
Chapter 039. SINTA TERKEJUT.
\=
Waktu terus berlalu, rombongan dari keluarga Aditya terus menunggu di Hotel Kota Emerald! Mereka mendapatkan informasi dari tuan mudanya bahwa mereka akan sampai di Hotel Kota Emerald saat malam.
Sebenarnya mereka sedikit kesal, namun karena itu perintah dari Tama maka mereka tetap menunggu dengan sabar.
Sedangkan orang yang di tunggu masih santai di ruang VVIP arena pertarungan bawah tanah milik keluarga Setiadi! Sedangkan Riko dan Sinta sedang mengurus keperluan keluarga di arean bawah tanah ini.
"Sial, apakah kita bertiga akan menunggu di sini terus menerus?" Ucap Tama kepada keduanya.
"Tenang lah, kita tunggu Riko selesai dengan urusan mereka!" Jawab Alda sambil memejamkan matanya.
Dion masih menikmati minuman dan makan cemilan yang di sediakan, dia sesekali melihat pertarungan yang sudah berganti petarung beberapa kali.
Sedangkan Alda dan Tama sudah tidak tertarik dengan pertarungan anak-anak seperti itu, Dion juga tidak namum sudut matanya melihat seseorang yang mencurigakan bagi intuisinya.
Karena seseorang yang menggunakan jubah panjang itu sesekali menatap ruang VVIP yang di huni olehnya, sedangkan dia tahu bahwa ruang VVIP ini hanya dalam di lihat satu arah saja.
Namun orang itu kedapatan beberapa kali mengawasi, sehingga Dion curiga! Jadilah dia sambil minum dan makan cemilan sambil mengawasi orang itu.
Tak lama setelahnya Riko dan Sinta masuk! "Sebaiknya kita sekarang kembali, tuan muda Aditya sedang di tunggu kedatangannya!" Ucap Riko setelah masuk.
"Sial, aku sudah diam tadi kenapa kaku masih membahas itu?" Bentak Tama yang tidak terima.
"Baiklah, maafkan aku tuan muda!" Jawab Riko dengan raut wajahnya yang bersalah.
"Ternyata kamu minta di pukul!" Ucap Tama sambil bergerak maju dan akan memukul Riko.
Baaammmm..!
Alda langsung menerima pukulan Tama, dia menghalangi dan meredam pukulan Tama agar masalah ini biarlah menjadi sebuah candaan bukan hal serius.
__ADS_1
"Sudah lah, hanya hal sepele! Jika ingin bertarung di aren saja mumpung ini adalah tempatnya!" Ucap Alda dengan acuh tak acuh sambil menggenggam kepalan tangan Tama yang mengarah ke Riko.
Sinta terkejut melihat itu, dia tahu bahwa pukulan Tama barusan sangat kuat! Karena angin yang menerpa padanya sangat terasa dingin.
Sinta tau akan itu, karena dia bukan amatir! Saat melawan Riko di aula kediaman keluarga Setiadi dia tidak merasakan ancaman pada serangan yang Riko lancarkan namun saat merasakan serangan Tama tadi perasaan Sinta sangat-sangat terancam, dia tahu bahwa serangan itu bisa membuat dia tidak sadarkan diri jika terkena pukulan itu, atau bahkan lebih parahnya mati.
Setelah berkata demikian, Alda langsung melempar Tama mundur dengan dorongan kuat! Tama pun mundur setelah itu.
"Baiklah aku mengerti, sebaiknya biarkan masalah ini berlalu." Ucap Tama setelah terdorong mundur.
Riko hanya bisa tertawa meremehkan, namun dia juga tahu jika seperti ini di lanjutkan tidak ada gunanya! Suasana di sini tidak seperti saat di perguruan terpencil, mereka bisa berbuat sesukanya namun di sini berbeda.
"Ya, lupakan saja! Sebaiknya kita segera kembali, jika tidak kita bisa kemalaman." Riko juga menanggapi ucapan Alda.
Melihat keduanya tidak melanjutkan perseteruan ini, Alda pun mendesah pelan.
Sinta ingin mengatakan sesuatu namun dia bingung ingin mengatakan apa, sehingga dia hanya bisa memandangi Alda dan yang lainnya bergantian.
