Suami Kedua

Suami Kedua
Permintaan Terakhir


__ADS_3

Kila duduk bersandar, dengan sebelah tangan mengusap pipinya yang masih terasa perih oleh tamparan yang dilakukan oleh Ibu Mertuanya. Sesekali, dia melirik ke arah keluarga Gilang, suaminya … Yang masih menunggu dengan harap-harap cemas. Wajah Kila tertunduk, menatapi bekas kotoran yang lengket di kebaya putih miliknya … Hari pernikahan, yang ia harapkan bahagia. Justru menjadi petaka untuk mereka berdua.


“Kenapa kau masih di sini? Pergi!”


“Aku, hanya ingin menunggu suamiku, Ma,” jawab Kila singkat, menanggapi bentakan dari perempuan yang menjadi ibu mertuanya itu.


Kila beranjak berdiri, saat Husna berjalan lalu menampar kembali wajahnya, “suami? Mau kau hancurkan seperti apa lagi Putraku?!”


“Kau membuat dia menentangku! Apa kau masih belum puas hanya mengincar hartanya saja! Kau bahkan sama sekali tidak bersedih, saat keadaan Putraku seperti ini!” Bentakan beruntun dari Husna, semakin menjadi-jadi, saat dia juga melemparkan tamparan beberapa kali ke wajah Kila.


‘Aku memang hanya mengincar harta Putramu … Tapi aku, memberikannya perhatian lebih baik dibanding kalian,’ batin Kila dengan masih terdiam, menerima tamparan beruntun di pipinya.


‘Kalau aku melawannya sekarang. Ini justru tidak bagus untukku,’ Kila kembali membatin, sambil mengangkat wajahnya menatap Husna yang telah ditarik oleh seorang laki-laki.


“Bagaimana aku tidak bersedih, suamiku sedang berjuang di-”


Perkataan Kila terhenti, oleh tangan laki-laki yang mengarah kepadanya, “cukup! Jangan memperkeruh suasana!” ucapnya, matanya yang memerah menatap Kila, terlihat tak berkedip saat dia berusaha untuk menenangkan Ibunya.


“Pinta dia pergi, Rama! Kalau perlu, usir saja dia! Mama … Mama sudah muak melihat wajahnya-”


“Ma, Mama … Kita sekarang sedang berada di Rumah Sakit. Mama, coba tenang dulu, ya,” sahut Rama, yang kembali berusaha untuk menenangkan Husna.


Apa yang mereka lakukan, terhenti … Ketika pintu tiba-tiba terbuka. Kila berjalan mendekati dokter yang keluar, menyusul beberapa anggota keluarga yang lain. Kila segera menyadari apa yang terjadi, saat suara tangisan tiba-tiba meledak dari Husna. Dia, masih diam membisu … Seakan tak percaya, apa yang dokter itu katakan.


Kila menerobos masuk, tubuhnya terasa lemah saat pandangan matanya itu terjatuh ke arah jasad Gilang, suaminya. “Gilang, kita sudah menikah, lamaranmu sudah kuterima … Kau berjanji, akan menjagaku. Jadi bangunlah!”


“Ini semuanya karenamu! Jika kau tidak memaksanya menikah, anakku pasti masih hidup!”

__ADS_1


Kila menggigit kuat bibirnya, saat tubuhnya hampir tersungkur ke samping oleh dorongan Husna yang diikuti oleh jambakan kuat di rambut Kila. “Semua ini salahku? Semua ini salah kalian! Jika kau, wahai Ibu Mertuaku … Tidak membuat drama yang mengabarkan kau tidak sadarkan diri selepas pernikahan kami. Dia tidak akan membawa kendaraannya dengan tidak hati-hati.”


“Kau menyalahkanku! Kau menyalahkanku, perempuan murahan!”


“Kalau aku perempuan murahan, Putramu tidak akan memaksaku untuk menikah dengannya!” Kila balas membentak, seraya tangannya berusaha untuk terlepas dari beberapa perawat yang memisahkannya dari Husna.


“Setelah putraku meninggal, kau baru memperlihatkan wajah aslimu?!”


“Wajah asli? Aku selalu mendukungnya-”


“Cukup!” Bentakan dari Rama membuat bibir mereka berdua terkatup


“Kau,” tukas Rama dengan menunjuk ke arah Kila, “aku memohon kepadamu, untuk tutup mulutmu!” sambungnya, dengan kembali memeluk Husna yang menangis terisak di rangkulannya.


