Suami Kedua

Suami Kedua
Waspada


__ADS_3

Tubuh Jeff semakin gemetar saat Sean mengatakan akan membuat dirinya merasakan hal yang sedang dirasakan oleh Bryan. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan keluarganya jika saat ini juga dia sekarat atau bahkan mati.


“Tuan, tolong ampuni saya. Saya akui kesalahan saya. maafkan saya, Tuan. Saya tidak tahu apa-apa. Saya hanya disuruh oleh Bang Bryan. Tolong ampuni saya, Tuan. Saya juga masih mempunyai keluarga yang membutuhkan nafkah.” Mohonnya dengan suara bergetar.


Sean menghempaskan tubuh Jeff ke lantai. Lalu dia memanggil anak buahnya agar masuk dan mengatasi Jeff.


“Buat dia jera dan tidak lagi menampakkan diri di hadapanku!” ucap Sean lalu pergi meninggalkan rumah Jeff.


Sean memasuki mobilnya sambil mengatur nafasnya yang masih menyimpan emosi. Dia tidak tega untuk menghabisi Jeff setelah pria itu mengatakan masih mempunyai keluarga yang membutuhkannya.


Setelah bisa menormalkan emosinya, Sean melajukan mobilnya kembali ke perusahaan. Niat makan siangnya di rumah ia urungkan. Lebih baik makan siang di kantor saja daripada di rumah dalam keadaan seperti ini.


Kini Sean tingal mencari informasi mengenai Ricky. Pria misterius yang ia curigai sebagai orang suruhan Bryan. Namun sayangnya sangat sulit menemukannya. Bahkan pria itu juga menghilang begitu saja bagai ditelan bumi setelah beberapa hari mendapat kabar kecelakaan Bryan.


Sean kira Ricky hanya menghilang sementara setelah ia mendapatkan kabar bahwa pria itu tidak bekerja di rumah sakit. Namun ternyata salah. Sampai saat ini Ricky tidak ada kabarnya.


***


Waktu berlalu begitu cepat. Sean akhir-akhir ini disibukkan dengan beberapa pekerjaan kantor yang menyita banyak waktu dan tenaga. Dia bisa bernafas lega karena keluarganya juga sudah aman dari gangguan bahaya seperti sebelumnya. Namun Sean juga tetap waspada. Bahkan dia juga masih meminta beberapa bodyguard mengawasi keluarganya. Chandra juga masih aktif melakukan homeschooling.


Hari ini Sean pulang kantor sedikit terlambat. Karena baru saja dia meninjau proyek barunya bersama Kenzo. kemungkinan untuk jalannya proyek selanjutnya akan ia serahkan pada Xander yang minggu depan akan datang ke kota J.

__ADS_1


Setelah membujuk Xander dengan berbagai macam alasan, akhirnya sahabatnya itu mau tinggal di kota J untuk membantu pekerjaannya. Sedangkan minggu kemarin Silvia sudah diterima kerja di perusahaan cabang milik Kenzo yang ada di kota B.


Sebelumnya Sean juga sudah menghubungi Silvia dan berniat menariknya kembali untuk bekerja di perusahaannya. Namun perempuan itu menolak karena tidak mau meninggalkan adik-adiknya yang masih kecil. Jadi Sean tidak bisa berbuat apa-apa. Dan beruntungnya dia cepat mendapat kabar bahwa perusahaan Kenzo yang ada di kota B sedang membutuhkan karyawan di bagian marketing.


***


Saat ini di sebuah café sedang duduk seorang pria dan wanita sambil menikmati minuman yang baru saja mereka pesan. Keduanya saling terdiam untuk beberapa saat. Mungkin mereka sama-sama lelah setelah seharian berkutat dengan beberapa pekerjaan yang menguras banyak tenaga dan pikiran.


“Minggu depan aku akan ke kota J.” ucap Xander mengawali pembicaraan.


“Oh..” jawab Silvia singkat sambil terus menyedot minumannya.


“Apa kamu nggak apa-apa jika aku tinggal disana?” tanya Xander ragu-ragu.


Hati Xander mencelos mendengar pertanyaan Silvia yang seolah dia ikhlas dengan kepergiannya yang akan kembali bekerja di perusahaan Sean. Padahal Xander berharap Silvia akan bersedih dan menahan kepergiannya.


“Aku mencintaimu, Silvia. Apakah kamu masih meragukan perasaanku?” ucap Xander dengan nada sedikit kesal.


Silvia melepas sedotan yang sejak tadi terus ia gunakan untuk meminum jusnya. Bahkan jusnya sudah terlebih dulu habis daripada jus milik Xander.


“Aku tidak meragukan perasaan kamu. Lantas apa maumu? Apa kamu minta aku menahan kepergian kamu, begitu? Aku tidak mempunyai hak untuk menahanmu, Xander. Lagipula hubungan kita juga masih abu-abu.” Jawab Silvia.

__ADS_1


“Jadi sampai saat ini kamu masih menganggap hubungan kita masih abu-abu? Selama ini kedeketan kita aku kira kamu juga membalas perasaanku, Silvia. Ternyata..” Xander menggelengkan kepala tak lagi melanjutkan kalimatnya.


Dengan cepat Silvia memegang kedua tangan Xander dengan lembut. “Bukan aku tidak membalas perasaan kamu, Xander. Aku hanya tidak mau terikat lebih dalam selama aku masih mempunyai tanggung jawab besar terhadap adik-adikku. Aku mohon kita jalani hubungan ini layaknya air mengalir saja. Meskipun banyak bebatuan terjal yang akan menghalangi kita, kalau kita sama-sama ditakdirkan berjodoh, kita pasti akan bermuara di tempat yang indah.” Ucap Silvia sambil menatap lekat kedua manik Xander.


Beberapa waktu yang lalu memang Xander sempat melamar Silvia setelah mampu melihat cinta tulus perempuan itu. Namun Silvia menolaknya dengan halus karena belum siap untuk menjalani kehidupan berumah tangga. Msekipun secara usia dia juga sudah matang. Dan alasannya lagi-lagi karena kedua adiknya yang masih dalam tanggung jawabnya. Akhirnya Xander mengalah.


“Sebentar lagi kita akan tinggal berjauhan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana tersiksanya hatiku saat tidak bisa bersamamu.” Ucap Xander dengan perasaan yang entah tak bisa lagi digambarkan.


“Aku mencintaimu, Xander. Ingatlah ucapanku ini agar kamu tidak gelisah saat kita sedang berjauhan nanti.”


.


.


.


*TBC


Huhuhuhu....... yg mau LDR'an nih kaciaannnn😁😁


Happy Reading‼️

__ADS_1


                           


__ADS_2