
Gumaman dari mulut Katie terhenti seketika, di saat ada dua orang memanggilnya secara bersamaan. Bahkan mereka berjalan setengah berlari ketika melihat ke arah Katie memandang.
"Kenapa, Mommy meninggalkan Daddy sendirian? Kenapa tidak menghubungi Adam?" cecar putranya yang nampak terlihat khawatir. Bagaimana tidak, Katie saat ini berada di lobi dan terlihat celingukan mencari seseorang.
"Mommy sedang mencari siapa?" tanya Angelina heran. Karena raut wajah mama mertuanya ini nampak kebingungan.
"Entahlah, Mommy juga tak mengerti. Seperti ada sebuah perasaan aneh yang menuntun Mommy hingga kesini." Penjelasan dari Katie justru membuat kening anak dan menantunya ini berkerut dalam.
"Oh iya, pria yang bersama dokter Karen. Apa kalian melihatnya? Dia siapanya ya?" tanya Katie. Pertama kali dalam hidupnya wanita ini nampak kepo dengan urusan orang lain.
"Mana, Mom?"
"Iya ... dimana?"
Angelina dan Adam bertanya, sementara lagi-lagi, Katie menatap nanar ke sebuah tempat.
"Dia sudah pergi," jawab Katie lesu.
"Siapa sih, Mom? Kenapa Mommy nampak sedih?" tanya Angelina khawatir. Bahkan, wanita itu merangkul sang Mommy dari samping. Ia nampak menyesal karena telah meninggalkan kedua mertuanya terlalu lama di rumah sakit. Semua karena suaminya yang meminta jatah berkali-kali.
"Ah, tidak. Hanya saja ... postur tubuh pria tampan yang menjemput dokter Karen nampak familiar bagi Mommy," jelas Katie. Akan tetapi ia langsung menyesal karena telah mengatakannya pada Angelina dan berharap wanita itu tidak terus menguliknya.
"Dia!" kaget Angelina.
Hal itu ternyata menganggu Adam. Pria itu langsung memberi tatapan dinginnya ke arah sang istri. Sontak Angelina pun tersenyum kecut. Padahal itu hanya reaksi spontan darinya.
"Kamu tau, An?" tanya Katie dengan kening berkerut.
"Ah, itu ... hanya pernah tak sengaja bertemu beberapa kali. Kan Mommy tau jika kamu sempat satu hotel ketika liburan," jawab Angelina hati-hati. Sambil, sesekali melirik ke arah suaminya yang sedang memasang wajah kaku itu.
"Ah ... benar juga. Tapi --"
"Kenapa, Mom?" Kini giliran Adam yang bertanya. Pria itu nampak gusar karena tiba-tiba Katie membahas pria yang mulai saat ini akan menjadi salah satu orang yang ia benci. Setelah, pemuda bernama Miles itu. Lelaki, yang pernah menyukai Angelina ketika masih bekerja di perusahaan multi textile.
__ADS_1
"Sudahlah, lupakan saja. Oh ya, kalian ini kemana saja!" tegur Katie seraya menatap tajam ke arah Adam. Lelaki bertubuh tinggi dengan rahang tegas menelan ludahnya. Masa iya, dia mau jawab jujur kemana tadi pergi dengan istrinya itu.
"Hanya--" Adam tak meneruskan ucapannya, pria itu hanya mengusap tengkuknya.
"Keterlaluan!" Katie memukul pelan bahu putranya itu seraya berlalu. Tanpa Adam menjelaskan juga dirinya sudah paham.
Tak ada anak yang bisa membohongi ibu mereka. Begitu pun dengan para suami. Tak akan mereka bisa membohongi para istri. Karena, hanya seorang istri maupun ibu yang paham dan dapat membaca raut wajah kalian.
Beberapa hari kemudian dokter telah memperolehkan, Damian untuk pulang. Angelina membawa balita kecilnya. Akan tetapi, hanya boleh menunggu di lobi. Nindy menjaga baby Argon sendirian tanpa Mia.
Bayi itu tak bisa diam. Inginnya jalan dan jalan berkeliling. Pintarnya lagi, balita itu tak mau di tuntun. Sehingga, Nindy harus mengikutinya dari belakang.
Angelina dan Adam naik ke lantai atas menggunakan lift. Di dalam ruangan Damian sudah ada Katie dan juga Aziel. Lelaki paruh baya yang masih nampak gagah itu terlihat lebih segar.
