
Sesampainya di apartemen, Chandra segera menyiapkan makanan yang dia beli tadi. lalu mengajak Feby makan.
“Makan dulu, setelah itu minum obat kamu.” Ucap Chandra yang kini sudah berada di ruang makan.
Feby hanya mengangguk lalu memakan makanan yang sudah Chandra siapkan. Perhatian Chandra membuat hati Feby menghangat. Dia tidak menyangka selama kedekatannya dengan Chandra, perasaan Feby semakin berbeda. Namun Feby masih gamang untuk mengakui perasaannya. Mengingat statusnya yang sudah pernah menikah membuatnya menjadi minder. Terlebih usianya lebih tua dari Chandra. Feby berpikir kalau Chandra pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik darinya.
“Ayo dimakan! Kenapa malah melamun? Apa makanannya tidak enak?” tanya Chandra membuyarkan lamunan Feby.
“Eh, nggak kok. Makanannya enak.” Jawab Feby lalu melanjutkan makannya.
Usai makan, Feby langsung meminum obatnya. Setelah itu ia akan tidur.
“Aku akan istirahat, kamu boleh pulang, Chan. Kamu juga pasti sangat capek.” Usirnya dengan halus.
“Tidak! Aku akan tidur disini. Aku tidak tega membiarkanmu sendirian di saat sedang sakit seperti ini, Feb”
“Jangan, Chan! Aku baik-baik saja. Lebih baik kamu pulang saja.” Tolak Feby.
“Sudah sana, kamu cepatlah tidur! Atau kamu mau aku tidurkan?” ancamnya dengan nada menggoda. Feby pun panik dan langsung masuk kamarnya dan mengunci pintu kamar.
Chandra hanya tersenyum tipis melihat tingkah Feby. Setelah itu dia merebahkan tubuhnya pada sofa yang ada di ruang tengah. Tak lama kemudian matanya juga terpejam.
*
Hari berlalu. Keadaan Feby sudah sehat kembali dan bisa beraktivitas seperti biasa. Begitu juga dengan Chandra.
Saat ini Chandra sedang duduk di meja kerjanya. Untung saja pekerjaannya hari ini tidak terlalu padat. Hingga dia bisa mengerjakan pekerjaan yang lainnya. Yaitu memantau aktivitas di perusahaan Tuan Ibra.
__ADS_1
Rahang Chandra mengetat saat mengetahui bahwa Tuan Ibra sudah berhasil mengalihkan nama salah satu cabang perusahaan Kenzo yang ada di kota J.
“Ini tidak bisa dibiarkan.” Gumamnya.
Chandra pun segera bergerak cepat. Dia akan mencari cara untuk merebut kembali perusahaan Kenzo. karena Kenzo juga tidak tahu sama sekali. Chandra cukup memberitahu Ayahnya agar memberitahu Kenzo dan menyarankan agar tetap waspada.
Dengan menggunakan komputer tempat ia bekerja, jari-jari Chandra bergerak cepat untuk membuat email palsu. Chandra akan mengirim email jebakan yang akan dikirim ke perusahaan milik Tuan Ibra. Dan email itu akan ia perankan sebagai salah satu akun yang akan memproteksi semua akun rahasia milik perusahaan Tuan Ibra. Ya, meskipun Chandra tidak yakin seratus persen dengan idenya, namun apa salahnya mencoba.
Selesai membuat email palsu, Chandra memulai mengirim pesan elektronik pada perusahaan Tuan Ibra. Pesan itu seolah murni dari system yang memang bertugas memproteksi semua akun perusahaan. Satu hal yang membuat Chandra aman yaitu, email palsu yang dibuat tidak bisa dilacak siapapun. Jadi meskipun gagal, keberadaannya juga tidak terancam.
Klik
Chandra sudah mengirim pedsan elektronik itu. Sekarang tinggal menunggu pesan balasannya saja. balasan yang hanya berupa pernyataan kalau perusahaan Tuan Ibra setuju atau tidak. Semacam aplikasi yang tinggal mengklik pilihan “agree” dan “disagree”.
Mungkin balasan email itu akan lama. Jadi Chandra bisa kembali melanjutkan aktivitasnya lagi.
*
Hanya jaga-jaga saja. entah kenapa perasaan Chandra merasa tidak enak mengenai keamanan Feby.
Saat ini Chandra sudah tiba di depan kantor tempat Feby bekerja. Beberapa saat kemudian Chandra melihat Feby memasuki taksi langganannya. Chandra pun segera mengikuti taksi itu.
Deg
Perasaan Chandra semakin tak karuan saat di perlintasan lampu merah, taksi yang ditumpangi Feby sudah melaju lebih dulu dan Chandra tertinggal di lampu merah. Yang membuat perasaan Chandra khawatir karena taksi itu tidak melewati jalan ke arah apartemen Feby.
Begitu juga dengan Feby yang saat ini sedang berada dalam taksi merasa heran karena sopir itu mengendarai mobil dengan melewati jalan yang berbeda.
__ADS_1
Ting
Feby membuka pesan yang dikirim Chandra.
“Tetaplah tenang, Feb! sepertinya ada ang nggak beres dengan sopir taksi itu.”
Tubuh Feby gemetar ketakutan setelah membaca pesan dari Chandra. Namun dia juga tidak berani berbuat apa-apa. Memang yang menjemput Feby adalah sopir biasanya. Namun hari ini ada yang terlihat berbeda dari sopir itu, yaitu lebih banyak diam dari biasanya.
Feby berharap Chandra segera mengetahui keberadaannya dan menyelamatkannya.
Waktu sudah semakin petang. Dan taksi itu semakin bergerak jauh dari apartemennya. Feby sama sekali tidak berani mengajak bicara sang sopir, karena Chandra memintanya agar tetap diam.
Brum brum
Terdengar suara deru motor dari samping taksi yang ditumpangi Feby. Feby pun tampak tenang saat mengetahui itu adalah motor Chandra. Namun beberapa saat kemudian taksi itu justru menancap pedal gasnya hingga melaju dengan kencang.
“Tolonggg!!!” teriak Feby ketakutan.
“Nona bisa diam apa tidak? Bekerjasamalah dengan baik!” ucap sopir itu dengan penuh amarah.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading‼️