
Chapter 042. HANI MENYERAH.
\=
Hani hanya bisa tertegun, dia sekarang sangat bimbang karena keluarga satu-satunya hanya tinggal kakaknya itu! Sehingga dia sekarang begitu gelisah, bahkan memegang senapan saja dia gemetaran dan berkeringat.
Hatinya gelisah, dia sangat takut kakaknya di gorok dengan belati yang sudah menempel pada kulit leher kakaknya yang seputih salju.
"Bagaimana, apakah kamu akan tetap menembak? Jika tetap berniat menembak apakah kamu yakin peluru yang kamu tembakan lebih cepat dengan belati yang aku pegang?" Ucap Alda kembali.
Ucapan Alda sekarang terlihat sangat kejam, dia seperti seorang mafia kelas kakap! Sehingga dalam ancaman dia sangat mengenali mental lawan.
"Baiklah, apa yang kamu inginkan?" Ucap Hani masih dengan wajah tegangnya.
Dia masih terus menatap lurus ke arah kakaknya dengan teleskop di senjata miliknya! Hani terus berfokus pada belati yang ada di leher kakaknya itu.
"Cukup sederhana, kamu ke sini dan menyerah lah, maka aku berjanji tidak akan membunuh kakak mu ini." Ucap Alda kini nadanya terdengar sangat halus dan santai.
"Hani cepat kabur, jangan percaya ucapan dia!" Bentak Hana, dia takut setelah adiknya menyerah keduanya akan tetap di bunuh oleh Alda.
Sehingga dia berteriak seperti itu agar adiknya bisa selamat dari mara bahaya ini.
"Tidak kakak, aku tidak akan pergi tanpamu!" Hani langsung menolaknya tanpa berpikir.
Keduanya saling menyayangi satu sama lain, sehingga bagi Hani dia tidak ingin kakaknya terluka.
Begitu juga Hana, dia tidak ingin adiknya kenapa-kenapa karena kecerobohan dirinya sehingga dia langsung menginginkan adiknya langsung pergi.
Hana sudah siap, inilah resiko menjadi pembunuh bayaran! Jika target yang terbunuh maka dia selamat namun jika terget lebih kuat maka dia sudah siap menerima akibatnya.
"Hani, kamu dasar bodoh! Cepat pergi setelah aku mati maka kamu bisa membalaskan dendam kita." Bentak Hana kembali.
Alda mendengarkan keduanya saling berdebat, setelah cukup lama dan mereka saling menyalahkan dan saling peduli akhirnya Alda sudah bosan.
"Baiklah, bisakah kalian berhenti saling berdebat! Aku cuma ingin kalian berdua menyerah, maka aku tidak akan membunuh kakak mu. Tenang saja aku berjanji!" Ucap Alda bersungguh-sungguh.
"Baiklah, aku menyerah! Tapi kamu harus menepati janjimu." Hani akhirnya menyerah.
__ADS_1
Hani menyerah karena dia percaya dengan ucapan Alda, karena jika tidak maka dia yakin kakaknya sudah mati sejak awal tanpa perdebatan panjang seperti sekarang.
"Bagus, kamu ke sini sekarang!" Ucap Alda kepada Hani lalu dia langsung mematikan sambungan sinyal dari talkie walkie Hana.
Riko, Tama dan Sinta masih bersembunyi di belakang mobil mereka masih mengawasi percakapan Alda dengan Hani.
Setelah keduanya melakukan kesepakatan, mereka akhirnya bernafas lega dan segera keluar.
Dion juga kembali, dia kembali membawa potongan kepala pembunuh bayaran yang tadi sempat kabur di awal.
Dion menenteng kepala yang kini buntung berlumuran darah dengan acuh tak acuh, setelah itu dia langsung melemparkan ke hadapan Alda dan yang lainnya yang kini sudah bergabung.
"Tadinya aku ingin membawa tubuh utuh pembunuh bayaran ini, namun cukup berat sehingga aku hanya membawa kepalanya saja sebagai bukti bahwa tugas sudah selesai!" Ucap Diao dengan santai dan menepuk-nepuk tangannya satu sama lain setelah memegang rambut dari kepala yang buntung itu.
