hani kepada Hana.
Hana mendengar adiknya berbicara seperti itu malah lebih tertegun lagi, "Apanya yang dia terluka, mungkin dia yang akan terluka bahkan terkapar di ranjang rumah sakit!" Hana berpikir seperti itu karena dia sudah pernah bertarung hidup dan mati dengan Alda.
Sehingga dia tahu, bahwa Alda sangat kuat! Namun adiknya berharap Alda terluka, itu seperti orang bermimpi di siang bolong.
"Tuan tapi, aku bukan lawan anda!" Ucap Hana jujur, dia tidak mengikuti saran adiknya.
"Tidak masalah, ini hanya latihan tanding, bisa juga untuk meningkatkan kekuatan kalian kedepannya!" Alda langsung membujuk dengan cara lain, karena dia tidak ingin memerintah mereka dengan tegas.
Tadi Alda sedikit mendengar bisikan Hani, terhadap kakaknya! Sehingga dia ingin bermain-main sedikit kepada Hani, agar anak ini tidak keterlaluan kedepannya.
"Hani, kamu juga harus belajar beladiri jangan selalu mengandalkan kakak mu!" Ucap Alda yang membuat Hani terkejut, namun setelahnya dia marah.
"Apa yang aku takutkan!" Jawab Hani dengan lantang, dia sudah sangat geram dari dulu terhadap Alda, karena orang ini sangat sulit di hadapi hingga keduanya kini seperti budak Alda.
"Baiklah, kalian maju berdua melawan aku!" Ucap Alda dengan menantang.
"Kak, ayo kita hajar dia!" Suara Hani kini tidak pelan lagi, melainkan lantang karena kesal! Dia sudah tidak peduli bahwa Alda akan dengar sekalipun.
"Hani, apa kamu sudah lupa?" Tanya Hana masih tidak percaya.
__ADS_1
"Lupa apa, aku hanya sangat kesal sekarang!" Jawab Hani hampir menangis.
Alda yang melihat Hani sangat emosi, dia tersenyum kecil lalu memperpanas keadaan.
"Hani, kamu hanya punya mulut besar! Jika tidak ada senjata tanpa Hana kamu pasti sudah mati dari dulu saat menjalankan misi dari organisasi pembunuh!"
Mendengar ucapan Alda yang sangat merendahkan, amarah Hani langsung meledak.
"Kurang ajar, akan ku bunuh kamu sekarang!" Bentak Hani sudah tidak peduli lagi.
Woosss..!
Hani langsung bergerak maju, memang di hadapan orang biasa Hani juga cukup kuat, namun di hadapan Alda gerakan Hani begitu lambat dan amatir.
"Hani...!" Hana langsung bergerak, untuk menghentikan Hani.
Namun dia sudah terlambat.
Krek..!
Alda langsung memegang kepalan tangan Hani lalu yang terulur dia memelintir lengannya ke belakang, tulang persendian itu langsung berubah bentuk.
"Aaaahhhhkk!" Jerit Hani karena kesakitan.
Buuk..!
Hana yang mau melepaskan adiknya langsung di pukul mundur oleh Alda, setelah itu Hana terpental beberapa langkah.
"Hani, jika kamu menghadapi musuh! Kamu sudah pasti mati." Ucap Alda masih dengan menahan tubuh Hani di pelukannya.
Karena setelah memelintir, Alda langsung mengunci pergerakan Hani! Seketika Hani tidak bisa bergerak.
Jangankan melawan, dia sudah kesakitan hampir menangis! Namun dia masih sangat malu setelah berpikir ulang tentang perkataannya tadi dan memikirkan perkataan Alda barusan.
Hana, bangkit dari tanah karena dia tadi terjatuh setelah di hantam bagian pundaknya oleh Alda.
"Tuan, kasihani Hani! Dia masih impulsif." Hana tidak berani melawan lagi, karena Alda seperti benar-benar akan membunuh mereka.
Menurut Hana ini bukan latih tanding.
\=
__ADS_1
...