
Chapter 128. HANYA BISA MENYERAH.
\=
Mendengar ucapan yang seperti memberikan perintah itu, tuan Luton mengerutkan keningnya! Lalu dia hanya bisa tersenyum pasrah.
"Aku sudah pernah menyelidiki dari mana asal Grup Brighton ini! Namun orang-orang kami hanya bisa menyerah." Ucap tuan Luton dengan jujur.
Dia tahu bahwa Grup Brighton tidak sederhana seperti kelihatannya! Sehingga orang-orang itu hanya bisa menyerah.
Karena setelah di periksa menyeluruh! Hanya mentok terhadap Jhonatan Brighton, sedangkan asal usul Jhonatan Brighton hanya orang biasa di kota Mako ini, datanya sudah di hapuskan 10 tahun hang lalu.
Sehingga yang kenal Jhonatan Brighton hanya orang-orang dari kelompok Beruang Hitam! Bahkan Gerry dan orang-orang lainnya dari kelompok kalajengking merah seperti tidak mengingat Jhonatan Brighton ini sehingga jejak Jhonatan Brighton terhapus permanen karena peristiwa 10 tahun yang lalu.
Sem Broko seperti tidak percaya, hingga akhirnya Rendy Luton melambaikan tangan dan meminta orang-orangnya untuk membawa hasil penyelidikan mereka.
Tidak butuh waktu lama, ringkasan dan berkas yang mereka kumpulkan sudah ada di atas meja di depan Sem Broko.
Dengan cepat, Sem Broko melihat berkas itu namun dia seperti tidak puas dengan hasilnya.
"Apa hanya ini?" Tanya Sem Broko kepala tuan Luton.
"Ya hanya itu! Makanya aku hanya bisa menyerah, bagaimana bisa aku membuat konflik dengan mereka tanpa dasar yang benar! Apa lagi di isukan Grup Champion Ship di gulingkan mereka karena masalah sepele di awal." Lanjut tuan Luton kepada Sem Broko.
"Sepertinya Grup Brighton tidak sesederhana itu!" Gumam Sem Broko, setelah itu dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomer di paling atas.
Setelah tersambung dia berjalan keluar tanpa memperdulikan Rendy Luton sama sekali! Jika saja itu tuan rumah jika ingin menelepon pasti meminta izin, sedangkan itu tamu namum lebih lancang.
Rendy Luton hanya mengeluh di dalam hatinya, lalu menggeleng kepalanya! Sekarang dia sudah yakin tidak akan membantu sedikit pun apa yang sedang di lakukan keluarga besar itu.
Setelah selesai menelpon, akhirnya rombongan dari Sem Broko pergi dari kediaman keluarga Luton.
*
Villa mewah milik Alda.
Kini Alda baru saja bangun, hari sudah pagi bahkan matahari sudah menunjukan titik tertingginya.
Setelah bangun Alda langsung pergi untuk mandi! Karena semalam tubuhnya kehujanan meskipun pakaian yang di gunakan sangat bagus namun tetap menimbulkan lengket.
Hanya 10 menit Alda sudah mandi! Dia keluar dari kamarnya seperti biasa dia menuju atap setelah bangun tidur.
__ADS_1
Alda tidak mementingkan Grup Brighton untuk sekarang! Karena dia yakin dengan kinerja paman Jo dan Rizal.
Setelah sampai di atap, Alda melihat Hana dan Hani sedang melakukan pertarungan duel! Dia mengamati dari kejauhan bagaimana kemajuan keduanya sampai sekarang.
"Hat .!"
Baammm..!
Buukk..!
Kedua tendangan dan pukulan saling beradu, dengan teriakan keduanya yang menggema di atap villa mewah itu.
Keduanya sudah bercucuran keringat, bahkan tangan dan kaki keduanya sudah kemerahan! Itu menandakan bahwa keduanya sudah berduel cukup lama.
Alda melihat itu mengangguk puas, pukulan itu sangat bertenaga jika di arahkan ke titik vital maka bisa membunuh orang dengan cukup cepat.
Keduanya tidak tahu bahwa Alda ada di sana! Apa lagi Hani dia sangat serius karena impian dia bisa beladiri seperti kakaknya akhirnya terwujud, meskipun kemampuan dia berada jauh di bawah kakaknya namun dia sudah sangat senang.
Setelah selesai, akhirnya Hana menyadari bahwa ada Alda di sana.
