
“Apa kau tertarik padanya?”
Kila membuang pandangannya ke samping saat suara Lisa kembali mencuat di telinganya. “Pak, kenapa kita semakin jauh dari rumah? Aku harus segera pulang,” ucapku kepada supir saat aku tersadar bahwa dia hanya membawaku berkeliling.
“Tapi Nyonya-”
Kila mengerutkan alisnya ketika supir tersebut menjawab dengan sedikit gugup, “ada apa? Apa terjadi sesuatu?” tanya Kila berulang kepadanya.
“Pak, hanya bicara saja, aku tidak akan marah,” ungkap Kila yang semakin membuat sang supir mengatup rapat bibirnya.
“Aku akan menghubungi suamiku kalau bapak masih tidak ingin berbi-”
“Ja-jangan, Nyonya! Tuan pasti akan memecatku kalau apa yang aku kerjakan mengganggu pekerjaannya.”
“Kalau bapak tidak ingin aku memberitahu suamiku, ceritakan padaku kenapa bapak melakukan ini?!”
“Mainun, memintaku untuk jangan mengajak Nyonya pulang sebelum Tuan pulang-”
“Kenapa?” Kila kembali bertanya.
“Itu, kata Mainun … Mertuanya Tuan, Ibunya Nyonya Citra tiba-tiba datang lalu memutuskan untuk menginap karena Nyonya Citra sendiri sa-sakit,” jawabnya yang sedikit gelagapan.
“Sakit?” Kening Kila kembali mengernyit mendengar perkataan supir tersebut.
‘Sebelum aku pergi dia sehat-sehat saja, atau jangan-jangan … Perempuan itu, aku benar-benar tidak akan melepaskannya. Beraninya dia mencari perlindungan dibalik ibunya sendiri, aku sudah mengorbankan semuanya untuk sampai ke sini … Tentu saja, aku tidak akan mundur hanya karena ini.’
‘Kau ingin melakukan apa pun untuk mengusirku, bukan? Kita lihat saja siapa yang akan bertahan, Nyonya Citra,’ Kila kembali membatin sambil menunduk meraih ponsel di dalam tas miliknya.
“Apa Tuan Rama sudah diberitahu hal ini?” tanya Kila, dengan jarinya yang bergerak mengusap layar ponsel.
“Sepertinya belum, Nyonya. Tuan, sangat tidak suka kalau mendapat gangguan saat bekerja-”
__ADS_1
“Benarkah? Kalau seperti itu, bawa aku pulang!” perintah Kila, dia menunduk sambil mengetik pesan yang akan ia kirimkan.
“Tapi Nyonya.”
Kila menghela napas sambil menoleh kembali padanya, “Pak, aku juga istri Rama, dan itu berarti aku juga berhak atas rumah tersebut. Kenapa aku tidak bisa pulang ke rumahku sendiri?”
“Baiklah, Nyonya. Aku akan mengantarmu pulang,” sautnya sambil memutar setir ke kiri.
Kila kembali duduk bersandar dengan melanjutkan tangannya mengetik pesan untuk Rama, ‘kak, di perjalanan pulang aku tidak sengaja melihat tempat yang bagus. Mau ke sana nanti malam? Sebagai ganti dari makan siang kita tadi. Mau ya,’ ketik Kila di pesan tersebut.
‘Sepertinya ada yang kurang,’ batin Kila dengan kembali membaca ulang pesan tersebut, ‘sekarang sudah selesai, tinggal tunggu respon darinya,’ Kila lanjut membatin setelah menambahkan beberapa emotikon di pesannya.
Kila menyimpan lagi ponselnya ke dalam tas, bibirnya tersenyum sambil menyelipkan rambutnya yang tergerai ke telinga. ‘Aku benar-benar tidak sabar mengetahui, apa yang akan terjadi di sana,’ dia berbisik di dalam hati seraya menyandarkan punggungnya di jok mobil.
Mobil terus berjalan, membawa Kila kembali ke rumah. Kila beranjak turun dengan sebuah kardus berisi barang-barang miliknya yang sebelumnya ia ambil dari kamar kost. Dia terus lanjut melangkah, memasuki rumah sambil berjalan seakan tidak menyadari apa pun. “Mira!” panggil Kila kepada salah satu asisten rumah tangga yang tangannya dulu sempat melepuh oleh perlakuan Citra.
“Nyonya Kila, kenapa Nyonya ada di sini?” perempuan tersebut sontak terkejut saat menyadari keberadaan Kila.
