Pewaris Tersembunyi

Pewaris Tersembunyi
271 ALIANSI MUSUH TERBENTUK


__ADS_3

Chapter 271. ALIANSI MUSUH TERBENTUK.


\=


Sejak Alda dan Hana keluar menggunakan mobil sport milik Tama! Dion dan Riko juga keluar, sedangkan Tama dan Hani mereka keluar dari kediaman keluarga Aditya saat sore hari setelah mereka mendiskusikan semuanya.


Tama dan Hani kini sudah berada di puncak bukit yang di sepakati! Mereka berjarak kurang lebih 1 kilometer dari jalan yang akan di gunakan untuk penyergapan.


Tama menggunakan mobil off-road besar berwarna hitam pekat yang sangat sempurna untuk bekerja di malam hari, karena mobil itu tidak memantulkan cahaya apapun, sehingga jika bersembunyi di kegelapan sangat sulit di deteksi.


Apa lagi mobil itu di lengkapi berbagai peralatan canggih yang di kembangkan oleh keluarga Aditya dan tim yang bekerja di bawahnya.


"Tama, Hani apa kalian sudah siap?" Ucap Alda terdengar di kuping mereka berdua.


"Ya, kami sudah berada di titik penentuan sebelumnya!" Jawab Tama, dia sambil memegang tablet yang dia gunakan untuk memantau semua jaringan yang terdeteksi di jaringan yang ada di mobilnya.


Waktu terus berjalan menit demi menit! Semuanya sudah bersih di tempat masing-masing, hanya Alda dan Hana yang bergerak terus karena mereka adalah umpan.


Tama jika sedang berhubungan dengan hal kesenangan seperti ini dia langsung menjadi orang yang serius, dia memperhatikan semua aspek yang akan terjadi jika dia tidak memantau.


Di dalam layar tablet yang Tama pegang saat ini ada tiga warna berbeda! Hijau adalah ponsel orang-orang yang terhubung dengan dirinya, termasuk Alda, Hana dan yang lainnya sedangkan warna merah adalah target yang di incar! Sedangkan kuniang yang terdeteksi tidak sengaja, bisa di bilang orang yang lewat dan masuk ke area jangkauan yang di pancarkan oleh sinyal di dalam mobil yang di bawa Tama saat ini.


"Sial, bagiamana hanya ada empat yang terdeteksi merah di sini?" Keluh Tama, setelah beberapa waktu berlalu dia terus berusaha mencari jejak yang hilang.


Karena sebelumnya ada lebih dari 7 yang terus mengawasi kediaman keluarga Aditya, hingga beberapa menit yang lalu masih utuh namun setelah penyergapan sudah dekat malah sisa empat, bisa di pastikan yang tiga langsung mematikan ponsel mereka masing-masing dan berencana mengandalkan insting petarung mereka.


Sedangkan Hani hanya diam, sambil terus memeriksa senapan runduk yang sudah lama tidak dia pegang itu! Hani tersenyum, dia rasanya seperti kembali ke dalam pekerjaan lama.


Karena dulu dia selalu menggunakan senapan ini! Sedangkan sekarang dia dan kakaknya sudah keluar dari organisasi pembunuh bayaran internasional, jadi cukup lama tidak menggunakan lagi.


Terakhir menggunakan saat pertama kali datang ke kota Westa dan mengunjungi kota tua.


"Tama apa ada masalah?" Ucap Dion terdengar di saluran Tama.


"Benar, titik target kita sekarang berjumlah menjadi 4 saja! Sedangkan tiga menit yang lalu masih ada tujuh titik di jarak kurang dari 30 kilometer." Ucap Tama.


Jika orang-orang yang ahli dalam pelacakan mendengar alat milik Tama bisa menjangkau radius di atas 30 kilometer, mereka akan terkejut setengah mati! Karena alat pelacak itu sangat mengerikan.


"Biarkan saja, kami sekarang akan tiba kurang dari 5 menit perjalanan ke hutan perbukitan utara kota Westa." Alda menyela ucapan keduanya.


Setelah lima menit berlalu, Alda muncul di kawasan hutan pinus dengan jalur berbukit yang tidak begitu curam dan sangat rapat dengan pepohonan tinggi.


Hani yang sudah bersiap dengan Tama yang tidak jauh dari tempat itu, tempat yang paling tinggi di antara semua! Juga memiliki pepohonan paling rapat.


Dia melihat ke arah mobil yang Alda dan Hana gunakan dengan menggunakan teropong pada senapan runduk miliknya.

__ADS_1


"Aku sudah melihat kalian!" Ucap Hani.


"Hani, kamu cukup berjaga! Jika ada sesuatu yang mendesak barulah bertindak." Hana langsung mengingatkan adiknya.


"Baik kak, aku paham." Jawab Hani.


