
Chapter 151. TUJUAN AKHIR CERTEO BUTTON.
\=
Jika saja Keluarga Button cabang 2 ini tahu yang melawan keluarga Jink adalah Alda Button, makan tidak hanya Certeo Button yang akan mulai bergerak memburu Alda! Maka keluarga utama Button juga akan bergerak melindungi Alda.
Karena Charles Button juga tidak diam saja, setelah mengamati selama 10 tahun ini dia sudah banyak tahu, bawah adiknya bertanggung jawab besar atas kematian anaknya dan menantu perempuannya.
Namun semuanya sudah terlambat, bukti itu sudah semakin kabur sehingga dia hanya bisa meratapi kebodohan.
Sehingga jika sama-sama keluarga Button ini bersitegang, maka semua kota akan mendapatkan dampaknya! Bahkan bisa menimbulkan krisis dan peperangan antar kelompok, ini juga salah satu pertimbangan tuan besar Button.
Akhirnya, kedua orang tua dari keluarga Button cabang 2 dan keluarga Jink mengakhiri panggilan teleponnya! Meskipun mereka sekutu masih ada persaingan bisnis yang enggan keduanya bagi rata maupun bekerjasama dengan menyeluruh.
"Sial, ternyata benar-benar bukan keluarga utama di ibu kota pelakunya! Lalu siapa mereka itu?" Keluh Ron Jink.
Dia menatap kosong ke arah luar, di sana ada taman yang luas! Kolam ikan yang sangat alami dan udara yang dingin, dedaunan dan bunga-bunga di taman itu kini sudah mulai terlihat embun di atasnya, menandakan sudah menjelang pagi.
Dengan raut wajah kusut, Ron Jink memejamkan matanya! Dia kini bersandar di kursi depan meja teh, inilah tempat dia bersantai dan banyak memikirkan hal saat keadaan di luar sangat runyam seperti sekarang.
*
Di kota Mako.
Hari sudah pagi! Meskipun matahari belum bersinar terik namun orang-orang sudah melakukan rutinitas sehari-hari mereka! Pekerjaan yang banyak sudah menunggu mereka, karena masyarakat sekarang jika tidak memiliki pekerjaan maka orang itu akan di rendahan.
Jangankan yang tidak memiliki pekerjaan, bahkan yang memiliki pekerjaan saja tetap di rendahan jika taraf hidup mereka berada di golongan masyarakat bawah.
Itulah realita hidup, kadang memang keras bagi orang-orang yang berada di bawah namun seperti mudah untuk kalangan atas.
Pagi hari, di villa mewah milik Alda.
Baammm, buk..!
Suara benturan keras terdengar di atas villa mewah, di sana sedang ada pertarungan.
Dua orang sedang melakukan latihan rutin, seperti yang di lakukan saat di perguruan terpencil! Alda dan Dion kini sudah selesai melakukan pelatihan beberapa set pertarungan bebas.
__ADS_1
Keduanya berhenti, karena menurut mereka sudah cukup untuk latihan pagi ini.
"Di mana Tama?" Tanya Alda setelah membersihkan keringat di wajahnya menggunakan handuk yang hangat.
"Tidak tau, mungkin masih tidur!" Jawab Dion, dia sedikit mengurut lengannya dan kepalan tangan yang sedikit memerah itu.
"Tidur, tidak biasanya dia seperti itu di saat kita di perguruan terpencil?" Tanya Alda sedikit bingung.
"Entah lah, coba saja cek kamarnya! Aku yakin dia masih tidur." Dion penuh keyakinan dengan ucapannya itu.
"Kita periksa..!" Alda berbicara terus langsung melangkah untuk melihat kamar Tama.
Akhirnya keduanya sampai di kamar Tama! Saat Alda hendak membuka pintu itu terkunci dari dalam.
"Seperti anak gadis saja kamar di kunci! Biasanya juga tidur di Dojo pelatihan." Alda langsung mengajak Tama.
Keraak..!
Hanya dengan tekanan sedikit dan dorongan tangan dari Alda, besi pengunci pintu itu bengkok lalu Alda dan Dion masuk dengan cepat.
Jika ada yang melihat kelakuan keduanya! Semua orang akan terkejut, bagaimana tidak kunci kamar itu sangat kuat. Karena memang yang terbaik dari kebanyakan kunci di pasaran di karenakan villa ini adalah villa mewah sehingga tingkat keamanan begitu tinggi. Namun itu semua di bobol Alda hanya dengan mendorong ringan.