“Memangnya ada apa?” Kila berpura-pura seperti tidak mengetahui apa pun.
“Maksud saya, Mamanya Nyonya Citra sedang berada di sini. Demi ketenteraman jiwamu, Nyonya … Jangan muncul di hadapannya,” sambung Mira diikuti kepalanya yang dengan cepat mengawasi sekitar.
“Tapi-”
“Nyonya, aku tidak tega, manusia baik seperti Nyonya harus bertemu dengan mereka. Cepatlah kembali ke kamar, Nyonya. Atau Nenek Lam-”
“Atau … Atau mereka akan membuat Nyonya sedih,” Mira kembali berbicara yang membuat Kila tak berkesempatan untuk membuka mulutnya.
“Baiklah, baiklah. Lanjutkan saja dulu pekerjaanmu, setelah selesai … Temui aku di kamar!” perintah Kila yang dengan cepat dibalas anggukan dari perempuan yang usianya mungkin tak terlalu jauh darinya.
Kila melangkah menjauhinya, ‘di mana mereka? Aku harus bertemu mereka sebelum kak Rama pulang,’ Kila berbicara di dalam hati sambil terus berjalan dengan langkah yang sangat pelan.
__ADS_1
‘Ketemu!’ sambung Kila membatin, saat tatapan matanya itu terjatuh ke seorang perempuan paruh baya tengah berjalan di lantai dua.
Kila berdeham, “bi Mainun!” panggil Kila beberapa kali, hingga membuat langkah perempuan paruh baya yang ada di lantai dua tersebut berhenti.
“Ke mana mereka semua?” Kila menggerutu dengan nada bicaranya yang sengaja dia buat meninggi.
“Siapa kau?”
Kila menggerakan kepalanya, berpura-pura mencari suara yang berbicara, “Siapa aku? Seharusnya aku yang bertanya, siapa kau?” tanya Kila dengan matanya yang mengikuti langkah perempuan tersebut menuruni tangga.
“Aku mertua dari pemilik rumah ini. Apa kau pembantu? Kenapa tidak memakai pakaian seperti yang lain? Pantas saja anakku sakit, kalian semua tidak bisa merawatnya dengan benar,” kata-kata tersebut, keluar beriringan dari mulut perempuan itu.
“Aku? Pembantu? Aku justru berpikir, Bibi pembantu baru di rumah ini-”
“Apa katamu? Lancang sekali!”
“Maafkan aku, hanya saja … Suamiku membayar gaji mereka yang bekerja di sini lumayan tinggi, jadi sangat mungkin aku menganggap Bibi sebagai pem-ban-tu,” balas Kila dengan sedikit tersenyum menatapnya.
“Suami? Siapa Suamimu? Jangan bermimpi! Pemilik rumah ini adalah suami dari putriku!”
Kila mengangguk, “jika yang dimaksud kak Citra, itu memang benar … Dia istri pertama, lalu aku istri kedua dari Tuan Rama Rahardian-”
Kila menggigit kuat bibirnya saat tamparan keras dari perempuan di depannya itu melayang kuat ke pipinya. “Omong kosong macam apa yang kau katakan itu! Keluar dari sini! Jangan berpikir untuk menghancurkan pernikahan putriku!” perempuan itu terus membentak Kila lalu memukul kardus yang Kila pegang hingga hampir semua isinya berceceran di lantai.
“Nyonya!”
Kila melirik ke arah beberapa asisten yang berdiri, menatapnya khawatir. “Apa yang kalian tunggu? Apa kalian ingin dipecat? Usir dia karena telah mengatakan kata-kata yang tidak-tidak!” perintah perempuan tersebut kepada mereka.
Kila menghela napas, “tidak perlu menyiapkan makan malam, karena aku dan suamiku akan makan malam di luar malam ini. Tolong bantu aku untuk membereskan barang-barangku ini, lalu bawa ke kamar dan sekalian bawakan aku air es untuk mengompres pipiku. Aku tidak ingin dia melihat pipiku yang habis ditampar ini-”
“Kalian, akan melakukan apa yang aku pinta, bukan?” sambung Kila sambil menatap mereka satu per satu.
__ADS_1
“Baik, Nyonya, akan kami lakukan,” jawab mereka serempak dengan membungkuk ke arah Kila.
“Baik, Nyonya. Apa kau tidak mendengarnya? Itulah statusku di rumah ini,” Kila mengucapkannya sambil tersenyum ke arah perempuan yang menamparnya, sebelum langkahnya berlanjut meninggalkan mereka semua.