"Tuan Alda, sejak kapan tuan berada di sini?" Tanya Hana, nafasnya masih stabil tidak seperti Hani di belakangnya yang sudah sedikit memburu.
"Tidak terlalu lama, hanya melihat tiga gerakan terakhir kalian." Jawab Alda.
"Ini berkat bimbingan dari tuan Alda sebelumnya." Hana menjawab dengan senyum lebar.
Hani diam saja, sebenarnya dia masih sangat canggung dengan Alda.
"Di mana Dion, apa dia belum pulang setelah pergi semalam?" Tanya Alda tidak menanggapi pujian dari Hana.
"Aku tidak melihatnya, sepertinya memang tidak pulang!" Ucap Hana menjawab pertanyaan Alda apa yang dia tahu.
"Baiklah, lanjutkan kegiatan kalian! Sepertinya musuh besar dan tangguh akan datang tidak lama lagi." Ucap Alda sambil berbalik dan berjalan pergi.
Dia pergi dari sana karena ingin menuju ke ruang pribadi yang ada di dekat kamarnya! Karena saat ini dia ingin menelusuri kembali keluarga Button cabang ke 2.
Menurutnya sangat merepotkan berurusan dengan keluarga besar seperti ini, karena hubungan seperti itu begitu rumit akan kepentingan masing-masing keluarga besar.
"Apa kamu mendengarnya? Tuan Alda memuji kita!" Ucap Hana dengan wajah berseri.
"Aku yakin dia hanya melakukan omong kosong saja tadi!" Jawab Hani seperti acuh.
__ADS_1
Padahal dia juga senang, karena menurut Alda yang terbukti sangat hebat bisa memuji seperti itu, namun untuk berekspresi seperti kakaknya Hani tidak bisa karena dia wanita yang angkuh dengan kekuatan yang dia miliki.
Jika saja dia tidak di tekan oleh Alda berkali-kali, bahkan di tekan hingga tidak bisa menegakkan kepalanya Hani akan terus bersikap sombong.
Inilah karakter dia sebenarnya, akan selalu memandang lawan di bawahnya jika belum pernah mengalami kekalahan sebelumnya.
"Terserah kamu lah Hani!" Jawab Hana sudah tidak bersemangat lagi berbicara dengan adiknya.
Setelah itu Hana berjalan menjauh dan langsung turun ke lantai bawah! Hani melihat itu sedikit kebingungan.
"Kakak, kenapa kita tidak latih tanding lagi!" Ucap Hani sedikit berteriak.
"Tidak, sudah tidak bersemangat...!" Jawab Hana dari kejauhan.
Setelah itu hening, hanya panas matahari dan angin semilir yang tertiup dari arah pantai.
Hani hanya bisa mendesah, sebenarnya jika dia berbicara dengan kakaknya selalu kalah dan berakhir di ceramahi! Namun entah kenapa sekarang kakaknya seperti menjadi anak yang pendiam.
Akhirnya dia menyusul kakaknya kebawah, toh di sini juga sudah tidak ada gunanya lagi jika sendirian.
*
Alda sudah duduk di kursi di ruang pribadi miliknya, di hadapan dia sekarang ada komputer yang sudah menyala.
Alda terus melihat apa yang telah di dapatkan kemarin dari Grup Champion Ship dan Grup Dorman.
Seketika Alda terkejut.
"Sangat mengerikan, ternyata apa yang di ancamkan Lori Dorman sebelumnya benar bahwa dia memiliki pendukung keluarga kuat." Ucap Alda, namun di wajahnya tidak ada ketakutan sama sekali.
Malah dia semakin bersemangat, karena keluarga ini berasal dari keluarga besar yang ada di ibu kota.
"Sial, dana sebesar ini mereka mendapatkan dari mana sebenarnya?" Alda yang cerdas dan tahu bagaimana perusahaan beroperasi saja masih pusing dengan berita temuan ini.
Dia mengetik beberapa kali di keyboard lalu menekan enter, setelah sudah terkirim Alda mengeluarkan ponselnya, menekan nomor yang ada di kontak.
"Tama, boleh minta tolong bisa telusuri sumber dana yang aku kirim barusan sebenarnya dari mana?" Ucap Alda, setelah tersambung.
Hanya mengatakan itu saja setelahnya langsung di matikan sambungan telepon tersebut.
\=
__ADS_1
...