Suami Kedua

Suami Kedua
Bab. 57. Kebaikan Hati Aziel.


__ADS_3

Sepersekian detik mereka terdiam menikmati waktu yang seakan berhenti berputar. Seakan takdir tengah menyadarkan keduanya bahwa debaran jantung itu ternyata merespon apa yang yang selama ini mereka hindari. Yaitu, lawan jenis.


Aziel dan Laura sama-sama telah matang dalam segi usia dan juga karir. Mereka telah mapan dalam segi ekonomi. Akan tetapi keduanya masing-masing memiliki masa lalu yang membuat hati menutup pintu bagi yang namanya percintaan.


Mereka tidak percaya jika hati keduanya bisa jatuh cinta lagi. Setelah kekecewaan yang merasa alami beberapa waktu lalu. Tapi, kejadian ini seakan menghidupkan hati yang telah lama mati itu. Keduanya seakan tenggelam dalam perasaan yang tak bisa di ungkapkan.


Hingga, kesadaran hinggap pada keduanya. Aziel melepas pegangan tangan pada pinggang ramping Laura. Wanita itu, sempat membuat jantungnya berdegup. Ia berharap Laura tidak menyadarinya.


Hal yang sama pun ternyata juga di rasakan oleh psikiater cantik ini. Dadanya seakan hendak melompat keluar ketika ia menatap ke dalam manik mata Aziel. Pria itupun nyatanya memiliki pesona dan daya tarik bagai kutub magnet.


Sekian lama dirinya abai dan dingin terhadap lawan jenis. Kini, tiba-tiba hatinya seakan merespon sesuatunya.


Aziel dengan cekatan, secara sigap merubah air mukanya kembali tanpa ekspresi. Sedangkan Laura, wanita itu berusaha mengatur napas demi menetralkan debar jantungnya yang tidak normal.


"Aku harus segera menjauh darinya. Jantungku nampak bermasalah ketika dekat dengannya. Ck, menyusahkan." Batin Aziel.


"Tidak mungkin. Pria itu biasa saja. Dia kaku dan sama sekali tidak menarik." Batin Laura, menepis segala kemungkinan rasa yang perlahan menyusup di dalam hatinya.


Laura kembali berjalan sendiri susah payah dan perlahan. Azriel tetap berada di belakang tubuh wanita itu. Berusaha cuek dan abai tapi ia gemas juga.


Aziel pun berbelok, tak lama kemudian ia menyusul langkah Laura dengan sebuah kursi roda.


Aziel tau2 mencekal lengan Laura hingga wanita itu berhenti mendadak dan menoleh dengan tatapan tak suka. Karena pria ini memegang tangannya tanpa ijin. Laura pun menepisnya.


"Apa sih pegang-pegang!" ketusnya.


"Duduklah, aku penat melihatmu jalan seperti itu!" titah Azriel dengan sorot mata yang menandakan bahwa ucapannya tak boleh di bantah. Entah kenapa Laura menurut DNA wanita itu duduk begitu saja.


Aziel pun mendorongnya tanpa berkata apa-apa lagi.


"Ya ampun, kamu kenapa Laura?" tanya Angelina kaget.


"Tidak apa Nyonya. Hanya terkilir sedikit ketika di dalam toilet," jawab Laura yang merasa tak enak hati. Harusnya ia memantau keadaan psikis dan mental Angelina dengan keadaan baik.


"Bagaimana bisa, Az?" Kini Angelina melempar tanya ke arah asisten mertuanya itu.


"Saya akan membereskannya. Ini hanya kecerobohan para pekerja," jelas Aziel. Pria itu pun pamit.


Tak lama ia kembali dan memutuskan untuk mengantar Laura pulang ke apartemennya.

__ADS_1


"Tapi Ad." Laura merasa tak tega melepas tanggung jawabnya begitu saja.


"Angelina baik-baik saja. Percayalah," ucap Adam meyakini.


Laura pun pulang dengan Aziel.


Sesampainya di apartemen.


"Terimakasih. Maaf sudah merepotkanmu," ucap Laura menundukkan kepalanya.


"Hemm." Aziel, tanpa banyak bicara berbalik dan berlalu. Tiba-tiba ... bangunan itu bergoyang.


"Astaga! Kenapa ini!" pekik Laura yang masih berada di depan pintu.


"Sepertinya gempa."


Tak lama beberapa penghuni apartemen keluar dari dalam hunian mereka.


"Kita juga harus keluar, cepat!" titah Aziel. Akan tetapi Laura justru diam dan berpegangan pada pinggiran pintu. Matanya membulat dengan wajah yang pucat. Aziel pun teringat jika wanita ini kakinya terluka.


Tanpa banyak bicara Aziel mengendong Laura. Mereka tidak menggunakan lift akan tetapi tangga darurat. Bisa bayangkan betapa lelahnya menuruni tangga dari lantai dua belas. Hingga ke pelataran bangunan.


