
Lidia menuntun Viana berjalan menuju ruang tengah yang penuh dengan hiasan pesta. Viana terlihat begitu senang melihat keramaian dekorasi di ruangan itu. Lidia menahan tangisnya karena teringat dengan sang suami. tapi Lidia sudah berjanji dengan dirinya sendiri, tidak akan menunjukkan kesedihannya di depan orang-orang, khususnya kedua anaknya.
Lidia duduk di sofa membiarkan Viana bermain di atas karpet dengan banyak mainan. Tak lama kemudian Xander ikut bergabung duduk di sebelah Lidia.
“Kamu wanita kuat, Lidia! Aku tahu dengan suasana hati kamu saat ini.” ucap Xander.
Lidia menoleh sekilas lalu mengukir senyuman tipis pada Xander. Memang benar dia wanita kuat. Kuat karena keadaanlah lebih tepatnya.
“Maaf, kue ini diletakkan dimana?” tanya Silvia yang baru saja datang dari dapur.
“Oh kamu taruh di atas meja itu saja, Silvia. Aku akan memanggil Chandra dan Fredy dulu sebelum acaranya dimulai.” Ucap Lidia lalu bergegas menuju ruang belajar Chandra.
Silvia meletakkan kue di atas meja lalu kembali ke dapur. Xander masih terdiam memikirkan keberadaan sahabatnya. Silvia melihatnya merasa diacuhkan oleh pria itu.
Selama tinggal di negara ini Xander merasa lega karena tak seorang pun mengetahui keberadaannya. Jadi dia bisa keluar kemana saja tanpa khawatir ada yang mengikutinya. Karena dia yakin kalau saat ini David cukup senang dengan keberadaan Sean di sampingnya, dan tidak mencari Lidia beserta anak-anaknya.
Kini semua sudah berkumpul di ruang tengah. Di tengah kue tart itu sudah dipasang lilin bersimbol angak dua. Viana dan Chandra bersorak senang. Lidia pun menangis haru melihat kebahagiaan anak-anaknya.
Acara dimulai. Semua orang menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Viana. Semua doa baik juga mengiringinya.
Setelah itu mereka semua dipersilakan menikmati hidangan yang sudah disediakan. Lidia membiarkan anak-anaknya bermain sambi membuka beberapa kado. Dia akan masuk ke kamarnya karena mendadak kepalanya pusing.
“Silvia, titip anak-anak sebentar ya?” Silvia hanya mengangguk.
Saat Lidia berjalan menuju kamarnya, kepalanya berkunang-kunang dan hampir saja jatuh kalau tidak ada Xander di depannya. Sehingga dengan cepat Xander menangkap tubuh Lidia.
“Kamu kenapa, Lidia?” tanyanya cemas.
“Nggak apa-apa. Aku hanya butuh istirahat saja. Aku akan ke kamar dulu.”
__ADS_1
“Biar aku antar.”
“Nggak usah, Xander. Nanti Silvia salah paham.” Tolak Lidia lalu berjalan pelan menuju kamarnya.
Xander terdiam dengan ucapan Lidia baru saja. Kemudian dia menoleh ke arah Silvia yang baru saja melihatnya. Seketika Xander baru sadar kalau Silvia sepertinya memang salah paham.
“Silvia, aku ingin bicara sebentar denganmu.” Ucap Xander.
“Bicara apa? Katakan saja. Aku masih menemani Viana dan Chandra.” Jawab Silvia datar.
Xander menghela nafasnya pelan. Kemudian menarik tangan Silvia dan mengajaknya keluar rumah menuju taman belakang.
“Silvia, maafkan aku selama ini benar-benar sibuk mencari keberadaan Sean, hingga kita jarang mempunyai waktu berdua.”
“Aku paham.”
“Dan aku harap kamu tidak salah paham dengan kedekatanku bersama Lidia. Aku hanya berusaha menguatkan dia. Aku sudah berjanji pada Sean untuk terus melindungi Lidia dan anak-anaknya selama Sean belum kembali.”
“Aku takut.” Lirih Silvia.
“Aku takut jika hal yang pernah dialami Tuan Sean, akan kamu alami juga.”
“Apa maksud kamu?” Tanya Xander mengurai pelukannya.
“Aku takut jika terjadi sesuatu yang buruk dengan Tuan Sean, dan kamu akan mengganti-“
“Sttt…. Itu tidak akan mungkin terjadi, Silvia. Hilangkan semua pikiran burukmu. Sampai kapanpun aku tetap mencintaimu. Kamu paham?”
Silvia melihat sorot tegas dari mata Xander. Dia bisa melihat betapa besarnya cinta pria itu terhadapnya.
__ADS_1
“Aku juga mencintaimu. Maafkan aku.” Silvia kembali memeluk Xannder.
*
Hari berlalu begitu cepat. Lidia masih pandai menyembunyikan kesedihannya di depan kedua anak-anaknya. pernah dia bertanya pada Xander tentang suaminya. namun lagi-lagi jawaban Xander tak membuatnya lega.
Saat ini Lidia sedang duduk di sebuah taman belakang rumah sambil menemani kedua anaknya yang sedang bermain. Hari ini weekend. Lidia membiarkan Xander dan Silvia menikmati waktunya. Sedangkan Fredy memilih diam di dalam kamarnya. Dia memilih sibuk melakukan tugasnya mencari informasi terbaru tentang Sean, daripada harus menghabiskan waktu di luar yang menurutnya tidak ada gunanya.
Saat sedang sibuk, tiba-tiba saja pintu kamar Fredy diketeuk cukup keras. Pria itu segera membukakan pintu dan melihat siapa yang mengetuknya.
“Ada apa Bibi Anne?” tanya Fred.
“Fred, Nyonya Lidia pingsan di taman belakang. Aku tidak bisa membawanya masuk, Jonathan sedang pergi belanja.” Jawabnya dengan nafas tersengal.
Fredy segera berlari menuju taman belakang. Tampak Lidia berbaring di atas kursi panjang. Dan disampingnya ada Chandra yang menungguinya dengan wajah cemas.
Fredy segera membawa Lidia masuk dan membaringkannya di atas tempat tempat tidur. Bibi Anne segera menghubungi dokter untuk memeriksa keadaan Lidia. Dan tak lama kemudian dokter datang.
“Bagaimana keadaan Nyonya Lidia, dok?” tanya Bibi Anne.
“Tekanan darah Nyonya sangat rendah. Lebih baik periksakan ke rumah sakit, karena sepertinya Nyonya sedang hamil muda.”
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading‼️