Wajahnya tak lagi pucat. Bibirnya pun tak lagi kering.
"Kenapa kalian juga kesini? Adam, bagaimana pekerjaanmu? Kenapa kau tinggalkan juga?" cecar Damian.
"Semua aman terkendali Dad. Kau tenanglah. Angelina ingin menjemputmu sendirian tadi," jelas Adam.
"Aku tidak meninggalkannya Dad. Baby Ar, ada di lobi bersama Nindy," jawab Angelina.
"Apa? Kau ini!"
"Ayo, cepat kemas semua. Kasihan jika cucuku terlalu lama menunggu kakeknya.
Sementara itu di lobi.
"Halo tampan, kita bertemu lagi," sapa Leon pada balita kecil yang menghampirinya. Pria berwajah ketimuran ini sedang menunggu Karen. Setiap hari, Leon akan mangantar jemput Karen. Karena, memang pria ini belum memiliki perkejaan.
"Maaf, Tuan. Jika baby Ar telah menganggu anda. Ini, adalah anak asuhan saya," ucap Nindy yang merasa tak enak hati karena Argon telah berada di atas pangkuan pria itu.
"Tidak apa, Mbak. Saya menyukai balita pintar ini. Kami juga pernah bertemu ketika di hotel bukan?" ungkap Leon.
__ADS_1
Sontak saja hal itu membuat Nindy teringat kejadian ketika dia sakit perut kala itu.
"Ah iya, saya ingat kejadian itu, Tuan. Ternyata, baby Ar masih ingat kawan kenalannya ya," ucap Nindy dengan raut wajah tak sepanik tadi. Karena ia tau, jika balita asuhannya nyaman dengan pria di hadapannya ini berarti, dia adalah orang baik-baik. Karena, bayi tau dan bisa merasakan ketika ada yang berniat jahat padanya.
Baby Argon nampak nyaman dan tenang duduk di pangkuan pria berwajah ketimuran itu sambil berceloteh. Argon memang balita yang pintar.
"Tuan, maaf. Boleh saya tau siapa anda? Lalu sedang apa di sini?" cecar Nindy menelisik. Bagaimanapun dirinya harus tau siapa pria ini sebenarnya.
Karena ia teringat ketika di hotel beberapa hari yang lalu, majikanya sempat tak suka melihat kehadirannya.
"Ah ya, aku Leon. Aku sedang menunggu wanitaku pulang. Dia adalah salah satu dokter bedah di sini. Dan, sepertinya dia sebentar lagi akan turun," jelas Leon.
"Oh ya, apakah ibu dari Argon ada di rumah sakit ini?" tanya Leon. Sebab, beberapa hari yang lalu juga ia sempat bertemu sekilas dengannya.
"Iya, ada di lantai atas. Baby Argon, sengaja kesini karena ingin menjemput grandpa-nya," terang Nindy. Entah kenapa, dia seperti percaya saja akan apa yang di katakan oleh Leon. Sama sekali tak curiga, sama seperti baby Ar.
"Kalau begitu, sebaiknya baby Ar aku kembalikan padamu ya. Bukan, apa. Aku hanya tak ingin ketika kedua orangtuanya kembali ... mereka akan salah paham padaku," ucap Leon. Dengan berat hati ia pun meletakkan baby Argon ke pangkuan Nindy.
Sayang sekali, baby Ar justru menangis.
"Waaaaa ...!"
"Oh, sayang. Paman Leon mau ada urusan lain. Tuan muda kecil sama Nindy saja ya. Sebenta lagi, mama dan papa akan turun bersama grandpa dan grandma," bujuk Nindy namun tak dapat membuat balita itu tenang.
Melihat itu, hati Leon sungguh tak tega. Balita itu berteriak sekencang-kencangnya dengan tatapan mengiba padanya. Hatinya sangat tersentuh, mendengar ratapan baby Ar.
"Baiklah, mati sama paman lagi. Iya, aku tak jadi pergi. Biarlah nanti aku kena amuk papamu. Paman ikhlas. Sudah jangan nangis ya," bujuk Leon. Ajaib, balita itu seketika langsung terdiam.
"Good boy!" Leon mengusap kepala baby Ar lalu mendusel pipi balita itu. Seketika, hatinya pun berdesir. Merasakan kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Nindy!"
"Astaga, Tuan Muda!"
__ADS_1
...Bersambung ...