
Chapter 196. SARAN RIKO.
\=
Mobil yang di kemudian Alda kini sudah masuk ke dalam kediaman milik Alda, kali ini lancar tidak ada gangguan apapun.
Setelah mobil sedan itu masuk ke dalam parkiran bawah tanah villa mewah itu, di atap villa semua orang sudah menunggu kedatangan Riko.
Itu karena mereka sudah di beritahu oleh Alda bawah Riko sudah tiba.
Riko keluar terlebih dahulu dari mobil, seketika dia melihat ada beberapa mobil yang ringsek dan di sana! Bahkan ada beberapa tembakan yang sudah menembus bodi mobil itu.
"Hei, Alda apa sekarang kamu mempunyai hobi mengoleksi mobil rongsokan?" Ucap Riko.
Dia bertanya seperti itu serasa tidak punya salah, namun karena di tanyakan oleh Riko yang memiliki badan tegap dan besar dengan wajah sangar dan suara yang berat sehingga ucapan itu tidak seperti sedang bercanda.
"Itu karena di serang beberapa pembunuh bayaran saat kita sedang berada di jalan!" Jawab Alda, seperti tidak menganggap Riko sedang bercanda.
Sehingga dia jawab dengan serius, karena memang mobil itu rusak akibat erangan para pembunuh bayaran.
"Sial, siapa lagi orang yang berani menargetkan kita! Sebaiknya kita tunggu para pembunuh itu di villa saja dalam beberapa hari. Jika mereka semua tidak datang maka kita cari mereka di segala pelosok." Riko langsung memberikan saran.
Menurutnya itu saran yang paling bagus, padahal menunggu datangnya kematian yang datang dari kegelapan.
Jika yang mendengar saran Riko yang tidak masuk akal itu adalah orang lain! Mereka sudah pasti akan ketakutan dan bergidik, lalu mencibir Riko karena dia sangat percaya diri.
Bahkan yang paling konyol, dia berniat memburu pembunuh bayaran di segala pelosok! Ini pemikiran orang bar-bar.
"Jika kita menunggu beberapa hari itu masih masuk akal! Tapi jika memburu para pembunuh bayaran itu lupakan saja, apa kamu pikir kita tidak ada kerjaan?" Ucap Alda, namun sambil melangkah masuk ke dalam villa.
Riko mengikuti Alda dengan cepat, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Alda itu! Karena memang mereka tidak sedang menganggur.
"Baiklah, aku ikut pengaturan mu saja!" Jawab Riko.
Hingga akhirnya, Riko si kepala batu yang sok-sokan memberikan saran akhirnya ikut pengaturan Alda saja.
Jika yang mendengar saran itu adalah Tama di sana, sudah pasti ucapan dari Riko itu akan di bantah dan Tama berusaha membuat Riko marah.
__ADS_1
Keduanya berjalan ke dalam villa, namun setelah masuk ruang tengah dan yang lainnya sepi! Akhirnya Alda langsung pergi ke atap tempat olahraga setiap hari.
Saat keduanya sampai di atap, ada suara yang langsung menegur.
"Wah, tuan muda keluarga Setiadi akhirnya datang ikut berpartisipasi dalam kesenangan! Ha-ha-ha bagus-bagus."
Saat Riko melihat, ternyata yang berucap adalah Tama.
Saat Riko akan menjawab! Alda berucap terhadap Riko lebih dulu.
"Heh, bilang tuan muda ke orang lain! Padahal saat dia ke sini menggunakan jet pribadi dan ada pengawal, di tambah pelayanan tua lagi, itu yang namanya tuan muda." Ucapan Alda membuat Riko yang ingin marah tidak jadi dan langsung tertawa terbahak-bahak.
"Ha-ha-ha-ha-ha...! Itu baru namanya tuan muda!" Ruko tertawa lepas, karena menurutnya itu hal paling konyol.
Dion juga sempat tertawa, padahal dia sedang serius mengangkat beban di dua tangannya.
Hana dan Hani yang ada di sana hanya bisa tersenyum dengan menutup mulutnya, setelah mabuk semalam Hani langsung segar kembali.
Wajah Tama langsung memerah, dia tidak paham kenapa sekarang mulut Alda malah semakin mudah membongkar sesuatu yang tabu.
Padahal dari dulu saat di perguruan tinggi Alda dan Dion adalah orang yang paling pendiam.
