
Semenjak pulang dan tinggal bersama kedua orang tua dan adik-adiknya, kegiatan Chandra tidak terlalu sibuk. Meskipun ayahnya meminta untuk datang ke kantor dan membantu beberapa pekerjaannya, namun Chandra melakukannya dengan santai. Sean juga tidak terlalu menuntut atau membebani Chandra dengan pekerjaan. Dia hanya ingin Chandra belajar, walaupun saat tinggal di luar negeri dia sudah banyak belajar tentang perusahaan bersama Fredy.
Kegiatan Chandra tidak setiap hari ke kantor ayahnya. Hanya beberapa hari saja setiap minggunya. Terkadang justru seminggu penuh di rumah. kecuali Mamanya meminta untuk diantar belanja, dan juga menemani adik-adiknya.
Setelah kepulangannya ke Indonesia, Chandra juga sudah membuat beberapa dokumen penting pribadinya, seperti KTP dan juga SIM. Semua itu ia butuhkan untuk keluar rumah jika menyetir mobilnya sendiri.
**
Weekend ini Chandra tampak santai di rumah. selama beberapa hari ini ia tampak sibuk karena dimintai bantuan ayahnya untuk pekerjaan kantor yang ssesuai dengan bidang Chandra yaitu masalah IT. Jadi hari sabtu ini Chandra ingin bersantai.
Chandra memasuki kamar Viana, dimana adik perempuannya itu sedang asyik membaca buku pelajarannya. Chandra tiba-tiba saja menjatuhkan tubuhnya tepat di samping Viana yang sedang asyik sambil selonjoran di atas tempat tidur.
“Ishhh… ngagetin aja sih, Kak!” gerutu Viana.
“Sorry! Lagi borring nih, keluar yuk Vi!”
Seketika mata Viana langsung berbinar. Gadis yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama itu segera meletakkan bajunya dan berganti pakaian. Sedangkan Chandra yang melihat sikap adiknya itu hanya melongo tak percaya.
“Kamu mau kemana, Vi?” tanya Chandra setelah melihat penampilan Viana sudah modis dan rapi.
“Loh katanya Kak Chan ngajak keluar? Ayo!”
“Ya elah, ke teras rumah sambil ngopi kan sama aja keluar. Kenapa juga harus ganti baju.” Chandra sengaja memancing emosi adik perempuannya.
__ADS_1
“Pokoknya aku nggak mau tahu. Kak Chan harus ngajak aku jalan.” Ucap Viana sambil menarik tubuh Chandra agar segera beranjak.
Chandra tergelak melihat tingkah adiknya. Akhirnya dia keluar kamar Viana dan mengambil kunci mobil. Untuk pakaian, Chandra tidak perlu ganti, karena pakaian yang digunakan saat ini juga masih cukup sopan. Yang penting tetap terlihat tampan.
Chandra dan Viana keluar rumah begitu saja, karena Mama dan Ayahnya sedang ada acara keluar dan kebetulan Kavi dan Mirza diajak.
Chandra dan Viana adalah dua saudara kandung kakak beradik dari hasil pernikahan pertama Lidia dengan suami pertamanya, yaitu Billal. Baik wajah Chandra dan Viana sama-sama rupawan dan diturunkan dari wajah sang Mama. Namun postur tubuh mereka meniru dari sang Papa yang tinggi dan besar. Sikapnya juga dewasa seperti Lidia dan juga Billal.
Kalau sikap dewasa Chandra sudah sejak kecil dapat dilihat. Selain dia memang anak pertama, sikap dewasa dan bijaksananya juga lantaran masalah yang selalu menimpa keluarganya dulu. Hingga bisa dikatakan kalau Chandra dewasa belum saatnya. Namun masih dalam koridor yang positif.
Sedangkan kalau Viana. Mungkin hampir sama dengan Chandra. Semasa kecilnya dia juga bisa melihat masalah yang tengah dihadapi oleh keluarganya. Bahkan Papanya sudah meninggal sewaktu dia masih dalam kandungan. Dari hal itu lah Viana menjadi sosok yang dewasa, dan bijaksana. Walau terkadang dia juga manja sama ayahnya. Lebih tepatnya ayah sambungnya yang sudah seperti ayah kandungnya sendiri. Dan setelah kepulangan Chandra, Viana bisa bersikap manja sama kakaknya juga, selain sama ayahnya. Namun jika di depan adik-adiknya, dia bisa membawa diri dan menjadi sosok kakak yang sangat baik.
*
Orang-orang yang melihat Chandra dan Viana pun memuji wajah rupawan mereka berdua yang tampan dan cantik. Bahkan mereka berdua memiliki garis wajah yang sama, hingga semua orang beranggapan bahwa Chandra dan Viana sudah berjodoh.
“Bisa nggak sih, Vi tangan kamu jangan seperti ini!” bisik Chandra.
“Kenapa sih, Kak? Santai aja kali.” Jawabnya cuek.
“Kalau kamu terus nempel begini, mana ada cewek yang mau deketin aku.” ucap Chandra.
Viana tetap taak peduli dengan sikap protes kakanya. Dia akan melepas gandengan tangannya saat sudah mendapat tempat duduk. Ya, walaupun Chandra hanya bercanda. Karena dia juga sama sekali tidak keberatan dengan sikap posesif adiknya.
__ADS_1
Tak lama kemudian seorang pelayan café datang. Viana memesan beberapa menu makanan ringan dan juga minuman.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, Viana dan Chandra menikmati hiburan music yang memang ditampilkan di café itu. Meski sore hari, rupanya café juga sangat ramai.
“Mau kemana, Kak?” tanya Viana saat Chandra tiba-tiba berdiri.
“Mau ke toilet. Kenapa? Mau ikut?”
Viana hanya mencebikkan bibirnya, lalu membiarkan Chandra pergi ke toilet.
Bruk
Pyar
Tiba-tiba saja ada seseorang yang menabrak tubuh Chandra, lalu ia merasakan kulit bagian perutnya dingin seperti terkena tumpahan es.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading‼️