_____________.


“Aku pikir, aku akan bisa mengubah hidup dengan menikahimu, Gilang.”


“Aku bahkan menolak banyak laki-laki, karena aku pikir … Kau laki-laki terbaik dari semua laki-laki yang pernah aku temui. Padahal, aku benar-benar sudah mulai membuka hati untukmu. Aku merindukanmu,” tangis Kila, sambil menatap foto Gilang yang bersanding dengannya di layar ponsel.


Kila mengapus air matanya, saat suara ketukan pintu menyentuh telinga. Dia beranjak, mendekati pintu lalu membuka pintu kamar kos yang ia tempati, “ada yang mencarimu,” ucap Susi, perempuan yang tinggal di kamar kos sebelah.


“Mencariku?” Kila balas bertanya, yang dibalas oleh anggukan kepalanya.


Kila berjalan keluar, saat Susi sudah kembali masuk ke dalam kamarnya. Dia mengenakan sandal yang sebelumnya telah diambil, sebelum melangkah ke luar pagar. “Kak Rama?” tukas Kila, seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat.


“Ada urusan apa, Kak Rama ke sini?” Kila kembali bertanya, saat Rama melangkah mendekatinya.

__ADS_1


“Kemas semua barangmu, lalu ikut aku!” perintah Rama sambil berjalan mendekati mobil yang ada di belakang Kila.


“Kemas barangku?”


“Aku akan menjelaskannya nanti,” sahut Rama lagi, sebelum dia masuk ke dalam mobil.


Kila masih berdiri, berusaha untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Sebelum akhirnya dia mengikuti, apa yang Rama perintahkan. “Letakan barangmu di belakang, dan kau duduk di depan!” Kening Kila kembali mengernyit saat dia hendak menutup pintu mobil.


Dia kembali keluar, lalu duduk di depan seperti yang Rama pinta. Selama mobil berjalan, tak ada sedikit pun suara yang mereka keluarkan. “Kak, sebenarnya apa yang kau lakukan sekarang? Aku, sudah menuruti apa yang keluarga kalian pinta, aku sudah tidak mengganggu keluarga kalian lagi,” tukas Kila, saat Rama menghentikan mobilnya di sebuah rumah dengan beberapa orang yang menunggu di teras.


“Turunlah!” perintah Rama lagi kepadanya, Kila masih mengatup bibirnya saat Rama berjalan mendekati beberapa orang itu.


Kila menoleh ke samping, saat seorang perempuan paruh baya mengetuk kaca mobil. Dia menarik napas dalam, sebelum akhirnya memutuskan untuk beranjak turun mengikuti ajakan perempuan paruh baya itu. “Jadi dia, calon Istri kedua nak Rama?”


“Calon istri kedua?” Kila dengan cepat membuang pandangannya kepada Rama, saat salah satu laki-laki tua mengucapkannya.


“Gilang memintaku, untuk menikahimu apa pun yang terjadi. Dokter yang merawatnya, menyampaikan pesan terakhir itu kepadaku,” jawab Rama singkat, membalas lirikan Kila kepadanya.


“Apa maksudnya ini? Walau Gilang yang memintanya … Ini hidupku, dan aku sendiri yang berhak untuk memutuskannya,” balas Kila, sembari berbalik hendak meninggalkan mereka.


“Aku akan memenuhi semua kebutuhanmu. Rumah? Perhiasaan? Atau uang? Aku, akan memberikannya kepadamu, jika kau menyetujuinya,” tukas Rama sambil melirik ke arah punggung Kila yang kian berjalan menjauh.


“Jika ini bukan permintaan adikku! Aku, tidak sudi untuk melihatmu lagi!” Rama meninggikan suaranya, hingga langkah Kila berhenti lalu berbalik kepadanya.


“Menikah denganku, atau aku akan melaporkanmu ke polisi atas pembunuhan adikku-”


“Semuanya murni kecelakaan, aku bahkan tidak bersamanya saat dia kecelakaan,” sahut Kila kembali padanya.

__ADS_1


“Apa kau lupa? Aku memiliki uang dan kuasa, sedangkan kau tidak. Jika kau tidak menyetujuinya, bersiap-siaplah menghabiskan seumur hidupmu di penjara!” ancam Rama, sebelum dia kembali membuang pandangannya dari Kila.


__ADS_2