Pewaris Tersembunyi

Pewaris Tersembunyi
036 SEHARGA 10 MILIAR.


__ADS_3

Chapter 036. SEHARGA 10 MILIAR.


\=


Arena pertarungan bawah tanah milik keluarga Setiadi, di bagian lorong lebih dalam Arga, Riko dan yang lainnya masuk ke ruangan khusus juga yang sudah di siapkan oleh pengurus arena pertarungan itu.


Kini kelima orang ini di antar oleh pemandu cantik dari arena pertarungan bawah tanah ini, itu karena Sinta sudah menunjukkan kartu yang di anggap prioritas bagi keluarga yang memiliki kuasa penuh atas arena pertarungan bawah tanah.


Sehingga bagi pelayan itu, rombongan Alda dan yang lainnya adalah tuan dari arena pertarungan bawah tanah.


"Tuan-tuan dan nona, di sini akan berlangsung pertarungan antara pendatang baru dengan juara bertahan urutan ke 10 di peringkat teratas." Ucap pemandu cantik itu.


"Apakah yang di layar itu orang akan bertarung?" Ucap Alda sambil menunjuk layar besar yang ada di sudut ruangan khusus yang di tempati saat ini.


"Ya benar tuan, mereka orangnya! Orang yang lebih kecil adalah pendatang baru, sedangkan yang badannya lebih besar juara bertahan di peringkat 10." Pemandu cantik itu menjelaskan apa yang di tanyakan Alda.


"Cukup menarik!" Dion menanggapi.


"Apa itu taruhan yang di fasilitasi oleh arena bawah tanah ini?" Tama melihat di sudut layar itu ada perbandingan harga taruhan untuk keduanya.


Sang pendatang baru adalah 1 banding 2, sedangkan untuk juara bertahan adalah normal 1 banding 1.


"Ternyata taruhan berbeda perbandingan, sial aku akan bertaruh untuk si pendatang baru!" Ucap Tama langsung saja, setelah melihat itu langsung tertarik.


Meskipun prediksi kemenangan pendatang baru adalah di bawah 30% namun Tama tertarik, karena dia tertarik untuk menang dengan uang 2 kali lipat.


"Kenapa tuan tertarik dengan pendatang baru?" Ucap pemandu cantik itu dengan semangat.


"Karena aku tertarik dengan taruhan yang 2 kali lipat itu, ha-ha-ha...!" Setelah berucap Tama tertawa senang.


"Uuhhhh...!" Pemandu cantik itu hanya bisa tertegun hampir saja dia hendak menghardik dengan ketololan Tama, namun tidak jadi.


"Sial, kamu masih memikirkan uang taruhan saat menang!" Keluh Riko.


Pada saat mereka mengobrol, ponsel Sinta berdering singkat! Sinta tahu itu adalah nada dering menerima pesan.


Akhirnya Sinta membukanya, setelah di buka dia hanya bisa mendesah pelan.

__ADS_1


"Nona maaf biarkan kita berdiskusi, nanti jika ada keperluan kami akan panggil kembali!" Ucap Sinta kepada pemandu cantik arean pertarungan bawah tanah itu.


"Baiklah nona, permisi jika seperti itu!" Ucapnya lalu pergi dengan cepat setelah memberikan hormat kepada mereka.


Sinta langsung memberikan ponselnya kepada Riko!.


"Kak lihat, kepala kamu di hargai hanya 10 miliar saja jika ada yang berhasil membunuh mu!" Ucap Sinta sambil mengulurkan ponsel di tangannya.


"Ha, apa?" Tanya Riko terkejut.


Dia langsung mengambil ponsel Sinta dengan cepat, lalu melihat informasi yang tertera di ponsel itu. Setelah melihat dia langsung tertegun dan akhirnya wajah Riko memerah karena marah.


"Bajingan, siapa yang berani-beraninya mengincar nyawaku hanya dengan harga 10 miliar rupiah, benar-benar penghinaan!." Bentak Riko keras, karena sangat marah.


"Kamu kan baru saja turun gunung, aku yakin itu pasti ulah keluarga Sanggoro!" Alda menanggapi informasi itu.


Meskipun dia tidak melihat dari pemikirannya langsung tercetus bahwa pelakunya keluarga Sanggoro.