"Baiklah, kita sambut kedatangan Riko dengan makan bersama!" Alda langsung mencairkan suasana.
Dia juga merasa tidak enak di hatinya! Biasanya Tama tidak pernah mati kutu seperti ini, namun karena ucapan dirinya yang memang benar adanya malah Tama langsung terdiam membisu.
Riko melihat Hana dan Hani, dia berucap kepada keduanya.
"Jika saja sinta ikut ke sini dan dia tahu bahwa kalian berdua masih bersama Alda dan Dion pasti dia akan marah dan menghajar kalian!"
Mendengar ucapan Riko itu, Hana hanya terdiam dan menundukkan wajahnya! Sedangkan Hani terlihat sedikit marah namun dia juga tidak berucap apapun.
"Eh, mereka tinggal di sini atas perintah ku! Seharusnya Sinta tidak berhak marah." Ucap Alda.
"Ya, harusnya seperti itu! Tapi anak itu selalu keras kepala." Jawab Riko.
"Sudah tidak perlu di bahas, sebaiknya kita akan makan-makan di mana? Apa di sini saja kita minta bawakan makanan kepada Rizal!" Dion berucap agar tidak membuat suasana suram kembali.
__ADS_1
"Itu bagus! Kita sambil menunggu pembunuh bayaran, apa mereka berani datang atau tidak? Jika mereka datang akan aku hajar sampai mati, sudah lama tangan ini tidak mematahkan tulang! Kretakk..." Jawab Riko sambil meremas tangannya sendiri hingga suara berderak yang renyah di atap villa itu.
"Baik, aku hubungi Rizal terlebih dahulu!" Jawab Dion.
Dion berjalan ke meja di mana dia menaruh ponselnya! Setelah itu dia sibuk minta Rizal menyiapkan semua kebutuhan makanan untuk di bawa ke villa mewah milik Alda.
Sekarang Grup Brighton sudah sangat besar, bahkan sekarang merambah ke perhotelan dan beberapa resto beser di kota Mako.
Padahal Rizal dan Jhonatan Brighton sedang sibuk, karena rencana proyek itu! Apa lagi Grup Brighton sebagai pelopor utama dari proyek besar, salah satu dari tiga proyek yang di luncurkan di kota Mako baru-baru ini.
Namun setelah di panggil Dion, pekerjaan semua yang sedang di kerjakan langsung di tinggalkan malah mengutamakan tugas yang di berikan oleh Dion itu.
Riko berkeliling di tempat latihan Alda itu, dia tidak menyangka di sini banyak peralatan modern untuk berolahraga dan kebugaran.
Namun sebenarnya bagi Alda dan yang lainnya itu semua sudah tidak berguna! Karena level mereka semua sudah di atas kegunaan dari alat itu.
Bagiamana bisa, seseorang yang di latih beladiri dengan peralatan alam yang begitu liar bisa di sandingkan dengan peralatan modern seperti itu yang buatan pabrik.
"Apa semua ini masih berguna untuk kalian? Padahal ini sangat ringan." Ucap Riko, setelah mengangkat barbel yang paling besar di sana.
Menurut dia ini sangat ringan, bahkan meskipun itu di gabung hingga 20 kali lipat banyaknya dia bisa mengangkat dengan mudah.
"Tidak juga, itu hanya untuk merenggangkan otot-otot di pagi hari." Ucap Alda menjawab pertanyaan Riko.
"Tapi itu masih berguna, karena tuan muda seperti Tama setelah pulang ke rumah langsung turun level bertarung dia." Dion juga ikut berucap setelah selesai menelpon Rizal.
"Apa seperti itu, bener-bener pecundang!" Jawab Riko sambil mencibir.
"Belum tentu, mari kita bertarung beberapa jurus!" Jawab Tama tidak takut dengan Riko, karena dulunya memang mereka berdua satu level.
"Itu yang ku tunggu dari tadi!" Jawab Riko dengan sumringah.
Hana dan Hani tidak tahu, kenapa dua orang itu jika bertemu seperti air dan minyak selalu tidak menyatu! Namun saat menjalankan misi bersama, malah langsung akur.
Sehingga Hana pikir misi itu bagi Riko dan Dion seperti sabun yang kegunaannya bisa menyatukan minyak dan air!.
\=
__ADS_1
\=
...