"Sial, aku paling tidak suka menunggu seperti ini! Lebih baik langsung serbu mereka." Ucap Riko yang sejak tadi dia akhirnya bersuara di sambungan bersama mereka.


"Sabar Riko, mereka datang!" Ucap Alda, mengentikan mobil yang di kendarai di tempat paling tepat.


Bromm..!


Broommm..!


Ciiiittttt..!


Satu mobil sedan klasik dengan mesin besarnya berhenti tidak jauh dari mobil Alda!


Alda dan Hana sudah keluar dari mobilnya sejak mereka berhenti, setelah itu mereka berdua melihat ke arah belakang.


Dari dalam mobil model klasik seketika turun dua orang dengan tubuh kekar dan tinggi! Rambut merah panjang tidak beraturan, sehingga langsung berkibar di tiup angin malam! Dengan tatapan tajam tanpa ekspresi keduanya menatap Alda dan Hana dengan tatapan membunuh.


"Sepertinya kalian memancing kami datang ke tempat terpencil seperti ini!" Ucap salah satu orang besar itu.


Tidak butuh waktu lama ada dua mobil lagi datang dengan cepat! Satu orang keluar dari masing-masing mobil yang baru datang.


Tampilan mereka seperti petarung dari sekte! Salah satunya menggunakan baju yang longgar dengan pedang panjang di pinggangnya.


Sedangkan satunya lagi menggunakan baju khusus yang di rancang bergerak bebas saat bertarung.


Dua orang berbeda besar dan berambut gondrong itu juga melihat keduanya! Namun tatapan tajam masih di tunjukkan ke duanya.


"Apa kalian berdua juga datang karena undangan dengan imbalan besar dari keluarga Button?" Ucap salah satu si badan besar.


Alda tahu itu dari keluarga Button cabang 2! Namun orang besar ini sungguh langsung berterus-terang seperti ini, membuat Alda tidak bisa berkata-kata.


"Ya benar.!" Jawab keduanya hampir bersamaan.


"Sebaiknya, kita bekerja sama! Lawan kita hanya dua anak muda apa lagi satunya wanita cantik, ini akan mempermudah kerjaan kita! Apa kalian setuju?" Pria besar yang memiliki rambut gondrong lainnya memberikan saran.


Keduanya mengangguk setuju, karena ucapan orang bertubuh besar itu sangat bener.


Mereka tidak mempertanyakan siapa Alda, karena mereka sudah memantaunya cukup lama jadi tidak perlu di tanya lagi! Jika di tanya ulang bukankah akan terlihat sangat bodoh.


Melihat aliansi musuh terbentuk, Alda masih tetap tenang! Karena permainan ini masih di bawah ke kendalinya.

__ADS_1


"Alda biarkan aku keluar sekarang! Aku sudah tidak sabar!" Ucap Riko di sambungan bersama.


"Tahan Riko, kita harus melihat apakah orang-orang yang kita pancing sudah keluar semua atau belum." Dion yang ada di dekat Riko langsung menahannya.


Alda mendengar percakapan mereka hanya diam saja! Karena dia sedang fokus dengan empat orang yang datang itu.


"Hanya ada empat yang terlihat, sepertinya sisanya menggunakan taktik bergerilya!" Hani yang sudah mengawasi dari tadi akhirnya membuka suaranya.


"Benar, di layar radar pelacak ini tidak terdeteksi." Tama juga ikut berbicara.


"Baiklah, saatnya kita mulai bergerak! Sisanya kita urus belakangan." Ucap Alda.


Di tempat Alda di hadang, kini empat orang langsung bergerak ke empat arah berbeda! Dia lainnya menggunakan senjata, satu menggunakan pedang panjang satunya lagi belati kecil.


Sedangkan dua orang yang bertubuh besar dan memiliki rambut gondrong hanya mengandalkan pukulan tangan kosong mereka.


Woooss..!


Salah satu orang yang memiliki badan besar berlari kencang, menyerang Alda dengan pukulan besarnya terayun tajam! Udara di sana seperti terkikis tajam.


Baammm..!


Buk..!


Kraakkk..!


"Aaaahhhhkk..!"


Alda juga langsung maju, dia mengarahkan tinjunya juga, lalu butuh benturan kekuatan besar terdengar di tengah malam ini! Lalu di susul bunyi tulang patah.


Hingga akhirnya, jeritan melengking terdengar!.


Kini Alda menginjak badan besar itu, setelah memukulnya! Alda meraih lengan orang itu dan menjatuhkan dengan cepat dengan gaya mengunci lalu memelintir lengan orang itu hingga patah.


"Ternyata dia juga seorang ahli..!" Ucap orang yang menggunakan senjata belati.


Karena kejadian itu, hanya kurang deri 20 detik! Sehingga jika bukan ahli itu tidak mungkin.


Tiga orang lainnya langsung mundur satu langkah untuk menjaga jarak aman.


\=


\=


...

__ADS_1


__ADS_2