Getaran gempa hanya terjadi satu menit. Besaran Tremor mencapai 5,5 skala richter. Sehingga besaran gempa magnitudo itu tidak sampai merusak bangunan. Hanya saja karena mereka berada di atas bangunan tinggi sehingga goyangannya sangat terasa.


Aziel langsung mencari informasi akankah ada gempa susulan atau tidak. Pria itu juga langsung menghubungi Adam yang masih berada di rumah sakit.


"Kami baik-baik saja. Aku dan Angelina telah berad di luar bangunan rumah sakit, baby Ar juga bersama kami. Kau dan Laura bagaimana?" tanya balik Adam setelah ia menjelaskan statusnya.


"Saya dan Laura juga masih berada di lahan parkir saat ini. Saya sepertinya belum bisa meninggalkannya, Tuan," jelas Aziel. Karena pria itu melihat keadaan Laura begitu ketakutan. Bahkan, saat ini Laura nampak memeluk dirinya sendiri dengan wajah yang pucat.


"Kau temani saja dulu dia. Karena, Laura pernah memiliki riwayat tragedi mengenai bencana gempa. Kalau bukan psikiater mungkin wanita itu sudah mengalami gangguan mental. Tenanglah, Az. Aku bisa menjaga keluargaku di sini. Kaki juga akan pulang nanti malam," ucap Adam setelahnya ia pun mengakhiri panggilan tersebut.


Aziel memasukkan kembali ponsel itu kedalam saku jasnya. Ia menoleh ke arah Laura yang sedang berusaha memulihkan perasaannya. Seulas senyum tipis singgah di wajah dingin bin kaku seorang Aziel.


"Kau wanita yang tegar rupanya." Batin Aziel.


"Keadaan sudah kondusif, aku akan mengantarmu lagi ke atas." Aziel bersiap untuk menggendong Laura lagi. Tapi gadis itu tetap tak bergeming.


"Kau tenanglah, takkan ada gempa susulan." Laura pun mengangguk setelah mendengar penjelasan Aziel.

__ADS_1


"Kau tidak apa kan? Aku pulang sekarang!" pamit Aziel. Laura mau tak mau menganggukkan lagi kepalanya. Meskipun sebenarnya ia butuh teman, tapi tak mungkin juga mengajak Aziel menginap di apartemennya.


Aziel paham ekspresi Laura yang masih menyiratkan kekhawatiran.


"Berikan nomer ponselmu!" Aziel mengulurkan ponselnya ke hadapan Laura. Wanita itu pun mengerti dan mengetik angka di sana.


"Kau ingin aku menghubungimu nanti?" tanya Aziel.


"Boleh." Laura hanya menjawab singkat. Ia merasa tak enak hati karena sempat judes dengan Aziel. Ternyata pria itu berhati baik dan perhatian.


"Baiklah." Aziel pun berbalik dan pergi.


Laura menghembuskan napasnya.


"Dia ... dua kali menggendongku. Tapi, ku tawarkan minum pun tak mau. Bagaimana caraku membalas kebaikannya?" gumam Laura yang telah merebahkan raganya di atas tempat tidur.


Kini seulas senyum terbit di wajahnya. Membayangkan bagaimana ekspresi Aziel tadi. Pria itu bahkan tidak mengeluh akan berat badannya.


"Ternyata hatimu, tak sekeras wajahmu ... tuan Aziel."


Di rumah sakit. Adam dan Angelina telah bersiap untuk pulang. Damian dan Katie juga berada di sana untuk menjemput. Bahkan, sejak kejadian setelah gempa tadi.


"Sini, Argon sama Grandma, ya!" ujar Katie yang mengambil alih balita tampan itu dari gendongan Angelina. Mia dan Nindy yang ikut bersama mereka bertugas membawa barang-barang.


Mereka telah sampai di penthouse.


Katie yang rindu dengan sang cucu langsung membawa Argon ke kamarnya. Damian sama sekali tak keberatan bahkan pria itu meminta ijin untuk mengajak balita itu menginap.


Adam dan Angelina masuk ke kamar mereka.


Pada saat itu, Adam langsung mendorong pelan tubuh istrinya hingga menyandar pada daun pintu.


"Aku sangat merindukanmu. Selama beberapa hari ini, kita sangat di sibukkan dengan beberapa kejadian," ucap Adam mengutarakan perasaannya sambil menatap dalam manik mata hazel Angelina.


Angelina pun paham dan ia tersenyum sangat manis. "Aku pun sangat merindukanmu."


Hal itu tak bisa membendung keinginan Adam untuk menciumi bibir merah Angelina yang alami meskipun tanpa menggunakan gincu.


( Lanjut gak neh ...? wkwkwk )

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2