"Uhh...!" Hana ingin muntah rasanya, dia juga sudah membunuh cukup banyak orang namum setelah melihat metode membunuh Dion dia sangat terkejut.
Karena kepala itu terputus bukan karena di sayat dengan benda sangat tajam! Namun dengan cara di pelintir hingga putus.
Hana berpikir, pasti itu di pelintir dengan tenaga yang sangat besar bisa langsung koyak mengerikan seperti itu.
"Sial, seharusnya kamu membawa bukti yang lebih sederhana jangan menggunakan kepala orangnya juga!" Riko menimpali.
"Itu kurang menyakinkan, jika seperti ini nyata tidak bisa di bantah lagi." Jawab Dion setelah itu dia diam.
Tama hanya bisa diam dan menggelengkan kepalanya tanda dia tidak ikut campur.
*
Setelah cukup lama mereka mengobrol, mobil sedan BMW seri 7 berwarna hitam langsung berhenti di depan mereka semua.
Hani dengan cepat keluar dari mobil itu lalu melihat kakaknya dengan cemas.
"Cepat lepaskan kakak ku, karena aku sudah menyerah dan menuju ke sini!" Hani langsung berbicara dengan gugup.
"Siapa yang bilang aku ingin melepaskan kalian dengan mudah, aku hanya berjanji tidak akan membunuh kakak mu ini!" Alda langsung menepis keinginan dari Hani.
"Kamu...?" Hani sampai kehilangan kata-kata.
__ADS_1
Saking gugupnya tadi, dia sampai lupa bahwa Alda berjanji tidak akan membunuh kakaknya saja, bukan berjanji akan melepaskan mereka berdua.
"Dion, boleh minta bantuan! Sinta senapan runduk dan senjata mereka lainnya!" Ucap Alda kepada Dion.
"Ok tidak masalah!" Jawab Dion cepat, lalu dia melangkah ke arah mobil milik Hani.
Senjata senapan runduk langsung di amankan oleh Dion, setelah itu dia mengeledah tubuh Hani tanpa canggung sedikit pun.
Padahal Hani sendiri merasa malu, karena semua lekuk tubuhnya di pegang oleh Dion! Bahkan sampai gunung kembarnya yang cukup besar itu Dion periksa dengan teliti hingga tidak ada yang bisa di sembunyikan.
Sinta yang melihat kelakuan Dion itu tanpa canggung sedikit pun melakukan itu, membuat dia tertegun dan dia juga sedikit malu meskipun bukan dia yang di geledah.
"Sudah tidak ada apa-apa lagi, apakah sudah cukup?" Ucap Diao kepada Alda.
"Ya, ya cukup! Aku yakin pemeriksaan yang kamu lakukan pasti tidak ada yang terlewatkan." Ucap Alda sedikit canggung.
Dia tidak tahu akan seperti ini, jika tahu akan seperti tadi dia lebih memilih Sinta yang menggeledah tubuh Hani.
"Setelah itu, kamu keluarkan semua senjata tersembunyi yang kamu miliki, apa perlu Diao yang menggeledah?" Alda berucap kepada Hana.
Dia langsung melepaskan Hana begitu saja dia tidak takut Hana akan melawan kembali! Karena di depan kekuatan absolute maka kekuatan kecil tidak ada apa-apanya.
"Baiklah, aku akan mengeluarkan sendiri!" Jawab Hana cepat.
Dia juga canggung saat melihat adiknya di geledah seperti itu oleh Dion, sampai sekarang dia melihat wajah Hani yang semerah tomat.
Kini Hani hanya diam tanpa mengatakan sepatah katapun, dia sudah sangat canggung dengan kelakuan Dion.
Kini Hani berpikir, bahwa orang-orang ini semua sangat berbahaya! Terutama Alda dan Dion, keduanya tidak bisa di kelabui sedikit pun.
Ini membuat dia dan Hana hanya bisa pasrah menurut perintah Alda.
\=
Semuanya, dukung novel ini dengan cara like dan komentar di setiap bab yah terimakasih 🙏.
..
__ADS_1