Kelima orang itu langsung pergi keluar, setelah keluar kelima orang itu segera menuju ke arah parkiran! Saat keluar, Dion melirik memperhatikan orang yang menggunakan jubah namun dia tidak membuat gerakan mencurigakan.
*
Hari sudah menjelang sore, kini matahari sudah mulai tenggelam dan sinarnya sudah meredup. Namun orang-orang yang mengintai Riko Setiadi masih saja menunggu dengan tenang di tempat persembunyian masing-masing.
Hana masih memperhatikan pembunuhan bayaran yang dari kelompok beladiri, dia terus menajamkan penglihatannya ke arah orang itu dan pintu keluar arena bawah tanah.
"Sial, kapan dia akan keluar! Apa informasi itu tidak benar? Seharusnya tidak mungkin karena informasi itu dari jaringan khusus." Keluh Hana mendesah pelan.
"Kaka, sepertinya ada pergerakan! Coba perhatikan pintu keluar." Suara Hani terdengar dari talkie walkie miliknya.
Setelah mendengar ucapan adiknya, dia mengeluarkan tropong kecil dari sakunya dengan cepat memperhatikan pergerakan orang yang membawa pedang di punggungnya yang sedang bersembunyi di tebing di sisi jalan keluar arena bawah tanah.
Setelah dia tahu bahwa ada pergerakan dia langsung mengalihkan perhatian ke arah keluar pintu gerbang sederhana arena bawah tanah.
__ADS_1
Dia melihat dua mobil off-road melaju dan berhenti di sana setelah itu kedua mobil itu membuka kaca depan masing-masing.
Di urutan depan mobil Mercedes Benz G-Class yang di naiki Alda dan Tama! Keduanya tidak bicara sama sekali, seperti sedang perang dingin.
Bahkan raut wajah keduanya begitu suram, itu buntut dari emosi yang di tahan keduanya! Karena di larang bertarung oleh Alda saat di dalam ruang VVIP.
Hana melihat itu sambil memastikan, setelah yakin dia tersenyum samar.
"Target keluar menggunakan mobil Mercedes Benz G-Class, persiapan penyerangan!" Ucap Hana pada adiknya.
"Di sini masih belum terlihat!" Ucap Hani.
Meskipun dia memegang senapan runduk, namun jarak tembak efektif senapan itu hanya 900-1,100 meter saja, sedangkan lebih dari itu senapan yang di bawa Hani tidak bisa di pastikan mengenai tergetnya dengan tepat, meskipun sering mendapatkan keberuntungan karena kemampuan menembak Hani sangat tinggi.
Jarak Hani dan pintu keluar dari arena bawah tanah memang lebih dari 2 kilometer, di tambah terhalang beberapa pepohonan yang berderet di sepanjang jalan apa lagi cahaya sudah redup di sana, sehingga jarak pandang semakin pendek.
"Tunggu orang-orang itu bergerak, kita ingin mengetahui kekuatan target!" Ucap Hana mengingatkan.
"Baik...!" Hani langsung menanggapi.
Sedangkan Riko tidak tahu tentang ini, karena suasana hatinya sedang tidak enak dan mereka berdua di dalam mobil dengan Tama.
Setelah keluar sekitar 300 meter dan jalan berbelok! Seketika ada seseorang yang berdiri di tengah jalan, wajah tertutup oleh kain hitam hanya terlihat matanya saja yang tajam.
Ciiiittttt...!
Seketika, Riko menginjak rem dengan kuat ban berdecit di aspal hingga meninggalkan bekas berwarna hitam! Karena Riko di depan mengerem dengan mendadak maka mobil di belakangnya juga melakukan hal yang sama.
"Ada apa sebenarnya?" Ucap Sinta kepada Dion.
"Sepertinya Riko di tahan seseorang di depan sana!" Jawab Dion santai.
"Apakah orang-orang pembunuh bayaran sudah menemukan kita, mereka sangat kompeten bisa begitu cepat menemukan keberadaan kita?" Alda terkejut karena tempat dia berada saat sini langsung di ketahui oleh musuh.
__ADS_1
\=
...