Suami Kedua

Suami Kedua
Penting Bagiku


__ADS_3

Deg


Chandra terkejut mendengar ucapan Fico baru saja. Apa benar Feby akan menikah.


Sedangkan Feby menyenggol lengan adiknya agar tak membiacarakan hal yang menurutnya privasi. Karena ucapan Fico bukan asal. Dia dulu sempat mendengar orang tuanya bicara dengan kakaknya sewaktu Feby masih kuliah.


Orang tua mereka bilang kalau Feby akan dijodohkan dengan salah satu anak rekan bisnisnya. Pada saat itu Feby tidak menanggapinya dengan serius, karena dia masih ingin meniti karir terlebih dulu setelah lulus kuliah nanti. Sedangkan keinginan Kenzo juga sepertinya tidak bisa diganggu gugat. Yang Fico dengar kalau Papanya tetap akan menjodohkan kakaknya dengan anak rekan bisnisnya. Kenzo memberi contoh kalau dirinya dulu bersama Pelangi juga dijodohkan. Namun sampai saat ini baik Fico maupun Feby tidak lagi mendengar kelanjutan perjodohan itu.


Sejenak suasana menjadi hening. Feby tampak biasa saja karena memang menganggap ucapan Fico baru saja hanya angin lalu, dan juga menganggap kalau Papanya sudah tidak membahas tentang perjodohannya lagi.


Berbeda halnya dengan Chandra. Ada rasa sakit dalam hatinya setelah mendengar kenyataan itu. Terlebih Feby tidak menyangga ucapan Fico baru saja. Jadi Chandra menyimpulkan kalau Feby benar akan menikah.


“Eh malah ngelamun. Minum tuh!” Fico membuyarkan lamunan Chandra.


Chandra sedikit tersentak. Lalu ia menyesap minumannya dan berusaha bersikap biasa saja.


Tidak terasa mereka berempat menghabiskan waaktu cukup lama. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Namun sebelum pulang, Fico dengan berani mencekal tangan Viana.


“Iya, Kak?” tanya Viana bingung.


“Boleh minta no ponsel kamu?” tanya Fico sambil menyodorkan ponselnya pada Viana.


Dengan cepat Chandra merebut ponsel Fico lalu mengetikkan nomornya sendiri dan diberikan pada Fico. Seketika Fico memasang wajah kesalnya.

__ADS_1


“Adikku tidak punya ponsel. Kalau butuh sesuatu hubungi nomorku saja!” jawab Chandra dan segera bergegas pergi menggandeng tangan Viana.


***


Waktu berlalu. Keseharian Chandra terkadang datang ke kantor Ayahnya jika dimintai bantuan. Kalau tidak, dia akan tetap di rumah.


Saat ini Chandra sedang mencari tentang informasi tempat perkuliahan. Sesuai dengan kemampuannya di bidang IT, Chandra juga ingin mengambil jurusan yang seperti itu.


Sedangkan hubungannya dengan Feby sampai saat ini masih biasa saja. Karena memang diantara keduanya tidak ada kesepakatan tertentu dalam menjalin sebuah hubungan. Hanya saja Chandra sedikit menjauh dari Feby setelah mendengar kabar burung pernikahan perempuan itu yang sempat diucapkan oleh Fico dulu. Begitu juga dengan Feby, yang saat ini sedang sibuk dengan pekerjaan di kantor Papanya.


***


Saat ini kediaman Sean sedang tampak ramai dari biasanya. Sean sengaja mengundang keluarga Kenzo untuk makan malam. Bukan acara penting, hanya makan malam biasa sekaligus menyambung silaturahmi antar keluarga.


Feby dan Fico juga turut hadir di sana. Mereka berdua juga sangat senang melihat keluarga besar Chandra, terlebih dengan adik-adik Chandra yang selalu bikin heboh. Terlebih Fico, yang diam-diam berusaha mendekati satu-satunya gadis cantik yang berstatus sebagai adik Chandra.


“Vi, beneran kamu nggak punya ponsel?” tanya Fico saat dia merasa aman dan ada kesempatan bicara berdua dengan Viana.


“Punya, Kak. Dulu itu ucapan Kak Chandra bohong kalau aku nggak punya ponsel,” jawabnya.


“Aku juga sudah tahu lah kalau kakak kamu itu bohong. Aku hanya ingin memastikan saja. Lalu boleh nggak aku minta nomor kamu? Barangkali aja kamu mengalami kesulitan belajar, aku bisa membantu.”


Viana tampak berpikir. Ucapan Fico ada benarnya. Lagi pula kalau ada kesulitan dan bertanya kakaknya, pasti kakaknya akan menyuruhnya untuk berusaha sendiri. Akhirnya Viana mengangguk lalu mengetikkan nomor ponselnya. Fico bersorak senang karena usahanya berhasil.

__ADS_1


Sementara itu di depan teras rumah tampak Chandra dan Feby sedang duduk sambil melihat Kavi dan Mirza yang sedang asyik bermain. Keduanya sama-sama diam sambil mengamati dua bocah laki-laki yang sedang bermain itu. Namun itu hanya sebentar, karena Kavi dan Mirza tampak kejar-kejaran dan memasuki rumah.


“Feb, boleh nggak aku bertanya sesuatu?” tanya Chandra mengawali perbincangan.


“Boleh.” Jawab Feby singkat.


“Apa benar yang dikatakan oleh Fico tentang pernikahan kamu?”


Mendapati pertanyaan dari Chandra, Feby terdiam sejenak. Sebenarnya dia sangat malas jika harus membahas masalah ini. karena dia baru saja menikmati rasanya dunia kerja. Dia belum ingin disinggung masalah pernikahan.


“Nggak. Aku masih ingin bekerja. Aku belum ingin memikirkan pernikahan dulu.” Jawab Feby dengan jujur.


“Lantas kenapa Fico bisa bicara seperti itu?”


“Sudahlah, Chan! Nggak usah bahas yang tidak penting.” Ucap Feby dengan suara sedikit kesal.


“Tapi itu sangat penting bagiku, Feb. karena aku menyukaimu.”


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading‼️


__ADS_2