Saat Alda dan Dion masuk, memang Tama masih ngorok! Dia tidur dengan memeluk guling sedangkan selimut sudah jatuh ke lantai.
"Sial, ternyata kehidupan taun muda begitu enak! Sehingga orang ini sampai lupa apa yang sudah di rasakan dalam 10 tahun terakhir." Ucap Alda sambil berjalan ke arah Tama yang sedang tertidur lelap.
Taakk...!
"Aaaahhhhkk...!" Keluh Tama sambil memegangi keningnya yang di getok dengan jari telunjuk Alda.
"Ini sudah pagi, apa kamu tidak akan pernah mengurus apa yang di perintahkan kakek mu?" Tanya Alda.
"Alda....! Bisa pelan sedikit tidak membangunkan orang tidur?" Keluh Tama sedikit membentak.
"Itu sudah sangat pelan, jika keras tengkorak kepala mu bisa berlubang!" Jawab Dion yang di samping Alda.
"Ya, ya percaya! Tapi jangan di getok sekeras itu jika aku lupa ingatan bagaimana?" Tama masih mengeluh.
__ADS_1
"Sebelum di getok seperti itu saja kamu sudah lupa ingatan, bahkan kejadian 10 tahun yang lalu! Apa hidup menjadi tuan muda begitu enak?" Alda kembali mengucapkan kata tersebut, agar sekarang Tama bisa dengar.
"Sudah sepagi ini masih tidur, apa setelah tidak bertemu orang tua itu beberapa lama kamu sudah lupa aturannya?" Cerca Alda kepada Tama.
Padahal usia Alda jauh di bawah Tama, namun dia seperti memarahi orang yang lebih muda. Sedangkan Dion hanya geleng-geleng kepala saja di samping mereka.
"Baiklah, kamu menang!" Ucap Tama lalu dia bangun dan masuk ke kamar mandi.
Jika yang berbicara seperti itu adalah Riko, Tama pasti akan membalas ucapan yang akan membuat Riko menjadi emosi, sehingga akhirnya keduanya aku pukul seperti biasanya! Namun dengan Alda dan Dion dia lebih memilih mengalah.
Setelah Tama masuk ke kamar mandi, Alda dan Dion segera keluar, mereka menuju meja makan untuk sarapan pagi.
Sesampainya di sana, Alda dan Dion sudah melihat dua wanita cantik yang sudah menunggu untuk sarapan.
Hana seperti sedang menantikan ini! Dia mengenakan pakaian terusan berwarna kulit tanpa corek sehingga sekilas seperti telanjang bulat.
Namun Hana seperti tidak terganggu sedikitpun meskipun Alda memandang dia dengan sedikit linglung! Meski bagaimanapun Alda dan Dion adalah laki-laki normal.
Jika perlakuan Alda bisanya seperti tidak merespon, bukan karena dia tidak tertarik namun itu karena dia sedang mengurus apa yang dia pentingkah! Jadi hal-hal yang akan menghambat kedepannya Alda tidak begitu memperhatikan.
Sedangkan Dion, setelah bertemu Luna! Perasaan yang dulu pernah dia rasakan kini kembali lagi, apa lagi Luna seperti tidak berubah malah sekarang seperti benar-benar menunjukkan harapan di dekati Dion.
Hani hanya diam, setelah itu dia memperhatikan Alda dan tidak tahan sehingga dia berucap.
"Apa taun Alda tertarik dengan kakak ku?" Matanya menelisik ke mata Alda.
"Bufff..!" Hana yang sedikit gugup di pandang Alda seperti tadi, dia mengambil gelas dan mencoba minum.
Namun dengan ucapan adiknya itu, Hana langsung menyemburkan air yang beru saja masuk ke dalam rongga mulut kecilnya.
Wajahnya Hana terlihat sangat canggung wajahnya sedikit memerah, akhirnya Alda bersuara.
"Jangan terlalu di pikiran! Aku tertegun sejenak karena melihat pakaian mu seperti itu." Ucap Alda mencoba menjelaskan.
Akhirnya Hana sadar, dia melirik pakaian terusan yang di kenakan sekarang! Setelah itu dia makin malu hingga akhirnya wajah dia sudah merah padam.
Dengan cepat, Hana berlari ke kamarnya dia tidak memperdulikan tatapan orang-orang di sana.
__ADS_1
\=
...