Suami Kedua

Suami Kedua
Keadaan Bryan


__ADS_3

Entah kenapa Sean merasa sedikit was-was mendengar kabar Bryan yang menunjukkan ada perubahan. Dia tidak ingin jika pria itu sadar di saat usahanya yang ingin melarikan diri dari David belum terealisasi. Bisa saja pria itu akan semakin membuat kacau.


Lebih baik Sean lihat sendiri bagaimana keadaan Bryan yang sebenarnya. Lagipula kenapa Tuhan tak lekas mencabut nyawanya saja kalau memang alat medis tidak bisa menolongnya. Andai saja pengawasan terhadap dirinya tidak begitu ketat, mungkin Sean akan mencabut selang alat bantu pernafasan Bryan agar lebih cepat bertemu dengan Tuhan. Selain itu dia juga akan meringankan tugas malaikat pencabut nyawa.


Sean kembali masuk ke kamarnya setelah mengisi air ke dalam gelas. Kini kepalanya sudah tidak pusing lagi. jadi lebih baik ia segera tidur.


“Aku sangat yakin, pasti kamu sedang hamil Lidia. Jaga anak kita ya, Sayang. Aku mencintaimu.” Gumamnya sebelum terlelap. Dan berharap mimpi bertemu sang pujaan hati.


Keesokan paginya seperti yang didengar Sean tadi malam. hari ini ia akan ikut David ke rumah sakit untuk melihat keadaan Bryan. Sebelumnya Sean tidak peduli dengan keadaan pria yang tengah terbaring di atas brankar rumah sakit itu. Namun karena kecemasannya, Sean ingin memastikan sendiri dengan mata kepalanya.


Beberapa saat kemudian mobil yang ditumpangi Sean dan David sudah sampai rumah sakit. David sama sekali tidak pernah membahas Bryan dengan Sean meskipun Sean sudah beberapa kali ikut ke rumah sakit menjenguknya.


Sesampainya di depan ruangan intensif dimana Bryan dirawat, David segera masuk ke sana dengan pakaian steril dari rumah sakit. Sedangkan Sean memilih untuk mengintipnya saja. Untung saja anak buah David tidak ada yang ikut.


Dalam ruangan itu tampak David sedang berdiri di samping brankar Bryan. Lalu di sebelah David ada dokter yang menjelaskan sesuatu.


Terlihat tubuh Bryan masih dililit beberapa alat medis. Namun mata pria itu sudah terbuka. Tidak seperti sebelumnya yang selalu tertutup rapat. Meskipun demikian, berdasarkan pembicaraan yang Sean tangkap. Hanya mata Bryan saja yang mulai terbuka. Untuk berbicara dan menggerakkan anggota tubuh lainnya masih belum bisa.


Sean menghela nafas lega. Setidaknya masih butuh waktu lama untuk Bryan menuju keadaan pulih lima puluh persen.


Sean segera menarik diri dan duduk di kursi tunggu saat David dan dokter itu akan keluar dari ruang rawat Bryan.


David taak mengucapkan sepatah kata pun saat melihat Sean duduk. Dia segea pergi, otomatis Sean mengikutinya.


***


Waktu berlalu begitu cepat. Xander setiap hari menunggu informasi dari Marsha tentang perkembangan tugas yang ia lakukan. Bahkan Xander setiap hari menghubungi Marsha karena tidak sabar menunggu hasilnya.


“Kamu sabarlah, aku juga sedang mengusahakan yang terbaik.” Ucap Marsha melalui sambungan telepon.

__ADS_1


“Baiklah. Aku minta maaf. Aku hanya khawatir dengan keadaan Sean. Jika obsesi David sudah terpenuhi, aku takut dia akan meledakkan bom itu.” Jawabnya gusar.


“Ehm, Xander. Sebenarnya orangku sedikit mengalami kendala. Mungkin dalam waktu dekat aku akan datang kesana untuk bertemu dengan Fredy.”


“Kendala apa? Kenapa dengan Fredy? Apa hubungannya?” tanya Xander penasaran.


“Maaf. Aku tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang. nanti kamu akan tahu sendiri.”


Setelah itu Xander mengakhiri panggilannya.


Xander keluar dari kamarnya. Dia melihat Silvia sedang duduk seorang diri di sofa ruang tengah. Sedangkan Viana sepertinya sedang bersama Mamanya di taman belakang.


Semenjak pertengkarannya dengan Silvia saat itu, hubungan mereka sudah kembali membaik. Entah karena Silvia yang lebih memilih mengalah atau karena dia pasrah dengan keadaan.


“Kenapa melamun, hem?” tanya Xander.


“Aku hanya merindukan adik-adikku.” Jawabnya dengan pandangan kosong.


“Xander, sampai kapan aku berada disini? Aku benar-benar merindukan adik-adikku. Bolehkah aku pulang? aku yakin tidak akan terjadi apa-apa denganku. Percayalah!”


“Tidak, Silvia. Aku tidak akan membiarkanmu pulang dalam waktu dekat. Bersabarlah! Sampai aku berhasil menyelamatkan Sean.”


Silvia diam. Percuma menyangkal ucapan Xander yang sangat keras kepala.


Setelah itu Silvia beranjak dari duduknya dan hendak masuk kamar. dan saat itu bertepatan dengan Lidia yang masuk rumah setelah puas menemani Viana bermain.


Perut Lidia sudah membesar. Usia kandungannya sudah delapan bulan. Diperkirakan satu bulan lagi akan melahirkan.


Saat Lidia tengah berjalan sambil memegangi punggungnya, tiba-tiba Viana berlari cukup kencang sambil membawa mainannya. Bocah kecil itu menabrak tubuh Mamanya hingga Lidia kehilangan keseimbangan.

__ADS_1


Arghhhhh


Grep


Beruntungnya Xander sigap menangkap tubuh Lidia yang hampir saja mendarat di lantai.


“Terima kasih, Xander!” ucapnya dengan nafas tersengal dan tangannya masih mengalung ke leher Xander.


Saat Lidia akan bangkit dan berdiri, tiba-tiba ia merasakan nyeri pada perut bagian bawah. Xander pun segera menggendong Lidia dan membawanya masuk ke kamar. sejak tadi Silvia melihat semua adegan itu. Hatinya kembali sakit.


Setelah membantu Lidia masuk ke kamarnya, Xander keluar. Entah apa yang dilakukan Xander di dalam kamar Lidia cukup lama dan terlihat wajah Xander berkeringat. Hal itu semakin membuat Silvia berpikiran negatif.


Xander melihat Silvia masih berdiri di depan pintu kamar dengan air mata mengalir deras.


“Silvia, kamu jangan salah paham lagi. aku hanya menolong Lid-“


“Aku lelah. Hubungan kita cukup sampai disini saja.”


Brakk


.


.


.


*TBC


Sabarrr ini ujian Silvia😂😂

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2