"Keluarga Sanggoro sialan, aku diam bukan berarti bisa di rendahkan!" Riko masih sangat marah.


Pasti yang datang adalah pembunuh kelas teri dan itu akan mengganggu ketenangan hidupnya saja! Riko adalah maniak bertarung namun jika yang datang adalah orang-orang rendahan dia sangat malas untuk berurusan dengan mereka semua, inilah yang membuat dia sangat marah.


Jika saja kepalanya di hargai lebih tinggi 5 apa 10 kali lipat, pasti yang datang orang-orang dengan kemampuan tinggi dari seluruh dunia.


Maka bagi Riko ini adalah tantangan yang sebenarnya, setiap detik dan menitnya bertaruh nyawa.


"Ternyata keluarga Sanggoro terlalu meremehkan kita, apa perlu aku yang bergerak?" Ucap Dion yang sedari tadi diam saja.


Dia juga sependapat dengan Alda, bahwa ini pasti ulah keluarga Sanggoro! Jika mereka salah sasaran, maka salahkan diri sendiri karena berani membuat masalah dengan mereka.


"Tidak Dion, kita harus bergerak bersama! Jika hanya kamu sendiri, maka di mana serunya?" Riko tidak setuju.


Menurut dia yang membuat masalah di awal, sehingga dia juga harus ikut jika tidak maka ini namanya lari dari tanggung jawab.


*


Beberapa waktu lalu sebelum Alda, Riko dan yang lainnya belum pindah arena dan ruangan khusus.

__ADS_1


Di sudut tribun penonton arena bawah tanah yang akan di jadikan arena pertarungan petarung pendatang baru dengan petarung rangking 10 besar, duduk orang yang menggunakan jubah panjang wajahnya di tutupi topi yang lebar sehingga susah untuk di kenali.


Orang ini sedang melihat informasi di ponselnya, dia terus menggeser-geser layar ponsel itu.


"Informasinya sangat sedikit! Seharusnya harga ini tidak wajar, aku yakin orang ini seharusnya jauh lebih mahal." Gumam dia setelah membaca informasi di ponselnya.


Apa lagi foto yang di tampilkan tidak terlalu terang, hanya potret dari camera cctv belaka, sehingga gambar itu kabur kurang jelas.


Sedangkan di bawah informasi itu ada tiga orang lainnya yang hanya di tampilkan nama singkat tanpa umur dan foto yang ada.


Sehingga dia yakin, bawah orang-orang ini jika mereka bukan buron dari sebuah negara maka orang ini sangat hebat! Hingga tidak ada informasi secara rinci.


Nama Riko Setiadi saja yang lengkap, sedangkan Alda, Tama dan Dion hanya nama depannya sehingga untuk mengenal mereka sangatlah sulit.


Dia langsung menghubungi nomer yang tertera dalam kontaknya.


"Aku tidak akan mengambil pekerjaan yang terlalu beresiko tinggi!" Ucap orang itu setelah sambungan telfonnya terhubung.


"Apa kamu bodoh, ini kesempatan bagus karena kamu sedang berada di kota Emerald! Kapan lagi mendapatkan mangsa yang besar seperti ini?" Tanya orang di seberang sana.


Nada suaranya terdengar marah, namun lebih banyak di tahan agar tidak terlepas.


"Aku yakin, orang-orang ini tidak akan mudah di tangani! Sehingga aku tidak memilih untuk bekerja." Jawab orang itu dengan tegas.


Setelah itu langsung di matikan sambungan telfonnya, dia menelfon tadi hanya akan menegaskan bahwa dia yakin bahwa informasi yang beredar di drake web itu tidak benar.


"Sial, aku sedang berlibur masih saja harus bekerja! Jika saja informasi yang ada lebih lengkap aku masih bisa untuk melihat situasinya, namun Ini sangat sedikit bagaimana aku akan menyelidikinya. Orangnya saja aku tidak tahu di mana mereka berdua?" Keluhannya.


Meskipun orang-orang itu adalah kelompoknya dan seniornya, namun dia tidak terlalu mengikuti perintah.


Deegg...!


"Sial, sepertinya itu dia?" Gumam dia dengan tidak yakin.


\=


...

__ADS_1


__ADS_2